Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
75 - Berita Sedih


__ADS_3

Dua hari sebelum hari pernikahan, rombongan calon pengantin perempuan telah tiba di Istana kerajaan utara. Mereka disambut meriah oleh menteri yang telah ditugaskan.


Xia hairan mengapa Putra Jing Zhi tidak menyambut nya.


"Menteri Song, dimana Putra Jing Zhi? Mengapa dia tidak menyambut kedatangan kami?" Tanya Xia kepada Menteri Song yang menyambut nya. Sebentar tadi Menteri Song telah memperkenalkan dirinya.


"Erm.. itu karna adat.. ya adat kerajaan utara. Calon pengantin pria tidak dibenarkan bertemu dengan calon pengantin perempuan beberapa hari sebelum hari pernikahan." Ujar Menteri Song.


"Ermm.. Ada juga adat seperti itu disini?" Ujar Xia, masih merasa curiga dengan alasan yang diberi Menteri Song.


"Mari Putri kita masuk kedalam, ada sedikit jamuan yang telah disediakan." Ujar Menteri Song, cuba untuk menukar topik perbualan. Xia langsung masuk karna kaisar Xi dan yang lainnya udah masuk ke Istana tetamu yang telah disediakan.


Selesai makan, Xia yang kelelahan karna perjalanan jauh telah melupakan kecurigaan nya tadi. Lalu masuk kekamarnya dan tertidur. Xia terbangun dari tidurnya karna ada yang mengetuk pintu kamarnya.


Tuk.. tuk.. "Puteri.. Puteri"


"Iya.. siapa?"


"Saya pelayan disini. Puteri.. diluar ada Putra Mahkota Ren Zie ingin berjumpa dengan Puteri."


Xia merasa hairan karna dilihat dijendela kamar, hari udah malam. 'Mengapa Putra Mahkota mau bertemu dengan ku. Hari udah gelap. Ermm.. mungkin ada yang ingin dibahaskan tentang pernikahan adiknya.' bicara Xia dihatinya.


"Sebentar.." Xia pun membuka pintu kamarnya yang memang berkunci dari dalam. Putra Mahkota Ren Zie masuk kedalam kamar.


"Kalian boleh keluar dan tutup pintunya." Ujar Putra Mahkota Ren Zie.


"Jangan ditutup, biar terbuka saja." Ujar Xia. Putra Mahkota Ren Zie memandang pengawalnya dan membuat isyarat yang Xia tidak faham. Terlihat pengawal itu menganggukan kepalanya dan mengikut arahan Putra Mahkota Ren Zie. Pengawal itu pergi dan menutup pintu kamar.


"Tunggu.." Xia melangkah mau menuju ke arah pintu tetapi dihalang oleh Putra Mahkota Ren Zie dengan wajah seperti ingin menelan Xia hidup - hidup.


"Kenapa dengan anda Putra Mahkota Ren Zie? Tidak manis dilihat orang, jika kita berdua didalam kamar. Lagian dua hari lagi, aku akan menjadi isteri adikmu. Aku tidak mau ada yang mengata kita mempunyai hubungan terlarang kemudian hari. Tolong jaga air muka ku dan calon suamiku." Marah Xia.


"Ada hal penting yang ingin aku katakan berkaitan Putra Jing Zhi."

__ADS_1


"Dimana dia? Ada sesuatu terjadikah padanya?" Xia mulai cemas karna petang tadi dia udah merasa tidak sedap hati dan curiga pada Menteri Song.


"Putra Jing Zhi telah meninggal.." ucap Putra Mahkota Ren Zie sambil menundukkan wajahnya.


"Jangan bercanda... Katakan sejujurnya.." Xia meninggikan sedikit suaranya. Matanya mula merah


"Apa wajah ku terlihat seperti seseorang yang sedang bercanda?" Xia melihat wajah Putra Mahkota Ren Zie yang serius, langsung menitiskan air mata nya.


"Tidak.. tidak.. itu tidak mungkin.. dua minggu lalu, dia baru saja menulis surat untukku." Xia menyeka air matanya.


"Putra Jing Zhi meninggal seminggu yang lalu."


"Tidak.. hikk.. hikk.. hikk.." Xia terduduk dan menangis.


"Kita akan meneruskan pernikahan ini. Aku akan menggantikan Putra Jing Zhi." Ucap Putra Mahkota Ren Zie sambil menundukkan badannya, dihadapan Xia yang terduduk. Agar bisa bicara dengan jelas pada Xia.


"Aku tidak bersetuju. Tega kau melakukan itu kepada adikmu sendiri. Atau kau yang telah membunuhnya." Ujar Xia sambil berdiri. Xia membulatkan matanya sambil merenung Putra Mahkota Ren Zie.


"Jaga tutur bicaramu. Kau pikir aku teringin untuk menikah dengan mu? Jika bukan karna arahan dari ayahku. Tidak ada sedikit niat pun untuk menikah dengan wanita penggoda seperti mu." Ujar Putra Mahkota Ren Zie sambil menatap wajah Xia.


'Mengapa dengan dadaku. Terasa sakit saat melihat wajahnya dari dekat seperti ini' bicaranya dalam hati. Putra Mahkota Ren Zie langsung melepaskan tangannya. "Maaf, aku terlalu emosi. Aku juga merasa sedih seperti yang kau Rasa saat ini. Aku kehilangan adik kesayangan ku. Dia adalah satu satunya adik kandungku yang sama ibu dan ayah"


Hukk.. hukk.. Xia terbatuk ketika Putra Mahkota Ren Zie melepaskan tangannya.


"Xia, apa kau memerlukan bantuan kami." Leo bersuara dipikiran Xia. Mereka khawatir dengan Xia.


"Tidak.. Aku akan mengatasinya sendiri" balas Xia.


"Terangkan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" Xia bertanya dengan merendahkan suaranya.


"Pagi tu, aku dan bondaku datang kekamarnya karna telah berjanji dengannya untuk memilih beberapa barang dihari pernikahan nya nanti. Waktu kami memanggilnya dari luar kamar, tiada sahutan dari kamarnya. Waktu itu aku pikir dia masih tidur. Aku buka pintu kamarnya dan mendapati dia telah terbaring kaku dilantai kamar. Aku.. aku memeriksa nadinya.. dia.." Putra Mahkota Ren Zie tidak menghabiskan bicaranya. Terlihat dia mengelap air matanya.


"Bagaimana ini bisa terjadi. Tidak adakah pengawal yang menyadarinya." Tanya Xia yang mula beremosi.

__ADS_1


"Tidak ada yang mengetahui, karna tiada ada orang yang keluar masuk dari kamarnya pada malam itu. Putra Jing Zhi meninggal karna terkena jarum beracun. Tabib telah mengesahkannya."


'Jika aku mengikut dia pulang waktu itu, pasti perkara ini tidak akan berlaku.' bicara Xia dihatinya, dia merasa bersalah. Merasa lututnya bergetar, Xia pun duduk dikursi didalam kamarnya dan menangis kembali.


"Dua hari lagi kita akan menikah seperti yang direncanakan sebelumnya. Besok aku akan terangkan pada keluarga mu." Ujar Putra Mahkota Ren Zie dengan tegas. Terlihat wajahnya yang dingin.


"Aku mau pernikahan ini dibatalkan. Aku tidak mau menikah denganmu." Ujar Xia dengan linangan airmatanya yang masih mengalir.


"Ini untuk kebaikan antara dua kerajaan. Tidak perlu membantah."


"Huh.. peduli apa aku dengan kerajaan mu, itu urusanmu. Kaisar Xi pasti akan mengerti, jika aku ingin membatalkan pernikahan ini."


"Jangan keras kepala. Bersetuju sahaja."


"Keluar.. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi.." Xia berteriak


Putra Mahkota Ren Zie merasa marah saat mendengar Xia menghalaunnya. Dengan menunjukkan wajah bengisnya, lalu dia mencengkam dagu Xia. "Kau dengar sini, apa pun yang terjadi kita akan tetap menikah. Kau faham." Setelah berbicara, Putra Mahkota Ren Zie menolak dagu Xia ketepi dan melepaskan tangannya.


"Huh.. kau pikir aku takut dengan ancaman itu.." Xia tersengih miring.


"Terserah, kau mau pikir apa. Apa yang aku ucapkan, akan aku lakukan." Putra Mahkota Ren Zie melangkah ke pintu kamar.


"Dasar pria gila." Ujar Xia.


Putra Mahkota Ren Zie mendengar nya tetapi dia abaikan ucapan itu dan membuka pintu kamar. Setelah berjalan beberapa langkah untuk meninggalkan kamar Xia. Terdengar jeritan Xia.


"Tunggu.. Aku mau pergi kekamar Putra Jing Zhi."


Putra Mahkota Ren Zie tidak menoleh, dia hanya memandang pengawalnya dan mengangguk kan kepalanya.


Pengawal itu mendekat dengan Xia. "Putri boleh ikut denganku. Aku akan hantar Putri ke kamar Putra Jing Zhi."


Xia mengangguk kan kepalanya dan mengikuti langkah pengawal itu.

__ADS_1


__ADS_2