Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
76 - Naga Air


__ADS_3

Pengawal itu menghantar Xia sehingga dihadapan kamar Putra Jing Zhi.


"Putri, ini kamar Putra Jing Zhi."


"Terima kasih. Kamu bisa pergi dahulu."


"Hamba akan menunggu Putri diluar kamar dan setelah itu, hamba akan menghantar Putri kekamar Putri semula. Ini arahan dari Putra Mahkota Ren Zie"


Xia hanya mengangguk kan kepalanya, lalu membuka pintu kamar dan masuk. Xia menutup kembali pintu kamar itu.


Xia melihat disekeliling kamar yang telah dihias dengan cantik karna kamar itu akan menjadi kamar pengantin untuk Xia dan Putra Jing Zhi.


"Mengapa.. mengapa kau tinggalkan aku Jing Zhi. Kau telah berjanji, tidak akan meninggalkan aku. Hikk.. hikk.. ihikk." Xia duduk dikerusi dan menangis kembali sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Putri Xia Lin.. kamu kah itu??" Xia seperti mendengar satu suara asing didalam kamar itu. Dia berhenti menangis dan coba untuk mendengar kembali, adakah dia sedang berhalusinasi atau tidak.


"Putri Xia Lin.. huk.. uhuk.." Xia mendengar suara itu.


"Iya aku Putri Xia Lin.. Siapa kamu? Keluar lah."


Terlihat seekor ular kecil biru keluar dari bawah kasur.


"Siapa kau dan kenapa kau mengenaliku? Sebentar.. Aku seperti mengenali aura ini."


"Iya, Aku Zu haiwan kontrak Putra Jing Zhi. Naga air."


"Mengapa kau masih hidup? Mengapa kau tidak menyelamatkan nyawa Putra Jing Zhi? Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi." Tanya Xia.


Huk.. hukk... Uhukk.. terlihat Naga kecil yang disangka Xia ular tadi terbatuk dan memuntahkan darah.


Xia mengangkat Naga air yang sepertinya terluka parah, lalu masuk ke dalam ruang dimensi nya.


Naga air yang terkejut melihat persekitarannya berubah bertanya. "Di..dimana ini?"


"Ini ruang dimensi bintang milikku. Tidak usah banyak tanya, minum dulu air sungai ini dan bermeditasilah sebentar disungai ini." Xia meletakkan Naga itu didalam sungai pemulih jiwa. Naga itu menurut arahan dari Xia.


___-----___

__ADS_1


Dikamar Putra Mahkota Ren Zie.


'Mengapa dadaku sakit ketika saat melihatnya menangis? Kenapa denganku? Aku seperti mengenali suara itu? Tapi dimana? Tidak.. Aku tidak pernah bertemunya sebelum ini?' Putra Mahkota Ren Zie tidak bisa melelapkan matanya pada malam itu. Karna wajah Xia terbayang - bayang difikirannya.


Putra Mahkota Ren Zie memusingkan badannya kekiri dan kekanan. Tetapi tetap tidak bisa tidur.


"Kenapa denganku.. emm." Putra Mahkota Ren Zie akhirnya bangun dari kasurnya dan melangkah kearah jendela. Dia membuka jendela dan melihat langit yang dipenuhi dengan ribuan bintang.


Putra Mahkota Ren Zie mengelamun seketika, tiba - tiba dia teringat akan ucapan adiknya Putra Jing Zhi. "Jaga ucapanmu kak. Dia bukan seperti itu. Kamu tidak mengenalnya, maka jangan pernah menuduhnya seperti itu. Aku yakin, jika kamu bertemu dengannya pasti kamu juga akan jatuh cinta dengannya."


Putra Mahkota Ren Zie tersedar dan berfikir. "Apa ini satu sumpahan dari adikku, jika aku bertemunya, maka aku pasti jatuh cinta dengannya. Huh.. itu mustahil." Dia menggelengkan kepalanya.


"Jatuh cinta.. Itu sangat mustahil." Ujar Putra Mahkota Ren Zie dengan yakinnya, lalu menutup pintu jendela dan kembali berbaring dikasurnya.


"Jing Zhi, maaf kan kakakmu yang tidak bisa menyelamatkanmu." ujar Putra Mahkota Ren Zie sambil memejamkan matanya.


___----___


Di ruang dimensi bintang.


Setelah beberapa hari bermeditasi di sungai dalam ruang dimensi bintang, Naga air telah pulih. Tubuhnya masih kecil karna tingkat kultivasinya telah hilang dan dia harus memulakan semula dari awal.


"Kau telah pulih?" Tanya Xia.


"Iya Putri. Terima kasih karna membawaku kesini dan jika Putri terlambat datang, pasti aku tidak akan bisa bertahan hidup lagi."


"Zu ceritakan padaku perkara sebenar yang berlaku ketika itu."


"Baik puteri."


FLASHBACK ON


Pada malam itu, ketika Putra Jing Zhi pulang dari berjumpa permaisuri Xi.


"Zu, kau bisa merasakan sepertinya ada seseorang telah mengikuti aku." Tanya Putra Jing Zhi difikirannya kepada Zu yang pada ketika itu telah sampai diistana milik Putra Jing Zhi.


"Iya putra. Aku juga merasakan aura jahat dari orang itu."

__ADS_1


"Berhati - hatilah dan bersiap sedia untuk menentang musuh." Ujar Putra Jing Zhi dan segera masuk ke kamarnya. Tidak menyangka, musuh yang mengikutinya itu adalah satu jebakan agar Putra Jing Zhi terleka dan bisa terus masuk kekamarnya karna tanpa mereka sedari ada beberapa orang musuh telah bersembunyi dikamarnya. Musuh didalam kamar Putra Jing Zhi telah menyembunyikan aura mereka.


"Putra Jing Zhi..." Teriak Zu yang langsung keluar menghalang jarum beracun yang dilemparkan pada Putra Jing Zhi.


"Arrgghh.." Teriak Zu dan Putra Jing Zhi bersamaan.


"Pangeran, kamu.. kamu juga terkena jarum beracun." Ujar Zu. Pada ketika itu Zu berfikir dia sahaja yang terkena jarum beracun tetapi tidak disangka Putra Jing Zhi juga terkena jarum beracun. Mereka telah diserang hendap oleh empat orang musuh yang melemparkan jarum beracun di segala sudut. Terlihat Putra Jing Zhi telah memuntahkan darah.


"Bertahanlah pangeran..." Zu pun memuntahkan darah.


"Mari kita pergi sekarang, dia pasti tidak bisa bertahan lama. Sebentar lagi pasti dia akan mati. Haa.. haa.. ha." ucap salah satu musuh yang menyerang mereka dan berlalu pergi.


Pada ketika musuh telah keluar dari kamar. Putra Jing Zhi menggeluarkan mutiara biru dan mengembalikannya pada Zu.


"Tidak.. tidak Putra.." Zu yang mengerti apa yang dilakukan Putra Jing Zhi coba menghalangnya.


"Aku yakin.. kau pasti bisa bertahan hidup..."


"Jika kau mati, biar kita mati bersama.." ucap Zu


"Tidak.. Aku mau.. kau terus.. hidup. Dan.. sampaikan.." Putra Jing Zhi memuntahkan darah lagi..


"Putra.." Teriak Zu..


"Cepat.. telan.. mutiara mu ini.. agar kau.. bisa bertahan.." Zu langsung menelan mutiara biru itu. Terputuslah ikatan haiwan kontrak dia dan Putra Jing Zhi.


"Bertahanlah.. sehingga.. Putri Xia.. datang kesini." Putra Jing Zhi coba bertahan untuk meneruskan ucapannya.


"Bertahanlah Putra.. Aku akan memanggilkan tabib dengan segera." Mendengar kata Zu. Putra Jing Zhi menggelengkan kepalanya.


"Tidak.. sempat.. Katakan pada Xia.. agar bernikah.. dengan kakakku.. Ren Zie.." setelah berkata Putra Jing Zhi memuntahkan darah. "Sem...bunyi." itulah kata akhirnya dari Putra Jing Zhi sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


"Tidak.. tidak.. pangeran.. bangunlah.. Aku.. Aku akan memanggil.. tabib untukmu.." Zu memuntahkan darah dan dia dapat merasakan yang qi didalam badannya semakin berkurangan. Racun yang berada dibadannya mula bereaksi. Zu tidak mempunyai pilihan, dia langsung bersembunyi dibawah kasur dan bermeditasi agar bisa bertahan sehingga Putri Xia datang kesini. Dia menyembunyikan auranya agar tidak ada sesiapa yang bisa mengesannya.


FLASHBACK OFF


"Mengapa dia menyuruh ku bernikah dengan Putra Ren Zie? Ada apa sebenarnya." Tanya Xia setelah Zu menceritakan hal sebenar yang berlaku padanya dan Putra Jing Zhi.

__ADS_1


"Aku kurang pasti dengan maksudnya Putri. Aku harap Putri bisa menunaikan hajat terakhir dari Putra Jing Zhi."


__ADS_2