Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
6- Dihalau


__ADS_3

"Kamu manusia pembawa sial. kamu telah membunuh isteri ku sekarang kamu membuat onar, kamu menconteng arang dimuka ku. Seharusnya aku bunuh kamu ketika kamu lahir. seharusnya aku tidak membesarkan mu. Anak yang tidak malu, tidak sadar diri kamu. Mulai detik ini dan Saat ini, kamu bukan lagi keturunan ku. Buang marga Chu didepan nama mu, aku tidak suka berkongsi nama dengan mu. Sialan!! Keluar kamu dari rumah ku dan jangan pernah kembali lagi kesini." Teriak Menteri Chu dengan amarah yang meluap luap. Dan dia terus berlalu keluar dari kamar Xia Lin, diikuti oleh selir Ming dan anakya. Selir Ming merasa gembira karna rencana nya berjaya.


Selir Ying menangis sejak dari mula suami nya marah. "Suami ku!!!!" Teriaknya hiba lalu pingsan.


"Bonda!!!" Siumei berteriak dan melangkah ke arah Selir Ying.


Pria yang tidur disebelahnya tadi, mengambil kesempatan untuk kabur disaat meraka Sedang fokus menguruskan Selir Ying. Tanpa diketauhui yang lain. Tidak sempat Siumei menyoalnya.


"Pengawal cepat angkat Selir Ying ke dalam kamarnya dan panggil kan tabib." Siumei memberi arahan pada pengawal yang berada disitu.


'Maafkan aku bonda, Aku tidak dapat menemanimu lagi kelak. Aku harus pergi. Kenapa aku menangis?' Ucap Siumei di hatinya. Dia merasa teramat sedih dan tidak dapat menahan air mata nya yang laju mengalir. Tidak tahu mengapa dia merasa teramat sedih. Mungkin ini adalah perasaan dari Puteri Xia Lin yang membuatnya sedih.


Disisi lain, Cisin yang kesiangan bangun tidur, baru tiba di kawasan berhampiran kamar Puteri nya. dia merasa terkejut melihat Selir Ying diangkat pengawal menggunakan tandu. Cisin merpercepatkan langkah nya menuju kamar Puteri Xia Lin.


"Ada apa ini? Puteri!!." Dengan perasaan Yang cemas, Cisin masuk ke dalam kamar Puteri nya.


"Puteri kamu tidak apa apa? Kenapa dengan Selir Ying?"


Siumei menceritakan kepada Cisin, tentang apa yang berlaku padanya dan kata yang diucapkan Menteri Chu kepadanya.


Cisin terkejut dan menangis sambil melutut. "Maafkan hamba Puteri, jika hamba tidak kesiangan bangun tidur maka perkara ini tidak akan berlaku."


"Cici kamu bangun, Aku tak suka kamu melutut didepanku." Siumei menarik tangan Cisin, agar dia berdiri. Cisin pun berdiri


"Puteri, hamba tidak pernah terlambat bangun seperti hari ini. Tidak tahu apa yang terjadi kepada hamba. Percayalah lah kata hamba." Cisin risau jika Puteri salah faham terhadapnya.

__ADS_1


"Aku percaya padamu. Mungkin kamu sama seperti ku, menghidu asap beracun. Siapa yang terhidu asap itu akan membuat kan orang yang menghidunya tertidur pulas. Ada orang yang sengaja menyemburkan asap dikamar kita, supaya bisa menjebak ku. Aku harus menyiasat perkara ini kelak."


"Apa!! Racun." Cisin terkejut Akan hal itu. " Siapa yang berbuat jahat padamu Puteri."


Hiks.. ehikkk.. hikk..


Cisin terus mennagis, merasa kasihat dengan nasib Puterinya.


"Sudahlah, tidak usah kamu menangis terus. Mari bantuin aku berkemas. Aku akan pergi keluar dari rumah ini, hari ini juga."


"Puteri izinkan hamba mengikuti Puteri kemana pun Puteri pergi."


"Tidak usah, kamu tetap saja disini. Aku masih tiada tempat khusus untuk dituju."


"Hamba akan hidup Susah senang bersama anda Puteri. Jangan pernah tinggalkan hamba. Bawa lah hamba bersama mu."


"Puteri.. hamba pernah berjanji dan bersumpah akan setia padamu dan melayanmu dengan ikhlas sehingga akhir hayat hamba." Pujuk Cisin lagi.


'Cici kamu memang seorang pelayan yang setia. Sentiasa ada disisi Xia Lin disaat Xia Lin dalam kesusahan. Kamu juga sanggup sama sama dipukul dengan Selir Ming, Aku pun tidak tega meninggalkan mu. Cici aku bukan Puteri Xia Lin, Aku Siumei. Kalau kamu tau hal sebenarnya adakah kamu sanggup melayan ku lagi? Apa aku harus berterus terang dengan nya.?' Siumei berbicara di dalam hatinya


"Makasih Cici. Aku sangat terharu. Aku akan memberitahu kamu satu rahasia. Setelah mengetahui nya, baru kamu membuat keputusan mau mengikuti ku atau ngak."


"Rahasia apa itu Puteri?" Tanya Cisin sambil mengerutkan dahinnya.


"Aku harap kau tidak akan terkejut jika mengetahui rahasia ini. Sebenarnya, aku bukan lah Puteri Xia Lin. Puteri Xia Lin yang sebenarnya telah meninggal dunia semasa dia jatuh ke dalam kolam. Aku adakah Siumei, jiwaku terperangkap dijasad puteri Xia Lin. Maka dari itu aku telah mengantikan Puteri Xia Lin."

__ADS_1


Cisin yang terkejut hanya bisa terdiam sejenak. Lalu berkata "Siapa pun diri mu, hamba akan setia berkhidmat pada mu yang telah mengantikan puteri hamba. Kerana dimata hamba, anda tetap Puteri Xia Lin. "


"Baiklah kalau begitu mulai sekarang kamu akan ku angkat menjadi kakak kakak angkat ku. panggil aku Xia, kita akan menjadi satu keluarga." mereka pun saling berpelukan. Cisin berusia 17 tahun, tua dua tahun daripada Xia Lin.


Setelah mengemas pakaian yang akan dibawa mereka pun pergi meninggalkan kediaman menteri Chu.


semasa mereka ingin melewati gerbang utama. Mereka terdengar suara selir Ying memanggil Xia Lin.


"Xia Lin tunggu" Selir Ying berjalan menuju ke arah meraka. "Xia Lin bonda Minta Maaf kerana tidak dapat membelamu tadi. Tidak perlu kamu jelaskan, bonda yakin yang kamu tidak bersalah. Bonda percaya pasti satu hari nanti kebenaran pasti berpihak kepadamu" Selir Ying memeluk Xia Lin.


"Tidak perlu meminta maaf bonda, aku faham. makasih percaya kan ku. Bagaimana kabar mu, adakah kamu baik baik saja?"


"Bonda baik baik saja. Ini terimalah cincin ruang. cincin ini dapat menyimpan seberapa banyak barang kecil di dalam nya. Di dalamnya bonda telah meletakkan beberapa barang kemas, Koin emas dan perak untuk kamu gunakan jika memerlukan. kamu hanya menyalurkan aura qi mu untuk mengambil, menyimpan dan melihat barang di dalam nya. Bonda dapat merasakan yang kamu bisa berkultivasi sekarang." Selir Ying dapat merasakan aura kultivasi Xia Lin, walau pun masih tahap awal, dia bahagia melihat Xia Lin bisa berkultivasi. Selir Ying tersenyum.


Selir Ying memegang tangan Cisin Dan berkata "Cici tolong jagakan Xia Lin untuk ku ya."


"Baiklah, akan saya jaga Puteri sebaiknya" ucap Cisin.


Selir Ying yakin yang Cisin berkata dengan ikhlas. Dia melempiaskan tangan nya.


"Jika kalian tiada tempat tujuan yang ingin dituju, maka pergilah bertemu gege mu di Mukim tua. Mereka pasti gembira menerima Kedatangan mu kesana."


"Terima kasih bonda, aku akan pamit sekarang. Bonda jaga lah diri dengan baik." Siumei memakai cincin ruang dijarinya. mereka berpelukan dan meneruskan langkah pergi meninggalkan kediaman menteri chu. Selir Ying hanya bisa melihat hiba kearah puterinya yang pergi meninggalkan nya.


Siumei dan Cisin telah tiba dipasar yang berhampiran dengan kediaman menteri Chu. Kerana hari telah petang mereka bercadang untuk makan sekalian menginap di pasar ini. Mereka pun masuk ke satu kedai makan yang diatas nya terdapat rumah tumpangan sekali.

__ADS_1


Siumei memilih tempat duduk yang agak terselindung dari pandangan orang. Cisin pun mengikuti nya dari belakang. Siumei merasa risih kerana sepanjang tiba di pasar, ramai orang yang menatapnya.


__ADS_2