Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
12 - Marga Xi


__ADS_3

"Rawatannya masih belum selesai lagi. Kakak akan melanjutkan rawatannya besok. Sekarang kakak mau menyuapi ibu makan, karna kondisi ibu masih lemah."


"Biar aku aja yang suapin ibu ku, Kakak dan yang lain nya makan duluan. Aku akan makan bersama ibu ku" ucap Miela.


"Baiklah," Cisin dan Siumei pun membawa bubur dan makanan untuk Miela ke kamar ibunya.


Meraka berempat pun makan bersama, makanan yang dimasak oleh Cisin. Mereka makan di atas lantai yang tidak beralas Huan dan Zan sudah terbiasa makan ala kadar seperti itu, karna dia pernah pergi berperang dan jika tiba waktu makan, dia dan para parajuritnya akan makan di tempat yang sembarangan agar bisa mengisi perut. Setelah selesai, Siumei dan Cisin pun mengemas peratan yang digunakan.


"Kakak kata ibu ku, jika kakak tidak keberatan menginaplah disini malam ini. Karna hari udah larut malam. Kakak bisa menggunakan kamarku dan yang pria boleh tidur di ruang hadapan. Aku akan tidur dengan ibuku" Kata Miela yang muncul di belakang Siumei.


"Biaklah, aku kan menginap disini karna jika aku pergi sekarang, takut tidak ada penginapan yang masih kosong. Apa jiejie tidak keberatan?"


"Aku ngak keberatan kok. Betul katamu tadi, takut nanti nya tidak ada tempat penginapan yang kosong." Kata Cisin


"Baiklah aku ingin melihat ibu sebentar." Kata Siumie. Siumei pun menuju ke kamar ibu dengan membawa cawan yang berisi air. Huan melihat Siumei yang mau masuk kekamar menegurnya.


"Xia'er apa aku bisa melihat ibu nya Miela?"


"Bisa, mari ikutku." Mereka pun masuk kekamar ibu, Zan pun mengikuti mereka.


"Ibu, apa ibu merasa baikan setelah makan.?"


"Iya, ibu merasa lebih mendingan dari sebelumnya."


"Bagus, sekarang ibu minum obat antibiotic ini, Obat ini untuk mengelakkan luka ibu terinfeksi" Terang Siumei.

__ADS_1


"Apa tik obat tik.ermm. ibu tak tau menyebutnya. Apakah obat ini akan menyakitkan seperti tadi." Ujarnya risau karna jika obat ini akan rasa sakit seperti tadi, dia mungkin tidak bisa menahannya lagi untuk kali ini.


'Aduh, aku keceplosan.. aku lupa yang aku ada di jaman kuno. Bagaimana ya untuk aku terangkan dengan bahasa yang mudah untuk difahami.' Gumam Siumei dihatinya.


Huan dan Zan saling berpandangan sambil menggelengkan kepala nya karna mereka juga tidak memahami beberapa ayat yang Siumei sebut tadi.


"Maksud ku ini obat pencegah. Obat ini akan mengelakkan daripada luka bernanah kembali. Dan ibu tidak perlu risau, obat ini tidak menyakitkan. Ayo minum, setelah diminum obat nya. Ibu harus tidur agar besok kita bisa lanjuti rawatan nya" Terang Siumei sambil tersenyum.


Mereka pun keluar dari kamar ibu dan terserempat dengan Meila dan Cisin yang ingin ke kamar ibu. Miela pun pamit masuk ke kamar ibunya untuk beristirehat. Mereka berempat pun menuju ke ruang hadapan yang ada didalam rumah itu untuk berkumpul.


"Huan'er dan Zan'er tadi Miela ada bilang padaku yang ibunya mengijini kalian untuk bermalam di sini. Kalian bisa tidur di ruang ini, karna rumah ini hanya memiliki 2 kamar saja. Maka apakah kalian ingin menginap disini atau mau pulang aja?"


"Kami akan menginap disini malam ini, karna kami ingin mengetahui lebih lanjut kondisi ibunya Miela." Kata Huan.


'Alasan aja putra mahkota Huan Zo, bilang aja kamu tertarik sama Xia'er dan tak nak berpisah dengan nya. Kan mudah' Gumam Zan dalam hatinya sambil tersenyum.


"Apa kata kita duduk dulu dan aku akan membuatkan air teh untuk kalian serta membawa camilan" Ujar Cisin. Mereka menganggukkan kepala tanda setuju. Cisin pergi membuat air dan setelah selesai dia membawanya keruang hadapan bersama camilan.


Siumei memulakan bicara. "Ada bahagian kaki nya yang bernanah, mungkin dari luka yang tidak dirawat sebelumnya. Aku udah cuci lukanya serta mengoleskan obat pada luka itu. Kedua tulang kaki nya patah maka aku memberikan nya pil pemulih tulang. Agar tulang yang patah bisa kembali utuh. Tapi karna ibu bukan seorang kultivator, maka kesan obat jadi berganda. Dia kelihatan lemah kerna kehabisan tenaga. Jadi aku putuskan untuk melanjutkan rawatan nya besok. Besok aku akan memberi nya pil pencuci darah untuk melancarkan peredaran darah yang tersumbat karna ku lihat sepertinya luka dah mula menghitam dan membengkak seperti nya ada salur darah yang tersumbat. Pada hari berikutnya aku akan memberi nya pil penyembuh agar ibu bisa sembuh total". Terang Siumei


Mereka bertiga melopong mendengar nama nama obat yang disebutkan oleh Siumei, karna obat obat itu bukan hanya sukar didapati malah harganya yang sangat mahal.


"Waah!! Mesti Saudari xia'er adalah orang kaya, karna mempunyai obat obat yang mahal harga nya.Malah memberikan nya pada orang yang baru dikenali begitu aja" Ujar Zan


"Pil itu aku membuatnya sendiri." Ujar Siumei membuat mereka terkejut

__ADS_1


"Jadi selain seorang kultivator, Xia'er seorang alkemis?" tanya Huan


"Ya aku bisa kedua duanya."


Cisin hampir tidak mempercayai nya, jika dia tidak mendengarkan sendiri apa yang dibicarakan Siumei karna dulu putrinya yang asli tidak bisa apa apa. Kini jiwa yang menempatkan tubuh putrinya adalah seorang yang genius.


"Kalau tidak silap, pil pil itu tahap menegah kan?" Tanya Zan


"Iya" kata Siumei ringkas sambil meminum air teh nya


"Apa bisa aku tau, Siapa nama orang tua mu atau nama marga mu?" Tanya Huan


Siumei menatap jiejie nya. Dia tidak tau apa yang harus dijawab karna sang ayah tidak mengaku dia keturunan nya.


"Xi.. nama marga ku Xi." Dia pun mengambil nama ibunya sebagai nama keluarga.


'Seingat ku tidak ada nama para bangsawan yang marganya Xi kecuali keluarga Kaisar dari kerajaan barat. Tapi jika dia seorang putri kerajaan, kenapa aku tidak mengenalinya. Aku kenal semua puteri di kerajaan barat. Kerna aku selalu diundang jika ada acara dan menginap disana atas dasar persahabatan kerajaan kami. Atau mungkin dia dari kerajaan lain. Ya aku yakin pasti dia datang dari kerajaan lain.' Fikir Huan panasaran.


"Jika tidak ada yang dibualkan lagi, aku ingin pamit ingin beristirehat." Ujar Siumei, dia cuba untuk mengelak dari ditanya lebih lanjut berkaitan keluarganya.


Huan pun menganggukkan kepala nya dan Siumei bangun dari duduknya menuju kekamar dikuti oleh Cisin. Cisin menuju kedapur untuk mencuci peralatan yang digunakan tadi. Siumei masuk kekamar dan menggambil kesempatan masuk ke ruang dimensi bintang untuk mengambil beberapa seprai tebal untuk dijadikan alas untuk mereka tidur. Setelah itu dia memasukkan seprai kedalam cincin ruang nya. Lalu buru buru keluar dari ruang dimensi bintang, Cisin masuk kekamar setelah Siumie keluar dari ruang dimensi, Dia tidak tau yang Siumei sempat menghilang sebentar.


Siumei keluar kan sprei tadi dari cincin ruang dihadapan Cisin.


"Xia'er dari mana kamu mendapatkan alas ini?" tanya Cisin hairan melihat ia mengeluarkan beberapa sprei yang tebal dari cincin ruang. Seingatnya tadi masa dipasar dia tidak melihat Xia memasuki toko yang menjual alas seperti ini.

__ADS_1


"Memang ada di dalam cincin ruang, pasti bonda yang masukkan nya kedalam cincin ruang" Dalih Siumei. Cisin menggangukkan kepala percaya apa yang dikata oleh Siumei.


Dia juga memberikan dua sprei kepada Huan dan Zan


__ADS_2