Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
32 - Cairan Penyegar


__ADS_3

Berita bahawa Xia akan pergi ke daerah Yulan akhirnya diketauhui oleh kakek dan nendanya. Xia dipanggil kakeknya untuk bertemunya. Setelah tiba di Istana kakeknya, Xia langsung menuju ke taman, dimana Kakek dan nendanya berada.


"Xia, kenapa kamu mau ikut pergi ke daerah Yulan? Kakek tidak setuju. Itu sangat berisiko cucuku. Pokoknya batalin niat mu yang ingin ikut kesana."


"Betul apa kata kakekmu Xia. Ini bukan perkara yang bisa dibuat main, sayang. Jika tersilap langkah, maka nyawa mu menjadi taruhannya. Nenda tidak mau kehilangan mu, sayang. Kita baru aja bertemu."


"Nenda dan kakek tidak usah khawatir. Aku janji lho, akan jaga diri sebaiknya bila tiba disana. Kan ada Putra Yun yang jagain aku. Aku kan kesana mau bantuin rakyat kerajaan ini, biar terbebas dari penyakit itu." Ujar Xia membuat muka kasihan.


"Tapi Xia..."


"Nenda bisakan... Kakeeek..." Xia memujuk sambil memegang tangan nendanya dan mengoyangkannya, seperti anak manja. Xia juga mengedipkan mata nya dan membuat mulut seperti bebek.


Nenda dan kakek Xia saling berpandangan dan tersenyum lucu melihat gelagat cucunya yang satu ini.


"Aduii imutnya cucu nenda. Bisa buat hati luluh." Ujar nendanya lalu mencubit mulut Xia.


"Kamu udah nekad dengan keputusan mu Xia?"


"Iya kek, demi membantu rakyat yang dalam kesusahan."


"Kalau itu keputusan mu, baiklah tapi kamu harus janji pada kakek. Bahawa kamu akan menjaga kesihatan mu dengan baik dan pulang dengan selamat. Kakek akan menunggu kepulangan kamu diistana ini."


Kaisar Xi juga tidak mengijinkan ayah dan ibunya pulang ke rumah mereka, karna takut penyakit ayahnya akan kambuh semula.


Xia tersenyum dan berjanji akan sentiasa berhati- hati. Setelah berborak bersama nenda dan kakeknya, Xia pun mohon undur diri untuk beristirehat.


Di dalam istana, Putra Yun sibuk menguruskan hal pemilihan tabib yang akan ikut ke daerah Yulan dan juga menyuruh tabib menyediakan beberapa jenis obat yang perlu dibawa. Xia hanya melihat dari jauh, tidak mau mengganggu nya.


Setelah makan malam, Xia langsung masuk kekamar nya dan berkata pada pelayan disitu supaya tidak mengganggu dia dan sahabat nya mau bermeditasi di kamar. Xia hanya beralasan karna dia mau masuk ke dalam ruang dimensi bersama yang lainnya.


Mereka pun masuk ke ruang dimensi bintang. Setelah melihat dan bermain dengan Miho sebentar, Xia langsung masuk ke dalam perpustakaan nya untuk mencari cara membuat obat. Berdasarkan gejala yang disebut pengawal utusan itu, Batuk, demam dan sukar bernafas. Xia Mencari buku yang berkaitan penyakit dan obat. Xia terus membaca.


'Zaman ini mana wujud lagi virus COVID 19. Penyakit yang terdekat dengan gejala- gejala itu adalah.. ermm.. ha.. ini dia, radang paru paru. Ya, aku pasti ini penyakit yang merebak di desa Kisan. Ermm.. Nama obat yang perlu dibuat adalah cairan penyegar. Bisa melegakan pernafasan dan menyembuhkan penyakit radang paru - paru. iya obat ini bisa melegakan orang yang sukar bernafas dan menguatkan paru paru kita.' Gumam Xia dihatinya. Dia merasa lega bisa jumpa buku itu di perpustakaan nya.


Xia pun pergi ke ruang rawatan untuk melihat barang yang diperlukan untuk membuat obat cairan penyegar cukup apa tidak.

__ADS_1


"Bagus semua ada kecuali embun perdu. Apaan ini. Aku harus tanya Nagin, dimana aku bisa mendapatkan embun perdu."


Xia pun keluar dari ruang rawatan dan mencari Nagin.


"Jiejie apa ngeliat Nagin?"


"Kebetulan sekali, Aku udah siap masak. Aku nyuru dia panggil yang lain untuk makan. ntar dia datang, kamu duduk dulu ya. Kita makan bersama"


Tiba tiba perut Xia terasa lapar karna urusan yang sibuk sampai lupa udah seharian Xia di ruang perpustakaan. Xia langsung duduk. Tidak lama selepas itu yang lainnya pun tiba.


"Miho, Kibo apa yang kalian mau makan ikan atau buah?" Tanya Cisin


"Kami udah makan tadi di pondok. Aku duduk disini aja"


Cisin mengangguk kan kepalanya. Miho menghampiri Xia dan duduk di pangkuannya. Mereka yang lainnya pun makan bersama. Setelah makan Xia langsung bertanya kepada Nagin.


"Nagin dimana aku bisa mendapatkan embun perdu?"


"Embun perdu, ya banyak dihutan sana. Kamu lagi membutuhkannya?"


"Kamu mau sikit atau banyak."


"Aku perlu banyak, karna aku mau membuat obat dalam kuantiti yang banyak. Kalau bisa 5 ke 6 botol".


Uhhukk.. uhukk.. Nagin tersedak mendengar nya. Leo menepuk punggung Nagin, supaya lega.


"Kalau banyak gitu, aku memerlukan bantuan..."


"Kami sedia berkhidmat.." ucap Leo, Cisin dan Kibo bersamaan dan meraka pun tertawa karna lucu bisa bicara serentak.


"Baiklah kalau gitu, aku serahkan tugas ini pada kalian. Emangnya apa itu embun perdu?"


"Titisan air dari tumbuhan kecil di waktu pagi."


"Ooo.. kalau gitu kalian jangan lupa tadahnya. Aku mau meracik obat yang lainnya dulu. Besok bagi padaku ya." Mereka pada mengangguk kan kepalanya.

__ADS_1


Xia berlalu pergi menuju ke ruang rawatan.


Keesokan harinya, mereka menadah air embun yang diminta oleh Xia. Setelah dapat punuhkan 6 botol, mereka memberikan pada Xia.


Xia memulakan menumbuk beberapa jenis tumbuhan herba dan ditambahkan dengan air embun perdu, lalu menapisnya untuk mengambil sarinya. Lalu dimasukkan kedalam botol botol kecil. Xia mengulangi membuat ramuan obatnya sehingga embun perdu habis.


"Aku rasa ini tidak cukup. Aku harus membuatnya lagi."


Xia langsung keluar dari ruang rawatan untuk mencari temannya. Terlihat mereka dipinggir sungai pemulih jiwa, sedang berlatih pedang.


"Nagin, embun perdu nya masih kurang. Besok kalian ambil lagi ya."


"Baiklah, besok kami akan tadah lagi."


"Kalau bisa lebih dari yang tadi karna penduduk desa Kisan yang sakit itu hampir keseluruhan penduduknya." Mereka mengangguk kan kepala.


Xia langsung pergi untuk membuat lagi obat yang lainnya.


Setelah beberapa hari diruang dimensi, akhirnya mereka keluar. Di dunia luar hari udah petang. Sebelumnya memang Xia udah pesan pada pelayan bahawa mereka tidak mau diganggu.


Ketika Xia dan yang lain sedang berkemas, kakek dan nendanya datang ke kamar Xia.


"Xia'er, apa kamu udah berkemas? Besok kalian akan berangkat pagi pagi." Tanya nendanya


"Udah nenda. Tidak banyak yang aku bawa. Hanya beberapa helai baju aja."


"Ini ada sedikit uang, kamu terimalah untuk membeli apa yang kamu butuhkan disana nanti." Nendanya menyusuh pengawal yang membawa satu kotak yang sederhana besarnya meletakkan kotak itu di depan Xia.


Xia membuka kotak itu dan terkejut.


"Banyaknya uang ini nenda, kakek."


"Ini hanya sedikit, kakek tidak mau kamu kekurangan apa apa. Kalau tidak cukup atau udah abis, kamu bisa meminta lagi pada kami."


"Ini lebih dari cukup kek, makasih." Xia tersenyum dan memeluk kakek dan nendanya. Lalu meletakkan uang itu kedalam cincin ruang.

__ADS_1


Keesokan hari nya dipagi hari, telah tiba hari keberangkatan mereka menuju ke daerah Yulan.


__ADS_2