Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
84 - Racun


__ADS_3

"Nagin, Leo.. kalian bisa pergi sekarang. Karna jika kalian pergi ditengah malam, aku merasakan pasti mereka lebih berjaga - Jaga ketika waktu itu. Sekarang pasti mereka masih lengah lagi."


"Baik, kami akan pergi sekarang." Mereka bertiga langsung pergi ke penjara.


Dipenjara, Putra Mahkota Ren Zie memberi arahan kepada pengawalnya.


"Aku yakin, pasti mereka akan datang semula tengah malam ini. Kalian harus berjaga dan memperketatkan lagi kawalan pada waktu tengah malam ini."


"Baiklah pengeran."


"Ming kamu kumpulkan dan tambahkan lagi beberapa orang pengawal di sekitar sini. Aku harus bertemu Putri Xia sekarang." Putra Mahkota Ren Zie memberi arahan kepada pengawal setianya.


"Baiklah.." mereka pun pergi melakukan tugas masing - masing.


Dikamar Xia, ada seseorang mengetuk pintu kamarnya. Xia yang lagi menanti pelayan untuk menghantarkan makanan untuknya, langsung membuka pintu kamar tanpa merasa curiga.


Ketika membuka pintu, ada seorang pelayan wanita yang membaling sesuatu di hadapan Xia.


"Apa yang kau lakukan.." Xia terkejut dan berundur beberapa langkah. Tetapi dia tersadung kakinya dan terjatuh.


Hukk.. uhukk.. uhukk.. Xia terbatuk karna terhidu bubuk yang dilemparkan pelayan itu.


Putra Mahkota Ren Zie yang berada tidak jauh dari kamar Xia melihat kejadian itu langsung berlari ke kamar Xia. Ketika pelayan itu menyadari ada seseorang yang datang kearahnya, membuatnya merasa panik. Khawatir akan ketahuan dan takut tugasnya akan gagal. Dia langsung membaling bubuk racun yang tersisa kepada pria yang mau menyerangnya. Dan menolak pria itu masuk ke dalam kamar. Lalu menutup pintu kamar dan menguncinya dari luar.


Putra Mahkota Ren Zie yang mencuba mengelak dari terkena bubuk itu, tidak bisa mengimbangkan badannya dan terjatuh di atas tubuh Xia. Mereka saling perpandangan.


"Haa.. haa.. haa.. bagus tidak perlu aku mencari pria untuk memuaskanmu. Selamat menikmati malam indah kalian." Ucap pelayan itu dengan senang hati karna tugasnya berjaya dilakukan. Dia tidak tahu, bahawa pria yang dijebaknya adalah Putra Mahkota Ren Zie.


Pelayan itu telah diupah oleh menteri Kor untuk memberi bubuk racun yang membuat seseorang menjadi khayal dan meningkatkan rasa ghairah apabila terhidu bubuk itu. Pelayan itu juga telah membunuh dua orang pengawal yang berjaga dihadapan kamar Xia.


Bubuk racun itu telah memberi kesan terhadap tubuh Ren Zie dan Xia. Membuat mereka saling berciuman..


'Tidak.. tidak.. Aku harus melawannya.. Aku harus kuat..' Teriak Xia didalam hatinya.


Dia membuka matanya dan menolak tubuh Ren Zie yang telah hilang kawalan. Setelah berjaya menolaknya, Xia langsung berdiri dan coba fokus untuk masuk ke dalam ruang dimensi bintang. Tetapi ketika itu Putra Ren Zie sempat memegang kaki Xia. Membuat Xia terjatuh dan meraka berada di dalam kamar Xia yang berada diruang dimensi.

__ADS_1


'Arrgghh.. aduh.. sakitnya.. mengapa aku berada dikamar?? Aku mau pergi ke pinggir sungai.' Mulanya Xia tidak menyedari suaminya masuk sekali bersamanya di situ. Setelah merasakan ada seseorang menyentuhnya, barulah dia menyadari bahawa Putra Ren Zie berada disitu.


Putra Ren Zie mengangkat Xia dan menuju kearah tempat tidur. Mereka berdua sudah tidak bisa mengawalnya lagi dan melakukan hubungan yang cuba mereka elakkan sebelum ini.


Dipenjara Istana.


Nagin menyebarkan asap beracun yang bisa membuat orang tertidur bila menghidunya. Setelah memastikan semua pengawal dan tawanan tertidur, mereka langsung masuk ke dalam penjara. Dan Zu terus mencari pelayan Lun. Zu memerlukan masa yang lama karna hanya dia sahaja yang mengenali pelayan Lun dan juga terdapat ramai pesalah yang berada di penjara ketika itu.


"Cepat Zu, aku dapat merasakan ada beberapa orang yang sedang menuju ke sini." Ujar Leo.


Zu merasa tertekan karna harus melihat seorang demi seorang pesalah yang ada dipenjara dalam waktu yang singkat.


"Ini dia.." Teriak Zu karna berjaya menemui pelayan Lun.


"Kau yakin??" tanya Nagin untuk memastikan kebenarannya. Karna dia tidak mau gagal dalam tugas yang di berikan tuannya.


"Iya aku yakin."


"Cepat kita harus keluar dari sini." Ucap Leo yang langsung mengangkat pelayan Lun.


"Pengawal serang mereka...!!" Teriak Ming yang sedang berlawan bersama Nagin.


"Leo, Nagin berundur.." Teriak Zu dibelakang mereka. Leo dan Nagin yang mendengar teriakan Zu langsung melompat kebelakang dan Zu langsung menyemburkan air dari mulutnya kepada pengawal Istana. Dikesempatan itu mereka langsung melarikan diri dan keluar dari penjara. Mereka tidak bisa langsung masuk ke ruang dimensi karna untuk masuk keruang dimensi ada batas jarak tertentu. Tidak bisa terlalu jauh dengan pemilik ruang dimensi bintang. Mereka langsung masuk keruang dimensi bintang setelah Nagin dapat merasa jarak yang sesuai.


Setelah masuk keruang dimensi Leo langsung membaringkan pelayan Lun di pondok.


"Nagin aku harus keluar untuk melindungi Xia." Ujar Leo setelah meletakkan pelayan Lun.


"Tunggu dulu.. Aku merasa aura Xia disini. Pasti dia di istananya."


"Mari kita pergi bertemu dengannya."


Leo dan Nagin pun segera menuju ke Istana. Manakala Zu dan Miho diarahkan untuk menjaga pelayan Lun. Ketika mau menuju ke Istana mereka berpapasan dengan Star.


"Star, apa Xia ada didalam?." Tanya Nagin.

__ADS_1


"Iya, dia dikamarnya tapi.. tapi..." Star binggung mau menerangkan pada mereka karna dia tidak sengaja melihat Xia melakukan itu.. di kamarnya.


"Tapi.. tapi kenapa Star?" Potong Leo yang tidak sabar mendengarkan Star bicara selanjutnya.


"Tapi.. Aku rasa, sepertinya Xia tidak mau diganggu.. Karna aku melihat dia lagi sibuk kerja."


Nagin dan Leo memandang sesama sendiri. Mendengar kan kata Star, mereka tidak jadi mencari Xia.


"Kalau gitu, mari kita menunggunya dipondok."


Beberapa jam kemudian, Leo dan Nagin merasa panasaran tentang kerja yang dilakukan Xia. Karna udah lama mereka disitu tetapi Xia tidak keluar dari kamarnya.


"Star kerja apa yang Xia lakukan? Kenapa lama bangat? Aku mau pergi melihatnya, mungkin dia memerlukan bantuan kita." Tanya Leo yang gelisah.


"Iya aku juga mau membantunya." Nagin langsung berdiri.


"Kalian apa- apaan sih.. Orang lagi bikin anak, mana bisa kita tolong." Star akhirnya berterus - terang.


"Apa!!!??" Leo dan Nagin berteriak.


"Apa maksud mu Star." Leo meninggikan suaranya.


"Nagin... Nagin.. kamu disini?" Xia memanggil Nagin melalui telepati, terdengar suara Xia yang lemah.


"Xia, kamu kenapa??"


"Tolong bantuin aku.."


"Xia meminta bantuan ku.. suaranya terdengar lemah.." kata Nagin. Nagin dan Leo langsung berlari menuju ke kamar Xia. Star mengikuti mereka.


Xia yang masih linglung karna masih dibawah pengaruh racun itu, hanya bisa menyelimuti tubuhnya yang polos.


Nagin dan Leo terkejut melihat situasi yang berada didepan matanya. Leo langsung menutup tubuh Putra Ren Zie menggunakan jubahnya.


"Xia.. Xia.. apa yang berlaku.." Nagin memanggil Xia dan menepuk - nepuk wajah Xia, agar bisa sadar.

__ADS_1


"Nagin.. pakaikan.. aku baju.. setelah itu, bawa aku ke sungai pemulih jiwa." Ujar Xia dengan mata yang terpejam. Keadaannya lemah karna banyak menggunakan qi ketika masuk ke ruang dimensi dan berbicara dengan Nagin tadi. Karna dia masih dibawah pengaruh racun, yang coba dia lawan.


__ADS_2