Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
Bab 106 - Ujian Kekuatan


__ADS_3

Setiba mereka di kediaman, Xia berjalan mundar mandir.


"Kalian dengarkan apa yang peserta tadi bilang. Arrrhhgg.. aku juga ikut khawatir. Apa aku yakin dengan jawapan yang ku tulis tadi? Benarkan?"


"Xia cuba kau bertenang dulu, kami melihat jawapan yang kau tulis. Aku yakin dengan jawapan mu." Nagin memberikan kata semangat.


"Apa kau yakin?" Xia memandang Nagin. Nagin melihat yang lain berharap mereka membantunya, Xia juga melihat pada mereka tetapi mereka memalingkan wajah.


"Hahhh.. kalian juga tidak yakin. Bagaimana jika aku gagal? Habis semua rencana kita."


"Apa kau mau kita melihat keputusannya nanti dan mengubahnya sebelum di umumkan?"


"Besok kita akan fikirkan lagi, aku mau istirehat sekarang."


Keesokan harinya setelah bersarapan pagi, Zu bertanya "Bagaimana Xia? apa kita akan menyusup masuk ke sekta?"


"Tidak usah, jika aku gagal masih ada jiejie Cisin. Aku yakin dia bisa lolos." Xia tersenyum. Mereka yang lain hanya saling memandang.


Setelah dua hari berlalu, waktu keputusan peserta yang berjaya lulus telah di keluarkan oleh sekta Gandu. Senarai nama peserta yang lulus di tampal pada papan dan di letakkan di hadapan sekta.


"Xia bagaimana? Adakah kau mau ikut melihatnya?" Tanya Leo.


"Tidak.. aku tunggu di rumah aja, kalian aja yang pergi."


"Jika begitu, biar aku dan Cisin aja yang pergi. Kalian tetap lah di sini menjaga Xia." Leo berkata dan yang lainnya bersetuju sahaja.


Leo dan Cisin pun melangkah keluar dan menuju ke sekta Gaodu. Terdapat ramai orang yang berkerumun di hadapan sekta. Leo membawa Cisin untuk mendekat dengan senarai nama peserta. Mereka melihat dengan teliti, nama Cisin ada di situ. Tetapi nama Xia tidak ada. Cisin memandang Leo.


"Nama Xia tidak ada." Cisin berkata.


"Kalian udah lihat di sebelah sana?" ujar seorang pria yang mendengar Cisin mengeluh tadi.


"Apa senarai namanya berbeda dari yang di ada di sini?" Cisin bertanya.


"Iya beda, aku udah lihat senarai nama ku di sana tetapi tidak ada. Aku datang ke sini ternyata nama ku ada di sini."


Cisin memandang Leo sambil tersenyum dan berkata pada pria tadi "Makasih karna memberitahu kami." Pria itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Mereka berdua pergi melihat senarai nama yang berada di sebelah kiri pintu sekta, tadi mereka melihat di sebelah kanan pintu sekta.


"Leo lihat ini, nama Xia ada." Cisin berteriak. Mereka tersenyum..


Mereka pergi ke pintu sekta untuk mendapatkan token lulus. Cisin juga mengambil untuk Xia. Mereka langsung pulang ke rumah setelah mengambil token itu.


Cisin langsung berlari ke dalam rumah setelah sampai dan menjerit memanggil Xia. "Xia... Xia..!!"


Setelah menemui Xia, Cisin menggenggam kedua tangan Xia "Xia kita berjaya."


"Hah, apa aku lulus juga


"Iya, kita berdua lulus."


Xia melompat kegirangan, di ikuti Cisin. Teman yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya.


"Xia kau tidak kelihatan seperti seorang ibu yang mempunyai dua orang anak." Renyu berkata.


Mereka tertawa.


Keesokan harinya, Xia dan Cisin datang ke sekta Gaodu. Setelah memberikan token lulus ujian kedua, mereka di ijinkan masuk.


Semua peserta berbicara sesama mereka, membuatkan suasana menjadi riuh.


"Tenang-tenang, di karnakan di antara kalian masih baru dalam ilmu persilatan maka dengarkan ucapan ku hingga habis." Semua peserta mula diam.


"Baiklah, seorang guru akan bertanding dengan lima orang peserta. Kalian bisa bergabung untuk mengalahkan guru itu jika bisa. Peraturannya, peserta yang masih bertahan di dalam area perlawanan sehinga habis waktu akan di kira lulus dan berjaya menjadi pelajar kami. Masa yang ditetapkan, sama seperti sebelumnya iaitu menggunakan jam pasir. Kalian bisa membentuk kumpulan sendiri atau jika tidak ada kumpulan, bisa terus saja naik ke arena jika masih tidak cukup lima orang di arena pertempuran."


Didepan mereka terdapat lima arena yang telah di sediakan. Keadaan menjadi riuh kembali karana mereka mula mencari peserta yang kuat untuk bersama membentuk kumpulan.


"Hai, nama ku Xiruo ini teman ku Hong Bin dan Nin jun. Apa kalian ingat dengan kami?" Seorang wanita menyapa mereka bersama dua orang pria


"Iya kami ingat, kalian yang mengikut kami di pagar sesatkan." Cisin menjawab.


"Benar.. Apa kalian berdua udah punya kumpulan?" Tanya Xiruo.


"Kenalkan aku Cisin dan dia Xia, kami masih belum mempunyai kumpulan lagi."

__ADS_1


"Apa kata kita berlima membuat satu kumpulan nanti?" ujar Xiruo.


Hong Bin menarik tangan Xiruo kebelakang sedikit. "Xiruo apa kau yakin mau satu kumpulan dengan dia. Aku merasa tahap kultivasinya di tahap pertengahan awal. Dia tidak layak di gandingkan dengan kita?"


"Kau lihat sendiri kan kemampuan nya ketika itu." Hong Bin terdiam dan melihat Xiruo. "Jika kau tidak mau, kau bisa pergi mencari kumpulan lain."


Xia mendengar kata pemuda itu hanya tersenyum.


"Hong Bin, Hong Bin.. apa kau udah ada kumpulan? Kumpulan kami kekurangan seorang, apa kau mau bergabung dengan kami?" mereka memandang seorang pria yang bertegur dengan Hong Bin


"Apa tahan kultivasi mereka?" Tanya Hong Bin.


"Jangan khawatir mereka semua berada di tahap menengah."


"Baiklah aku ikut." Hong Bin memandang Xiruo dan berlalu pergi. Xia hanya tersenyum melihat Hong Bin pergi.


"Maafkan teman ku."


"Tidak mengapa, dia yang rugi. Kita akan mencari seorang lagi." Xia berkata. Xiruo hanya terdiam.


"Baiklah tanpa membuang waktu, kita akan memulakan peringkat terakhir pemilihan pelajar sekarang. Selamat berjaya dan kumpulan yang telah bersedia langsung naik ke arena pertempuran." Guru Song berkata. Peserta mula naik ke arena.


"Di arena kelima masih kekurangan seorang peserta, jika ada yang masih tidak mempunyai kumpulan. Sila maju." Guru Song bertanya.


Seorang pria yang datang dari arah belakang berjalan dengan tergesa-gesa, sampai terlanggar Xiruo dan membuat Xiruo terjatuh. Melihat pria yang tampan yang melanggarnya Xiruo hanya tersengih.


Pria itu terlihat dingin, dia tidak membantu dan memohon maaf pada Xiruo. Ketika pria itu mau melangkah pergi Xia memanggilnya. "Fu Yi..."


Pria yang mau melangkah pergi terkejut, dia membalikkan tubuhnya. "Ternyata memang kau.” tegur Xia lagi.


'Siapa wanita ini? Jika dia mengenali ku, mengapa dia sangat berani memanggil nama ku tanpa pangkatnya.' Pria itu merenung Xia.


Cisin membantu Xirou bangun.


"Apa kau tidak mengenali ku?" Tanya Xia.


"Jika kau mengenaliku, berani nya kau memanggil aku seperti itu." Pria itu marah, tidak jadi dia mau pergi ke arena pertempuran karna udah ada yang maju duluan.

__ADS_1


"Pangeran Fu Yi apa kau tidak mengenali ku?" Cisin bertanya. Fu Yi memandang Cisin.


"Kau.. kau.."


__ADS_2