Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
101 - Hukuman 1


__ADS_3

Jamuan yang telah dirancangkan oleh kaisar Bei berlangsung pada hari itu dengan kehadiran keluarga kaisar Bei dan beberapa keluarga menteri.


Permaisuri Bei sempat bertanya Xia tentang banyak hal. Xia hanya menjawab bila perlu, selebihnya Putra Ren Zie yang menjawab. Sebelum itu putra Ren Zie telah memberi peringatan pada Xia untuk tidak berbicara seenaknya karna takut membuatkan penyakit bondanya kumat lagi.


Di kesempatan itu juga Putra Ren Zie memperkenalkan Putri Xia kepada keluarganya. Mereka tidak mengetahui bahawa Putri Xia sempat menghilang selama dua tahun. Putra Ren Zie pandai mengelak dan memberi alasan, jika ada yang tanya mengenai isterinya. Hanya ayah dan bondanya serta beberapa orang suruhannya sahaja yang mengetahuinya.


"Dimana Selir Hui dan Putra Hei Zi?" Xia bertanya kepada putra Ren Zie dengan sedikit berbisik.


"Sebentar..." Putra Ren Zie memandang sekeliling dan melihat wajah setiap orang di situ.


"Mari.." Putra Ren Zie memegang tangan Xia dan menariknya menuju ke arah meja yang tidak jauh dari tempat dia berdiri tadi. Mereka semua berdiri dari kerusi yang mereka duduk ketika Putra Mahkota datang menghampri mereka dan memberi hormat padanya.


"Putri Xia, kenalkan ini selir Hui. Selir kesayangan ayah dan ini putranya, Putra Hei Zi." Mereka saling bertatapan dan saling membalas senyuman.


"Kak, ternyata isterimu sangat cantik, jika di lihat dengan lebih dekat." Putra Hei Zi menatap Xia dengan pandangan menggoda.


'Jika aku jadi putra mahkota, aku akan menjadikan mu selir ku wahai si manis.' Putra Hei Zi berkata dihatinya. Dia sangat tertarik dengan kecantikan Putri Xia.


Putra Ren Zie yang tidak suka dengan tatapan Putra Hei Zi terhadap Xia, langsung memeluk pinggang ramping isterinya. "Karna itu lah aku tidak mau membawa dia di jamuan atau majlis apa pun selama ini, karna aku yakin pasti ramai pria ****** yang mau mencoba mendekati isteriku. Benar kan sayang?" Putra Ren Zie mengambil kesempatan itu dengan mencium dahi Putri Xia.


Putra Hei Zi merasa geram dengan apa yang dia dengar dan lihat di depan matanya. 'Sialan, kau tunggu.. aku pasti akan membunuh mu..'


Xia merasa rimas dengan kelakuan Putra Ren Zie yang mengambil kesempatan itu dan juga tatapan yang menggelikan dari Putra Hei Zi. Xia pun berkata " Iya, di sini sepertinya ada banyak serangga. Aku menjadi geli geleman, kita ke tempat lain ya."


'Apa?? seranggga dia bilang.. awas kau ya..' Putra Hei Zi menatap tajam pada mereka dengan perasaan geram.


"Sabar anakku sebentar lagi, pasti kau akan berjaya mengambil tempatnya." Selir Hui memujuk Putranya dengan suara yang perlahan, agar tidak di dengari oleh orang lain. Mereka hanya melihat pasangan itu berlalu dengan tatapan yang penuh dendam.


Putra Ren Zie yang mendengarkan ucapan isterinya hanya tersenggih dan mereka pun beredar dari situ, tetapi Putra Ren Zie masih tidak melepaskan tangannya dari pinggang isterinya.

__ADS_1


"Lepaskan dan jauhkan tangan kotor mu dariku." Bentak Xia, setelah mereka telah jauh dari orang ramai.


"Ha.. ha.. haa.. aku fikir kau suka, jika aku memelukmu. Karna tadi kau tidak menegahnya."


"Itu karna aku menjaga air muka mu sebagai seorang Putra Mahkota. Ingat jangan cuba mengambil kesempatan terhadap ku lagi, jika kau tidak mau kehilangan nyawa mu."


Xia keluar dari aula itu dan berjalan ke taman yang berhampiran. Xia merasa bosan untuk duduk bersama yang lain di dalam aula. Persembahan dan tarian yang membosankan. Xia melihat langit, terlihat langit yang gelap dan di hiasi beribu bintang dilangit.


'Jika di jaman moden sangat susah untuk melihat bintang yang banyak seperti ini. Ermm... bagaimana dengan ibu, ayah dan kak Leo' Kata Xia didalam hatinya, terlihat dia mengalirkan air mata kerinduan.


Putra Ren Zie yang melihat Xia keluar tadi mengarahkan ming untuk mengambil baju sejuk. Setelah itu dia mendekati Xia dan memakaikan baju itu ke tubuh Xia. "Di sini sejuk, jika tidak pakai ini nanti kau bisa demam."


Putra Ren Zie melihat Xia menghapuskan air matanya. "Mengapa kau menangis?"


Xia tersenyum dan mendongakkan kepalanya. "Terima kasih... Cuba kau perhatikan bulan itu, terlihat indah sekali. Jing Zhi pernah bilang padaku, jika aku merindunya lihatlah bulan di langit."


"Pulanglah ke kamar duluan jika kau udah selesai di sini. Aku masuk ke aula semula, untuk melayan tetamu yang hadir." Putra Ren Zie pergi dengan hiba.


Setelah hari ketiga yang dinantikan tiba, Xia mencari Putra Ren Zie dan ternyata suaminya berada di ruang kerjanya. Dia langsung masuk untuk bertemu Putra Ren Zie.


"Seperti yang dijanjikan, dimana barang yang aku perlukan?"


"Ming, berikan padanya." Ming langsung mengambil barang yang diperlukan Putri Xia.


Setelah mendapatkannya Xia langsung membuka dan melihatnya.


"Bagus.. memang ini yang aku perlukan. Semua udah lengkap."


"Bila kamu akan menghukum mereka?"

__ADS_1


"Malam ini."


Putra Ren Zie hanya menganggukkan kepalanya.


"Apa kau memelukan bantuan ku?" Tanya Putra Ren Zie.


"Tidak... Pastikan kalian tidak ada yang mengintip atau berada di kawasan yang berhampiran karna aku akan membunuh semua orang yang mencurigakan malam ini."


"Tapi.."


"Biar aku yang uruskan mereka. Apa bonda permaisuri jadi untuk berangkat ke kediaman saudaranya hari ini?"


"Iya, aku yang akan mengiringinya sore ini."


Xia mengangguk dan langsung keluar dari ruangan itu untuk kembali kekamarnya. Setiba dikamarnya, Xia terus masuk ke dalam ruang dimensi bintang untuk bertemu dan membuat perancangan dengan teman nya berkaitan hukuman yang layak terhadap selir Hui dan Putra Hei Zi malam ini. Xia juga membuat racun langka untuk dihadiahkan pada selir Hui dan putranya.


Tanpa pengetahuan Xia, Putra Ren Zie telah mengurangkan pelayan dan pengawal yang betugas di kediaman selir Hui dan Putra Hei Zi malam itu. Hanya tinggal pengawal dan pelayan setianya sahaja.


Setelah hari sudah gelap, Xia pun memulakan rencananya. Xia, Cisin dan temannya pergi ke istana selir Hui dahulu. Dia membunuh pengawal bayangan yang menjaga kediaman itu terlebih dahulu, mereka melakukan dengan sangat rapi sehingga tidak ada yang perasan ada orang yang terbunuh ketika itu.


Xia langsung menuju ke kamar selir Hui dengan mudah karna pengawal yang berjaga ketika itu sangat sedikit jumlahnya. Nagin menyemburkan ubat tidur di kamar selir Hui.


"Nagin berikan racun ini pada selir Hui, buatkan sehingga dia menelan racun itu." Racun yang diberikan Xia berbentuk seperti pil obat.


Nagin mengangguk faham dan langsung melakukan apa yang diarahkan oleh Xia. Yang lainnya tunggu di luar kamar, sambil berjaga-jaga.


Mereka langsung menuju ke kediaman Putra Hei Zi setelah memberi racun pada Selir Hui. Mereka melakukan hal yang sama dengan membunuh dengan senyap semua pengawal bayangan yang menjaga di kediaman itu.


Mereka juga berjaya masuk dan langsung ke kamar Putra Hei Zi

__ADS_1


__ADS_2