
Mereka semua mengikuti Miela memasuki ke dalam sebuah kamar.
"Ibu ada orang ingin bertemu dengan mu" Ujar Miela
"Siapa yang ingin bertemu dengan ibu Miela?" Tanya ibu Miela.
Setelah semuanya memasuki kamar, mereka melihat ada seorang wanita yang berusia dalam lingkungan 30an sedang duduk di atas kasur.
"Nyonya, perkenalkan nama ku Xia, yang ini jiejie ku Cisin dan Kedua pria ini teman ku Huan dan Zan." Kata Siumei mewakil mereka untuk memperkenalakan diri. Mereka semua menundukkan kepala dan tersenyum, tanda menghormati dengan tuan rumah.
"Panggil ku ibu saja. Maaf, karna rumah ku yang serba kekurangan dan ibu tidak bisa untuk melayani kalian."
"Ngak apa apa bu." Siumei senyum
"Oh ya, tadi Miela bilang kalian ingin bertemu ibu. Ada urusan apa ya? Apa Miela membuat masalah pada kalian?"
"Ngak bu. Miela anak yang baik. Sebenarnya tadi masa dipasar aku bertemu Miela. Kami berbual dan Miela ada bercerita pada ku yang ibunya lagi sakit. Maka kehadiran kami adalah untuk melihat kondisi ibu. Dan aku mau melihat apa aku bisa mengobati mu" ujar Siumei meredah diri.
"Makasih atas niat baik mu nak. Tapi aku tidak ada koin atau harta benda untuk membayar seorang tabib."
"Aku tidak mintak untuk dibayar. Apa aku bisa merawat ibu?"
"Iya silakan nak. Makasih ya karna sudi merawat ibu." Ucap ibu Miela menitis air matanya, dia merasa terharu.
"Sebelum itu aku mau tanya. Ibu sakit dibahagian mana atau gejala sakit ibu?"
"Beberapa bulan yang lalu. sewaktu ibu pulang dari kerja, didaerah ini terjadi ribut kuat tiba tiba ada sebatang pokok tumbang dan menghempap kaki ibu. Sejak dari hari itu ibu tidak bisa berjalan lagi."
"Bolehkah saya melihat kondisi kaki ibu?"
__ADS_1
"Ya silakan."
Siumei pun memandang yang lain kemudian berkata "Kamu semua boleh keluar sebentar. Saya perlu tumpukan perhatian untuk merawat ibu. Huan'er, Zan'er, kamu boleh pulang duluan jika kalian mahu. Lagian hari sudah malam."
"Kami mau nungguin kamu sampai selesai merawat." Kata Huan
"Kalau begitu kita pergi keruang depan sebentar, saya mau menggeluarkan barang yang saya beli tadi," kata Siumei kepada mereka. Dia pun berkata pada ibunya Miela, “Sebentar ya ibu, saya mau bicara sama teman teman ku." Ibu itu pun menganggukkan kepala.
Mereka menuju ke ruang hadapan dan Siumei mengeluarkan barang-barang yang dibelinya tadi dari cincin ruang nya. Huan dan Zan berpandangan tidak percaya kerana cincin ruang itu biasa nya digunakan oleh para bangsawan, kerana harganya sangat mahal. Tidak ramai yang mampu membeli nya.
'Siapa sebenarnya dia? Adakah dia dari keluarga bangsawan? Tetapi keluarga para bangsawan selalu diundang ke istana apabila ada acara, saya rasa saya tidak pernah melihatnya.' Huan Zo bergumam dalam hatinya.
"Jiejie bisa kah kamu memasak untuk makan malam untuk kami semua?" tanya Siumei kepada Cisin
"Bisa aja, aku akan masak untuk kalian. Mari Miela bantu aku di dapur."
"Makasih Jiejie. Jangan lupa masakkan bubur untuk ibunya Miela" meraka berdua pun pergi kedapur diikuti Siumei yang pergi menuju ke kamar ibunya Miela.
'Kaki bengkak, ada luka bernanah dikakinya. Pasti terkena infection. Ku rasa tulang kaki nya retak atau patah. Pasti bisa bercantum kembali jika aku mengunakan pil pemulih tulang. Aku memerlu kan beberapa pil obat dan peralatan untuk rawatan, tapi gimana aku mau ambilnya diruang dimensi?' Fikir Siumei.
"Apa kamu mau bantuan ku? Aku bisa mengeluarkan racun bius, jika digunakan dalam kuantiti yang sedikit bisa membuatkan orang yang terkena racun itu akan tertidur sebentar. Tapi jangan risau, la tidak berbahaya" Nagin berbicara dengan Siumei.
"Bagus kalau gitu, ayo silakan melakukannya."
Nagin keluar daripada ruang dimensi bintang tanpa diketahui oleh ibunya Miela. Lalu Nagin meyemburkan racun bius kearah muka ibu itu, dan membuatkan nya tertidur.
Siumei dan Nagin masuk kedalam ruang dimensi bintang. Siumei mengambil beberapa jenis obat dan peralatan yang akan digunakan untuk perawatan, lalu memasukkan ke dalam cincin ruang. Setelah mengambil barang yang diperlukan. Siumei pun keluar dari ruang dimensi bintang
Ibu masih tetidur lagi ketika Siumei keluar dari dimensi bintang. Siumei pun segera mencuci dan merawat luka yang bernanah di kaki ibu. Setelah selesai, dia menejutkan nya.
__ADS_1
"ibu ibu bangun bu"
"Ermm.. eh maaf nak ibu ketiduran"
Siumei hanya tersenyum mendengarkan kata ibu itu. "Tadi aku sudah cuci luka dikaki ibu dan menyapu obat di kaki ibu. Sekarang ibu telanlah pil pemulih tulang ini untuk memulihkan tulang di kaki ibu yang patah." Terang Siumei sambil memberikan obat pil pemulih tulang.
"Tapi nak Siumei, pasti pil ini sangat mahal harganya. Apa kamu tidak keberatan memberiku pil ini secara gratis.?"
"Ngak usah pikirin harga nya. Aku ikhlas kok mau bantuin ibu dan melihat ibu bisa berjalan kembali. Tapi kesan dari pil ini amat menyakitkan sekali. Aku harap ibu bisa bertahan, Gigit kain ini jika ibu merasa sakit." Siumei menerangkan kesan pil itu dan memberikan kain yang diambil dari ruang dimensi bintang.
Setelah menerima pil itu, ibu pun menelan pil itu. Dia merasa sakit yang teramat sangat seperti tulang nya retak seribu. Dia menggigit kain yang diberikan Siumei tadi. Terlihat mukanya merah padam akibat menahan sakit dan banyak keringat keluar dan badannya, Air matanya pun turut menitis
Akhirnya rasa sakit yang diderita nya tadi beransur hilang. Ibu itu terbaring lemah. Siumei mengelap keringat di wajah ibu itu.
"Ibu minum air ini, agar ibu bisa kembali bertenaga." Lalu Siumei membantu ibu itu untuk duduk agar bisa dia meminum air dari sungai pemulih jiwa.
Ibu itu pun meminum air yang diberikan oleh Siumei, sambil dibantu Siumei. Setelah meminum air yang diberikan, terlihat wajah pucat ibu tadi kembali memerah. Tapi masih dalam keadaan lemah
"Aku akn melanjutkan rawatan ku besok. Kerana sekarang ibu masih lemah aku kawatir jika aku meneruskan rawatan nya maka pasti ibu tidak bisa bertahan dengan rawatannya." Terang Siumei
"Baiklah nak Siumei, makasih mau bantuan ibu."
Siumel tersenyum. "Ibu pasti lapar, tadi aku udah memberitahu jiejie ku untuk membuat bubur untuk ibu, pasti udah siap buburnya. Sebentar ya bu, aku pergi lihat apa udah siap bubur nya"
ibu tersenyum, dia merasa bersyukur kerana dipertemukan dengan insan yang baik seperti Siumei dan teman nya.
Siumei mencari jiejie nya. Ternyata mereka semua pada berkumpul diruang depan, duduk di atas lantai yang tidak beralas. Jiejie nya sudah selesai memasak tapi mereka menunggu Siumei untuk makan bersama sama. Mereka bangun dari duduknya setelah melihat Siumei keluar dari kamar
"Jiejie apa bubur untuk ibu udah masak?" Soal Siume
__ADS_1
"Aku sudah memasak nya. Sebentar aku ambilin."
"Kakak apa ibuku udah baikan?" Soal Miela, meresa panasaran mengenai kondisi ibunya. Yang lain pun pada panasaran ingin mengetahui kondisi ibu Miela.