Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
44 - Meluahkan Perasaan


__ADS_3

"Mereka membuli Putri mu ayah." Ucap Xia cemberut dan memeluk lengan ayahnya.


"Kamu udah besar Putri ku, tidak usah cemberut begitu. Nanti bakal suami mu lari melihat mu begini." Menteri Chu tertawa bahagia bisa bergurau begitu bersama Putrinya yang pernah dibenci nya dahulu.


"Ayaahh.. ayah pun sama seperti mereka, hanya mau membuliku aja." Mereka bertambah tertawa melihat wajah Xia yang cemberut.


"Iya udah.. bagaimana dengan kabar putra yang kamu rawat? Apa dia udah sembuh."


"Putra Jing Zhi udah sembuh ayah. Lihat siapa yang merawatnya..!!" ujar Xia sambil mengangkat sedikit wajahnya seperti orang yang berlagak sambil menepuk dadanya.


"Ha.. Haa... ya.. iya.. kamu memang putri ayah yang hebat. Bagus la kalau gitu."


Mereka meluagkan masa bersama sambil bercanda. Akhirnya menteri Chu pamit mau kembali kekamarnya. Xia pun terus tidur di kasurnya, karna merasa lelah seharian membantu Putra Jing Zhi.


Keesokan harinya, selesai sarapan dikamarnya Putra Jing Zhi pergi menemui Xia di istananya.


"Xia mari kita keluar jalan-jalan disekitar ibu kota?"


Xia yang memang terasa bosan duduk dikamarnya berseorangan langsung setuju.


"Tapi apakah ayah kaisar mengijinkan kita keluar istana?"


"Aku udah meminta ijin nya untuk membawamu keluar berjalan dan dia mengijinkan nya."


"Sebentar, aku tanya teman dan jiejieku, apa mereka mau ikut."


'Aduh, aku mau bejalan berdua besama mu Xia. Aku harap mereka tidak ikut.' Putra Jing Zhi mengeluh dihatinya.


Xia langsung menuju ke kamar temannya dan jiejienya. Seperti mengerti dengan perasaan putra Jing Zhi, mereka tidak mau mengikut Xia. Cisin hanya mau membantu beberapa orang pelayan mengemas Manakala Leo dan Nagin masuk kedalam ruang dimensi bintang.


Xia langsung pergi berjumpa dengan putra Jing Zhi yang menunggunya didepan kamar Xia


"Dimana mereka?"


"Mereka tidak mau ikut. Ayo kita pergi sekarang."


'horaayy!! Bagus sekali. Pasti mereka memahami perasaan ku.' sorak putra Jing Zhi didalam hatinya.

__ADS_1


Mereka pun pergi menuju ke luar gerbang istana, disana terlihat ada sebuah kereta kuda yang telah


disiapkan oleh putra Jing Zhi terlebih dahulu.


Setibanya mereka di pasar yang terdapat di ibu kota, mereka pun turun dari kereta kuda dan mula berjalan kaki. Xia merasa gembira, karna udah lama dia tidak berjalan jalan seperti itu.


Mereka berhenti di sebuah toko yang menjual pelbagal jenis pakaian wanita.


"Xia'er kata kan padaku jika kamu ada menyukai baju disini, aku akan membelikannya untukmu." Xia memandang putra Jing Zhi tersenyum.


"Coba lihat ini, baju ini terlihat cantik. Aku menyukainya."


"Pandai Nona memilih, pakaian ini adalah keluaran yang terbaru dari toko kami. Sangat sesuai dipadankan dengan kulit nona yang cantik, membuat nona lagi bertambah menyerlah." Kata pekerja disitu untuk memancing pembelinya.


Xia tersenyum. "Aku mau yang warna biru dan hijau. Tolong ambilkan." Ujar Xia


"Baiklah nona, mari kita coba dulu bajunya." Xia mengikut petugas itu untuk mencoba baju yang akan dibelinya. Dia membeli dua karna mahu memberikan kepada Cisin satu.


Setelah itu mereka terus keluar dari toko pakaian itu dan meneruskan berjalan dipasar. Putra Jing Zhi merasa risih dari tadi kerana pria yang berselisih dengan mereka pasti melihat Xia lama dan memuji kecantikan dimiliki Xia.


"Xia'er apa kata kita duduk di kedai makan itu, aku dengar disitu ada sekumpulan pemuzik akan memainkan alat muzik jenis pi pa dan guzhen. Kumpulan itu terkenal karna muziknya yang merdu dan menenangkan.


Mereka memesan beberapa jenis makanan. Mereka menikmati makanan yang terhidang sambil mendengar alunan muzik yang mendayu.


Setelah selesai makan, Putra Jing Zhi merasa tidak tentu arah dan merasa jantungnya berdenyut laju. karna inilah detik yang dia tunggu-tunggu untuk meluahkan perasaan nya pada Xia. Tapi Xia tidak meyedari perubahan wajah Putra Jing Zhi yang seperti orang yang dalam keresahan, karna dia terlalu asyik mendengar muzik merdu yang dimainkan oleh kumpulan itu.


"Xia.." Panggil putra Jing Zhi tapi tidak didengari oleh Xia


"Xia..!!" memanggil dengan lebih kuat


"Iya, ada apa Jing Zhi?"


"Aaa..ku. a..ku."


"Kenapa denganmu gagap gitu? Apa karna kamu sakit lagi? sakit di.. "


Putra ling Zhi terus memotong soalan Xia. "Aku suka kamu Xia.. lya.. aku menyintaimu sejak kali pertama kita bertemu." Xia melongo melihat putra Jing Zhi, dia tidak jadi meneruskan gerakan tangannya yang pada awal nya mau memeriksa denyutan nadi Putra Jing Zhi.

__ADS_1


"Xia'er.. Xia.." Putra Jing Zhi melambaikan tangannya didepan Xia. "Xia".


"Haah.. iya.. iyaa.. apa Jing Zhi." Xia merasa gugup. Tidak tau apa yang harus dibicarkan.


"Apa kamu tidak suka dengan penyataan ku tadi?"


Tidak.. bukan begitu.. Ta.."


"Jadi, kamu suka padaku Xia?" putra Jing Zhi memotong kata Xia sambil tersenyum melihat Xia.


"Aku ti.."


"Atau kamu tidak suka?" Putra Jing Zhi memotong lagi ucapan Xia.


"Coba dengar dulu, apa yang ingin aku katakan." Ucap Xia merasa kesal, karna Putra Jing Zhi selalu memotong ucapan Xia.


"Maafkan aku."


"Maaf, aku bukan marah padamu. Sekarang kamu dengar dulu apa yang aku mau katakan." Ujar Xia dan putra Jing Zhi menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya.. emm... sebenarnya aku tidak pernah bercinta. Jadi aku tidak tau apa perasaan ku padamu." Dijaman moden pun Xia'er tidak pernah bercinta.


"Aku juga tidak pernah bercinta Xia'er. Tapi apa kata kalau kita mencoba dulu. Maukan kamu menjadi kekasihku." Ujar Putra Jing Zhi dengan penuh harapan.


Xia terdiam berfikir. 'Apa aku harus terima ya. Ermm.. Mungkin aku harus memberinya peluang dulu, kalau tidak serasi ya putus aja. Toh.. wajahnya aja tampan, anak raja lagi, pasti banyak uangnya... Tidak rugikan, hanya jadi kekasih aja bukan isteri.'


"Baiklah, aku memberimu peluang. Tapi jika kita tidak serasi, kita akan putus. Jangan paksa aku setelah itu." Ujar Xia


"Baiklah, terimah kasih karna kamu memberi aku peluang untuk menjadi kekasihmu. Aku janji akan melayan mu seperti ratuku." Kata Putra Jing Zhi gembira sambil menggenggam tangan Xia. Mereka saling berpandangan dan tersenyum.


Setelah itu mereka pun pulang ke Istana. Putra Jing Zhi menghantar Xia sehingga ke kamarnya. Dan dia pamit untuk mandi dan berjanji akan datang kembali setelah selesai.


"Xia.. Xia." Terdengar suara Cisin memanggil.


"Iya jiejie." Xia membuka pintu kamarnya.


"Bagaimana?? Seronok??" Cisin langsung menyoal setelah Xia membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Iya.. seronok sangat." Kata Xia, sambil berpusing - pusing dihadapan Cisin sambil bernyanyi riang.


__ADS_2