Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
79 - Malam Pertama


__ADS_3

Putra Mahkota Ren Zie merasa kagum melihat kecantikaan Putri Xia Lin. Mereka yang melihat juga tertegun melihat Putri Xia Lin sangat cantik dengan baju pengantin yang dikenakan.


"Sangat sepadan, seorang sangat cantik dan seorang lagi sangat tampan."


"Jika mereka mempunyai anak pasti sangat comel."


"Aku sangat iri dengan mereka." Terdengar para tetamu berbicara sesama mereka.


Acara pernikahan bermula dengan cukup meriah. Ramai tetamu dari pelbagai kerajaan telah hadir meraikan pernikahan itu. Mereka tidak tahu bahawa pengantin pria telah diganti. Tetamu yang terdekat sahaja yang mengetahui akan hal itu. Pernikahan itu berlangsung dengan sempurna tanpa ada sebarang ganguan yang tidak diinginkan. Putra Mahkota Ren Zie dan Putri Chu Xia Lin kini sah menjadi sepasang suami isteri.


Hari itu adalah hari yang cukup melelahkan bagi Xia, terasa kepalanya mau tercabut karna menahan perhiasan yang berat dikepalanya sepanjang hari.Tiba dikamar pengantin, Xia langsung membuka perhiasan yang ada dikepalanya.


"Xia mengapa kamu membukanya?" Tanya Cisin yang baru sahaja masuk kekamar pengantin.


"Kepala aku akan tercabut jika aku tidak membukanya sekarang. Benda ini sangat berat tau, aduh.. leher ku sakit sekali."


"Tapi Xia..."


"Jiejie Cici." Xia berkata dengan manja dan mengedipkan mata nya lalu membuat wajah yang imut.


"Ermm.. Xia... Xia.. apa kau tau, jika kau membuat muka imut begitu bisa cair hatiku. Dasar adik yang nakal." Cisin mencubit pipi Xia, dia merasa gemas melihat tingkah Xia seperti itu.


"Aauucchh.. sakit jiejie."


Haa.. haa.. haa mereka tertawa bersama.


"Sekarang kamu udah punya suami, harus lebih matang kedepannya. Jangan kayak anak kecil aja. Jiejie keluar dulu, jiejie tak sabar ingin punya keponakan." Cisin tertawa sambil melangkah keluar dari kamar pengantin dan menutup pintu kamar.


"Eee.. jiejie..." Xia berteriak. Terdengar Cisin tertawa diluar kamar.


Melihat tidak ada orang yang datang, Xia langsung masuk keruang dimensinya setelah menulis sebuah surat.


"Nagin, Leo apakah ada hal - hal yang mencurigakan selama acara berlangsung?" Tanya Xia pada haiwan kontraknya.


"Setakat ini tidak ada yang mencurigakan Xia." ujar Leo.


"Aku juga tidak ketemu hal yang mencurigakan. Pasti mereka tidak berani bertindak karna acara besar seperti ini ada banyak pemimpin yang akan datang. Pasti mereka takut tertangkap jika melakukan sesuatu." Ucap Nagin


"Ada benar juga katamu." Xia pun masuk kekamar lalu membersihkan diri dan menukar bajunya.


Setelah itu Xia langsung menuju kedapur untuk memasak karna dia merasa sangat lapar. Seharian dia tidak makan.

__ADS_1


"Xia apa kau tidak mau keluar?" Tanya Nagin


"Malas mau menghadap pria itu."


"Tapi kalian baru aja menikah?"


"Kau taukan kami menikah bukan untuk bercinta. Udah tidak perlu dibahas lagi, aku telah tinggalkan sebuah surat untuknya sebelum datang kemari. Aku mau masak, apa kau mau juga?" Xia menukar topik perbualan.


"Pasti mau.. aku akan membantumu." Nagin tersenyum dan membantu Xia memasak.


Setelah memastikan hari udah pagi di dunia nyata, Xia pun keluar dari ruang dimensinya sebelum Putra Mahkota Ren Zie bangun dari tidurnya. Xia membawa baju pengantinnya sekali, karna tidak mau sesiapa merasa curiga dan mengetahui bahawa dia tidak berada didalam kamar dimalam penikahannya.


"Nasib baik dia masih tidur lagi," Xia duduk dikursi sambil menunggu suaminya bangun.


Tidak berapa lama kemudian Putra Mahkota Ren Zie pun terbangun dari tidurnya. Melihat Xia duduk dikursi, dia merasa marah.


"Kemana kau pergi semalam hah?"


"Bukan urusanmu." Mendengar ucapan Xia, putra Mahkota Ren Zie berdiri dan menuju kearah Xia lalu mencengkam tangan Xia.


"Semalam hampir aja, kita ketahuan dengan ayahku. Untung aja aku bijak mengatasinya. Setelah ini, jika kau mau melakukan sesuatu pikir dahulu. Jika kau membuatkan aku dalam masalah lagi, kau akan terima akibatnya." Putra mahkota Ren Zie teringat akan kejadian semalam.


FLASHBAK ON


Aku akan kembali kekamar besok pagi.


Putri Xia Lin.


Surat ringkas dari Xia membuat Putra Mahkota Ren Zie merasa marah lalu membuang surat itu. Setelah itu terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar.


Tuk.. tukk.. tukk..


"Ren Zie, ini ayah apa kau udah tidur nak?" terdengar suara ayahnya.


"Ayah.. apa yang harus aku lakukan. Bisa habis aku jika dia tau menantunya tidak ada di dalam kamar." Tidak memikir panjang Putra Mahkota Ren Zie langsung membuat bunyi seperti orang sedang berasmara. Dia memeluk bantal dan berguling guling di atas kasur. Terdengar bunyi kasur seperti orang bergelut.


Kaisar Bei yang mendengar bunyi yang tidak sepatut didengarnya, langsung berlalu pergi dengan senyuman manis. "Jika begini, pasti aku akan segera mendapat cucu tidak lama lagi.


FLASHBACK OFF


"Arrgghh... Aku merasa kesal jika mengingatkan kejadian kemarin.. Sialan." Teriak Putra Mahkota Ren Zie.

__ADS_1


Xia hanya terdiam melihat tingkah suaminya. Dia juga tidak menyangka kaisar Bei akan datang.


"Sekarang jangan kemana-mana, sebentar lagi kita akan bertemu dengan ayah dan bondaku. Aku akan pergi mandi sebentar." Putra Mahkota Ren Zie memandang Xia dengan wajah bengisnya.


Setelah selesai mandi, Putra Mahkota Ren Zie membawa Xia menuju ke istana kaisar Bei untuk bersarapan bersama meraka.


Mereka memberi hormat untuk kaisar Bei dan permaisurinya. Setelah itu mereka bersarapan bersama.


"Ren Zie, kemarin malam ayah ada datang ke kamar mu." ucap kaisar Bei setelah makan.


"Kapan ayah datang? anakmu ini tidak tau. Ada perlu apa ayah datang mencariku?"


"Ayah hanya mau memberi nasehat, sepertinya sudah tidak perlu lagi." Kaisar Bei tersenyum, dia mencari Putranya kemarin karna merasa khawatir dengan pernikahan dadakan ini. Dia risau anaknya akan membuli menantunya, karna dia tau sifat dingin anaknya.


"Ayah tahukan kemarin malam pertama kami, iya kan sayang.." Putra Mahkota Ren Zie tersenyum menggoda sambil melihat Xia.


"Iya. haa.. haa. ayah harap kamu akan bisa memberi kabar baik untuk kami secepatnya." Kaisar Bei dan permaisurinya tertawa. Xia melihat permaisuri Bei terlihat pucat dan seperti menahan sakit.


"Bonda, apakah bonda tidak sihat?" tanya Xia.


Permaisuri Bei tersenyum dan berkata. "Bonda hanya merindukan Jing Zhi."


"Bisa aku memeriksa denyutan nadimu bonda?" Putra mahkota Ren Zie memandang Xia dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak mahu Xia membuat masalah lagi.


"Silakan.." ucap Kaisar Bei, dia masih ingat Xia lah yang meyembuh penyakit putra Jing Zhi dahulu. Ketika Xia mau menghampiri permaisuri Bei, tiba-tiba permaisuri Bei memegang dadanya.


"Aaarrgghh." permaisun Bei berteriak dan jatuh pingsan.


"Isteriku!!.."


"Bonda!!


"panggil tabib sekarang!!.. Mereka semua panik melihat permaisuri Bei pingsan.


Xia langsung memeriksa denyutan nadi permaisuri dan merasa pernafasannya. Setelah itu Xia langsung membaringkan permaisuri di area datar dan langsung menekan dada. Xia juga memberi bantuan pernafasan.


"Apa yang kau lakukan!!?" teriak Putra mahkota Ren Zei dan mencoba menghentikan Xia.


"Biarkan... apa kau lupa dia yang pernah menyelamatkan Jing Zhi dahulu." kaisar Bei menghalang anaknya yang coba menghentikan perlakuan Xia. Putra Mahkota Ren Zie terdiam dan hanya melihat perlakuan Xia dan mengingati sesuatu.


'Aku seperti pernah mengalaminya. Adakah dia wanita itu?' Ujar Putra Mahkota Ren Zie didalam hatinya.

__ADS_1


Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya permaisuri bisa bernafas kembali. Tetapi keadaannya masih lemah dan masih tidak sadarkan diri lagi.


__ADS_2