
Cisin pun pergi ke ruang bawah, di mana terdapat kedai makan di bawah. Dia memesan pada pelayan yang bertugas untuk membawa makanan untuk dua orang makan dia kamar Xia. Cisin memberitahu nama kamar yang Xia sewa.
Setelah itu, Cisin kembali kekamar Xia. Tidak menunggu lama, pelayan tadi membawa makanan yang telah Cisin pesan tadi.
Setelah selesai makan, Xia dan Cisin hanya duduk bermalasan di kamar Xia.
"Ternyata kalian di sini." Ucap Putra Fu Yi yang datang secara mengejut di kamar Xia. Nin Jun juga mengikut Putra Fu Yi masuk ke kamar Xia. Pintu kamar Xia tidak di tutup, jadi mereka bisa melihat Xia dan Cisin dari luar kamar.
"Fu Yi.. Apa kau mencari kami? Ada apa?"
"Tidak ada apa - apa.. Apa kalian hanya mau bermalas - malasan di kamar aja? Kalian tidak mau keluar jalan - jalan?"
"Cuaca di luar sejuk, aku merasa malas untuk keluar."
"Xia.. Xia.."
Bbukk.. "Aarrhhh.. aduh.." Zu yang menjerit memanggil Xia dari luar kamar, terjatuh terlanggar kayu di pintu masuk kamar Xia.
Mereka yang berada di kamar Xia terkejut melihat Zu yang dalam keadaan cemas dan terjatuh di hadapan mereka.
"Zu.. Ada apa? Di mana Renyu?" Xia bertanya dengan cemas.
"Xia.."
"Apa kau sakit?" Xia langsung mendekati Zu.
"Aku tidak sakit tapi.. tapi.."
"Tapi apa Zu.. katakan apa yang terjadi pada Renyu?" Xia berkata dengan nada tinggi. Dia merasa khawatir dengan Renyu.
"Renyu tidak apa - apa.. tapi Putra Ren Zie.."
"Putra Ren Zie!!!" Cisin dan lainnya berkata serentak.
Xia terdiam seketika. 'Apa ini penyebab perasaan ku tidak enak sejak kemarin.'
"Kenapa? Di mana dia sekarang? Apa yang terjadi padanya? Katakan Zu.. katakan padaku." Xia bertambah cemas.
"Dia Di sekta Gaodu.."
Xia langsung berlari, keluar dari kamarnya dan menuju ke sekte Gaodu. 'Semoga kau tidak terluka parah.' ucap Xia di dalam hatinya.
Yang lainnya turut mengukuti Xia, tetapi Xia telah jauh ke hadapan.
"Zu, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Putra Ren Zie?" Cisin bertanya sambil berlari di samping Zu.
"Mereka menyerang klan hitam tadi malam dan Putra Ren Zie cedera."
"Apa..!!" Cisin merasa khawatir mendengarkan ucapan Zu. Dia semakin melajukan larian nya untuk mengejar Xia.
"Di mana Putra Ren Zie??" Xia bertanya pada pengawal yang menjaga pintu sekte Gaodu.
"Xia.. Xia.. Di sini..." Xia menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Renyu.." Xia langsung menuju ke arah Renyu.
"Dia di dalam." Ucap Renyu.
__ADS_1
"Ren Zie..." Setelah masuk ke tengah ruangan itu. Xia menghentikan langkah kakinya.
Terlihat dihadapannya, Ada seseorang sedang berbaring di atas kasur. Guru Chee masih memeriksa keadaannya dan di samping nya terlihat wajah sedih Ming.
"Putri Xia..!!" Guru Tao memanggilnya. Xia hanya terdiam dan melihat ke arah guru Tao dan guru Lee.
"Xia.." Cisin yang baru sampai memegang bahu Xia. Barulah Xia tersadar.
"Ren Zie...!!" Xia mula menangis dan mendekat ke arah Ren Zie berbaring.
Cisin langsung memeluk Xia. Dia tidak mahu Xia mengganggu guru Chee yang masih mengobati Putra Ren Zie.
"Ren Zie, Aku mohon jangan tinggal kan aku.. Jangan pernah tinggal kan aku seperti Jing Zhi. Aku mohon, bertahanlah untuk hidup lebih lama. Aku berjanji akan jadi isteri yang baik." Xia menangis di bahu Cisin.
"Bersabarlah Xia.." ucap Cisin yang cuba untuk menenangkan Xia, tapi dia juga turut mengalirkan air matanya.
"Jiejie.. katakan pada Ren Zie jangan tinggal kan aku.." kaki Xia mulai lemah, dia terduduk. Cisin masih memeluknya.
"Hikk.. hikk.. hikk.." Xia menangis pilu.
Yang berada di kamar itu turut menitiskan air mata, melihat Xia. Manakala ketiga guru Xia merasa menyesal tidak memberitahu Xia perkara sebenar.
"Xia.." seseorang memanggil Xia tetapi Xia tidak mendengarnya.
"Xia.." dia memanggil lagi dengan sedikit keras.
Xia berhenti menangis dan cuba untuk mendengar suara itu lagi. Apa dia sedang berhalusinasi.
"Xia.."
"Ren Zie..." Xia memandang Putra Ren Zie yang telah duduk di atas kasur tadi.
"Ren Zie..." Xia langsung berlari dan memeluk Putra Ren Zie.
"Aauuww.."
Xia tidak menghiraukan Ren Zie yang menjerit karna sakit di terkamnya. Ren Zie tersenyum bahagia, melihat Xia memeluknya.
Dia membalas kembali pelukan isterinya.
"Xia.. lepaskan.. sakit.." Putra Ren Zie akhirnya berkata, karna tidak dapat menahan rasa sakit di punggung nya yang telah ditekan Xia.
Xia melepaskan pelukannya dan menatap Putra Ren Zie. Putra Ren Zie menghapuskan air mata Xia.
"Apa sakit??"
"Ermm.."
"Guru Tao mengapa kau tidak memberitahu ku, bahawa Putra Ren Zie mau menyerang markas Klan hitam?" Xia menatap marah pada guru Tao.
"Maaf.."
"Guru Tao tidak bersalah, aku yang menyuruh nya untuk tidak memberitahu mu."
"Tapi kenapa?"
"Aku mau membuktikan padamu, aku juga bisa menjaga keselamatan kau dan anak - anak kita."
__ADS_1
Xia merasa terharu dengan ucapan Putra Ren Zie. "Kelak, jangan lakukan seperti ini. Aku tak mau kau terluka lagi."
"Baiklah.."
"Kalian boleh keluar semua. Ada yang mau aku katakan pada isteri ku, berdua sahaja." Semua orang di ruangan itu pun keluar dari situ.
"Ada apa?" Xia bertanya.
"Apa kau udah memaafkan ku?"
"Ermm... Aku.. aku" ucap Xia gagap.
"Xia.." Xia memandang suaminya.
"Aku udah berfikir dan aku akan memberi kau peluang."
Putra Ren Zie merasa bahagia mendengarkan
ucapan Xia.
"Terima kasih Xia." Putra Ren Zie tersenyum bahagia.
"Aku berjanji akan membahagiakan hidupmu bersama anak - anak kita."
"Aku pegang janji mu itu. Oh iya.. udah lama aku tidak bertemu Putra Putri kita.. di mana mereka? Aku mau bertemu mereka."
"Mereka masih berada di istana kaisar Xi."
"Aku mau menemui mereka, apa kau mau ikut?"
"Iya.. tapi tunggu aku sembuh dulu."
"Apa sakit?"
"Ya iya lah.. tapi untung aja ada Zu yang sempat membunuh musuh itu. Jika tidak pasti luka ku lagi parah."
"Zu??" Xia bertanya untuk kepastian.
'Aduh.. aku keceplosan.. Maafkan aku Zu..' Putra Ren Zie berkata di dalam hatinya.
"Tadi Zu yang memberitahu ku.. Ooo.. jadi kalian berpakat menipu ku!!" Xia langsung berdiri.
"Sayang.. bukan menipu mu.. Aku memang sakit tapi lukanya tidak dalam karna Zu sempat menyelamatkan ku."
"Ternyata Zu.. dan Renyu juga tau!!! kalau kau menyerang markas klan hitam kemarin!!"
"Mereka tidak bersalah.. Aku yang meminta bantuan dari mereka."
"Aku tuan mereka, seharusnya mereka mendengar kan arahan dari ku sahaja."
'Aduhh.. gawat ni!! Sepertinya Xia sangat marah' ucap Putra Ren Zie di dalam hatinya.
"Zu.. Renyu masuk!!!" Xia mengarahkan mereka masuk melalui fikiran nya..
Zu dan Renyu pun masuk ke dalam kamar, mereka dapat merasa yang Xia sedang marah. Pasti udah ketahuan. Ming juga ikut masuk, karna dia merasa khawatir dengan Putra Ren Zie.
"Katakan, apa benar kalian berdua udah mengetahui Putra Ren Zie ada di sini kemarin?"
__ADS_1
Zu dan Renyu hanya diam, tidak menjawab.
"Kenapa kalian diam, ternyata benar."