Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
127 - Cemburu


__ADS_3

Putra Fu Yi terkejut mendengarkannya, karna sebelum ini Xia tidak pernah menyebut tentang anaknya.


Putra Ren Zie akhirnya membuka matanya. "Xia.."


"Kau udah selesai Ren Zie?"


"Ya.. Obat yag kau berikan padaku sangat hebat. Aku udah tidak merasa sakit lagi dan aku dapat merasakan tenaga ku semakin bertambah."


"Baguslah. Kalau begitu, apa kita bisa berangkat sebentar lagi?"


"Tunggu.. apa guru bisa melihat luka Putra Mahkota dahulu?" Putra Ren Zie memberi izin.


Guru Chee yang masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya tadi meminta izin untuk memastikannya sendiri. Dia membuka balutan yang dia kenakan pada luka Putra Ren Zie dan dia terkejut melihat luka yang tadinya berdarah kini telah mengering. Guru Chee juga memeriksa denyutan nadi Putra Ren Zie.


"Pil yang kamu berikan padanya sangat ajaib Xia."


Xia tersenyum melihat gelagat gurunya. "Guru itu pil penyempuh tingkat tertinggi. Jika luka yang tidak terlalu dalam atau parah, ia akan segera mengering dan membaik."


"Apa?? Pil yang kau berikan padaku tadi??"


"Iya guru.. sama dengan pil yang aku berikan pada Putra Ren Zie."


Guru Chee terkejut dan tidak menyangka akan di berikan pil yang hebat dari muridnya.


"Aku merasa iri pada mu Guru Chee, karna mendapat kan pil yang sangat bagus."


"Tidak perlu iri guru, aku akan memberikan pada mu juga."


Xia berkata dan mengeluarkan dua botol yang berisi beberapa pil. Satu di berikan pada guru Tao dan satu lagi untuk Guru Lee. Mereka berdua mengambilnya tanpa ragu.


"Pil di tangan guru Tao adalah pil peningkat qi dan guru Lee pula pil pemulih tulang. Semua pil itu adalah pil tingkat tinggi."


Mereka berdua terkejut mendengar kan ucapan dari Xia dan mengucapkan terima kasih pada Xia karna sudi memberi mereka pil yang hebat itu.


"Guru merasa sangat bertuah mendapatkan pil ini." Kata guru Tao.


"Apa kau tidak rugi memberi kami pil yang hebat dan juga mahal harganya ini?" Tanya guru Lee.


"Tidak guru, aku ada banyak lagi pil yang seperti ini."


"Apa kau yang memurnikan pil ini Xia?"


"Iya guru.. jika ada masa terluang aku akan membuat beberapa jenis pil dan menyimpannya untuk kegunaan ku kelak."

__ADS_1


Ketiga guru Xia kaget mendengarkannya. Ternyata muridnya sangat hebat.


"Kami beruntung bisa mendapatkan murid seperti mu Xia. Dan guru juga mau meminta maaf karna tidak memberitahu mu berkaitan penyerangan markas klan hitam kemarin."


"Tidak mengapa guru, aku memahaminya." Ucap Xia sambil tersenyum.


"Kalau tidak ada apa-apa lagi, aku mohon pamit duluan karna ada urusan yang harus ku lakukan." Ucap Xia.


"Iya Xia silakan, Kamu mau kemana? Apa ada yang bisa guru bantu?" Tanya guru Tao.


"Tidak perlu guru. Aku hanya mau pergi ke istana ayah Xi, maksudku kaisar Xi."


"Kaisar Xi.. udah lama aku tidak bertemunya." Ucap guru Lee.


"Apa guru berteman dengan kaisar Xi?"


"Iya, kami pernah berteman tapi ketika itu dia masih menjadi Putra Mahkota. Semenjak dia menjadi kaisar kerajaan barat, guru udah tidak pernah bertemunya."


"Oo begitu.. Apa guru mau mengikut kami ke sana?"


"Perjalanan ke sana jauh dan mengambil masa lama, tidak lama lagi sekte akan di buka. Jadinya guru tidak bisa mengikut mu. kirim salam ku aja untuknya."


"Kita memiliki sisa empat hari lagi sebelum sekte di buka. Mungkin mengambil masa dalam tiga hari aja, kita bisa kembali kesini semula."


"Guru harus mempercayaiku... Guru pergi berkemas dulu, aku tunggu di sini."


Guru Lee meminta izin pada Guru Tao dan Guru Tao membenarkannya.


Mereka sepertinya tidak percaya dengan ucapan Xia. Tetapi tidak ada yang mustahil dengan Xia. Guru Lee yang masih tidak percaya hanya menurut sahaja kata Xia. Dia bergegas ke kamarnya untuk bersiap dan mengemas beberapa barang keperluan nya untuk di bawa ke sana.


"Apa Guru Tao dan Guru Chee mau mengikut juga."


"Tidak Xia.. kami berdua masih ada urusan yang harus kami selesaikan."


"Apa benar ucapan mu barusan Xia?" Tanya Putra Ren Zie.


"Kau juga tidak mempercayai ku Ren Zie?"


"Bukan.. bukan begitu maksudku.."


"Aku bisa menggunakan teknik teleportasi. Pergi ke tempat jauh juga bisa, jika tempat itu pernah aku jejaki."


Mereka lagi-lagi terkejut mendengarkan kehebatan Xia.

__ADS_1


"Kalau begitu, Ming.. Besok kau pulang duluan bersama semua prajurit serta bawa juga barang bukti. Aku akan menyusul mu setelah urusan ku selesai di kerajaan barat."


"Baiklah lah pangeran, hamba akan maklumkan pada jeneral setelah pangeran berangkat pergi."


"Oh iya.. Ming pastikan prajurit kita membersihkan kawasan yang kita serang semalam. Pastikan semua bersih dan tanam semua mayat."


"Baik Pangeran, nanti hamba periksa."


"Apa kau tidak menyuruh Ming untuk menyediakan barang keperluan mu?"


"Tidak perlu, barang kebutuhan ku ada di cincin ruang ku." Putra Ren Zie membetulkan baju yang di pakainya dan dia juga tidak perlu memakai perban lagi karna lukanya udah mula mengering.


"Xia, apa kami bisa ikut dengan mu?" Ucap Putra Fu Yi.


"Bisa.. Kalian bisa mengikut ku."


"Kalau begitu, aku mau berkemas dulu," Ucap Nin Jun.


"Tidak usah, aku ada beberapa helai baju yang bisa kau gunakan nanti dan aku juga telah membayar kamar tumpangan itu selama seminggu, jadi mereka tidak akan membuang barang mu." Ujar Putra Fu Yi.


"Oh iya, aku lupa mengenalkan kalian. Ren Zie kenalkan mereka teman ku, dia Putra Fu Yi anak ke dua kaisar kerajaan Timur dan di sebelahnya Nin Jun."


Mereka berdua memberi hormat pada Putra Ren Zie.


Putra Ren Zie merasa cemburu melihat Putra Fu Yi.


'Ternyata dia anak kaisar Dong. Apa dia saingan ku? Aku harap dia tidak merebut Xia dari ku?' Putra Ren Zie berkata di dalam hatinya.


"Ternyata isteriku berteman dengan anak kaisar Dong." Putra Ren Zie berkata sambil memegang tangan Xia. "Apa kalian udah lama berteman?"


"Iya udah lama, aku mengenalnya ketika aku dan Jing Zhi pergi ke istan kerajaan Timur."


"Jadi dia megetahui hubungan mu dengan Jing Zhi?" tanya Putra Ren Zie perlahan.


"Iya.. emangnya kenapa?"


Putra Ren Zie hanya menggelengkan kepalanya.


'Kenapa aku merasa cemburu padanya, Xia kan udah setuju untuk hidup bersama ku.' Ucap Putra Ren Zie di hatinya.


Tidak beberapa lama kemudian guru Lee pun tiba. "Maaf membuat kalian menuggu ku. Guru udah selesai mengemas Xia."


"Tidak mengapa Guru, kalau semua udah sedia kita akan berangkat sekarang"

__ADS_1


Xia pun mengarahkan Leo dan Nagin untuk membantunya, karna Xia tidak mampu untuk membawa mereka semua sekaligus. Lagi jauh jarak dan ramai yang di bawa dengan menggunakan teknik teleportasi, lagi banyak tenaga yang akan di gunakan.


__ADS_2