Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
118 - Sekamar


__ADS_3

"Kau... berani kau?? Aku yang melahirkan mereka.. aku yang menggung sakit selama berbulan - bulan. Aku yang merawat mereka dari mereka lahir. Kau tidak ada hak untuk pisahkan kami."


"Cihh.. kau yang sembunyikan mereka, jika aku tau dari awal pasti aku akan menjaga mu dan merawat anak-anak kita bersamamu." Ucap Putra Ren Zie tidak mau kalah.


Xia langsung menghubungi Kaisar Xi, menggunakan mutiara di tangan nya. "Ayah!! di mana anak- anak ku?" Xia bertanya setelah mendengar suara dari kaisar Xi. Putra Ren Zie terkejut melihat alat yang Xia gunakan untuk berhubung dengan Kaisar Xi, dia hanya melihat sahaja.


"Xia..."


"Apa benar Ren Zie telah mengambil anak - anak ku?"


"Xia.."


"Ayah katakan sejujurnya.."


"Xia dengar dulu apa yang ayah mau katakan." kaisar Xi hilang sabar.. 'Anak ini lah, sama seperti suaminya suka memotong ucapan ku' kaisar Xi berkata di benaknya.


"Ayah..." Xia mula menangis.


"Putri ku tenanglah, kamu harus bebincang dengan suamimu.. Putra dan putri mu juga anak Putra Ren Zie. Dia juga mempunyai hak ke atas anak kalian, ayah tidak bisa menghalang dia mau mengambil anak-anak nya." Kaisar Xi memberitahu Xia, mengikut rencana Putra Ren Zie yang telah di persetujui sebelumnya.


"Ayah!!!" Xia terkulai lemah dan terduduk sambil menangis. Keempat teman nya langsung keluar dari ruang dimensi. Melihat Xia kesedihan seperti itu, mereka merasa kasihan.


Putra Ren Zie terkejut melihat kemunculan mereka berempat secara tiba-tiba.


Putra Ren Zie tidak sampai hati melihat isterinya dalam keadaan begitu tetapi dia harus kuat agar rencana nya berjaya.


"Putri ku tenanglah.. Suami mu akan menjaga anak kalian dengan baik. Berbincanglah dengan suami mu baik-baik." Setelah itu Xia menamatkan perbualan mereka.


"Mengapa kau melakukan ini pada Putri Xia?" Nagin bertanya.


"Aku tidak melakukan apa-apa yang salah. Mereka juga anakku."


"Tapi kau tidak bisa memisahkan mereka daripada bondanya?" Tanya Nagin yang masih tidak berpuas hati.


"Aku tidak ada niat untuk pisahkan mereka. Aku hanya mau Xia hidup dengan ku dan bersama anak kami. Adakah itu satu kesalahan?"


Suasana menjadi sunyi seketika. Xia berdiri dari duduknya tadi, di bantu temannya.


"Xia, pilihan ada di tangan mu. Patuhlah pada ku dan aku yakin kita akan hidup bahagia bersama."


"Yakinnya kamu dengan ucapan mu.."


"Ermm.. kita harus bersama-sama untuk belajar mencintai antara satu sama lain dan aku yakin kita pasti bisa." Dalih putra Ren Zie karna dia tidak mau Xia mengetahui bahwa dia udah jatuh cinta duluan padanya. Ego seorang lelaki.


"Baiklah tetapi aku ada satu syarat?" ucap Xia, sambil mengusap sisa air matanya.


"Apa syaratnya?"

__ADS_1


"Hapuskan musuhmu dahulu barulah aku akan ikut dengan mu."


"Terangkan padaku, siapa yang kau maksudkan dengan musuh ku?"


"Apa kau banyak musuh?" Xia bertanya.


"Seperti yang kau tau, aku seorang Putra Mahkota. Ya.. pastinya aku memiliki banyak musuh yang ingin menjatuhkan ku."


"Aku maksudkan musuh terbesarmu.. anggota klan hitam..."


"Apa kau mendapat maklumat tentang mereka? Di mana mereka berada?"


"Markas mereka berada di belakang sekta ini dan guru Phang adalah ketua dari anggota klan hitam. Mereka memiliki ramai pengikut dan murid sekta yang di bawah guru Phang juga anggota klan hitam."


Putra Ren Zie terkejut mendengarkan ucapan Xia. Selama ini dia cuba menyiasat tentang keberadaan anggota klan hitam tetapi sangat sulit, tetapi Xia telah menemuinya.


"Apa benar ucapan mu?"


"Ya.. jika kau tidak percaya dengan kata -kata ku, kau bisa bertanya pada guru Tao."


"Aku akan berbincang dengan guru Tao mengenai perkara ini dan aku akan memastikannya dahulu. Jika benar di situ markas mereka, aku akan laporkan pada ayah ku dan aku akan menggumpulkan prajurit ku. Kita akan mula menyerang mereka minggu hadapan, setelah mendapat kebenaran dari kaisar."


"Baguslah, lagi cepat kita menyerang lagi bagus." Ujar Xia


"Apa kau udah tidak sabar untuk hidup bahagia dengan ku?"


"Huhh.. Jangaan terlalu yakin, nanti diri sendiri yang tanggung akibatnya."


"Udahlah, aku malas mau bertikam lidah dengan mu. Aku mau tidur." Xia pun melangkah pergi. Temannya yang lain masuk semula ke dalam ruang dimensi bintang.


"Tunggu.. tunggu... Aku mau kau tidur sekamar dengan ku."


"Tidak mau.."


"Ini arahan, aku bukan mau meminta pendapatmu. Tolong jaga air muka ku, guru Tao pasti udah menyediakan kamar untuk kita."


"Tapi.."


"Udah.. ayo ikut aku."


Mereka pun jalan beriringan dan meminta pembantu di situ untuk membawa mereka ke kamar guru Tao, Setelah bertemu dengan guru Tao, memang tepat dugaan Putra Ren Zie. Guru Tao telah menyediakan kamar khusus buat Putra Ren Zie dan Xia.


Xia tidak bisa membantah, dia hanya mengikut kata suaminya. Mereka berdua pun tiba di kamar yang telah di sediakan untuk mereka.


"Aku harus pulang ke kamar ku sekarang?" Ucap Xia.


"Mengapa? Aku udah bilang, kau harus tetap di sini."

__ADS_1


"Jiejie ku pasti khawatir karna aku belum pulang ke kamar lagi."


"Aku akan mengarahkan Ming untuk beritahu dia."


"Tidak... Ming kan seorang pria, asrama ku asrama wanita. Lelaki tidak bisa di bolehkan masuk kesana."


"Pokoknya kamu tidak bisa keluar dari sini. Titik.."


Xia mengeluh dan mengalah, akhirnya dia mengarahkan Nagin untuk pergi ke kamarnya dan memberitahu Cisin bahwa dia bersama Putra Ren Zie.


Putra Ren Zie membersihkan diri dahulu sebelum masuk tidur.


"Apa kau mau duduk terus di situ?" Tanya Putra Ren Zie pada Xia.


"Aku belum mengantuk lagi."


"Tidurlah di sini aku janji tidak akan melakukan hal itu".


"Kau tidurlah dahulu, aku masih tidak ngantuk lagi."


Putra Ren Ze pun langsung memejamkan matanya dan pura-pura tertidur. Dia memerhatikan Xia dalam diam. Ketika melihat Xia tertidur dengan kepalnya di letakkan di atas meja, Putra Ren Zie bangun dan mengangkat Xia. Dia meletakkan istrinya dengan perlahan di atas kasur agar tidak mengganggu tidur isterinya.


"Mengapa kau keras kepala sayang ku.. Maafkan aku karna telah menyakitkan hatimu" Putra Ren Zie mencium dahi Xia dan terus berbaring di samping isterinya.


Keesokan harinya Xia terkejut apabila dia sadar dari tidurnya, dia di atas kasur dan sedang memeluk Putra Ren Zie.


"Arrrgghh.. mengapa aku bisa ada di sini? Bukankah aku tidur di sana?"


"Mengapa kau berisik sangat, hari kan masih lagi pagi. Aku mengantuk tau..." Putra Ren Zie kembali tidur.


"Ren Zi bangun..."


"Apa!!" Putra Ren Zie berkata tetapi matanya masih terpejam.


"Bagaimana aku bisa ada di sini hah?.."


"Kamu jalan sendiri ke sini, udah jangan bising. Aku masih lelah dan ngantuk. Beberapa hari lalu aku tidak cukup istirehat."


Xia dengan kesal langsung keluar dari kamar itu. Putra Ren Zie hanya tersenyum melihat istrinya. Dia sempat berkata "Jangan lupa sarapan bersama dengan ku."


Xia melajukan langkahnya dengan kesal. Setibannya di kamarnya, Cisin udah terjaga dari tidurnya.


"Xia, apa benar Putra Ren Zie di sini?" Cisin bertanya dengan memperlahankan suaranya karna tidak mau ada yang mendengarkan ucapannya.


"Ya.. dia juga telah mengetahui tentang Putra Putri kami."


"Apa?? Apa dia marah dengan mu?"

__ADS_1


"Dia menghukum ku!!!"


"Apa!!"


__ADS_2