
Jenerel Xuan juga mengikuti mereka ke desa Kisan.
Setelah menempuh perjalanan selama 2 hari akhirnya mereka tiba di hadapan pintu gerbang desa Kisan.
Setelah turun dari kereta kuda, Xia terasa seperti terhidu bau asap yang agak wangi dan terlihat seperti jerebu yang agak tebal didalam desa Kisan.
Terlihat pintu gerbang tertutup rapat dan dikawal oleh beberapa orang pengawal yang menutup hidungnya dengan kain.
Mereka pun membuat tenda tidak jauh dari gerbang desa Kisan.
Pengawal yang menjaga pintu gerbang itu, kenal dengan jeneral Xuan. Dia langsung menunduk hormat dan mengetuk loceng yang besar sebanyak tiga kali.
Tidak berapa lama ada seorang penduduk yang keluar dari pintu gerbang yang dibuka sedikit seketika dan di tutup kembali. Terlihat orang itu mengenakan penutup hidung menggunakan kain yang diikat.
"Anda telah datang jeneral Xuan. Bagaimana Kaisar ada menghantar kan bantuan?" Tanya pemuda itu sambil menunduk hormat.
"Iya rombongan bantuan telah tiba. Kenalkan ini Putra Yun dan Putri Xia Lin." Terang jeneral Xuan
"Hormat Putra dan Putri. Saya kor chen penduduk desa ini. Di harap Putra dan Putri bisa membantu penduduk desa kami yang dalam kesusahan." Putra Yun mengangguk kan kepalanya.
"Apa kalian ingin berehat sebentar atau kita mulakan?" Tanya jeneral Xuan.
"Kita lanjutkan, aku punya banyak persoalan yang harus ditanyakan." Ucap Xia.
"Baiklah Putri, silakan."
"Kita masuk dulu kedalam tenda yang telah disediakan." Ujar jeneral Xuan dan mereka masuk ke dalam tenda yang lengkap dengan kursi didalamnya.
Para tabib juga dipanggil untuk masuk kedalam tenda itu. Tidak lupa teman dan jiejie Xia juga ikut masuk
"Baiklah, aku akan memulakan. Setibanya aku disini, aku telah menghidu bau asap. Dari mana datang asap ini?" Tanya Xia
"Sudah setahun desa kami dilanda kemarau yang berpanjangan. Banyak pohon dihutan mula mengering dan kira kira lima bulan lalu, terjadi kebakaran di hutan itu. Tetapi perkara ini telah biasa di desa ini. Jika musim kemarau, hutan itu pasti terbakar."
"Tapi asap itu berbau wangi, seperti bau tembakau. Apa ada ladang tembakau disini yang terbakar?"
"Di desa ini tidak ada ladang tembakau Putri."
Putra Yun dan jeneral Xuan hanya mendengarkan pertanyaan dari Xia. Mereka pelik akan soalan Xia yang seperti nya tidak bersangkut dengan masalah penduduk desa Kisan.
"Tapi.. saya pernah terdengar penduduk desa berkata didalam hutan yang terbakar itu terdapat banyak pohon tembakau tumbuh meliar." Xia mengangguk kan kepalanya.
"Pasti nyawa yang terkorban kebanyakannya adalah golongan tua dan kanak kanak."
"Iya Puteri, memang benar."
"Baiklah apa tabib disini telah melakukan bedah siasat terhadap para korban yang tewas?"
__ADS_1
"Tidak Puteri, tabib takut melakukannya. Mereka khawatir penyakit itu akan menukar dan menjangkiti mereka."
"Pada pendapat awal ku penyakit ini tidak berjangkit. Tapi belum terbukti lagi. Malam ini kamu siapkan 3 orang korban yang tewas. Besok aku akan membedah korban yang tewas itu."
"Tapi Putri, apa ini tidak akan membahayakan nyawamu, jika pandangan awal mu itu salah. Jika penyakit itu terbukti menular dan kamu terkena jangkitan penyakit itu. Bagaimana harus aku terangkan pada ayahku jika terjadi hal buruk padamu?" Yang lain nya setuju akan pandangan Putra Yun.
Xia tersenyum "Aku akan sentiasa berhati- hati menjalan kan tugas itu. Aku akan ambil risiko itu, jika ia bisa membantu penduduk desa Kisan."
Yang lainnya terkejut mendengarkan penyataan yang keluar dari mulut Putri Xia Lin. Ada yang merasa kagum akan Putri Xia Lin.
"Setakat ini, aku sudah tidak punya soalan lagi. Pastikan kamu siapkan tugas yang aku berikan barusan tadi, malam ini jugak karna aku akan memulakan besok di awal pagi." Kor hanya mengangguk kan kepalanya.
"Tapi Putri Xia Lin..." Terdengar suara tegas dari Putra Yun.
"Aku butuh istirehat sekarang. Karna besok aku akan mulakan siasatanku." Ujar Xia sambil berlalu pergi bersama temannya.
"Sialan, dasar keras kepala dia." Ucap Putra Yun dan bangun dari duduknya
"Para tabib yang ada soalan yang harus kalian tanyakan. Langsung tanya pada pemuda itu." Lalu Putra Yun berlalu pergi.
Setibanya ditenda milik Xia.
"Xia'er ada benar apa yang dikatakan oleh Putra Yun tadi. Aku khawatir akan keselamatan mu Xia'er." Ujar Cisin. Diikuti anggukan dari Nagin dan Leo.
"Jiejie Aku yakin penyakit itu bukan penyakit menular. Kalian tidak usah khawatir. Sekarang aku mau masuk kedalam ruang dimensi, apa kalian mau ikut ku."
Dan masuk terus ke ruang dimensi, Xia langsung pergi ke dalam bilik rawatan. Dia mengambil sekotak masker dan menyediakan peralatan untuk digunakan besok. Semua barang dan obatan yang perlu digunakan besok telah di masukkan dalam cincin ruang.
"Jiejie kamu tinggal aja diruang dimensi ini bersama Kibo dan Miho. Nagin dan Leo kamu bantuin aku besok."
"Tapi xia'er.."
"Udahlah jiejie. Turutkan aja apa yang aku katakan, demi kebaikan mu."
"Janji padaku, kamu akan sentiasa jaga dirimu Xia'er." Cisin menitiskan air mata dan memeluk Xia.
"Iya Aku janji padamu. Tak usah menangis bagai. Kan ada Nagin sama Leo yang bisa melindungi aku."
"Iya Cisin, Aku dan Nagin akan sentiasa melindungi Xia'er." Ujar Leo dan Nagin menggangukkan kepala nya.
Setelah selesai menyediakan barang yang diperlukan, Xia keluar dari ruang dimensi. Nagin dan Leo akan keluar besok.
Keesokan harinya, ketika Xia bangun dari tidur nya. Leo dan Nagin telah menantinya.
"Kamu udah bangun Xia?"
Xia tersenyum. "Aku mau mandi dulu didalam ruang dimensi. Jika ada yang mencariku katakan aku masih tidur." Mereka mengangguk kan kepalanya dan Xia pun masuk kedalam ruang dimensi.
__ADS_1
Setelah mandi, Xia makan makanan yang disediakan oleh Cisin.
"Apa Leo dan Nagin udah makan?"
"Iya mereka udah makan sebelum keluar."
Setelah selesai Xia langsung keluar dari ruang dimensi. Karna hari masih dini tidak ada yang mencari Xia.
Xia, Leo dan Nagin menuju kearah pintu gerbang desa Kisan.
"Maaf, siapa kalian? Dan mau apa kalian disini?" Tanya pengawal yang menjaga pintu gerbang itu.
"Aku Putri Xia Lin. Tolong panggil kan pemuda yang keluar kemarin."
"Maaf, hamba tidak mengenali Putri. Sila tunggu sebentar."
Seorang pengawal telah mengetuk loceng besar itu sebanyak tiga kali. Tidak berapa lama terdengar seseorang mengetuk pintu dari dalam. Dan pengawal itu pun membuka pintu itu seketika, lalu menutupnya kembali.
"Hormat Putri, hamba telah menyelesaikan tugas yang Putri arahkan semalam."
"Bagus, pakailah yang ini. Benda ini lebih selamat dari yang kamu gunakan." Xia menghulurkan masker moden yang diambil dari ruang dimensi. Dia juga memberikan kepada para pengawal disitu. Dan mengajar cara untuk menggunakan. Nagin dan Leo juga memakainya.
"Putri Xia Lin..!!" Teriak Putra Yun, dia keluar dari tendanya ketika terdengar bunyi loceng yang terdengar nyaring tadi.
'aduh... Apa lagi yang dia maukan.' ujar Xia dihatinya. Xia hanya melihatnya.
"Apa kamu nekat melakukannya?"
"Iya."
"Apa kamu tidak butuh bantuan para tabib?."
"Tidak, tapi setelah aku memastikan penyakit itu, baru aku butuh bantuannya."
"Aku mau ikut dengan mu"
"Apa kamu yakin Putra Yun?"
"Iya."
"Jika begitu hamba akan ikut masuk juga." Ujar jeneral Xuan yang tiba tiba muncul.
"Tidak bisa jeneral. Jika kamu ikut masuk, siapa yang akan menjaga yang lainnya."
Jeneral Xuan menggangukkan kepala nya faham. " Kalau begitu, hamba akan tunggu berita baik."
Xia, Nagin, Leo dan Putra Yun pun masuk ke dalam bersama Kor yang menunjukkan jalan. Setelah memberi Putra Yun masker.
__ADS_1