Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
48 - Membantu


__ADS_3

Putra Feng Xi melihat jeneral Tong terjatuh, langsung menangkapnya dan mengikatnya untuk dibawa mengadap kaisar Nan.


"Sialan kalian bermain kotor" jerit jeneral Tong.


"Aku hanya ingin menyelamatkan kerajaan ini. Kau yang bermain kotor dan berniat untuk memberontak. Dasar pria tua yang serakah." Balas Xia geram.


Akhirnya mereka berjaya menumpaskan musuh. Musuh yang masih hidup diikat dan dikumpulkan di sebuah rumah yang yang dikawal rapi dengan pengawal. Mereka membebaskan semua penduduk yang dijadikan tahanan. Terdengar teriakan dan tangisan sedih mereka ketika mengetahui ahli keluarga telah menjadi mangsa korban. Prajurit yang terselamat membantu penduduk mengumpulkan para korban yang tewas.


Tidak terasa masa berlalu karna sibuk membantu warga disitu, matahari mula menunjukkan sinarnya. Putra Feng Xi mengutuskan surat memberitahu kaisar Nan bahawa yang menyerang desa Krisan bukanlah bandit tetapi ternyata para pemberontak yang menyamar menjadi bandit untuk mengelabui mata semua orang. Pemberontak itu telah dipimpin oleh jeneral Tong dan mereka mempunyai markas yang terletak di pinggiran kerajaan timur, Putra Feng Xi menggulung dan mengikat surat yang ditulis di kaki merpati. Surat itu akan dihantar ke Istana kaisar Nan.


Ketika Xia dan yang lainnya sedang bersarapan pagi didalam tenda, terdengar bunyi bising dari luar.


"Bunyi apa itu, sebentar kakak pergi melihatnya" ujar Putra Feng Xi kawatir, sambil mau berdiri.


"Tidak perlu kak, biar aku aja yang melihatnya. Kakak dan yang lainnya sarapan lah dahulu." Ujar Xia menghalang.


Xia pun keluar dari tenda, terlihat memang ada seseorang yang sedang berlawan dengan prajurit disitu.


"Auranya seperti aku kenal." Gumam Xia perlahan dan langsung mendekat ke sana.


"Berhenti!!" Ternyata memang benar tekaan Xia, dia adalah Putra Jing Zhi kekasihnya.


"Xia.."


"Apa kamu terluka?" tanya Xia


"Aku baik-baik saja."


Setelah memastikan Putra Jing Zhi baik -baik saja, Xia memperkenalkan identiti pria yang mereka lawan tadi. "Dia adalah Putra Jing Zhi anak ketiga kerajaan utara."


"Maaf putra, kami lancang karna kami kira tadi anda adalah pemberontak." Mereka berlutut memohon maaf.


"Bangunlah, aku tau kalian hanya menjalankan tugas dan aku yang menceroboh masuk ke sini." Mereka pun bangun setelah mendengar kata Putra Jing Zhi.


Xia megajak kekasihnya masuk ke tenda tadi untuk diperkenalkan kepada kakaknya.


Melihat adiknya masuk Putra Feng Xi langsung bertanya. "Ada apa di luar Xia? Siapa pria yang kamu bawa itu?"

__ADS_1


"Maaf membuat keributan karna aku menceroboh masuk. Kenalkan aku kekasih Xia, namaku Putra Jing Zhi anak ketiga kaisar Bei." Putra Jing Zhi memperkenalkan diri terlebih dahulu sambil menundukkan sedikit tubuhnya tanda hormat.


Mereka di situ terkejut mendengar kejujuran Putra Jing Zhi yang mengatakan Xia adalah kekasihnya. Cisin tersengih memandang Xia yang tertunduk malu.


"Apa benar Xia? Dia kekasihmu." Tanya putra Feng Xi.


"Iya kak." Jawab Xia perlahan sambil memandang kekasihnya dengan senyuman manis.


"haa.. haa.. haa.. meimei ku yang aku anggap masih kecil rupanya udah punya kekasih. Perkenalkan aku adalah kakak Putri Xia, nama ku Putra Feng Xi. Kemarilah, kita sarapan bersama." Putra Jing Zhi pun duduk di tempat yang disediakan untuknya.


"Oh iya.. bagaiman kamu tahu kami disini?" Tanya Putra Feng Xi panasaran.


"Ketika aku tiba dipersimpangan jalan menuju ke mukim tua, aku bertemu dengan kereta kuda yang sama saat Xia berangkat ke mukim tua tapi ternyata hanya ada menteri Chu saja di dalamnya dan menyatakan bahawa kalian pergi ke desa Krisan."


"Oh.. kamu menenali ayahku?"


"Iya kak."


Mereka berborak sambil menikmati makanan yang tersedia. Setelah selesai makan, Xia memberi air dari sungai pemulih jiwa kepada Putra Jing Zhi untuk menghilangkan rasa lelahnya. Ketika mahu keluar dari tenda itu, mereka bertembung dengan rombongan Putra Makhota Huan Zo.


"Masuklah kakakku ada didalam." Ucap Xia sambil tersenyum, Putra Mahkota Huan Zo masuk kedalam dan berjumpa dengan Putra Feng Xi.


"Mari ke sana, kita bantu mereka." Xia mengajak kekasihnya untuk turut membantu penduduk disitu.


"Xia, bisa aku bertanya." Xia menghentikan langkahnya.


"Apa kau mau tau siapa pria tadi?" Putra Jing Zhi menganggukkan kepalanya.


"Dia Putra mahkota Huan Zo anak kepada kaisar Nan."


"Apa dia mantan pacarmu?


"Tidak, kenapa kalau ya kamu cemburu.?"


Putra Jing Zhi tersenyum, "melihat cara dia menatap mu tadi, aku pasti dia masih mencintaimu."


"Tidak usah cemburu, dia sudah bernikah dan aku tidak menyukai pria yang sudah mempunyai isteri." Putra Jing Zhi merasa lega, bila mendengar bicara Xia tadi.

__ADS_1


"Aku merinduimu sayang." Ujar Putra Jing Zhi. Mereka saling menatap, Putra Jing Zhi memegang pipi Xia dan untuk beberapa saat, barulah Xia tersedar yang mereka berada di tempat umum.


"Malu dilihat para warga, mari kita bantu mereka." Xia tersenyum malu, lalu pergi meninggalkan Putra Jing Zhi.


Putra Jing Zhi pun turut membantu warga, walaupun dia seorang putra tetapi dia tidak kaku untuk turut membantu. Ketika Xia membantu warga datang Putra Mahkota Huan Zo berdiri disebelahnya.


"Xia'er.. ternyata pria itu kekasihmu." Tanya Putra Mahkota Huan Zo, Xia terkejut karna tiba-tiba saja ada orang yang berdiri disebelahnya. "Maaf, aku tidak berniat untuk membuatmu terkejut."


Setelah hilang rasa terkejutnya Xia pun bicara, "Iya, dia kekasihku. Dari mana kau mengetahuinya?"


"Kakakmu, maaf bukan aku mau mencampuri urusan mu tapi aku hanya panasaran. Kakak mu juga memberitahu bahawa jeneral Tong berniat untuk melakukan pemberontakan, mujur ayah ku menghantar ku kesini terlebih dahulu. Kita bisa memperketatkan lagi untuk menjaga pemberontak yang telah ditangkap, karna aku yakin pasti akan ada yang datang kesini untuk membantu melepaskan ketua mereka. Kita harus segera meninggalkan tempat ini setah membantu penduduk disini."


"Iya aku setuju dengan cadanganmu."


Mereka terdiam seketika dan Putra Mahkota Huan Zo bicara semula. "Xa'er, bisa aku bertanya?"


"Silakan.. aku akan menjawabnya, jika bisa."


"Mengapa kamu memilih dia?"


'Aduuhh.. kenapa kamu tanya soalan seperti ini sih. Apakah aku harus jujur padanya?' Gumam Xia didalam hatinya.


"Sejujurnya aku memilihnya karna aku mau beri peluang kepada diriku untuk belajar mencintai. Iya memang aku mengaku yang aku masih belum sepenuhnya menyayanginya tetapi kami sudah bersetuju untuk mencoba belajar untuk bercinta." Xia berkata jujur dari hatinya.


"Kenapa dengan dia kamu mau memberi peluang itu tapi bukan dengan ku?"


"Kamu sudah menikah Huan Zo."


"Tapi aku mencintai mu sebelum aku menikah lagi Xia. Kau tahu itukan?"


"Tidak, aku tidak tahu bahawa kau suka dengan ku sebelumnya. Aku hanya menganggapmu seperti seorang sahabat, sama seperti Zan. Aku kira kamu jugak begitu."


"Apa kau tidak menyadarinya?" Xia hanya menggelengkan kepalanya. "Apakah kalau waktu itu aku meluahkan perasaan ku padamu, kau mau memberiku peluang itu?"


"Mungkin, tapi semua sudah berlalu Huan Zo. Kini kau sudah menikah dan aku harap kau bisa melepaskan perasaan mu padaku. Jagalah isterimu dengan baik." Xia pun pergi meninggalkan Putra Mahkota Huan Zo dan menuju ke arah kekasihnya.


'Jika aku tahu, pasti aku akan meluahkan perasaanku pada mu ketika itu. Aku sudah coba melupakanmu Xia. Juga udah mencoba untuk melepaskan perasaanku padamu Xia. Tetapi ketika melihatmu didepan mata seperti ini perasaan itu kembali lagi.' Putra Huan Zo berkata di dalam hatinya. Dia merasa seperti hatinya ditusuk pisau, bila melihat kemesraan Xia dan kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2