Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
17 - Mencari Tumbuhan Langka


__ADS_3

Keesokan harinya setelah bersarapan pagi, Siumei menjumpai ibu angkatnya dikamarnya. Diikuti yang lainnya.


"ibu ada perkara yang aku ingin katakan padamu."


"Ada apa nak Xia."


"Kami telah membeli sebuah rumah di sekitar sini. Jadi menurutku sebaiknya kita akan berpindah ke sana hari ini juga."


"Ibu tidak bisa menerimanya nak. Kerna ibu malu untuk menerima pemberian darimu lagi."


"Tidak usah berkata begitu ibu, aku adalah anak mu. Selagi aku disisimu, aku akan membantumu jika diperlukan. Lagian Huan yang membayar nya."


"Aku tidak tahu mau ngomong apa. Makasih nak. Makasih juga pada yang lainnya." Ibu Tan terharu.


Mereka berkemas dan hanya membawa pakaian sahaja. Kerana dirumah baru mereka udah lengkap dengan perabotan. Mereka menaiki kereta kuda Huan. Setiba nya mereka disana, Miela dan ibu Tan merasa gembira melihat rumah barunya.


"ibu didepan sana adalah kedai makan kita, nanti akan aku kenalkan padamu para pekerja disana." Ujar Siumei. Ibu Tan menganggukan kepalanya.


"Xia'er, jika tiada lagi yang perlu ku bantu. Aku dan Zan pamit dulu, karna ada urusan yang kami perlu lakukan." Ujar Huan.


"Tidak ada lagi yang perlu dibantu, aku mengucapkan terima kasih pada kalian atas segala bantuan yang kalian berikan pada kami. Semoga kita akan bertemu lagi."


"Iya pasti kita akan bertemu kembali." Meraka menundukkan kepala dan dikuti Siumei. Mereka pun berlalu pergi.


Sebelum kedai makan dibuka, Siumei memperkenalkan Ibu Tan dan Miela kepada semua pekerja. Setelah itu Siumei dan ibunya masuk ke rumah mereka. Siumei memberi pil penyembuh kepada ibu Tan untuk rawatan yang terakhir. Setelah menelannya, Ibu Tan mengerang kesakitan. Dan akhirnya sakit dibadan nya berakhir. Luka dikaki nya juga tidak sakit lagi hanya kelihatan lukanya yang mengering.


Petang nya Siumei dan Cisin menolong pekerjanya dikedai makan, ternyata benar bahawa kedai makan itu dipenuhi orang ramai. Sayang jika kedai yang ramai begitu ditutup.


Setelah malam, Siumei memerikasa lagi keadaan ibu Tan. Keadaan nya telah pulih dan kini Ibu Tan bisa berjalan tanpa dipimpin


"Ibu besok aku akan pamit pergi ke hutan lingzhi, karna aku ada urusan disana. Aku tidak tau kapan aku akan pulang kesini lagi." Kata Siumei, dia telah memberitahu Cisin akan hal pemergian ke hutan Lingzhi besok.


"Hutan itu sangat berbahaya nak, apa bisa kamu tidak usah pergi kesana. Tinggal aja disini bersama ibu."

__ADS_1


"Maaf bu. Aku harus pergi."


"Baiklah kalau gitu. Kamu harus janji sama ibu, yang kamu akan sentiasa berhati hati."


Siumei menganggukkan kepala dan menyerahkan kunci serta surat pemilikan tanah kepada ibu Tan. Dan menyuruhnya untuk mengesahkan hak pemilikan tanah atas nama ibu Tan. Tidak lupa juga Siumei memberi beberapa koin emas untuk kegunaan ibu Tan jika memerlukan kelak.


Keesokan harinya.


"Ibu, Miela aku pamit dulu. Miela jaga ibu."


"Jiejie kapan kamu akan kesini lagi?" ucap Miela sambil menangis


"Jiejie tidak pasti kapan bisa kesini lagi."


"Ibu kedai makan ini adalah hasil pendapatan ibu kini. Pantau lah mereka kerna mereka pekerja ibu."


"Baiklah nak, ibu ngerti. Ibu akan menjaganya. Hati hatilah kalian dijalan." Mereka berempat saling berpelukan.


Setelah dua hari berjalan dan beberapa kali berehat, akhirnya dia sampai ke hutan Lingzhi. Ketika mereka mahu memasuki hutan itu, mereka terlihat ada seorang pria tampan sedang bersandar di sebatang pohon. Dengan baju yang berlumuran darah. Siumei langsung memeriksa nadi pemuda itu. Ternyata nadi nya sangat lemah dan pria itu tidak bernafas.


"Jiejie bantu aku baringkan badannya..cepat!!" Cisin pun membantu Siumei membaringkan pemuda itu.


Dengan pantas Siumei melakukan CPR, dia menekan dada pemuda itu dan memberi bantuan pernafasan dari mulut ke mulut. Pertama kali tidak ada pergerakan dari pemuda itu, Siumei mencuba lagi. Percubaan kali ketiga barulah pemuda itu membuka matanya sebentar dan tertutup kembali. Siumei memeriksa nadi pemuda itu dan ternyata nadinya telah kembali.


"Jiejie bisa kah kamu memanggil beberapa orang kampung didekat sini untuk mengangkat pemuda ini ke rumah tabib." Cisin pun menganggukan kepalanya lalu pergi.


Siumie merobek baju pemuda itu dan mengeluarkan jarum akupunktur untuk menusuk di beberapa bahagian tubuh pemuda itu agar bisa menghentikan darah yang keluar. Terdapat banyak luka libasan pedang dibadan nya. Siumei mengeluarkan kotak perubatan nya yang berada di cincin ruang dan membersihkan luka dibadan pemuda itu lalu membalutnya. Siumei masuk ke dalam dimensi bintang untuk mengambil pil penambah darah yang memang ada di bilik rawatan, dengan pantas. Lalu keluar dan memberikan kepada pemuda itu, dia juga memberikan pil penyembuh. Muka pria itu kembali segar.


Tidak berapa lama, Cisin datang bersama beberpa orang penduduk kampung untuk membantu mengangkat pemuda itu. Mereka berdua mengikuti pemuda itu ke rumah seorang tabib.


"kenapa dengan pemuda ini?" tanya tabib itu


"Aku menjumpai nya di pinggir hutan tapi aku telah merawatnya dan kini denyutan nadinya telah pulih tapi aku ada urusan yang perlu aku lakukan sekarang. Maka aku tidak bisa menunggu nya sampai sadar. Di sini ada satu kantung koin emas, paman hanya perlu meneruskan merawatnya sehingga dia siuman dan pulih. Aku harus pamit sekarang." Terang Siumei dan memberikan koin itu pada tabib didepan nya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan menjaganya tapi bisa paman tau, siapa nama mu? Jika pemuda ini sadar aku akan memberitahu nya."


"Namaku Xia." Ujar Siumei dan berlalu pergi bersama Cisin. Siumei dan Cisin telah kembali ke hutan Lingzhi.


"Nagin dimana boleh aku menemukan cendawan reishi? Apakah kau bisa mengetahuinya?" Soal Siumei yang berbicara dengan Nagin difikirannya.


"Ya, aku akan tunjuk jalannya." Nagin menunjukkan jalan untuk kearah tempat cendawan Reishi. Nagin membuka auranya agar tiada haiwan yang berani dekat menyerang Siumei. Walaupun kekuatan nya telah disegel tetapi Nagin bisa mengeluarkan aura tahap sempurnya.


Akhirnya Siumei menjumpai cendawan reishi. Dia mengambil beberapa cendawan langka itu untuk di semai di dalam ruang dimensi bintang. Dan mengambil beberapa tumbuhan herba yang terdapat di sekitarnya.


Ggrrraaaauuu.. terdengar bunyi binatang buas. Siumei dan Cisin berasa ngeri mendengar bunyi haiwan itu.


"Xia'er, seperti nya itu bunyi singa mutasi itu. Apa kata kita keluar dari sini secepatnya. Lagian udah banyak tanaman obat yang kita dapatkan." Ujar Cisin ketakutan.


"Tidak perlu jiejie, aku akan membawamu ke satu tempat." Siumei pun memegang tangan Cisin lalu membawanya ke ruang dimensi bintang. Cisin kaget, tadinya dia dihutan lingzhi kini dia ada di tempat yang cantik. Dia bengong seketika.


"Ki..kita dimana Xie'er, tempat nya cantik sekali." Ujar Cisin sambil mata nya melilau sekitarnya.


"Selamat datang ke ruang dimensi bintang." Ucap satu suara wanita yang tidak dikenali Cisin. Dia terkejut melihat ada seekor ular keemasan yang sederhana besar di sebelah Siumei.


"tak perlu takut, ini adalah haiwan kontrak ku." Siumei tersenyum melihat wajah Cisin yang kaget.


"APA!! Haiwan kontrak, ta..tadi kamu bilang ini ruang dimensi!!." Cisin bengong kembali.


"Iya ini benar kok jiejie." Mari aku membawa mu melihat sekitar." Cisin pun mengikuti Siumei.


Di luar dimensi bintang, terlihat seekor singa mutasi telah berada di kawasan dimana Siumei dan Cisin mengambil tanaman obat.


"Tadi aku merasa aura si ratu ular, tapi dimana dia. Kok aku tidak merasa auranya lagi." Soal singa mutasi binggung.


Di dalam dimensi bintang, ratu ular merasa kehadiran singa mutasi.


'Aku tidak akan bertemu mu sekarang. Setelah segel kuasa ku terbuka, barulah aku akan bertemumu'. Ujar nagin dibatinnya.

__ADS_1


__ADS_2