
"Bagus.. lain kali tolong tunggu di luar, jangan masuk selagi aku tidak membuka pintu atau memberi ijin. Ada apa kau kesini? Apa tidak bisa bicara besok pagi aja?" Xia bertanya dengan tegas. Dia menukar intonasi suaranya.
'Tadi bukan main lembut dan manja saat bicara, sekarang macam singa betina. Apa wanita ini mempunyai kepribadian ganda?' ujar Putra Mahkota Ren Zie didalam hatinya.
Melihat suaminya hanya terdiam, Xia langsung teriak. "Ren Zie...!! Jika tidak ada yang mau kau katakan, keluar sekarang. Ganggu aja, aku mau tidur."
"Huhh.. jaga bicaramu.. aku ini putra mahkota berani-beraninya kamu berteriak padaku." Ujar putra mahkota Ren Zie yang terkejut tetapi bisa mengawal wajahnya dari terkejut.
"Huh.. ada aku peduli dengan derajat mu."
"Kauu...!"
"Cukup... katakan saja apa mau mu datang ke sini malam - malam?"
"Bondaku mau kita bersarapan bersamanya besok pagi. Jangan telat... Besok pagi, aku akan datang kesini dan pastikan kau udah siap. Akan ku hukum jika terlambat." Setelah memberitahu Xia, putra mahkota Ren Zie langsung keluar dari kamar isterinya.
"Huhh. Kau fikir aku takut dengan ancamanmu itu." Karna terlalu emos, hampir aja Xia terlupa akan pelayan yang dibawa masuk keruang dimensi. Xia langsung masuk keruang dimensi.
Xia langsung memeriksa lagi denyutan nadi pelayan itu. "Kita harus membawanya keluar dari sini. Erm.. kita kekamar jiejie Cici aja dan sembunyikan pelayan ini di sana untuk sementara waktu." Mereka pun bersetuju dengan cadangan Xia, dan Leo mengangkat pelayan itu seperti mengangkat sekarung beras.
Cisin yang terkejut melihat ada bayangan orang dikamarnya, mau menjerit tetapi Xia dengan pantas menutup mulut Cisin.
"Shhhttt.. ini aku Xia." Nagin menyalakan lilin yang telah terpadam. Tadi Cisin memadamkan api lilin dikamarnya karna mau tidur. Baru saja membaringkan tubuhnya tiba-tiba Xia dan temannya datang, untung saja Xia sempat menutup mulutnya, jika tidak pasti pengawal akan datang karna mendengarnya berteriak.
"Leo letakkan dia di atas kasur." Xia mengarahkan Leo.
"Siapa dia Xia?" Tanya Cisin yang baru perasan Leo membawa seseorang.
"Jiejie. bisakan, tumpang kan dia dikamarmu. Aku janji tidak akan lama." Xia tersengih.
"Hemm.. kamu udah baringkan dia disana, baru mau minta ijin padaku." Cisin menarik hidung Xia, lalu tersenyum. Dia mengerti pasti Xia, ada alasan nya sendiri.
Setelah itu Xia mencoba menyalurkan qi nya kebadan pelayan itu. Dan mereka dapat melihat terdapat aura hitam menyelubungi tubuh pelayan itu.
__ADS_1
"Aura hitam..!!!" Mereka berkata serentak. Nasib baik aura hitam itu hanya sedikit, jadi Xia tidak memerlukan tenaga yang banyak untuk menyingkirkannya. Setelah itu Xia memberi pil penyembuh kepada pelayan itu.
Beberapa detik kemudian, pelayan itu pun mula bergerak dan membuka matanya. Melihat ada wajah yang tidak dikenali disampingnya. Pelayan itu terkejut dan mencoba untuk bangun.
"Arrgghhh.. sakitnya." Pelayan itu mengerang kesakitan.
"Tidak usah bangun dahulu karna tubuh mu masih banyak luka." Ucap Xia.
"Aku berada dimana dan siapa kalian?"
"Kau dikamarku.. jangan khawatir, kami bukan orang jahat."
"Argghh.. tolong.. tolong Putra Jing Zhi." Ujar pelayan itu tiba-tiba sambil memegang kepalanya, sepertinya dia baru mengingati sesuatu. Mereka saling berpandangan. Pelayan itu berusaha untuk bangun lalu terjatuh dikaki Xia. Xia yang terkejut tidak sempat menahan pelayan itu.
Pelayan itu memegang kaki Xia dan berkata. "Siapa pun anda, tolong.. tolong selamatkan Putra Jing Zhi."
Xia langsung memegang kedua bahu pelayan itu. "Bangun lah.."
Leo membantu pelayan itu supaya duduk diatas kasur.
"Namaku Wei Wei. Aku pelayan di istana Putra Jing Zhi. Aku.. aku.. melihat malam itu ada beberapa orang berpakaian hitam masuk kekamar putra Jing Zhi dan terlihat.. Aaarrgghh..." Pelayan Wei Wei menjerit kesakitan. Xia langsung menutup mulut pelayan Wei Wei. Wei Wei mendapat kembali ingatannya.
Tukk, tukk.. tukk.. terdengar ketukan dipintu.
"Nona Cisin, mengapa kamu berteriak?" Tanya seorang pengawal yang bertugas karna dia terdengar teriakan dari dalam kamar.
"Maaf membuat kekecohan. Aku hanya terjatuh tadi." Cisin langsung menjawab.
"Apa Nona baik-baik saja? Apa perlu aku memanggil tabib?" pengawal itu bertanya lagi dari luar kamar.
"Tidak perlu, makasih."
"Jika begitu aku akan sambung bertugas semula."
__ADS_1
"Iya silakan."
Pelayan itu menangis tersedu-sedu. "Aku udah ingat semuanya.. hikk.. hikk.." Dia memegang tangan Xia. "Malam itu setelah melihat bayangan beberapa orang masuk ke kamar Putra Jing Zhi ada seseorang memegang kepalaku dan setelah itu aku seperti menjadi orang lain... aku langsung masuk kekamarku.. hikk.. hikk.. kasihat Putra Jing Zhi, dia telah mangkat.." Pelayan itu terus menangis.
"Apa kau mengenali wajah orang yang memegang kepalamu itu?" Tanya Xia.
"Tidak.. dia menutup wajahnya, hanya terlihat matanya sahaja. Orang yang masuk kekamar Putra Jing Zhi pun menutup wajahnya. Aku tidak mengenali mereka."
"Apa lagi yang kau tau?" Tanya Xia yang sedikit beremosi,
"Tenang Xia.." Cisin mengusap punggung Xia.
Wei Wei merasa hairan dengan sikap yang ditunjukkan Xia. Sepertinya Xia mengenali Putra Jing Zhi tetapi dia tidak pernah melihat Xia disisi majikannya. "Siapa.. siapa sebenarnya kalian?" Wei Wei merasa khawatir dan tertanya-tanya dihatinya 'mereka musuh atau orang yang baik?"
"Dia Putri Xia Lin, kekasih Putra Jing Zhi." Ujar Cisin.
"Apa..!!" Wei Wei berlulut dihadapan Xia.
"Bangunlah.. dan duduk disini.."
"Tapi..."
"Ikut arahan ku atau aku akan menghukum mu?" Wei Wei yang melihat wajah dingin Xia langsung duduk dikasur, tempat dia duduk sebelumnya dibantu oleh Leo.
"Ampunkan hamba puteri karna tidak megenalimu."
"Iya udah. Lanjutkan perbicaraan tadi. Apa lagi yang kamu tau?"
"Setelah kembali kekamar, hamba langsung tidur. Besok paginya hamba dan yang lainnya ditahan dan disoal, hamba ingin mengatakan kebenaran tapi tidak bisa mengatakannya. Lain yang ingin hamba katakan lain yang hamba bicara. Seperti ada seseorang yang mengawalnya." Mereka yang mendengarkan kata Wei Wei hanya terdiam.
"Iya, baru aku ingat.. puteri harus mencari pelayan Lun, dia yang selalu disamping Putra Jing Zhi. Pasti dia mengetahui sesuatu." Xia tersenyum mendengarkan kata Wei Wei.
"Besok kita akan ke penjara mencarinya. Sekarang kalian istirahatlah, kau tetaplah disini. Jangan kemana-mana. Terima kasih karna membantuku." Xia langsung pergi kekamarnya yang terletak tidak jauh dari kamar Cisin.
__ADS_1
Xia tidur lambat malam itu karna menyoal Wei Wei, sampaikan dia terlupa dengan ancaman suaminya. Pagi itu Putra mahkota Ren Zhi kekamar Xia dan langsung masuk kedalam kamar karna pintu terbuka sedikit. Xia tidak bisa mengunci pintu kamarnya karna telah rusak akibat tendangan suaminya semalam.
"Putri Xia..!!" Putra Mahkota Ren Zie berteriak karna melihat Xia yang masih sedap tidur diatas kasurnya. Xia yang terkejut terus berdiri, terlihat rambut yang kusut dan Xia menguap dengan mata masih terpejam sambil menggaru kepalanya.