
Xia tersenyum dan memandang Cisin dan Putra Jing Zhi sambil mengeyitkan mata. Tanpa disedari oleh ibu Tan dan Tan Mo, karna mereka menundukkan kepala. Mereka berfikir Xia tidak bersetuju dengan keputusan mereka.
"Aku tidak setuju dengan rencana kalian untuk tidak jadi menikah karna ku."
"Baik Putri, kami tidak jadi untuk menikah... Tidak setuju!!??" Mereka berdua baru perasan akan ayat yang Xia ucapkan.
Mereka berdua memandang Xia. "Maksud Putri? Putri bersetuju kami menikah!! Benarkah??" Tanya Tan Mo untuk kepastian.
"Iya.. kalian bisa menikah. Itu hak kalian, Aku tidak bisa masuk campur. Tetapi ingatlah, paman harus menjaga ibu cantikku dan jiejie imutku ini dengan baik. Jangan membuat mereka merasa derita lagi." Ujar Xia sambil memeluk ibu angkatnya. Ibu Tan menangis terharu mendengarkan ucapan ikhlas dari anak angkatnya.
"Aku berjanji akan menjaga mereka dengan baik dan tidak akan membuatnya menderita lagi. Karna aku sangat mencintainya sejak dulu lagi."
"Apa paman tidak pernah menikah sebelumnya?" Tanya Cisin.
"Paman tidak pernah menikah setelah ibu angkat mu dijodohkan dengan orang lain oleh orang tuannya. Waktu itu paman tidak mempunyai uang atau harta, karna itu orang tuannya tidak dapat menerima paman sebagai menantu. Tapi sekarang paman udah mengumpul sedikit uang karna bekerja menjadi prajurit."
"Tapi setelah menikah, paman harus terus bekerja di tempat makan itu. Paman bisa menjaga mereka berdua sekalian."
"Tapi nanti kerjaku..."
"Tidak usah pikirin lagi. Nanti aku akan bilang ke Putra Feng Xi sendiri." Paman Tan Mo pun mengangguk kepalanya.
"Dan kamu Wong, apa kamu mau menjadi prajurit gegeku lagi setelah bekerja disini?"
"Iya.. walaupun aku merasa nyaman disini tapi aku akan kembali bertugas. Aku lebih suka hidup sebagai seorang prajurit khas." Ujar Wong bangga dengan kerjanya.
"Baiklah jika itu maumu." Xia tersenyum pada Wong. "Jadi kapan kalian mau nikah?"
"Ibu mau yang ringkas aja. Cadangannya kami akan menikah dua hari setelah kalian tiba disini."
"Kita akan adakan jamuan dikedai makan aja dan menjemput beberapa warga desa sahaja." sambung paman Tan Mo.
__ADS_1
"Iya terserah kalian, aku akan mendukung kalian."
Setelah dua hari berlalu, majlis pernikahan ibu Tan dan paman Tan Mo berlangsung. Walaupun pernikahan ini dilakukan secara ringkas sahaja tetapi ibu Tan terlihat sangat bahagia sekali.
"Tahniah ibu dan ayah Tan." Ujar Xia dan Cisin serentak.
"Terima kasih, terima kasih untuk segalanya. Ibu tidak tau apa akan terjadi pada ibu dan Miela jika kalian tidak membantu ibu saat itu." Ibu Tan memeluk kedua Putri angkatnya.
"Tidak perlu diingatkan masa lalu. Sekarang ibu udah ada suami yang ibu cintai. Pasti ayah Tan akan menjaga ibu dengan baik." Ujar Xia.
"Iya Tan, aku akan menjaga kalian dengan baik. Itu janjiku." Ujar paman Tan Mo.
Xia, Cisin dan Putra Jing Zhi udah berbincang dan sepakat mau pulang ke kediaman Menteri Chu karna mau membantu Putra Feng Xi menjalankan tugas untuk meringankan tugasnya. Karna sekarang pasti kakak iparnya sangat memerlukan perhatian dari sang suami. Pengawal Wong juga akan turut mengikut Xia.
Sehari selepas majlis pernikahan ibu Tan. Xia dan yang lain pamit, mereka mau pulang ke kediaman Menteri Chu.
"Ibu, ayah Tan dan Miela jagalah diri kalian dengan baik. Kami akan berangkat sekarang." Setelah berpelukan mereka pun pergi meninggalkan desa Teratai. Tidak tahu kapan mereka akan bertemu kembali.
Xia menerangkan bahawa dia mau membantu kakaknya dalam menjalankan tugas yang memerlukan dia pergi juah atau perlu menginap di sesuatu tempat. Xia bersedia pergi menggantikan kakaknya.
Dimana Xia pergi pasti Putra Jing Zhi dan Cisin akan turut serta. Mereka akan menjalan tugas bersama dengan baik.
Tidak sadar beberapa bulan telah berlalu. Kini usia kandungan kakak iparnya udah masuk lapan bulan.
Seperti biasa Xia, Cisin dan Putra Jing Zhi perlu pergi menyelesaikan masalah yang dihadapi warga desa dibawah daerah jagaan Putra Feng Xi.
Setelah tiga hari pergi, akhirnya Xia selesai menjalankan tugasnya. Dia pun pulang kerumah.
Setibanya dihalaman rumah, Xia melihat pelayan kelihatan cemas dan berjalan laju menuju membawa baskom dan ada yang membawa kain. Xia yang seperti tidak sedap hatinya, langsung menuju ke arah pelayan itu.
"Ada apa ini, kenapa kalian kelihatan cemas begini. Apa yang kalian bawa.." Xia coba fokuskan matanya memandang air di dalam baskom. "Darah..!!! Katakan padaku, ada apa yang terjadi sebenarnya."
__ADS_1
"Maaf Puteri, memang benar kami membawa air bercampur darah, ia milik nyonya muda Chu."
"Apa..!!" Xia yang kaget langsung lari menuju kekamar gegenya. Di depan kamar terlihat keluarganya berkumpul diluar kamar. Terlihat wajah sedih mereka dan mendengar tangisan mereka membuat Xia melajukan langkahnya.
"Kak, bonda, ayah... Apa yang terjadi kepada jiejie Yanna?"
"Xia.. Xia.. apa kau bisa menyelamatkan isteri serta anak ku? Tolong.. tolong mereka" Putra Feng Xi berkata sambil menangis dan memegang tangan Xia.
"Ceritakan apa yang terjadi kak..?" Tanya Xia sedikit menjerit.
"Tenang Xia.." ujar Putra Jing Zhi memegang lengan Xia.
"Tadi bonda lihat dari jauh, Yanna coba mengalihkan pasu bunga ditaman.. setelah itu perutnya sakit dan darah mengalir keluar. Bonda udah menegahnya dari jauh tapi mungkin dia tidak mendengar suara bonda." Terang Selir Ying sambil berlinangan air matanya. Putra Feng Xi hanya menangis tidak mampu menjawab.
"Apa..!!" Xia terkejut mendengar nya.
"Kakak mohon.. tolong bantu mereka.."
Xia langsung membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Dia melihat banyak darah di atas kasur. Xia langsung memeriksa denyutan nadi Yanna. Denyutan nadinya sangat lemah dan terlihat Yanna tidak sadarkan diri. Xia langsung memberikan dua pil penambah darah dan memberi minum air pemulih jiwa. Dan Xia menggunakan jarum akupunktur untuk menghentikan darah yang keluar. Xia memeriksa lagi denyutan nadi, stabil tetapi masih lemah. Xia juga menyalurkan sedikit qi nya kepada calon keponakannya, agar bisa bertahan. Terlihat gerakan di perut Yanna.
Xia berpikir, jika dia membantu Yanna melahirkan sekarang. Xia takut anaknya akan berada dalam bahaya dan jika tidak mengeluarkan bayinya takut berbahaya pada ibunya. "Terlalu berisiko" ujar Xia perlahan. Akhirnya Xia membuat keputusan. Dia mengarahkan mereka yang berada didalam bilik untuk keluar.
"Tapi Putri..!!!" Seorang tabib coba untuk membantah.
"Tidak perlu khawatir, aku akan berusaha untuk menyelamatkan mereka. Tolong panggilkan bonda, ayah ku dan Putra Feng Xi untuk masuk kesini." Ujar Xia tegas. Tabib itu pun menurut dengan permintaan Xia.
"Bagaimana Xia.. apa kamu bisa menyelamatkan mereka?" Tanya ayahnya.
Putra Feng Xi yang tidak berhenti menangis bertambah teriak nangis melihat keadaan isterinya yang pucat dan tidak sadarkan diri.
"Kakak tidak usah menangis seperti itu. Hentikanlah. Aku tau kakak sedih tetapi suara tangisan kakak akan membuat jiejie Yanna bertambah tertekan. Walaupun dia tidak sadar tetapi dia bisa mendengar suara kita. Kita harus memberikan kata semangat untuknya." Terang Xia mencoba untuk merendahkan suaranya, Karna dia merasa geram dengan kakaknya. Dalam masa yang sama Xia juga merasa kasihan melihat kakaknya seperti itu.
__ADS_1