
Ketika Xia dan yang lainnya di ruang makan untuk makan siang, Putra Jing Zhi dan ayahnya pulang dari istana.
"Wahh.. Aku pulang pada waktu yang tepat, perutku udah lapar." Ucap Putra Feng Xi yang memasuki ruang makan bersama ayahnya.
"Lama pulangnya kak?" Tanya Xia.
"Iya, banyak hal yang perlu dibincangkan. Nanti gege akan ceritakan. Sekarang kita makan dulu." Mereka pun makan bersama.
"Putra Jing Zhi makan lah yang banyak." Ucap Chu Wenli sambil meletakkan sayur di dalam mangkuk Putra Jing Zhi, dia mencoba untuk menarik perhatian Putra Jing Zhi.
Putra Jing Zhi menjeling ke arah Xia, tanpa melihat Chu Wenli. Terlihat Xia tenang, tidak menunjukkan sebarang reaksi.
"Wenli kamu berhias dan rapi seperti ini nak pergi ke mana?" Tanya menteri Chu yang melihat anak nya, sepertinya berlebihan menghias dirinya.
"Hari ini Wenli tidak kemana -mana ayah. Memang Wenli seperti ini selalunya." Balas Chu Wenli yang sentiasa tersenyum untuk coba menggoda pria dihadapan nya, tetapi Putra Jing Zhi hanya mengabaikannya.
Putra Feng Xi dapat merasakan bahawa Chu Wenli sepertinya mau menggoda Putra Jing Zhi, dia Coba untuk menjahili adik tirinya. "Putra Jing Zhi kapan kamu mau menikah dengan Xia?"
Putra Jing Zhi yang mendengar akan pertanyaan dari Putra Feng Xi langsung tersedak. Uhukk.. uhukk.. uhukk.. Xia langsung memberi air kepada kekasih nya sambil menepuk - nepuk punggungnya.
Chu Wenli dan Chu Minli terkejut mendengarkan pertanyaan dari Putra Feng Xi.
'Sialan, dia kekasih Xia rupanya. Karna itulah dia sepertinya tidak menghiraukan ku. Aduh.. kalau aku tau tidak perlu aku berhias seperti ini. Bikin malu aja. Tapi ngak apa, kalian masih belum nikah lagi. Aku masih berpeluang lagi dan aku harus terus menggoda nya dan merampasnya dari Xia.' ujar Chu Wenli dalam hatinya.
"Kak, kamu nanya soalan ngak sesuai tempat lho. Tengok dah tersedak, nasib baik tak tercekik."
"Maaf kalau soalan ku membuat mu kaget." Yang lainnya pada tertawa melihat Xia dan kekasih nya terkecuali Wenli dan Minli yang cemberut wajahnya. Putra Feng Xi yang melihat kedua beradik itu pada cemberut, tersenyum menang.
Selesai makan Xia, Putra Jing Zhi, Menteri Chu, Putra Feng Xi dan Cisin pergi ke ruang kerja Menteri Chu untuk memberi tahu Xia akan hal yang dibincangkam di Istana tadi.
"Kita akan berangkat 2 hari dari sekarang menuju ke Istana kerajaan Timur bagi berbincang dahulu bersama kaisar Dong. Mengenai pembasmian sisa pemberontak yang markasnya di pinggir daerah kerajaan Timur."
__ADS_1
"Mengapa kita tidak terus menyerang pemberontak itu?" Tanya Xia.
"Tidak bisa karna mereka berada di kawasan jajahan kerajaan Timur, kita perlu meminta keijinan kaisar Dong terlebih dahulu." Balas Putra Feng Xi.
"Benar tu Xia'er, jika kita berada di rumah orang. Kita harus meminta ijin tuan rumah dahulu, jika kita mau melakukan sesuatukan. Jika tidak meminta ijin tuan rumah, takut nantinya tuan rumah menuduh kita mau mencuri barang dan bisa terjadinya pertengkaran serta pergaduhan. Umpama seperti itu lah." Terang Putra Jing Zhi.
"Jika kaisar Dong tidak memberi keijinan, bagaimana?" Tanya Xia lagi.
"Sebab itulah kita perlu berbincang dengannya. Kaisar Nan telah menghantar surat kepada kaisar Dong. Kita akan datang untuk berbincang. Jika melibatkan pemberontak, pasti kaisar Dong tiada halangan untuk memberi keijinan karna ini juga akan membantu keamanan kerajaan Timur." Xia mengangguk kan kepalanya mendengar penerangan dari gege nya.
"Bagaimana dengan jeneral Tong? Hukuman apa yang dijatuhkan terhadap nya?" Tanya Cisin panasaran.
"Jeneral Tong dan anak buahnya dijatuhkan hukuman mati besok pagi. Keluarga jeneral Tong juga akan dijatuhkan hukuman yang sama besok." Terang Putra Feng Xi.
"Xia'er, apakah kamu akan ikut gege mu kesana?" Tanya menteri Chu.
"Iya ayah."
"Ayah tidak mau menghalang mu tapi berjanjilah bahawa kamu akan sentiasa menjaga dirimu."
"Kami akan sentiasa menjaga Xia'er. Ayah tidak usah kawatir." Ucap Putra Feng Xi sambil menepuk punggung Putra Jing Zhi. Putra Jing Zhi tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.
"Pasti paman. Kami akan melindungi Xia'er." Putra Jing Zhi melihat Xia. Xia menundukkan kepalanya malu.
"Cia.. cia.. lihat wajahnya, udah memerah." Usik Putra Feng Xi.
"Eee... ge..gee.." Xia kesal dengan sikap kakak nya.
Haa.. haa.. haa.. mereka semua tertawa senang.
"Xia'er, kakak telah beritahu kaisar Nan yang kamu akan turut serta. Pada awalnya Kaisar Nan tidak mengijinkan kamu pergi karna kawatir akan membahayakan nyawamu tapi setelah memberi tahu kaisar Nan bahawa kamulah yang memberi sumbangan besar atas kejayaan menewaskan pemberontak di desa Krisan. Dia terkejut mendengar nya dan Putra Huan Zo juga memberi keterangan mengenai haiwan kontrak mu, barulah kaisar Nan mengijinkan. Dia juga tidak menyangka akan kehebatan mu diusia muda begini. Jika gege tidak melihatnya sendiri pun, gege juga tidak percaya. Kamu memang adik ku yang terhebat." Ucap Putra Feng Xi yang merasa bangga dengan miemienya. Xia hanya tersenyum.
__ADS_1
"Oh iya, Kali ini kita akan pergi ke kerajaan Timur bersama Putra Sam Zo putera kedua kaisar Nan." Putra Feng Xi melihat adiknya tapi sepertinya Xia tidak memberi sebarang reaksi.
"Apa kamu tidak panasaran Xia, mengapa bukan Putra Huan Zo yang ikut?" Tanya Putra Feng Xi.
Xia memandang gegenya "Emangnya mengapa?"
"Iya tadi sempat terjadinya pertelingkahan antara kaisar Nan dengan Putra Mahkota."
"Pertelingkahan!!"
"Iya.. kaisar Nan tidak mengijinkan Putra Mahkota nya untuk turut mengikuti tugas membasmi pemberontak kali ini setelah mengetahui bahawa kamu dan Putra Jing Zhi akan ikut pergi ke sana."
"Tapi mengapa?" Tanya Xia
"Apakah kamu tidak tahu bahawa Putra Huan Zo mencintaimu. Dia juga pernah mengatakan bahawa dia ingin kaisar Nan melamarmu menjadi permaisurinya ketika sebelum kehilanganmu dahulu. Karna itulah kaisar Nan tidak mau putra Mahkota turut serta dalam tugas kali ini. Kaisar tidak mau putra Mahkota sakit hati melihat kalian bersama dan juga tidak mau anaknya merebutkan kekasih orang."
"Kak!!" Xia membesarkan matanya sambil menjeling ke tepi, menunjuk ke arah Putra Jing Zhi.
Putra Feng Xi faham dengan sinyal adiknya. "Aku menceritakan ini karna untuk mengelakkan berlakunya salah faham antara kalian kelak Putra Jing Zhi."
"Hah.. Iya.. iya kak." Putra Jing Zhi yang sempat bengong terkejut mendengar namanya disebut.
Putra Feng Xi juga meminta pendapat yang lainnya mengenai tugas kali ini. Setelah selesai berbincang, mereka pun pamit ke kamar masing - masing.
Putra Jing Zhi hanya terdiam dan terus jalan menuju ke kamarnya.
Chu Wenli yang kebetulan melihat Putra Jing Zhi berjalan keseorangan tanpa ada Xia disisinya mendapat satu idea untuk menggoda Putra Jing Zhi.
"Putra.. Putra.. tolong aku." Teriak Chu Wenli cemas sambil berlari ke arah Putra Jing Zhi.
"Ada apa?" Tanya Putra Jing Zhi hairan melihat Chu Wenli yang berteriak meminta tolong.
__ADS_1
"A..da.. ada.. tikus dikamarku.. Aku takut sekali.." kata Chu Wenli yang terlihat keletihan karna berlari tadi sambil memegang lengan Putra Jing Zhi. "Ayo, tolong bantuin aku mengusir tikus itu." Chu Wenli menarik tangan Putra Jing Zhi untuk mengikuti nya.
Putra Jing Zhi pun mengikuti Chu Wenli.