
"Putra Mahkota Ren Zie, perkenalkan aku kakak kepada Putri Xia Lin. Namaku Putra Feng Xi." Mereka bersalaman.
"Aku Putra Yun" ucap pria yang muncul dari belakang Putra Feng Xi dan bersalaman dengan Putra Mahkota Ren Zie.
"Apa pembunuhnya telah tertangkap?" Tanya Putra Feng Xi langsung.
"Belum lagi. Kami masih menyiasatnya."
"Ceritakan pada kami, kejadian yang sebenarnya."
"Iya.. Kami juga mau mengetahui nya." Ujar Kaisar Xi yang datang semula ke ruangan itu. Diikuti Menteri Chu dan Tan Mo ayah angkat Xia. Walaupun Tan Mo baru sahaja mengenali Xia tetapi dia sangat menyayangi Xia karna Xia seorang yang baik hatinya dan banyak membantu isterinya dahulu.
Putra Mahkota Ren Zie pun menceritakan pada mereka, sama seperti yang diceritakan pada Xia sebelumnya.
"Mengapa bisa, tiada seorang pengawal pun yang menyadarinya?" Tanya Putra Feng Xi hairan dan yang lainnya juga merasa hal yang sama.
"Itu yang menjadi persoalan nya sekarang. Semua pengawal dan pelayan bertugas pada malam itu telah kami penjarakan dan kami masih menyoal mereka."
"Meragukan... Pasti ada dalang atau musuh dikalangan anggota Istana ini." Ucap kaisar Xi dengan berani.
"Sama seperti dengan pendapat ayahku dan kami masih menyiasatnya. Aku berjanji akan menjaga keselamatan Putri Xia Lin"
"Dia sangat kuat untuk dijaga." Ucap Putra Yun tersengih.
"Putra Yun..." Kaisar Xi bersuara tegas.
"Maaf ayah.." Putra Yun menundukkan kepalanya.
Putra Mahkota Ren Zie hanya melihat mereka. Dan ada rasa hairan dengan ucapan Putra Yun tadi. Karna dia merasa tahap Kultivasi Xia masih ditahap rendah. 'Mengapa dia mengatakan bahawa seperti Putri Xia sangat kuat?' soalnya dalam hati.
Datang seorang pengawal memanggil Putra Mahkota Ren Zie. Setelah memberi hormat pengawal itu pun memberitahu Putra Mahkota Ren Zie tentang kehadiran tetamunya.
"Putra Mahkota Ren Zie, tetamu dari kerajaan Timur telah tiba."
"Tunjuk jalan ke kamar tetamu yang telah disediakan dan sajikan makanan untuk para tetamu."
"Baiklah.." pengawal itu pun berlalu pergi.
"Maafkan aku, ada urusan yang harus aku lakukan sekarang. Kalian istirehat lah hari ini karna besok ada banyak yang perlu dilakukan." Ujar Putra Mahkota Ren Zie.
__ADS_1
"Pergilah, jika perlu bantuan dari ku katakanlah." Ucap Putra Feng Xi
Putra Mahkota Ren Zie mengangguk kan kepalanya dan berlalu pergi.
Setelah Xia membawa nendanya beristirehat dikamar, Xia pun pamit menuju ke kamarnya. Setibanya dikamarnya, Xia hanya duduk termenung sahaja. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, fikirannya buntu.
"Xia.. Xia'er.." Xia terdengar seperti ada seseorang yang memanggilnya. Muncul Putra Fu Yi dipintu kamarnya yang tidak ditutup.
"Xia, udah lama kita tidak ketemu. Aku merinduimu." Ucap Putra Fu Yi dan mendekati Xia. Xia tersenyum dan menundukkan kepalanya.
"Xia.. mengapa matamu merah? Kamu menangis? Siapa yang membuatmu menangis? Dimana Putra Jing Zhi? Pasti dia yang membuatmu menangis." Tanya Putra Fu Yi yang merasa kesal melihat Xia kesedihan.
"Fu Yi... Hikk.. ihikk.." Xia tidak dapat menahan air matanya. Dia menangis di depan Putra Fu Yi.
"Xia.. jangan menangis. Aku menjadi sedih melihatmu begini. Katakan dan luahkanlah padaku masalah yang kamu hadapi. Aku sedia mendengarkannya dan akan membantumu semampuku." Putra Fu Yi memujuk Xia dengan lembut.
"Jing Zhi.. Jing Zhi telah tiada."
"Maksud mu dia kabur. Mengapa? dia kan sangat mencintaimu." Fu Yi merasa bingung.
"Dia telah meninggal.."
"Apa!!!" Putra Fu Yi yang duduk dikerusi sebelah Xia terdiam seketika. "Kapan dia meninggal? Kok aku tak tau."
"Jadi besok pernikahan kalian terbatal? Tidak bisa, undangan telah di edarkan. Tetamu dari jauh juga udah ada yang datang. Pasti kamu akan mendapat malu. Aku sudi..."
"Udah ada yang akan menggantikan pengantin pria. Pernikahan besok tetap berjalan." Ucap Xia memotong kata Putra Fu Yi.
"Siapa?"
"Kakak kepada Putra Jing Zhi.. Putra Mahkota Ren Zie."
"Apa kau bersetuju menikah dengannya?"
"Iya.. Kami telah berbincang tadi bersama keluarga ku." Mereka berdua pun terus berborak dan Putra Fu Yi juga memberi kata semangat pada Xia.
Dimalam hari Xia masuk ke ruang dimensi. Dia mau berdiskusi dengan temannya berkaitan kes kematian Putra Jing Zhi. Dia harus memulakan langkah, tidak mau terus bersedih sahaja. Mereka pun mula berbincang.
Tidak terasa waktu berlalu dengan pantas, telah beberapa hari Xia berada di ruang dimensi bintang. Akhirnya dengan rasa berat hati dia keluar dari ruang dimensi.
__ADS_1
Ketika keluar dari ruang dimensi, waktu ternyata udah pagi di dunia nyata. Cisin telah menantinya di dalam kamar.
"Xia, aku menanti mu disini sejak kemarin malam."
"Maaf membuatmu menantiku. Ada hal penting yang ingin kau beritahuku?"
"Aku hanya khawatir dengan keadaan mu aja. Semalam setelah selesai berbincang di ruang utama, aku mau langsung bertemu denganmu tetapi ibu Tan melarangku. Katanya, kamu pasti membutuhkan waktu untuk bersendiri. Apa kamu baik - baik saja Xia?"
"Iya, jiejie tidak usah khawatir. Aku baik - baik aja." Xia tersenyum.
"Baguslah kalau gitu. Jiejie tau, kamu kuat. Jika kau perlukan seseorang untuk mengungkapkan perasaanmu. Jiejie sedia mendengarkannya."
"Terima kasih jiejie."
"Oh iya.. hampir aku lupa, Xia apa kita pernah ketemu dengan Putra Mahkota Ren Zie sebelum ini? Aku seperti pernah melihat dia sebelum ini."
"Erm... Apa mungkin dia mantan pacarmu?" Ujar Xia yang mau bercanda dengan Cisin.
"Xia..!!" Cisin mengejar Xia yang cuba melarikan diri.
"Xia.. Cisin.. apa yang kalian lakukan?" Tanya bonda permaisuri yang muncul dikamar Xia.
"Xia kamu tidak boleh lelah, karna nanti banyak lagi hal yang harus kamu lakukan sayang." Bonda Selir Ying juga ada bersama ibu Tan.
"Sekarang ayo pergi mandi. Bonda dah sediakan air mawar untukmu." Ucap bonda permaisuri.
"Tapi aku udah mandi bonda."
"Itu mandian biasa. Sekarang bonda telah siapkan ramuan khusus untuk mandian bakal pengantin agar bisa merasa segar dan sentiasa wangi." Bonda permaisuri dan yang lainnya tersenyum.
"Ayo aku bantu kamu." Ujar Cisin. Xia hanya menurut.
Selesai Mandi, Xia merasa tubuhnya segar dan wangi. Setelah itu Xia memakai baju pengantin dan dia dirias oleh pelayan yang telah ditugaskan.
"Kamu cantik sekali sayang." Ucap bonda Selir Ying setelah melihat wajah Xia yang telah rias. Yang lainnya juga merasa kagum melihat kecantikan Xia.
"Apa ini tidak keterlaluan?" Tanya Xia.
"Tidak.. kamu sangat cantik anakku." Ibu Tan pun bersuara.
__ADS_1
"Pasti Ren Zie jatuh cinta melihat kamu." Ujar Bonda permaisuri. Yang lain tertawa mendengarkan kata dari permaisuri Xi. Xia hanya bisa tersenyum.
"Maaf.. acara pernikahan akan dimulai sebentar lagi. Putra Mahkota Ren Zie menyuruh hamba untuk mengiringi pengantin perempuan sekarang." Ujar seorang pelayan yang baru muncul dikamar Xia.