
"Tunggu dulu.. Mari kita periksa kamar yang hujung itu." ucap Putra Ren Zie.
Mereka pun masuk ke dalam kamar yang Putra Ren Zie maksudkan tadi. Tetapi tiada sesiapa pun di dalam kamar itu. Ketika mereka mau keluar dari kamar, Putra Ren Zie melihat seperti ada yang janggal dengan rak buku yang berada di sudut tengah kamar.
Putra Ren Zie masuk kembali ke kamar itu dan cuba untuk melihat lagi rak buku itu.
"Kenapa Pangeran?" Ming bertanya.
"Coba kau perhatikan rak buku ini, seperti ada yang aneh dengan kedudukannya."
Ming pun melihat ke arah rak yang Putra Ren Zie maksudkan. "Kalau di fikir kembali, sepertinya....ermm.." Ming dan Putra Ren Zie saling memandang dan mereka mempunyai buah fikiran yang sama. Mereka mengaanggukkan kepala dan cuba untuk menolak rak itu. Dan ternyata di balik rak buku itu ada ruang rahasia. Ada jalan masuk menuju ke ruangan yang lain. Mereka pun masuk ke dalam ruang rahasia itu.
Pada awalnya Putra Ren Zie tidak menemui guru Phang tetapi akhirnya dia berjaya menemui guru Phang yang cuba untuk melarikan diri melalui jalan rahasia.
Mereka menemui beberapa anggota klan hitam yang cuba untuk melarikan diri melalui jalan itu termasuklah guru Phang.
Putra Ren Zie pernah menemui guru Phang sebelum ini, jadi tidak susah untuk dia mengetahui siapa guru Phang di antara anggota klan hitam yang mereka temui itu.
"Akhirnya aku bisa menemui kau guru Phang." Ucap Putra Ren Zie.
"Haa.. haa.. ternyata kau yang menyerang kami.. Akan aku lenyapkan kau dari dunia ini." Guru Phang berkata dengan angkuh. Karna dia melihat pengawal yang bersama Putra Ren Zie tidak banyak.
"Kita lihat siapa yang akan tewas nanti. Serang mereka!!!.."
Anggota klan hitam yang mereka temui, ada dalam sepuluh orang. Manakala kelompok Putra Ren Zie ada enam. Putra Ren Zie, Xiong, Ming, Bao, Zu dan Renyu.
Mereka mula berlawan, walaupun kelompok Putra Ren Zie kalah jumlah tetapi tidak masalah bagi mereka karna kehebatan kultivasi mereka lebih tinggi daripada anggota klan hitam.
Walaupun ruangan rahasia itu agak sempit, tidak jadi masalah untuk mereka menyerang musuh.
Pada akhirnya mereka berjaya menewaskan musuh yang berada di ruangan itu kecuali tersisa Guru Phang, tetapi kaki guru Phang telah di potong uratnya supaya guru Phang tidak bisa lari lagi. Putra Ren Zie memang sengaja tidak membunuhnya karna ada soalan yang ingin dia tanyakan.
"Katakan padaku, apa memang kau yang menjadi dalang dalam pembunuhan saudara saudari ku hah??"
"Aku akan beritahu mu, tapi berjanjilah kau mau melepaskan ku?"
__ADS_1
"Haa.. haa.. ternyata ketua klan hitam seorang yang pengecut!!"
"Iya.. iya.. Aku memang pengecut tetapi kau lepaskan lah aku.. Jangan bunuh aku, aku tidak mau mati sekarang."
Putra Ren Zie hilang sabar. Dia meletakkan pedangnya di leher guru Phang. "Jawab soalan aku tadi atau kau kehilangan nyawa mu sekarang." Putra Ren Zie menekan sedikit pedangnya di leher guru Phang, terlihat ada sedikit darah yang keluar.
"Jangan.. jangan.. baiklah aku akan memberitahu mu. Selir Hui yang membunuh mereka, aku hanya memberi racun itu pada Selir Hui. Bukan aku yang membunuh mereka."
"Apa kau ada hubungan dengan Selir Hui?"
Guru phang takut untuk mengatakannya tetapi melihat kemarahan Putra Ren Zie, dia dengan terpaksa menjawab juga. "Aku tidak ada hubungan dengan nya.."
Putra Ren Zie merasa ada sesuatu yang masih guru Phang rahasiakan. Dia menekan lagi pedangnya.
"Aarrhhh... Aku.. Aku pernah tidur dengan nya beberapa kali. Setiap kali aku memberinya bekalan racun, sebagai imbalan dia menyerahkan tubuhnya padaku. Dan.. dan... Putra Hei Zi adalah anak ku." Ucap guru Phang dengan ketakutan.
"Tolong... Jangan bunuh aku.." guru Phang sempat merayu.
"B**** kau..." Tanpa rasa kasihan melihat guru Phang merayunya, Putra Ren Zie langsung melibaskan pedangnya kearah leher guru Phang. "Aku udah membalas dendam kalian semua." Kata Putra Ren Zie setelah membunuh guru Phang. Kalian yang di maksudkan oleh Putra Ren Zie adalah saudara dan saudari kandungnya yang telah mati di racun oleh anggota klan hitam.
"Ming bawa kepalanya untuk aku tunjukkan bukti pada ayah ku."
"Xiong, kau periksa lorong rahasia ini. Dan beritahu aku di mana penghujung jalan ini."
Xiong mengangguk kan kepalanya.
"Bao, kau ikut dan bantu Xiong. Aku khawatir ada lagi musuh di hadapan sana." Arah Ming pada haiwan kontrak nya.
Mereka berdua pun pergi, Putra Ren Zie dan yang lainnya berpatah balik menuju ke tempat mereka masuk tadi.
Putra Ren Zie menuju ke luar rumah guru Phang dan terlihat, ramai anggota klan hitam yang telah tewas. Hanya tersisa sedikit sahaja.
Mereka pun membantu menghapuskan anggota klan hitam yang masih ada. Putra Ren Zie tidak mau memaafkan, walau seorang dari mereka. Karna dia telah berjanji pada Xia untuk tidak membiar mereka terus hidup di duinia ini.
Ketika berlawan Putra Ren Zie tidak perasan ada seorang anggota klan hitam yang menyerangnya dari arah belakang.
__ADS_1
"Pangeran..." Ming hanya sempat menjerit. Jarak antara mereka jauh, membuatkan dia tidak sempat menghalang musuh yang menyerang Putra Ren Zie dari arah belakang.
Sementara itu, Xia yang masih berada di ruang dimensi bintang merasa seperti jantung nya berdenyut laju.
"Mengapa dengan ku? Sepertinya perasaan ku tidak enak ya. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Xia berkata dengan dirinya. Lalu dia keluar dari istana nya dan mencari temannya.
"Leo, Nagin apa kalian merasa ada yang aneh pada hari ini?" Xia bertanya.
"Aneh?? Ermm.. sepertinya tidak.. cuma perasaan kamu aja Xia." Ucap Leo
"Iya aku juga tidak merasa apa - apa." Nagin menafikan juga.
"Iya.. mungkin perasaan ku aja." Xia seperti tidak ada semangat untuk berbual. Dia langsung kembali ke istananya dan beristirehat di dalam kamar nya.
Nagin dan Leo merasa lega, karna mereka berjaya menyakinkan Xia.
"Nasib baik, Xia berada di ruang dimensi bintang. Jika dia berada di luar, pasti dia dapat merasakan ada pertempuran di belakang sekte." Ucap Nagin.
"Iya.. Dan aku harap dia tidak keluar sekarang."
Setelah merasa puas berada di ruang dimensi bintang, Xia memutuskan untuk keluar. Dan ternyata di luar hari masih lagi dini hari.
"Dingin sekali udara pagi hari ini. Aku bisa membeku, jika keluar berjalan sekarang." Xia mengurungkan niatnya untuk berjalan - jalan di sekitar situ. Dia baring di katilnya sambil menyelimuti seluruh badannya.
Tidak lama kemudian terdengar pintu kamarnya di ketuk.
Tok.. tok.. tok.. "Xia, apa kau udah bangun?" Cisin memanggilnya.
Dengan malas Xia menjawab. " Iya aku udah bangun.. sebentar Jiejie..."
"Apa kau udah mandi?" Cisin bertanya setelah Xia membuka pintu kamarnya.
"Sudah jiejie.."
"Mari kita pergi sarapan.."
__ADS_1
"Aku mau sarapan di kamar aja. Soalnya angin di luar sangat sejuk."
"Baiklah.. nanti jiejie pesan pada pelayan untuk hantar makanan ke sini. Jiejie akan teman kan kau makan." Xia hanya tersenyum pada Cisin.