
"Aku tidak apa-apa, cuma kaki ku sakit berdiri terlalu lama tadi." Mendengar itu, yang lainnya tertawa geli hati dan membantu Xiruo berdiri.
"Mengapa kalian tertawa?" Guru Lee yang telah datang semula bersama Leo langsung bertanya.
"Tidak ada apa guru hanya merasa lucu dengan Xiruo," Cisin berkata. Guru Lee hanya mengangguk kepala.
"Tidak ada Xia." Leo berbisik pada Xia.
"Leo apa kau dapat merasa ada orang lain di sekitar sini?"
"Tidak Xia.. Di sini aman."
"Guru Lee maaf mengganggu masa anda. Kenalkan aku adalah Putri Xia Lin dan ini Putra Fu Yi, di sebelahnya Cisin jiejie ku, Xiruo dan Nin Jun." Guru Lee terkejut mendengarkan identitas Xia.
"Hormat Putri dan Putra.. Maaf kan hamba tidak mengenali kalian. Tapi hamba seperti pernah mendengar nama putri.." Guru Lee berfikir seketika tetapi tidak mengingatinya.
"Putri Mahkota Xia Lin isteri kepada Putra mahkota Ren Zie. Apa guru mengingatinya?" Putra Fu Yi memberitahu.
"Ya... hamba baru mengingatinya.. maaf kan hamba yang tua ini, tidak bisa mengingati calon permaisuri kerajaan utara."
"Tidak mengapa.." Xia tersengih sambil menjeling Putra Fu Yi. Fu Yi hanya tersengih melihat Xia.
"Mengapa Putri dan Putra tidak memberitahu kami tentang kalian mau belajar di sekta ini? Kami akan menyediakan fasilitas yang lain untuk kalian."
"Justeru itu yang kami tidak mau." Ujar Putra Fu Yi.
"Guru Lee, mengenai kenapa aku menjadi pelajar di sini memang ada kaitannya dengan anggota klan hitam." Xia pun menceritakan tentang tujuannya belajar di sekta Gaodu.
"Bagus lah, itu yang aku harapkan. Sebenarnya guru Chee, guru perubatan sekta ini telah di serang dengan anggota klan hitam. Sekarang dia telah cedera parah karna dia mau mengadu pada kaisar Bei tentang anggota klan hitam. Ada anggota kerajaan yang menjadi rakan subahat mereka."
"Aku telah menghapus kesemua anggota kerajaan yang terlibat."
Guru Lee terkejut mendengarnya tetapi dia tau Xia seorang yang hebat, dia hanya mengangguk kepala.
"Guru apa boleh aku tanya sesuatu?" Xia bertanya.
"Iya, silakan."
"Tadi mengapa saat aku menyentuh batu itu terlihat warna pelangi dan akhirnya terlihat warna biru?"
__ADS_1
"Oh itu... warna pelangi karna pengetahuan perubatan mu yang melebihi tahap tertinggi." Semua yang berada di situ mengangguk faham dengan ucapan guru Lee.
'Kuasa apa lagi yang di sembunyikan oleh Xia?? Dia memang seorang yang wanita hebat.' Putra Fu Yi, Nin Jun dan Xiruo menyoal di fikiran mereka.
"Pasti kalian udah lapar dan lelah seharian berdiri. Mari ke ruangan ku, guru udah menyuruh senior kamu tadi menyediakan makanan untuk kita. Tapi sebelum itu ambil dulu baju baru kalian, mengikut warna yang di tunjukkan batu kristal tadi." Mereka pun di beri baju yang akan digunakan sepanjang mereka berada di sekta.
"Maaf Putri Xia, baju biru tidak ada lagi. Karna kami tidak menjangkakan akan ada pelajar yang mencapai tahap cahaya biru. Dulu ada seorang pelajar, tapi telah berpuluh tahun lamanya. Jadi kami memang tidak menyediakan baju warna biru. Guru akan tempah baju warna birusetelah ini, jika udah siap guru akan memberikan pada mu "
"Tidak mengapa guru.. Aku tidak mau memakai baju warna biru.. Guru beri warna merah atau hijau, aku tidak mau terlalu menonjol.."
"Kalau gitu, Putri ambil warna merah." Xia mengambil baju yang di beri guru Lee.
"Makasih guru.. kedepannya semasa berada di sekta, guru tidak usah memanggil ku Putri. Panggil aja Xia atau Xiana."
"Aku juga, panggil Fu Yi.."
"Baiklah kalau itu yang kalian maukan."
Mereka pun beredar dari situ dan menuju ke ruang guru Lee. Mereka makan bersama dan setelah makan mereka berbincang mengenai anggota klan hitam. Banyak maklumat baru yang Xia dapat daripada guru Lee.
Setelah selesai guru Lee mau menyediakan kamar khas untuk mereka, tetapi di tolak oleh Xia.
"Aku juga, biar Nin Jun bersama dengan ku. Apa bisa guru?"
"Itu tidak masalah, guru akan uruskan. Mari ikut dengan ku."
Guru Lee mengambil buku catatan yang tertulis senarai nama pelajar dan nama kamar yang mereka tempati.
"Kalian bantu guru, cari nama kalian di buku ini." Ada dua buku yang diberikan Guru Lee.
"Nama ku dan jiejie Cici berada di kamar Teratai. Kebetulan sekali." Mereka mencari nama Xiruo.
"Aku berada di kamar mawar."
"Guru akan tukarkan Xiruo di kamar Teratai."
"Kami satu kamar, jadinya kami tidak perlu berpindah." ucap Putra Fu Yi.
"Baiklah kalau gitu mari kita ke asrama kalian."
__ADS_1
Guru Lee menunjukkan jalan ke asrama. Guru Lee berjumpa dengan pelajar senior yang bertugas malam itu dan memberitahunya untuk menukar kamar Xiruo di kamar Teratai. Pelajar senior itu pun membawa Xia, Cisin dan Xiruo menuju ke kamar mereka. Guru Lee menghantar Putra Fu Yi dan Nin Jun ke kamar mereka.
Setelah tiba di kamar Teratai, senior tadi memanggil semua pelajar yang berada di kamar Teratai dan memberitahu tentang pertukaran satu pelajar ke kamar mawar.
"Siapa di antara kalian yang mau di tukarkan ke kamar mawar?"
"Aku.. aku mau berpindah ke kamar mawar." Ucap seorang pelajar.
"Baiklah kalian bisa masuk dan istirehat." Xia, Cisin dan Xiruo mengucapkan terima kasih kepada senior dan pelajar yang mau bertukar kamar itu.
"Kamu cepat berkemas dan ikut aku ke kamar mawar." Pelajar itu pun langsung mengambil barangnya yang memang tidak disusun lagi di dalam almari. Dia mengambil barangnya dan keluar mengikut senior tadi. Pelajar itu memang pada awalnya mau berada di kamar mawar, karna temannya di tempatkan di kamar mawar. Karna itulah dia menawarkan diri ke kamar mawar.
Xia, Cisin dan Xiruo berkenalan dengan teman sekamar mereka. Satu kamar menempatkan enam orang pelajar. Mereka pun beristirehat setelah selesai mandi.
Keesokan harinya semua pelajar berkumpul, mereka berdiri mengikut warna seragam yang mereka pakai. Xia berdiri bersebelahan dengan Putra Fu Yi. Tidak banyak pelajar yang memakai baju berwarna merah.
Guru Song menerangkan tentang peraturan sekta dan beberapa katogeri pelajaran yang harus semua pelajar ikuti.
Disebabkan pengambilan pelajar tahun ini terlalu ramai, maka mereka akan di bahagikan kepada lima kumpulan. Setiap kumpulan akan ada empat puluh orang.
Xia dan temannya tentunya dalam kumpulan yang sama. Setelah membahagi kumpulan, mereka di bawa oleh pelajar senior ke kelas yang akan menjadi tempat mereka belajar kelak.
Setelah selesai pembelajaran untuk hari itu, Xia dan teman yang lain nya pun pulang ke kamar mereka. Ketika dalam perjalanan ke kamar mereka, Xia terdengar ada seorang wanita menjerit.
"Aahh..."
Xia menghentikan langkah kakinya. "Apa kalian mendengar suara seorang wanita menjerit?"
Mereka terdiam dan cuba untuk mendengar. "Aku tidak mendengar apa - apa suara pun." Ucap Xiruo.
"Aku juga" Cisin.
"Erm.. Mari kita ke sana, sepertinya suara itu datang dari sana."
Mereka pun menuju ke arah tempat yang Xia maksudkan. Terlihat ada lima orang pria dan di hadapan mereka ada seorang perempuan.
'Apa zaman ini pun ada kes buli juga?' Xia berkata di hatinya.
Xia cuba untuk melihat gadis yang di kerumuni oleh lima pria itu. Xia terkejut karna ternyata gadis itu adalah kenalannya.
__ADS_1