Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
70 - Jamuan


__ADS_3

"Cantik sekali wajahnya."


"Siapa dia? wajahnya sangat cantik."


"Aku merasa iri melihat wajah cantiknya".


"Apa dia udah menikah? Jika belum, aku ingin menjadi suaminya."


Terdengar tetamu yang hadir berbicara sesama mereka. Xia hanya mengabaikan tatapan dari mereka semua.


"Putri Xia Lin!!" Mendengar namanya dipanggil, Xia memandang kearah suara itu.


"Putri Zana.." Xia tersenyum. Mereka berjalan mendekat. Putri Zana langsung memeluk Xia.


"Aku dengar kamu ikut pergi ke kerajaan Timur."


"Iya.. bagaimana khabarmu?" Tanya Xia.


"Aku baik - baik saja. Siapa ini? Kekasihmu?" Bisik Putri Zana.


"Iya.. perkenalkan dia adalah kekasih ku. Namanya Putra Jing Zhi dari kerajaan utara." Xia memegang lengan Putra Jing Zhi. "Ini Putri Zana, isteri Putra Mahkota Huan Zo." Putra Jing Zhi menundukkan kepalanya dan dibalas oleh Putri Zana.


Mereka berhenti bicara setelah ketua sida memberitahu ketibaan kaisar Nan dan keluarga nya.


"Xia aku kesana dulu. Nanti kita bicara lagi." Ucap Putri Zana, langsung menuju kehadapan dan berdiri disebelah suaminya.


Semua memberi hormat kepada kaisar Nan. Mereka memulakan jamuan setelah Kaisar Nan memberi arahannya. Mereka disajikan dengan pelbagai jenis makanan dan beberapa persembahan tarian.


Putra Jing Zhi merasa geram sejak tadi karna banyak pria memandang ke arah Xia.


"Xia, ayo kita pulang sekarang?" Ujar Putra Jing Zhi.


"Jamuan baru aja dimulai, mengapa mau pulang sekarang? Apa kamu sakit?"


"Tidak, Aku cuma tidak suka membiarkan kamu menjadi perhatian banyak pria. Sejak tadi mereka melihatmu."


"Mereka mempunyai mata, biarkan aja. Tuh lihat disana banyak para gadis melihat kearahmu sejak tadi. Apa yang itu kamu tidak perasan?" Xia tersengih.


"Iya sama aja Xia'er. Aku juga tidak suka itu. Kita pulang ya?" Putra Jing Zhi terus memujuk.

__ADS_1


"Erm.. Iya, ayo kita pulang. Aku beritahu ayah dulu." Akhirnya Xia mengalah juga.


Xia mendekati ayahnya dan memberitahu bahawa dia akan pulang sekarang.


"Kenapa kamu mau pulang sekarang Xia? Jamuan baru aja bermula." Tanya menteri Chu.


"Aku ngak enak badan ayah." Ujar Xia berbohong karna dia tidak akan memberitahu ayahnya bahawa Putra Jing Zhi merasa cemburu.


"Iya kalau gitu pulang lah dan istirehat."


"Aku juga ikut denganmu, soalnya aku merasa mual dari tadi." Ujar Yanna kakak iparnya.


"Kalau gitu kamu pulanglah. Pasti tidak nyamam untukmu." Kata Selir Ying.


"Feng, aku pulang dengan mereka ya?"


"Tidak sayang, kau pulang denganku. Mengapa kau tidak memberitahu ku yang kau tidak nyamam disini?" Ujar Putra Feng Xi.


"Maaf. Aku hanya tidak mau menyusahkanmu."


"Tidak sayang. Kamu tidak menyusahkanku, mari kita pulang. Lain kali, beritahu aja padaku. Aku akan sentiasa menjagamu dan calon anak kita dengan baik."


Setelah mendapat khabar dari kepala sida, kaisar Nan memandang kearah Menteri Chu dan menggangukkan kepalanya. Menteri Chu yang memang dari tadi memandang kaisar Nan menundukkan kepalanya. Tanda hormat.


Besok pagi, setelah sarapan kediaman Menteri Chu menjadi kecoh karna terdapat banyak pengawal Istana datang membawa membawa banyak barang. Mereka telah diberi tugas membawa hadiah untuk mereka yang terlibat menjayakan tugas membanteras pemberontak.


Xia hanya mengambil koin emas dan Perak, lalu meletakkan didalam cincin ruangnya. Agar bisa digunakan disaat memerlukannya kelak. Cisin tidak mau menerima hadiah itu tetapi Xia memberi juga koin emas dan Perak lalu diletakkan di cincin ruang milik Cisin yang diberi oleh Selir Ying kemarin.


Putra Feng Xi mengambil bahagiannya dan menyuruh isterinya untuk memilih perhiasan yang diinginkan oleh isterinya. Selir Ying juga memilih beberapa perhiasan dan memberikan kepada Xia dan Cisin. Putra Jing Zhi menolak untuk menerima bahagiannya.


"Bonda aku tidak mau perhiasan ini. Bonda ambil saja, jika bonda inginkan." Ujar Xia dan Cisin pun mengangguk kan kepalanya setuju dengan Xia.


"Dasar kalian, terima aja. Jika kalian tidak mau memakainya, bisa dijual jika kalian kehabisan uang." Xia dan Cisin menerimanya dan meletakkan didalam cincin ruang nya.


"Wenli, Minli.. pilihlah perhiasan yang kamu suka." Ujar Xia.


"Apa kami bisa memilihnya?" Tanya Minli ragu.


"Iya. Pilihlah."

__ADS_1


"Tapi aku suka yang perhiasan bonda Selir Ying bagi padamu tadi." Ujar Minli.


Xia mengeluarkan perhiasan yang Selir Ying beri padanya. "Yang mana satu kamu suka?"


Minli mengambil satu cucuk sanggul yang dia suka. "Aku mau yang ini."


Xia tersenyum melihat Minli. "Ambillah." Xia melihat kearah Wenli yang menjeling kearah perhiasan rantai ditangannya. "Apa kamu mau yang ini?" Xia mengangkat rantai itu.


"Apa aku bisa memiliki nya?"


"Ambillah. Tapi dengan syarat, kalian berdua patuhlan dengan bonda. Anggap bonda seperti ibu kalian. Dan panggil bonda sahaja, tidak usah menyebut Selir Ying." Walaupun sebelum ini Xia tidak suka dengan mereka tetapi mereka berdua tetap saudarinya. Wenli mengambil rantai ditangan Xia dan mereka berdua mengangguk kan kepalanya. Mereka berdua merasa terharu dengan kebaikan yang Xia tunjukkan. Yang lainnya tersenyum.


Pada malam itu, Xia memberitahu ayahnya dan keluarga yang lainnya bahawa dia akan pergi ke desa Teratai karna mau menguruskan hal ibu angkatnya yang masih belum selesai.


"Apa kamu akan kembali kesini setelah selesai menguruskan masalah ibu angkat mu Xia?" Tanya Putra Feng Xi.


"Aku belum memikirkan lagi. Jika tidak ada masalah lain, mungkin aku akan kembali ke sini. Tidak usah khawatir akan keadaanku, aku akan sentiasa menjaga diri dengan baik."


"Putriku udah besar, ayah yakin kamu bisa menjaga diri mu. Tapi ingatlah bahawa ayah dan bondamu akan sentiasa menanti kepulangan mu dengan selamat."


"Iya Xia, jika ada yang kamu perlukan kelak, beritahu padaku. Aku akan sentiasa membantumu." Ujar Putra Feng Xi.


Keesokan harinya seperti yang diberitahu, Xia berangkat pergi bersama Putra Jing Zhi dan Cisin. Mereka menuju ke desa Teratai dengan menunggang kuda.


Mereka tiba didesa Teratai setelah tiga hari perjalanan. Sepanjang perjalanan banyak tempat yang disinggah Xia dan membeli hadiah untuk ibu dan adik angkatnya. Karna itulah mereka telat tiba di desa Teratai.


Mereka terus mencari ibu Tan dan Miela. Bila melihat kehadiran Xia dan Cisin, mereka berdua sangat gembira. Setelah membersihkan diri, makan dan istirehat sebentar, mereka berkumpul di ruang utama rumah. Karna ada sesuatu yang ingin ibu Tan katakan.


"Xia, ibu harap kalian tidak terkejut dengan apa yang ingin ibu sampaikan."


"Ada apa ibu, kamu bikin aku khawatir aja."


"Sebenarnya ibu mau menikah dengan Tan Mo. Kami udah berbincang sebelumnya."


"A.. apa??..."


"Mengapa Xia? Apa kamu tidak suka, jika ibu menikah dengannya?" Kata ibu Tan.


"Jika Puteri tidak suka, kami udah sepakat tidak akan menikah. Karna kami udah bincangkan hal ini sebelumnya." Ujar Tan Mo dengan wajah kecewa.

__ADS_1


"Aku tidak setuju..."


__ADS_2