Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
50 - Miela Dan Ibu Tan


__ADS_3

"Aku juga mau ikut Xia." ujar Cisin, Leo dan Nagin bersamaan.


"Ayo.. tapi antara kalian berdua harus tinggal satunya untuk berjaga disini." Ucap Xia pada Nagin dan Leo.


"Baiklah, biar aku aja yang tinggal karna aku udah pernah ke sana dulu tapi Leo belum lagi." Ujar Nagin mengalah.


Xia tersenyum dengan Nagin "Kita akan berangkat sekarang. Nagin, kamu harus langsung beritahu ku jika terjadi sesuatu disini." Nagin menganggukkan kepalanya.


"Apa aku bisa mengikutimu Xia, soalnya aku udah lama tidak ketemu Nyonya Tan?" tanya putra Mahkota Huan Zo.


"Jika kamu pergi, siapa yang mau menemaniku disini. Ayo duduk disini, temani aku aja." Putra Feng Xi tau adiknya merasa serba salah mau menjawab permintaan Huan Zo. Xia memandang kakaknya, putra Feng Xi mengeyitkan matanya pada Xia. Putra mahkota Huan Zo tidak ada alasan untuk menolak permintaan kakaknya Xia.


Xia pun pergi ke desa teratai yang tidak berapa jauh dari situ. Setibanya didesa teratai mereka pun berhenti di depan sebuah rumah makan yang diusahakan oleh ibu angkatnya dahulu. Memang terdapat ramai orang yang makan disitu.


"Waa.. ini kah tempat nya Xia? ternyata ramai orang yang singgah makan disini. Pasti makanannya enak." Ucap Leo. Xia tersenyum dan sepertinya dia merasa sesuatu yang aneh. Tapi tidak diluahkan, mereka langsung masuk ke tempat makan itu dan duduk dikerusi yang masih kosong. Datang seorang pelayan untuk mengambil pesanan mereka. Mereka pun memesan makanan dan pergi. Tidak berapa lama setelah itu pelayan itu datang semula untuk menghidangkan makanan yang dipesan.


Setelah selesai makan, Xia makin panasaran karna dari tadi dia tidak melihat kelibat adik dan ibu angkatnya. Setelah membuat pembayaran, Xia langsung menuju ke rumah di belakang tempat makan itu. Terdengar ada suara perempuan sedang teriak marah.


"Kamu anak sial, berani beraninya kamu mencuri barang aku hah." Teriak seorang wanita memarahi seseorang. Apabila Xia mendekat dan ternyata Xia melihat wanita itu memarahi adik angkatnya Miela.


"Ada apa ini? Miela." Teriak Xia


"Jiejie" Miela langsung berdiri dan lari memeluk Xia sambil menangis hiba.


"Siapa kau? jangan sibuk menganggu urusan aku." Teriak wanita itu.

__ADS_1


Xia tidak menghiraukan pertanyaan wanita itu. Dia berjongkok dihadapan Miela dan memegang kedua pundak adik angkatnya.


"Katakan pada jiejie, mengapa kamu terlihat seperti ini?" Tanya Xia karna terlihat Miela sepertinya tidak terurus. Bajunya Kotor dan robek, mukanya comot terlihat seperti anak tidak terurus.


"Dimana ibu?" Tanya Cisin pula.


Wanita yang memarahi Miela tadi langsung menarik Miela dan dengan sombongnya berkata "Siapa kalian? jangan pernah mencampuri urusan kami."


Xia merasa hiba melihat Miela menangis tersedu-sedu. Dia langsung merebut Miela dari wanita itu, dan membawa Miela pergi dari situ menggunakan teknik meringankan badan. Yang lainnya turut mengikut Xia dari belakang. Terdengar terikan dari wanita tadi, mereka mengabaikannya.


Xia membawa Miela pergi menuju ke tempat makan yang berhampiran rumah kepala desa Teratai. Mereka langsung memilih tempat yang masih kosong dan duduk.


"Udah tidak perlu menangis lagi, apa kamu udah makan Miela?" Tanya Xia lembut.


Miela masih lagi tersedu-sedu sambil menghapuskan airmatanya. Dia menggelengkan kepalanya.


"Minum dahulu air teh ini. Biar bisa lebih tenang." Ujar Cisin sambil memberi air kepada Miela. Setelah itu pelayan tadi datang membawa makanan yang dipesan. Miela memakannya dengan gopoh sekali. Seperti udah lama tidak makan.


"Makan dengan perlahan Miela." Ucap Xia, memberi air kepada Miela yang tersedak.


"Maaf, Aku udah dua hari tidak makan." Terang Miela perlahan dan meneruskan memakan lagi.


Mereka berpandangan, terkejut mendengarkan ucapan Miela tadi. Mereka tertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Miela, tetapi mereka hanya sabar menunggu dahulu Miela selesai makan.


Selesai makan, tanpa ditanya Miela langsung menceritakan hal yang terjadi kepadanya dan ibunya. "Sebulan setelah jiejie pergi meninggalkan kami, datang keluarga kakak tiri ibu menagih simpati. Mereka sekeluarga telah mendengar tentang kejayaan ibu dan mau menumpang hidup. Ibu menerima mereka karna kasihan dengan nasib kakak tirinya sekeluarga. Pada mulanya mereka baik tetapi lama kelamaan, kakak tiri dan isteri serta anaknya mula berubah. Mereka mula menguasai kedai makan dan rumah. Pekerja yang tidak suka dengan sikap kakak tiri ibu menegur tetapi malah mereka dibuang kerja dan mengambil pekerja lain. Ibu dipaksa menjadi tukang masak dan tidak dibayar. Jika tidak mau ikut arahan kakak tirinya, kami berdua tidak diberi makan." Miela bercerita sambil menitiskan air mata nya. Mereka yang mendengar cerita Miela merasa geram. Xia mengepal tangan nya menahan amarah.

__ADS_1


"Keterlaluan mereka, udah dibantu malah mengambil kesempatan." Ujar Leo.


"Apa yang akan kamu lakukan Xia'er?" Tanya Putra Jing Zhi sambil mengusap tangan Xia, coba untuk menenangkan nya.


"Kita ketemu kepala desa dahulu, karna dia yang menjadi saksi sewaktu kami membeli tempat itu." Mereka pun mengangguk kepala dan langsung pergi ke rumah kepala desa setelah membayar makanan tadi.


Setibanya dirumah kepala desa, Xia menceritakan hal yang berlaku dan meminta kepala desa untuk membantu nya. Kalau diikutkan hati, Xia mau terus menyerang dan membunuh kakak tiri kepada ibu angkatnya tetapi dia tidak mau merumitkan lagi keadaan yang ada.


"Patutlah aku udah lama tidak melihat kalian berdua di pasar. Tiada yang memberitahu padaku tentang hal ini. Ayo, kita kesana sekarang. sebelum itu, kita harus ketemu mantan pekerja yang pernah bekerja disana. Dan kita harus membawa beberapa warga desa untuk membantu."


Kepala desa pergi ke rumah salah satu pria yang pernah bekerja di rumah makan nyonya Tan. Sebelumnya pria itu pernah memberitahu bahawa dia mau mencari kerja di tempat lain tetapi kali ini setelah didesak kepala desa, akhirnya pria itu menceritakan hal yang sebenar. Mereka semua diugut agar tidak memberitahu warga desa perkara sebenar, jika tidak mau keluarga mereka dibunuh.


Setelah itu, mereka memanggil beberapa warga desa dan terus menuju ke arah rumah Miela. Mereka juga memanggil dua orang pegawai kerajaan untuk turut membantu.


Setibanya disana, Xia memanggil ibu angkatnya. "Ibu.!! Ibu Tan!!.." mendengar suara yang dikenali memanggil nya. Ibu Tan langsung keluar dari dapur kedai makan itu. Melihat keadaan ibunya yang cengkung dan tidak terurus, Xia dan Cisin menangis dan berlari memeluk ibu Tan.


"Kapan kalian datang?" Mereka tidak menjawab pertanyaan ibu angkatnya.


"Dimana mereka yang beraninya membuat ibuku seperti ini?" Tanya Xia geram


"Itu mereka jiejie." Miela menunjuk kearah seorang lelaki dan wanita yang memandang kearah mereka.


"Tangkap mereka berdua dan bawa mereka untuk diadili." Ujar kepala desa kepada pegawai kerajaan yang ikut tadi.


"Kenapa kalian menangkap kami? Kami tidak bersalah, miemie Tan tolong katakan pada mereka aku tidak bersalah." Teriak kakak tiri ibu Tan.

__ADS_1


"Ibu ayah!! Lepasin ibu dan ayahku" Teriak seorang pria dan gadis yang seumur Xia.


"Bawa mereka sekali" arah kepala desa kepada warga desa untuk turut membantu. Mereka pun membawa pergi keempat orang yang tertuduh.


__ADS_2