
"Apa tidak berbahaya kita tinggal disana? Aku pernah mendengar kabar bahawa disana ada penunggu yang kejam dan mengerikan." Ujar Leo.
"Ha.. ha.. ha.. Itu hanya kabar angin supaya tidak ada yang berani kesana. Aku bersahabat baik dengan penuggu laut disana." Ujar Zu
"Jika begitu baiklah, kita akan berangkat sekarang." Ujar Xia.
"Sekarang??"
"Iya, aku tidak mau menunda lagi, kasihan dengan mereka berdua. Leo dan Zu sahaja keluar yang lainnya tinggal disini." Mereka pun menganggukkan kepala, bersetuju.
Xia, Leo dan Zu pun keluar dan sekarang mereka berada di hadapan istana kerajaan utara. Zu mengecilkan ukuran badannya dan masuk kedalam tas kain yang leo bawa karna Zu belum bisa merubah menjadi manusia.
Xia memakai cadar diwajahnya karna tidak mau dikenali pengawal Putra Ren Zie yang ketika ini pasti sedang mencari keberadaannya. Tetapi tanpa Xia sadari pengawal Ming telah menyadarinya. Pengawal Ming pada ketika itu mau keluar istana bersama Putra mahkota.
"Pangeran, wanita itu seperti putri Xia tapi dia memakai cadar."
Putra Mahkota yang ketika itu berada di dalam kereta kuda langsung membuka jendela dikereta kuda itu dan melihat kearah yang dimaksudkan pengawal Ming.
"Itu Putri Xia dan siapa pria disampingnya? ayo ikuti mereka." Putra mahkota Ren Zie langsung keluar dari keretanya dan mengejar Xia. Ming langsung mengikuti.
"Xia sepertinya kita ketahuan. Jangan menoleh kebelakang kita jalan terus ke depan, cepat.." Xia yang mau menoleh kebelakang langsung membatalkan niatnya dan langsung melajukan langkah kakinya.
"Di hadapan ada lorong di sebelah kiri, dan tidak ada orang disana. Setelah ke kiri kita langsung aja masuk keruang dimensi semula. Jika tidak mereka pasti bisa menangkap kita."
Setelah belok ke kiri mereka langsung masuk ke dalam ruang dimensi. Putra mahkota dan Ming yang melihat mereka belok ke kiri, langsung melajukan lagi langkahnya. Ketika mereka masuk ke lorong itu, ternyata Xia dan pria itu telah tidak ada.
"Aarrgghh... sialan. Dimana mereka?"
Pengawal Ming langsung memeriksa kawasan sekitar. "Ini jalan buntu. Pasti mereka bersembunyi di kawasan sekitar sini."
"Kerahkan pengawal kita untuk mencari mereka disekitar sini. Sekarang.." Putra Mahkota Ren Zie menggenggam tangannya. Dia merasa geram melihat istrinya berjalan dengan pria lain. 'Ada apa dengan ku. Terasa sakit sangat hati ku melihat dia berjalan dengan pria lain.' Katanya di dalam hati.
Pengawal Ming pun mengarahkan bawahannya untuk mencari mereka di kawasan sekitar situ.
"Kak Ren.. kak Ren Zie.." Terdengar ada seorang wanita memanggil namanya. Putra mahkota Ren Zie pun menoleh kearah suara itu.
"Kak Ren, ternyata emang kamu. Udah lama.."
__ADS_1
"Beraninya kamu menyebut nama seorang Putra Mahkota tanpa pangkatnya. Apa kamu mau mati hah?" Ming memandang tajam serta menghalang wanita itu dari mendekati tuannya.
Chumi yang terkejut hanya terdiam seketika. "Pu..put.tra?"
Putra Mahkota Ren Zie cuba mengingati dimana dia pernah melihat gadis itu. "Kamu.. kamu Chumi kan?" Akhirnya dia mengingati
"Hormat Putra Mahkota Ren Zie.. Maaf kelancangan hamba tadi. Hamba Chumi." Chumi berkata dan membungkukkan badannya.
"Iya.. Apa kamu sendirian di sini?"
"Hamba bersama kakek Hong, apa pangeran mau bertemu dengannya?
"Iya.. aku mau sekali bertemu dengannya." Mereka pun mengikuti Chumi.
Ketika Chumi bertemu kakeknya, dia membisikkan sesuatu pada telinga sang kakek. Kakek yang terkejut mendengarkannya langsung memberi salam hormat pada Putra Mahkota Ren Zie. Setelah itu Putra Mahkota Ren Zie mengajak mereka untuk pergi makan bersamanya. Ming menempah tempat makan terbaik yang mempunyai ruang privasi di sekitar situ. Mereka makan bersama.
Chumi terlihat bahagia tetapi tidak bagi tabib Hong.
Selesai makan Putra Mahkota Ren Zie memulakan bicaranya. "Ming bawa Chumi pergi berbelanja di sekitar ibu kota dan turuti pemintaannya."
Setelah itu Ming membawa Chumi berbelanja.
"Tabib Hong ada yang ingin aku tanyakan."
"Ampun ampunn.. kan kami pangeran. Hamba telah berbohong karna cucu hamba telah jatuh hati pada pangeran." Kata tabib Hong sambil berlutut di hadapan Putra Mahkota Ren Zie.
"Tabib Hong taukan, apa yang harus tabib jelaskan pada ku?"
"Iya.. hamba akan menceritakan semuanya pada pangeran. Waktu itu bukan Chumi yang membawa pangeran ke rumah hamba tetapi ada seorang gadis muda yang menyelamatkan pangeran. Gadis itu memberi sekantung koin emas dan dia menyuruh untuk merawat dan menjaga pangeran sehingga pulih. Setelah itu gadis itu langsung pergi."
"Siapa nama gadis itu?"
Tabib Hong mencoba menginati nama gadis itu tetapi gagal. "Ampun.. perkara ini udah lama berlalu.. tabib yang tua ini tidak mengingati namanya. Ampun.. ampun pangeran.." tabib Hong merasa takut.
"Apakah nama gadis itu Xia?"
"Xia.. Iya.. iya.. namanya Xia."
__ADS_1
Putra Mahkota Ren Zie udah menjangkakannya. Dia tersenyum sambil meminum air teh nya.
"Aku akan memaafkan kamu dan cucumu tetapi ingat setelah ini tabib harus terangkan pada Chumi bahawa aku tidak pernah menyimpan apa-apa perasaan pun padanya."
"Terima kasih.. terimah kasih pada pangeran yang bermulia hati mau memaafkan kami,"
Setelah itu Ming masuk ke ruangan itu dan menunduk hormat.
"Pangeran ada yang ingin aku sampaikan." Ming berbisik pada Putra mahkota.
Putra Ren Zie pun memberi isyarat pada Ming. Dan Ming langsung mengarahkan Tabib Hong untuk segera keluar dari ruangan itu. "Cucumu menanti dibawah." Tabib Hong yang mengerti, langsung keluar.
"Pangeran tadi ada yang melihat putert Xia dan pria itu telah keluar dari ibu kota dan mereka menuju ke arah timur."
"Timur?? Mereka mau kemana?"
"Ampun.. mereka tidak dapat dikesan setelah itu."
"Apa!! Emang mereka setan, bisa hilang begitu aja. Aku tidak mau mendengar alasan kalian. Cari mereka sampai ketemu dan perluaskan kawasan carian kalian."
"Ming apa bisa aku mengatakan sesuatu?" Tanya Boa haiwan kontrak Ming dipikiran Ming.
"Aku lagi sibuk, cepat katakan."
"Pria yang bersama putri Xia bukan pria sembarangan."
"Apa maksud mu Boa?"
"Mengapa kau diam di situ dari tadi? Apa kau mau aku menghukum mu Ming?"
"Maafkan hamba. Bao memberitahu kalau pria yang disamping Putri Xia bukan pria sembarangan."
"Maksudnya??"
"Bao mengatakan pangeran bisa bertanya pada Xiong karna dia lebih tahu." Ming memberitahu Putra Ren Zie apa yang diberitahu Bao. Tahap Kultivasi Bao masih ditahap atas. Xiong adalah haiwan kontrak Putra Rien Zie yang berada ditahap sempurna.
"Xiong keluarlah." Xiong keluar dengan ujud manusia, "Beritahu apa yang kamu ketahui?" Putra Ren Zie sangat tegas dengan haiwan kontrak nya. Dia tidak mau haiwan kontrak nya mencampuri urusannya kecuali dengan kebenaran dari nya. Jika haiwan kontrak nya bersalah, pasti akan dihukum.
__ADS_1