
Setelah kembali kekamarnya, Xia langsung berbincang dengan Cisin dan temannya berkaitan sekta perguruan Gaodu. Mereka juga menyusun strategi untuk memusnahkan anggota klan hitam yang berada di sekta itu. Karna terlalu sibuk berbincang, Xia melupakan perkara yang telah dibincangkan dengan Putra Ren Zie tadi.
Xia mengarahkan Nagin dan Leo untuk mencari kedudukan sekta perguruan Gaodu dan menyiasat tentang guru Phang.
Di masa yang sama di dalam istana heboh tentang penyakit aneh selir Hui dan putranya yang bisa menular. Akhirnya kaisar mengarahkan Selir Hui dan putranya untuk di asingkan ke istana belakang. Istana yang telah lama terbiar. Pelayan akan datang sehari sekali sahaja.
Permaisuri mendengar berita itu merasa kasihan tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karna takut terkena penyakit yang tidak ada obat nya itu. Beberapa hari kemudian Xia telah mendapat informasi yang dia mahukan dari Leo dan Nagin.
"Ermm... menarik.. aku akan ikut mendaftar sebagai murid baru di sekta perguruan itu." Ujar Xia setelah di beritahu Nagin bahawa bulan hadapan di sekta Gaodu akan menerima murid baru.
"Apa kita akan beritahu pada Putra Ren Zie?" Leo bertanya.
"Tidak.. aku tidak mau dia mengetahuinya."
"Pendaftaraan telah dibuka, apa kau mau aku pergi mendaftar untuk mu?"
"Iya Nagin. Kau tolong pergi kesana dan daftarkan atas nama Chu Xiana dan Chu Cisin."
Beberapa hari telah berlalu, sekali lagi di dalam istana di gemparkan dengan berita kematian selir Hui dan setelah itu kematian Putra Hei Zi. Kematian yang mengerikan, di karnakan sifat serakah yang menguasai diri buruk padahnya.
Terasa masa berlalu begitu lambat, Xia udah tidak tahan untuk terus berada di dekat Putra Ren Zie. Karna semua yang di lakukan Xia, tidak kena di mata Putra Ren Zie. Mahu saja Xia pergi dari situ tetapi kesihatan permaisuri menurun sejak mengetahui kematian selir Hui. Xia merasa kasihan padanya dan tidak sanggup untuk pergi.
Satu hari Putra Ren Zie menjahili Xia dan membuat Xia merasa marah dan geram.
"Jiejie Cici, kau lihat kan tadi.. kenapa dengan dia? Apa yang aku lakukan semua salah.. itu tidak bisa, ini salah.. Arrgghh.. geramnya..!!!"
"Yang sabar Xia." Cisin memujuk.
"Dia sengaja.. sejak akhir-akhir ini, dia suka cari masalah dengan ku. Aku harus memberinya pelajaran."
"Tidak usah Xia.. kau ni seperti anak kecil aja."
__ADS_1
Xia tersengih karna dia telah mempunyai ide untuk kenakan Putra Ren Zie. "Biarkan, biar kapok."
Keesokan harinya ketika Putra Ren Zie sedang sibuk membaca dan menulis laporan di ruang kerjanya. Putra Ren Zie di kejutkan dengan kehadiran Leo yang terlihat cemas.
"Putra Ren Zie.. tolong.. tolong Putri Xia pengsan."
Putra Ren Zie yang mendengarnya merasa sangat khawatir terus berlari. Melihat Putra Ren Zie berlari, Leo menjerit. "Putri Xia di taman belakang istana."
Tanpa curiga Putra Ren Zie dan Ming langsung bergegas ke sana. Terlihat Xia terbaring di tengah taman, Putra Ren Zie melajukan lagi langkah kakinya. Tiba-tiba Putra Ren Zie tergelincir karna terpijak sesuatu yang licin dan dia tidak bisa mengimbangi badannya, Ming cuba untuk membantu tetapi tidak berjaya. Mereka berdua terjatuh kedalam lumpur, habis badan dan wajahnya terbenam di dalam lumpur.
Putra Ren Zie dan Ming berusaha untuk duduk, ketika itu terdengar Xia tertawa.
"Haaa.. haa.. haaa."
Putra Ren Zie memandang Xia dan barulah dia mengerti, ini hanyalah jebakan. Habis satu badannya disaluti lumpur termasuk wajahnya.
Xia mendapat tatapan tajam dari Putra Ren Zie, langsung mengejeknya..
Dengan perasaan yang geram dan amarah, Putra Ren Zie cuba untuk bangun dan mengejar Xia tetapi tidak disangka Putra Ren Zie terkena jebakan kedua Xia. Putra Ren Zie terlanggar tali yang di pasang Xia, di mana jika terlanggar tali itu sebaskom tepung akan melayang kearah nya. Poommp... Lumpur yang basah dan di campur dengan tepung.
"Haa.. haa haa.. lengkap seperti beruang kutub. Haa. haa.. haa." Xia merasa puas hati karna rencananya berjaya.
"Kau hukk hukkk." Putra Ren Zie terbatuk karna tepung termasuk ke dalam mulutnya. Xia langsung melarikan diri. Pelayan yang kebetulan lalu terus melarikan diri karna takut terkena tempiasnya.
Ming yang masih terduduk di lumpur hanya menepuk dahi dan menggelengkan kepalanya.
Beberapa orang pengawal menghampiri dan membantu membersihkan wajah Putra Ren Zie dan Ming.
Putra Ren Zie pun berlalu pergi dengan perasaan yang sangat marah pada Xia.. "Berani kau?? Tunggu hukuman dari ku."
Ketika berjalan menuju kamarnya Putra Ren Zie berteriak memberi amaran. "Siapa yang menyebarkan atau bercerita di belakang ku, akan ku potong lidahnya." Semua pelayan tertunduk dan merasa ketakutan.
__ADS_1
Xia yang kembali kekamarnya merasa puas karna berjaya menjebak Putra Ren Zie.
"Xia cukup.. berhentilah tertawa.. berani nya kau membuat begitu pada seorang Putra Mahkota."
"Siapa takut.. dia yang memulainya."
"Jangan kau menyesalinya. Udah aku peringati sebelumnya."
"Iya aku tau, udahlah aku mau istirehat." Cisin pun keluar dari kamar Xia dan menutup pintu. Dia merasa tidak sedap hati, takut Putra Ren Zie akan menghukum Xia.
Setelah seminggu berlalu Putra Ren Zie tidak menunjukkan wajahnya di hadapan Xia. Dia seolah- olah sedang bersembunyi. Xia mengabaikannya karna Putra Ren Zie tidak lagi mengganggunya seperti sebelumnya.
Tinggal beberapa hari lagi sebelum sayembara penerimaan murid baru yang diadakan di sekta Gaodu. Xia mengarahkan Leo dan Nagin untuk pergi mencari rumah tumpangan berdekatan sekta Gaodu. Agar mudah untuk mereka berehat semasa menunggu sayembara itu berlangsung.
Tanpa diketauhui oleh Xia, sebenarnya Putra Ren Zie menunggu saat di mana haiwan kontrak Xia pergi dari Sisi Xia.
Malam itu Putra Ren Zie membawa pengawal terhebatnya dan meluru masuk ke kamar Xia. Ketika itu Xia bersedia untuk tidur, terkejut melihat Putra Ren Zie dan beberapa orang pengawal datang.
Putra Ren Zie langsung menuju kearaah Xia dan langsung mengunci titik meridian Xia. Xia yang merasa terkejut dengan kedatangan Putra Ren Zie yang tiba-tiba, tidak sempat untuk mengelak serangan itu. Membuatkan Xia tidak bisa bergerak, tetapi masih bisa berbicara dan melihat.
"Apa yang kau lalukan? Lepaskan aku." Xia berteriak marah.
"Haa.. haa.. aku akan memberi hukuman padamu malam ini."
"Kau...!! Renyu, Zu bantu aku.."
Mereka berdua langsung keluar, setelah menerima arahan Xia. Tetapi mereka tidak bisa mendekati Xia karna dikepung dengan sepuluh orang pengawal termasuk Xiong dan Ming. Ketika berlawan membuat mereka terkeluar dari kamar Xia.
Putra Ren Zie tersenyum dan langsung menutup pintu kamar, setelah itu dia membuat array petahanan yang kukuh, agar tidak ada yang bisa menembusinya. Jika ada pun pasti memerlukan masa yang lama dan menggunakan tenaga yang banyak, atau orang yang mahir menggunakan array sahaja yang bisa memusnahkan array yang di buat Putra Ren Zie.
Putra Ren Zie mendekati Xia.
__ADS_1