
Dipertengahan jalan, barulah Putra Jing Zhi menyadari dan merasa hairan.
'Mengapa dia meminta bantuan dari ku, padahal kamarnya jauh dari sini. Mengapa dia tidak memanggil pengawal yang ada dekat dengan kamarnya. Pasti ada sesuatu yang direncanakan.' ucap Putra Jing Zhi didalam hatinya.
Putra Jing Zhi melepaskan tangan Chu Wenli yang memegang lengannya.
"Tunggu sebentar." Putra Jing Zhi menghentikan langkahnya. " Pengawal, kemarilah!!" Panggil Putra Jing Zhi pada seorang pengawal yang berada berhampiran.
"Iya ada apa yang bisa saya bantu?" Tanya pengawal yang datang sambil menunduk hormat.
"Tolong bantuin nona Wenli, katanya ada tikus didalam kamarnya. Bantuin dia menangkap tikus itu, karna dia takut dengan tikus itu. Aku tidak bisa membantu, soalnya sekarang aku ada urusan lain." Kata Putra Jing Zhi sambil berlalu pergi meninggalkan mereka, tanpa memandang muka Wenli
"Mari nona Wenli, saya bantuin mengusir tikus dikamar mu." Ujar pengawal itu.
"Aahhh.. Gak usah.. Aku udah makan tu tikus." Marah Chu Wenli kepada pengawal itu dan berlalu pergi.
Pengawal yang melihat nonanya pergi, hanya menggarukan kepalanya yang tidak gatal. "Mengapa dengan Nona Wenli itu?" Dia menggelengkan kepalanya dan pergi melakukan tugasnya yang sempat tertunda tadi.
Dikamar Xia, dia merasa tidak tenang karna kekasihnya tadi hanya diam sambil meninggalkan ruang kerja ayahnya.
"Apakah aku harus pergi kekamarnya untuk melihat keadaannya?" Xia berkata sendiri dan terus berfikir sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk menyusul Putra Jing Zhi ke kamarnya.
Setiba Xia dikamar Putra Jing Zhi, terlihat dia sedang duduk termenung sambil meminum air teh.
"Jing'er." Panggil Xia
"Xia'er, tadi kamu panggil aku apa?" Ucap Putra Jing Zhi yang terkejut bahawa Xia memanggilnya dengan panggilan manja.
"Jing'er, apa aku tidak bisa memanggil mu begitu?"
"Boleh.. Aku cuma kaget." Putra Jing Zhi tersenyum malu.
"Apa Jing'er marah padaku?"
__ADS_1
"Jika soal tadi aku tidak marah padamu, cuma sedikit kesal karna kamu tidak menceritakan soal itu padaku."
"Sebelum ini udah ku bilang. Kalau aku tidak akan memilih dia. Jadi tidak perlu dikenang kisah yang lalu. Aku tidak suka untuk membuka kisah lama. Dia telah berlalu, sekarang kita akan mulakan lembaran hidup baru."
"Tapi aku juga mau tau kisah kalian."
"Untuk apa? Buat sakit hati. Tuh buktinya, sekarang kamu yang sakit hati kan."
"Apa benar, kamu tidak akan berpaling padanya?" Terdengar suara sedih Putra Jing Zhi.
"Iya sayang, coba kamu memandangku dan lihat wajahku. Apa aku terlihat seperti seorang yang berbohong?"
Putra Jing Zhi tersenyum lalu menarik Xia ke dalam perlukannya.
"Aku baru tau bahawa kekasih ku seorang yang pencemburu begini." Mereka berdua tersenyum bahagia.
"Mari kita keluar berjalan - jalan. Tunjukkan padaku tempat yang menarik disini." Ujar Putra Jing Zhi.
'Aduhh!!! Bagaimana ni.. Aku pun tak tahu tempat yang menarik di sini. Aku kan bukan berasal dari jaman ini. Hah, Aku harus nanya jiejie Cici.' ucap Xia didalam hatinya.
Xia pun segera mencari Cisin. Setelah ketemu, dia langsung bertanya kepada Cisin tempat yang menarik di daerah ini. Setelah mengetahui beberapa tempat, Xia pun pergi kekamar Putra Jing Zhi.
Sebelum keluar Xia udah memberitahu ayah dan Selir Ying. Seperti yang dijanjikan mereka pun keluar berjalan jalan di sekitar ibu Kota. Mereka berdua merasa bahagia, tidak terasa hari hampir gelap.
"Jing'er mari kita pulang, hari udah hampir malam."
"Tidak terasa hari berlalu begitu pantas. Aku terasa bahagia sangat hari ini. Makasih sayang." Mereka pun berjalan pulang.
Setelah tiba dikamar nya, Xia masuk ke ruang dimensi. Terlihat Nagin dan Leo sedang bermeditasi. Setelah merasa kehadiran tuan nya, mereka berdua membuka matanya dan mengikut Xia yang mau menuju ke istana. Miho merasa gembira melihat kedatangan Xia. Setibanya di istana Xia dan yang lainnya duduk di ruang utama.
"Maafkan aku karna udah lama tidak datang kemari. Bagaimana dengan perkembangan dirimu?" Tanya Xia kepada Miho
"Aku udah bisa berlari pantas, paman Kibo yang mengajarku."
__ADS_1
"Bagus, kamu memang anak yang pintar." Xia memuji Miho, sambil membelai bulu Miho yang duduk dipankuannya.
"Kibo ada yang harus aku ngomong padamu."
"Apa itu Xia?"
"Jiejie ku akan ikut dengan ku pergi bertarung dengan pemberontak. Aku mau kamu masuk kedalam mutiaramu yang berada di dentian jiejie Cici. Dan jika jiejie ku dalam bahaya, keluar dan bantu dia."
"Baiklah, bila kalian akan berangkat pergi?" Tanya Kibo
"Dua hari lagi. kamu ikut aku, jika aku keluar dari sini nanti. Kamu Miho, bisakan berada disini sendirian?"
"Boleh, Aku udah bisa menjaga diriku" jawab Miho dengan yakin.
"Bagus, beginilah anak pintar." Mereka pun tersenyum melihat gelagat Miho.
"Nanti kita akan alihkan pohon buah yang berada dihutan dan tanam semula di sekitar pondok Miho, agar mudah bagi Miho untuk memakan buah. Sekarang aku butuh istirehat, besok kita mulakan." Mereka pun beristirehat di kamar masing -masing. Kibo tidur dikamar Cisin manakala Miho udah ada kamar sendiri.
Besoknya setelah makan Xia dan Leo mula mengalihkan pohon buah menggunakan elemen bumi. Xia juga udah mahir mengangkat dan menanam kembali pohon.
Setelah menanam beberapa jenis pohon, akhirnya selesai juga dan mereka beristirehat sambil memakan buah yang diambil dari pohon itu.
"Enak buahnya.. Manis." Ujar Xia dan pergi kearah kolam ikan yang dibuatnya dulu. "Wahh.. ikan nya udah banyak sekali. Apa kalian tidak pernah memakannya?"
"Setiap hari aku dan Miho memakannya tapi Ikan disini cepat sekali membiak."
"Melihat ikan ini, terasa perutku lapar. Aku mau membakarnya.. pasti enak." Xia pun menangkap beberapa ekor ikan untuk dimakan bersama. Setelah dibakar dan dimakan, Xia terasa qi nya semakin meningkat. Dia pun meminum air sungai pemulih jiwa dan diuduk bermeditasi. Tidak berapa lama kemudian terlihat cahaya keluar dari badan Xia beserta bunyi Pop.. pop. Tahap Kultivasi Xia naik 2 pangkat.
Xia pun selesai bermeditasi dia langsung terjun kedalam sungai pemulih jiwa. Badan terasa segar. setelah itu Xia, Leo dan Nagin berlatih menggunakan senjata.
Beberapa hari di ruang dimensi, akhirnya Xia keluar dan membawa Kibo bersamanya.
"Kibo kamu tunggu disini dan jangan kemana mana, aku mau panggil jiejie Cici kesini."
__ADS_1
"Baiklah aku akan menanti kalian disini."
Xia pun pergi kekamar Cisin yang berada disebelah kamarnya. Xia menyelinap masuk kedalam kamar Cisin. Terlihat Cisin masih tidur dikasurnya. Xia pun mengejutkan Cisin untuk bangun. Setelah bangun Cisin yang masih mengantuk karna hari masih dini langsung menuju ke kamar Xia, tanpa banyak tanya. Xia menerangkan pada Cisin mengenai Kibo dan mengarahkan Kibo masuk segera kedalam Cisin.