
Mereka mengintip ke dalam kamar Putra Hei Zi, ternyata putra Hei Zi lagi mabuk. Terdengar butir dia bicara.
"Aku akan menjadi putra mahkota tidak lama lagi dan aku akan rampas putri Xia dari mu.. ha.. haa.. haaa.."
Brakkkk.. Xia langsung membuka pintu kamar Putra Hei Zi. Yang lainnya menanti di luar.
"Putri Xia???" Putra Hei Zi mengecilkan matanya. "Mengapa kau ada disini?"
"Aku merinduimu..."
"Haa.. haa.. haa.. aku tau, pasti kau terpikat dengan ku. Mari.. mari, aku akan melayan mu lebih baik daripada bajingan itu." Xia mendekati Putra Hei Zi yang terlihatnya tidak mampu untuk berjalan dengan betul.
"Aku merinduimu, lihatlah ke dalam mataku."
Putra Hei Zi mengikuti ucapan Xia. Sebenarnya Xia menggunakan teknik memukau terhadap Putra Hei Zi, dengan memandang mata Xia. Teknik ini boleh membuat musuh berkata benar dan menikuti apa yang disuruh tanpa mereka sadari. Dia mendapat kan teknik ini daripada kuasa baru Nagin.
Setelah berjaya, Xia memanggil yang lainnya untuk masuk ke dalam kamar.
"Katakan apa kau dan ibu mu anggota dari klan hitam?" Tanya Xia.
"Iya, aku dan ibuku anggota klan hitam."
"Selain kalian berdua, apa ada lagi anggota klan hitam di dalam istana?"
"Tidak.. Hanya aku dan ibuku, pengawal bayangan kami serta pengawal setiaku sahaja."
"Di manakah anggota klan hitam yang lainnya berada?"
"Di sekta perguruan Gaodu."
"Apa semua pelajar di sekta itu adalaah anggota klan hitam?" Xia khawatir jika semua pelajar terlibat, pasti menyulitkan Xia untuk menghapuskan semua pelajar.
"Tidak... hanya guru Phang dan murid dibawahnya sahaja." Xia memandang teman nya yang lain. Mereka lega karna bukan semua pelajar yang terlibat
"Berapa ramai murid yang guru Phang ada?"
"Lebih kurang 400-500 orang."
'Sialan, banyak juga pelajarnya.' Xia mengeluh di hatinya.
"Di mana lagi anggota klan hitam berada?"
"Mereka berada di merata tempat tetapi sepertinya mereka tidak aktif dengan klan hitam pusat."
__ADS_1
"Apakah guru Phang adalah ketua klan hitam?"
"Iya."
"Di mana letaknya sekta perguruan Gaodu?"
"Di daerah utara kerajaan ini."
"Apakah benar, kau yang merancang menghapuskan keempat saudara Putra Ren Zie?"
"Benar... aku dah ibu ku yang merancang membunuh mereka sejak dari awal."
"Ambil pil ini dan telan lah." Putra Hei Zi menggikuti arahan Xia.
"Nagin tidurkan dia. Mulai besok pasti dia dan selir Hui mendapat hukuman yang layak untuk mereka."
Setelah selesai memberi hukuman kepada mereka, Xia dan temannya pun kembali kekamar. Tanpa mereka sadari, Putra Ren Zie memerhati mereka sejak dari awal dari jauh. Putra Ren Zie mengarahkan orang suruhannya untuk membersihkan dan menanam mayat. Setelah Xia dan temannya telah pergi. Supaya esok tidak terjadi keributan dan pelayan serta pengawal bisa bertugas seperti biasa.
Putra Ren Zie juga mengetahui bahawa Xia tidak membunuh Selir Hui dan Putra Hei Zi.
Keesokan harinya, Putra Ren Zie mengarahkan Ming untuk menjemput Putri Xia untuk sarapan bersama di ruang makan istanannya.
Putra Ren Zie menanti Xia di ruang makan. Setelah Xia tiba, putra Ren Zie mengarahkan pelayan untuk menghidang makanan. Pelayan langsung keluar dan menutup pintu setelah selesai menghidang makanan.
"Mengapa kau tidak menghabisi mereka berdua?"
Xia tersengih. "Mereka tidak layak untuk mati dengan cepat, aku mau mereka menderita dahulu sebelum mati."
Tukk.. Tukk.. Tukk.. tedengar bunyi ketukan.
"Siapa?"
"Maaf pangeran, hamba Ming. Ada hal penting yang ingin hamba katakan."
"Masukklah.." Ming segera masuk dan memberi hormat.
"Sekali lagi hamba ingin memohon maaf. Hamba di beritahu seorang pelayan, yang mengatakan bahawa selir Hui dan Putra Hei Zi menghidap penyakit aneh. Tabib istana tidak bisa mengesan penyakit mereka."
Putra Ren Zie memandang Xia. "Penyakit aneh?" Xia hanya diam.
"Benar, pelayan itu juga mengatakan keduanya mempunyai ciri penyakit yang sama. Tidak bisa bergerak dan bicara, mereka hanya bisa membuka dan menutup mata sahaja."
"Haa.. haa.. haa.. Racun ku udah mula bereaksi. Aku mau mereka merasa penderitaan yang Jing Zhi alami selama dia diracun oleh mereka."
__ADS_1
Putra Ren Zie dan Ming memandang Xia dengan perasaan yang sukar digambarkan. Mereka merasa takut dan meremang melihat Xia ketawa begitu.
"Sebarkan pada semua orang, bahawa penyakit ini bisa berjangkit. Mudah untuk Kaisar Bei memberi alasan pada semua untuk menempatkan mereka di istana terbiar. Pasti Permaisuri tidak akan membantah dan tidak akan pergi melawatnya."
"Apa.. apa benar penyakit ini boleh berjangkit?"
"Tidak.. Aku hanya mau permudahkan tugas supaya ada alasan kukuh untuk menyingkirkan mereka berdua dengan segera."
"Ming uruskannya. Kau bisa lakukan sekarang." Ming langsung mengundurkan diri.
'Putri Xia lakukan dengan sangat tersusun rapi sejak awal.. Huh.. siapa yang membuat dia tersinggung memang mencari maut.. Aku tak berani...' Ming sempat berbicara di hati nya.
"Ternyata kau udah merancang dengan rapi semuanya."
"Pasti dan mereka layak mendapatkannya. Mereka berdua mungkin hanya bertahan hidup selama sebulan atau kurang dari sebulan. Xia terdiam seketika dan meminum air tehnya. "Oh iya hampir aja aku lupa, aku akan berada di sini untuk beberapa hari lagi. Aku akan pergi setelah itu."
"Pergi?? Pergi ke mana? Apa kau lupa kau masih lagi isteri aku?"
Xia menantap Putra Ren Zie. "Apa kau lupa dengan perjanjian kita sebelum kita bernikah?"
"Aku udah tidak ada hubungan dengan selir Lily dan kejadian malam itu, aku bukan sengaja melakukannya. Kau tau itu kan?"
"Tetap aja kau telah melanggar perjanjian yang telah dipersetujui."
"Tidak!! aku tidak akan pernah mau melepaskanmu."
"Mengapa? Bukan kah kau membenci ku?"
"Aku tidak membenci mu.. hanya.. hanya karna aku tidak mau menikah lagi. Jika kau pergi bererti aku harus di paksa menikah lagi.. aku tidak mau, dengan selir Lily juga aku dipaksa." Putra Ren Zie tidak mau berterus terang tentang perasaan nya karna takut Xia akan tertawa dan menolaknya.
Xia merenung Putra Ren Zie. "Tapi aku tidak bisa berada di sini terus. Aku masih ada urusan di luar."
"Kau baru aja kembali, jika bonda tahu kau kabur lagi. Aku khawatir tentang kesihatannya."
Xia merasa serba salah. "Ermm.. begini lah, aku memang tidak bisa terus tinggal di sini. Tetapi aku akan usahakan untuk kembali ke sini sebulan sekali dan disaat aku datang, aku akan meluangkan masa dengan ayah bonda supaya mereka tidak curiga."
"Mengapa kau tidak bisa tiggal di sini aja? Jika kau ada urusan, kau bisa keluar istana sebentar."
"Aku.. erm.. aku akan fikirkannya dulu."
"Bukan apa aku hanya khawatir dengan keselamatan mu. Jika musuh ku mengetahui kau berada di luar istana, akan membahayakan nyawa mu."
Xia terdiam.. "Aku mau kembali kekamar mu. Aku akan memikirkan dahulu saranan mu tadi dan akan memberitahu mu setelah membuat keputusan." Xia berdiri dan langsung keluar dari situ.
__ADS_1
Putra Ren Zie tersenyum. 'Aku akan pastikan kau tidak akan bisa lepas dari ku. Kau adalah wanita ku.'