Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
116 - Mengancam


__ADS_3

"Haa.. haaa.. seorang lagi, pelayan Wei Wei.." Putra Ren Zie menjerit dan jeritannya mengganggu tidur anak kecil yang baru di tidurkan oleh Wei Wei. Anak itu mula menangis.


Putra Ren Zie terkejut mendengar tangisan anak kecil dari arah kamar sebelah. Wei Wei langsung masuk semula ke dalam kamar Putri Mimi.


"Pelayan Lun, anak siapa yang menangis itu?"


"Putri Mimi anak anda juga pangeran."


"Apa..!! apa mereka kembaran?"


"Iya.. mereka berdua kembar. Seorang Putra Ying Ming dan seorang lagi Putri Mi Ren."


"Ying Ming.. Mi Ren.. Beraninya Xia menyembunyikan mereka dari ku? Aku akan membuat perhitungan dengannya setelah aku bertemu dengannya." Putra Ren Zie pun langsung masuk ke kamar Putrinya. Terlihat Wei Wei masih memujuk anaknya untuk tidur semula tetapi anak nya hanya menangis. Putra Ren Zie pun mengambil Putrinya dan memeluknya.


"Hai sayang tidurlah, ayah akan menjaga mu." Putri Mimi yang masih mengantuk terlelap di dakapan ayahnya. Putra Ren Zie mencium putri nya "Anak yang baik." Setelah itu dia meletakkan semula anaknya di atas kasur dengan berhati-hati supaya tidur anaknya tidak terganggu.


"Ikut aku keluar." Putra Ren Zie berkata perlahaan, Wei Wei tidak bisah membantah hanya mengikuti Putra Ren Zie.


Putra Ren Zie membawa mereka ke taman berhampiran, agar mereka tidak membuat bising di dekat kamar anaknya lagi sehingga mengganggu tidur anaknya.


"Di mana istriku?"


Lun dan Wei Wei saling berpandangan. "Apa kalian tidak dengar hah?" Ming memarahi kedua pelayan itu.


"Maaf.. maaf kan hamba. hamba tidak tahu di mana Putri Xia berada. Hamba hanya di amanahkan untuk menjaga anaknya sahaja."


"Kalian tidak usah berbohong, katakan sejujurnya. Jika tidak..!!" Ming langsung mengeluarkan pedangnya dan meletakkan di leher Lun. Mereka berdua menjerit ketakutan.


"Bee. beenar. Hamba tidak berbohong. Kami.. Kami hanya di arahkan untuk menjaga Putra dan putri sahaja, yang lainnya kami tidak tahu." Ucap Lun takut-takut.


"Kau." Ming mengangkat pedangnya dan mau menghunuskan pada Lun.


"Argghh." Lun dan Wei Wei teriak bersamaan, mereka berdua ketakutan.


"Ming.!!" Putra Ren Zie menggelengkan kepalanya. "Jika mereka tidak mau katakan, aku tahu siapa yang harus kita tanyakan."


Ming langsung menyimpan kembali pedangnya. "Siapa?? Apa kaisar Xi??"

__ADS_1


"Ya.. Ming!! arahkan prajurit kita untuk mengepung kawasan ini dan tidak di benarkan sesiapa pun yang bisa keluar dan masuk dari sini tanpa perintah dari ku."


Ming pun mengarahkan semua prajurit untuk menjaga sekitar kamar anak Putra Ren Zie. Setelah selesai dia memberitahu Putra Ren Zie. Putra Ren Zie sempat mengarahkan Xiong untuk menjaga anaknya dan jika terjadi sesuatu padanya, Xiong diarahkan untuk melarikan dan sembunyikan anaknya. Mereka berdua pun pergi bertemu dengan kaisar Xi.


"Beritahu kaisar Xi, aku mau bertemu dengannya." Putra Ren Zie berkata pada pengawal yang menjaga istana kaisar Xi. Pengawal itu pun pergi.


Tidak lama kemudian, pegawal itu pun datang semula dan mengizinkan mereka masuk. Putra Ren Zie dan Ming pun masuk dan Pengawal itu menghantar mereka ke ruang utama istana kaisar.


"Masuklah ada apa gerangan putra Ren Zie mau bertemu dengan ku?"


"Di mana Putri Xia berada?"


"Apa maksud mu?"


"Huh.. tidak perlu sembunyikannya lagi,"


"Jaga ucapan mu Pangeran. Dia istrimu, bagaimana kau bisa bertanya dengan ku?"


"Haa haaa. Bagaiman dengan Putra dan Putri ku? Apa Kaisar Xi bisa terangkan padaku?"


Putra Ren Zie yang melihat Kaisar Xi masih diam, dia bertanya lag. "Apa yang kalian cuba sembunyikan padaku?"


"Baiklah aku akan jujur padamu. Sebenarnya, Xia tidak berniat untuk sembunyikan kelahiran anak kalian tetapi dia terpaksa. Hemm.." Kaisar mengeluh kasar.


"Apa maksud anda, berkata begitu?"


"Xia cuba untuk melindungi anak kalian dari bahaya."


"Bahaya??? Aku tak mengerti??"


"Apa kau tidak pernah berfikir, saudara mu yang lain semua mati akibat seseorang mau merebut kuasa. Xia berfikir jika musuh mengetahui bahawa kau telah mempunyai anak, pasti anak mu akan menjadi sasaran musuh mu. Karna itu Xia merasa khawatir akan keselamatan mereka."


"Tapi dia harus memberitahu ku tentang anak kami dan rencana dia. Apa dia tidak pernah berfikir tentang perasaan ku?"


"Aku udah beritahu dia untuk berterus terang saja pada mu dan keluarga mu tetapi dia berkeras mau selesaikan masalah musuh kalian dulu baru dia akan berterus terang dengan mu."


"Gila.. Apa dia tidak pernah berfikir akibatnya.. Beritahu padaku, dimana dia sekarang?" Putra Ren Zie menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Aku udah berjanji untuk tidak memberitahu pada sesiapa tentang keberadaan dia sekarang."


"Baik.. Jika aku bertemu dengan nya, aku akan pastikan dia dan anak kami tidak akan pernah menjejak kan kaki nya disini lagi. Cam kan ucapan ku ini."


"Apa kau mengancam ku?"


"Ya."


"Berani kau!! Apa kau tidak ingat dimana kau berada sekarang?" Kaisar Xi meninggikan suaranya.


"Ya aku tau.. tapi jika kau berani menangkap ku sekarang, aku akan pastikan kalian tidak bisa bertemu anak-anak ku lagi karna aku udah mengarahkan semua prajurit ku untuk menjaga mereka berdua dan satu hal yang harus kalian ketahui jika terjadi sesuatu padaku, kalian semua termasuk Xia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Putra Ying dan Putri Mimi seumur hidup kalian."


"Apa!!! Berani kau.." Kaisar Xi merasa pening memikirkan masalah Xia dan suaminya, dia memicit pelipis nya dan terdiam seketika.


"Aku tidak mau masuk campur dalam urusan peribadi kalian berdua. Baiklah aku akan beritahu mu di mana Putri Xia berada tetapi kalian harus selesaikan masalah kalian berdua dahulu baru kau bisa membawa anakmu pergi. Apa kau setuju?"


"Tergantung dengan kejujuran kaisar."


"Aku akan jujur padamu."


Putra Ren Zie terdiam seketika. "Baiklah, tapi jika kaisar Xi menipu ku. Maka kita akan bertemu di medan perang, aku akan pastikan itu."


"Huh. Kau sangat berani mengamcam ku anak muda. Tapi itu tidak masalah, karna aku berkata benar. Putri Xia sekarang sedang belajar..."


Putra Ren Zie yang tidak sabar mendengar ucapan Kaisar Xi langsung bertanya "Belajar ??? Belajar apa?? Di mana?"


"Apa kau tidak bisa sabar? Tunggu dulu dan dengar kan sampai aku habis bicara." Kaisar Xi memarah Putra Ren Zie dan Ming yang berada di sebelah Putra Ren Zie, hanya menggelengkan kepalanya melihat pangerannya yang tidak reti untuk bersabar.


"Maaf.. baiklah, sila teruskan."


"Dia di Sekta Gaodu di kerajaan Utara."


"Sekta Gaodu??" Putra Ren Zie dan Ming berkata serentak.


"Apa yang dia lakukan disana?" Putra Ren Zie berkata dengan hairan. Dia berfikir sebentar.


"Katanya mau belajar, tapi aku merasa dia sepertinya menyembunyikan sesuatu. Aku kurang pasti apa, kau bisa mencari tahu sendiri."

__ADS_1


__ADS_2