
"Minli..." Xia berkata perlahan.
"Apa yang kalian lakukankan hah..!!!" Xia berteriak pada mereka, dia merasa geram melihat adik tirinya menjadi mangsa buli.
"Tidak usah ikut campur urusan kami."
"Huh.. Dia adik ku.. urusannya adalah urusan aku." Minli terkejut mendengar pengakuan wanita di depannya.
'Siapa dia??' Minli berkata di hatinya.
"Haa.. haaa.. bagus, adik mu tidak bisa memberi kami uang. Maka, kau sebagai saudaranya perlu membayar pada kami bagi pihak adikmu."
"Minli apa kau berhutang pada mereka?"
Minli terkejut, gadis di depannya mengenali nya. Bila di amati, barulah Minli mengenali siapa wanita di depannya.
"Jiejie Xia..!!" Minli mau berlari ke arah Xia tetapi di halang oleh pria tadi.
"Bayar dahulu baru kau bisa pergi kepadanya."
"Jiejie tolong aku..!!" Minli mula menangis. "Aku tidak punya hutang pada mereka, tetapi mereka mengancam ku selama ini. Sehingga hari ini aku udah kehabisan uang ku, yang di beri oleh ayah karna mereka."
"Ternyata kalian mengancam adikku.. beraninya kau mengganggu dia." Xia mengepal tangannya. Dia langsung menyerang pria di hadapannya. Melihat seorang pria telah tumbang di tumbuk Xia, yang lainnya mengepung Xia. Xia berlawan dengan mereka.
"Minli..." Cisin memanggil Minli dan mendekatinya, lalu memeluknya untuk menenangkan Minli.
Dengan sekejap sahaja Xia menjatuhkan ke lima-lima pria itu.
"Awas kau, aku akan laporkan pada guru ku." Ujar seorang pria yang wajahnya memar karna di pukul Xia.
"Beritahu sana, aku tunggu. Aku ingatkan sekali lagi jika kau mengganggu dan meminta uang dari adikku, siap kalian. Aku akan membuat perhitungan dengan kalian." Xia menunjuk penumbuk tangannya. Mereka langsung lari lintang pukang.
"Jiejie." Minli memanggil Xia.
"Apa kau tidak apa-apa?" Terlihat di pipi Minli ada kesan merah. "Apa mereka menampar mu?" Minli yang menangis hanya menganggukkan kepalanya.
"Bajingan mereka.. awas, kalau aku melihat mereka lagi akan aku ajar mereka." Xia pun memeluk Minli.
"Terima kasih jiejie.. Jika jiejie tidak datang tadi, aku tidak dapat bayangankan apa yang mereka akan lakukan padaku."
"Udah.. mari ke kamar jiejie." Mereka pun pergi dari situ.
Setelah mereka tiba di kamar teratai, Xia mengeluarkan salep untuk diolesi pada pipi Minli.
__ADS_1
"Apa sakit..?" Xia bertanya. Minli menggelengkan kepalanya.
"Jiejie.. apa jiejie juga belajar di sekta ini?"
"Iya.. tapi sepanjang jiejie melewati ujian hari itu, jiejie tidak pernah melihat mu?"
"Hi.. hi.. aku senior jiejie.. Jiejie harus memanggil ku senior."
Xia tersenyum mendengar ucapan adiknya. "Baiklah senior, aku mohon kerjasamanya." Mereka pun tertawa.
"Jiejie kenapa kamu memakai cadar?"
"Itu karna jiejie mu terlalu cantik, makanya harus di tutup. Kalau tidak pasti ada yang mencuba menggodaku." Mereka pun tertawa lagi.
"Pasti kakak iparku cemburu. Di mana dia? Aku tidak sangka dia memberi izin Jiejie untuk menuntut ilmu di sini."
"Eermm. Dia tidak ikut karna ada banyak tugas di istana." Bohong Xia. Minli mau bertanya lagi tetapi Xia langsung berkata. "Di mana Wenli?"
"Dia di rumah ayah dan tidak lama lagi dia akan menikah"
"Oh iya.. baguslah. Ermm... Minli apa pria tadi itu selalu memukul mu?"
"Tidak, ini kali pertama mereka menamparku karna aku tidak memberi mereka uang. Sebelum ini aku hanya memberi sahaja jika mereka minta tetapi kali ini koin ku beneran udah habis dan mereka tidak percaya, jadinya mereka marah."
"Iya.." Minli tersenyum bahagia. Sebelum ini mereka bermusuhan dan setelah Xia memberi hadiah yang di ingin kan dulu barulah Minli tersedar ternyata Xia tidaklah jahat seperti kata ibunya. Hubungan mereka menjadi baik setelah itu, termasuklah dengan Wenli.
Xia pun mengeluarkan sekantung koin emas dari cincin ruangnya dan memberi pada Minli. "Ambillah koin ini."
"Tapi jiejie..."
"Udah ambil aja.." Minli pun menerimanya dan menyimpannya di cincin ruangnya.
"Apa kau udah makan?"
"Belum lagi.."
"Mari kita ke kantin, kami juga pun belum lagi makan siang."
Mereka pun menuju ke kantin, setelah mengambil makanan mereka duduk di tempat yang masih kosong lagi. Kantin di sekta memberi makanan gratis untuk pelajar mereka dan kita hanya perlu memilih makanan yang telah mereka masak.
Ketika sedang menikmati makanan, ada beberapa orang telah menghampiri mereka.
"Itu dia guru.. dia lah yang membuat kami seperti ini," Xia tidak peduli dengan kehadiran mereka, dia hanya fokus pada makanannya. Minli tidak bisa terus makan karna dia khawatir dan cemas ketika melihat siapa guru yang datang itu.
__ADS_1
"Ternyata kau yang membuat anak murid ku seperti ini. Apa kau tidak tau peraturan di sekta ini hah?" Xia dan temannya tidak menghiraukan ucapan guru pria tadi.
"Apa kau tuli? Aku bicara dengan mu." Tidak mendapat respon dari Xia, guru itu pun cuba mau memegang bahu Xia tetapi ada tangan yang menghalangnya.
"Apa kalian tidak lihat dia sedang makan?" ternyata pria itu adalah putra Fu Yi.
"Siapa kau? Jangan ikut campur dengan urusan kami."
"Aku teman dia, aku bukan mau kurang ajar pada anda. Tetapi tolong hormati teman ku yang masih makan. Jika ada urusan, sila tunggu sebentar."
"Dasar murid kurang ajar.. Siapa gurumu? Aku akan bertemu dengannya."
"Ada apa ribut-ribut di sini guru Phang?" Guru Lee yang kebetulan lewat di situ menghampiri mereka.
Terdengar Guru Lee memanggil pria tadi guru Phang, Xia langsung berhenti makan dan dia berdiri lalu menoleh ke arah guru Phang.
"Ternyata mereka anak murid mu guru Phang?" Ucap Xia.
"Memang benar, pria yang kau belasah tadi adalah anak murid ku."
Xia mendekati ke lima orang pria yang telah memar di wajahnya, lalu menampar mereka seorang demi seorang.
"Kau.. berani kau menampar mereka di hadapan ku?"
"Tolong ajar anak murid guru supaya tidak meminta duit secara paksa dan memukul adikku. Jika mereka melakukan lagi, mereka akan berhadapan dengan ku" Xia berkata dengan angkuhnya.
"Xia apa benar mereka telah berbuat begitu dengan adikmu.”
"Iya guru Lee, mereka juga menampar adikku dan mengugutku juga."
"Guru Phang kau dengarkan kata anak murid ku, mereka yang memulakannya dulu."
"Tapi guru..." seorang pria yang di tampar tadi cuba untuk berkata.
"Udah.. ternyata kalian yang bersalah. Maafkan kesalahan anak murid ku. Mari kita pergi."
"Aku harap guru bisa memberi mereka hukuman, jika tidak aku yang akan menghukum mereka." ucap Xia
Guru Phang yang mau pergi, menoleh ke arah Xia dengan tatapan benci. "Aku akan menghukum mereka karna mereka bersalah." Guru Phang dan muridnya pun berlalu pergi.
"Xia apa kau baik-baik aja?"
"Iya Guru Lee.. aku baik-baik saja. Cuma pipi adikku bengkak tadi karna di tampar mereka. Mereka juga telah lama meminta uang secara paksa dari adikku."
__ADS_1