
"Aku akan kesana sekarang."
"Tunggu.. apa kau tidak merasa lelah? Berehatlah, besok kau bisa memulakan perjalanan mu."
"Xia lagi penting dari.."
"Udahlah, pergi berehat sana. Apa kau tidak mau bermain dengan anakmu?"
Putra Ren Zie berfikir seketika. "Benar juga, lagi pula hari masih siang.. baiklah besok pagi aku akan berangkat. Tapi aku harap ayah mertua jangan beritahu Xia yang aku udah tahu tentang anak kami, biar aku sendiri yang bicara dengannya."
"Ermm.. baiklah.. kalian berdua selalu membuat kepala ku pusing.. Pergilah kembali ke istana Xiana."
"Sebelum itu, apakah kaisar Xi mau bekerjasama dengan ku?"
"Kerjasama?? Apa maksud mu?"
"Begini, sejujurnya... Ermmm... aku..."
"Apa??"
"Aku telah jatuh cinta dengan Xia."
"Haa.. ha... haaa. Diakan istrimu, ya pantas aja kamu cinta padanya."
"Kan awalnya kami nikah dadakan. Sekarang aku udah mulai suka dengannya, jadi harapnya kaisar Xi bisa membantu ku dalam proses untuk memikat hati Xia." Putra Ren Zie, membuang egonya Di hadapan kaisar Xi demi seorang gadis.
"Haa.. haa.. kamu terlihat lucu.. tadi bukan main lagi, mau menentang ku.. sekarang??? Haaa.. Haa.. haaa. Tadi aku sempat percaya dengan rumus yang mengatakan kau di geruni dengan sikap kejam dan dingin tetapi ternyata.. ha.. haa.." Kaisar Xi tertawa besar melihat gelagat Putra Ren Zie.
"Jika tidak mau tolong ya udah.. tidak perlu tertawa begitu, tak lucu tau." Putra Ren Zie merasa kesal dan memusingkan badan nya untuk keluar dari ruang itu.
"Haaa.. haa.. haa.. Tunggu, tungguu.. baiklah aku serius humm humm." Kaisar Xi cuba untuk menahan tawanya dari terlepas. "Apa.. apa yang kau ingin aku lakukan?"
Putra Ren Zie pun memberitahu akan rencananya pada kaisar Xi dan kaisar Xi bersetuju untuk bekerjasama dengan Putra Ren Zie demi masa depan Xia dengan anak-anaknya.
Putra Ren Zie dan Ming pun beredar dari situ dan menuju ke istana Xiana dengan perasaan yang bahagia.
__ADS_1
Setibanya mereka di istana Xiana, Putra dan putrinya telah bangun dari tidur. Pada awalnya, mereka tidak mau dekat dengan Putra Ren Zie tetapi setelah Putra Ren Zie memujuk dan mengambil hati anaknya mereka akhirnya dapat menerima Putra Ren Zie.
Putra Ren Zie bermain dengan anaknya. Pada lewat malam, akhirnya mereka ketiduran karna kelelahan. Putra dan Putri nya saling berdakapan dengan putra Ren Zie di atas kasur.
Keesokan harinya, Putra Ren Zie keberatan untuk meninggalkan anaknya. Mereka menangis ingin mengikut ayahnya.
"Maafkan ayah sayang... kalian tidak bisa ikut, sekarang masih bahaya!! Ayah janji akan membawa kalian setelah ayah berjaya pujuk bonda. Nanti kita bisa jalan-jalan bareng dan ayah akan beli banyak jajan untuk kalian." Putra Ren Zie memeluk dan mencium anaknya. "Ayah akan berangkat sekarang."
Pelayan Wei Wei langsung memegang Putri Mimi dan Lun memeluk Putra Ying.
Putra Ren Zie mengarahkan beberapa prajuritnya untuk kekal di situ untuk menjaga keselamatan kedua anaknya.
"Pasti mereka akan demam setelah ini." Ucap Pelayan Lun.
"Kasihan mereka.." Sambung Wei Wei.
Setelah selesai mengarahkan prajuritnya dan Putra Ren Zie merasa puas, dia pun berangkat pergi menuju kerajaan utara. Kaisar Xi menghantar mereka sehingga pintu istananya.
Di sekta Gaudo, Xia merasa rindu akan anak-anaknya. Dia menghubungi Kaisar Xi melalui mutiara yang di beri Renyu. Kaisar Xi tidak memberitahu Xia tentang kedatangan Putra Ren Zie. Xia juga tidak bertanya tentang suaminya, Dia hanya bertanya tentang keadaan anaknya.
Putra Ren Zie menpercepatkan perjalanannya, mereka tidak banyak berehat. Perjalanan yang biasanya akan memakan masa selama 10 hari menjadi 7 hari. Tiba di sekta Gaodu hari udah gelap. Pada awalnya mereka di halang untuk masuk ke dalam sekta Gaodu karna hari udah malam. Setelah Ming menunjukkan token Putra Ren Zie, pengawal yang menjaga pintu pun mengizinkan mereka masuk.
Pengetua Tao yang berada di kamarnya, dengan tergesa-gesa menuju ke ruangannya.
"Hormat pada pangeran. Maaf telah membuat anda menanti hamba.”
"Errmm..
"Ada gerangan apa Pangeran datang ke sini? Apa mau bertemu istri anda?" Tanya pengetua Tao.
'Jadi memang benar istriku di sini..' Putra Ren Zie berkata dalam hatinya sambil tersenyum.
"Ya.. ya.. aku mau bertemu dengannya, maklum lah udah lebih sebulan aku tidak bertemunya. Banyak kerjaan yang menghalang ku untuk datang ke sini sebelum ini."
"Ya hamba maklum, pangeran sangat sibuk. Sebentar hamba akan mengarahkan pembantu hamba untuk memanggil Putri Xia kemari."
__ADS_1
"Tunggu.. tolong jangan beritahu yang aku datang ke sini karna aku mau buat kejutan untuk dia."
"Hi.. hi..hi.. baiklah.." Pengetua Tao pun menyuruh pembantunya untuk memanggil Putri Xia ke ruangannya. "Katakan pada Xia, bahawa aku mau bertemu dengannya, dia berada di kamar teratai." Pembantunya pun pergi menjalankan tugas yang di berikan pengetuan Tao.
"Guru Tao, apa bisa tinggalkan aku di sini sendirian? Aku mau berduan dengaan istriku."
"Bisa, bisa silakan.. hamba akan akan memanggil pelayan untuk menyediakan air teh dan camilan untuk kalian."
"Tidak usah.. aku tidak mau..."
"Kalau gitu, hamba pamit dulu.. Kalau ada apa-apa, panggil lah hamba." Pengetua Tao langsung beredar dari ruangan itu.
Putra Ren Zie mengarahkan Ming untuk berjaga di luar ruangan itu dan menyuruh Ming untuk bersembunyi, agar Xia tidak melihatnya. Ming juga di arahkan untuk tidak membenarkan sesiapa masuk ke ruangan itu setelah Xia masuk.
Xia yang tidak merasa curiga, langsung masuk ke ruangan pengetua Tao. Setelah Xia masuk, Ming langsung menutup pintu.
"Guru.. guru Tao.. apa anda ada di sini." Xia memanggil guru Tao karna di ruangan itu tidak terlihat sesiapa.
"Hai, sayang!!! Apa kau merinduiku?" Putra Ren Zie muncul tiba-tiba dan berdiri di hadapan Xia.
"Kau.. apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku datang mencarimu.."
"Mencariku?? Untuk apa?"
"Karna aku merinduimu sayang, kau menghilang tanpa pamit padaku.."
"Huhh.. apa aku harus pamit padamu.. Apa kau lupa.. apa yang telah kau lakukan padaku?"
"Kita suami istri tidak ada salah, aku mau mendapatkan hak ku.. lagian kamu yang memulainya dengan menjebak ku.. apa kau lupa?.. "
"Suami isteri?? Haa.. haa.. haa. Apa kau layak, menjadi suamiku?"
Putra Ren Zie merasa tercabar dengan ucapan Xia, dia langsung menggenggam dengan kuat tanggan Xia "Kita telah menikah secara sah dan kau adalah istriku, atau kau tidak mau berjumpa dengan putra putri kita seumur hidup mu lagi. terserah mu.."
__ADS_1
"Apa!!! Apa kau yang kau katakan??" Xia terkejut mendengar ucapan Putra Ren Zie.
"Ya... aku telah tau mengenai anak-anak kita, dan perlu kau ingat sekarang mereka berada di bawah jagaan ku. Jika kau tidak mau mengikut kehendakkan ku, maka aku akan pastikan kau tidak akan bertemu lagi dengan anak mu." Putra Ren Zie menghempas tangan Xia.