Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
86 - Kehilangan Putri Xia dan Cisin


__ADS_3

Selir Lily yang pada awalnya mau bersarapan bersama suaminya, membatalkan niatnya. Dia berpatah balik ke kamarnya. Dan melepaskan geram, dengan membanting semua barang yang ada dihadapannya.


Dikamar Putra Mahkota Ren Zie sedang melihat dan membaca semula surat dari Putri Xia. 'Jika benar kita pernah tidur bersama kemarin, aku tidak akan melepaskanmu.' Dia membakar surat dari Xia.


Di ruang dimensi, Xia masih membiarkan pelayan Lun tidur. Dia tidak ada mood untuk menyoal pelayan Lun. Temannya yang lain hanya membiarkan Xia bertenang. Xia juga melarang mereka untuk bertanya atau mengingatkan dia berkaitan kejadiaan pada hari itu.


Sudah beberapa hari di ruang dimensi, Nagin bertanya pada Xia karna dia udah tidak sabar dengan sikap Xia. "Xia apa kamu mau seperti ini terus? Termenung saja?" Nagin cuba melembutkan suaranya. Dia pun merasa sedih dengan hal yang menimpa tuannya.


"Iya Xia.. Pasti Cisin mencarimu sekarang." Pujuk Leo.


"Iya aku lupa dengan Jiejie Cici dan pelayan Wei Wei. Maafkan aku." Xia terdiam seketika. "Nagin, leo kalian bawa Jiejie Cici dan pelayan Wei Wei kesini. Nagin pastikan kamu tidurkan Wei Wei dahulu. pastikan kalian tidak ketahuan." Mereka berdua menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi.


Ketika Leo dan Nagin di luar, hari masih pagi. Cisin dan Wei Wei udah bangun dari tidurnya. Cisin merasa senang melihat Leo dan Nagin di kamarnya.


"Nagin, Leo.. kalian ada mendengar fitnah yang menyebar di istana? Dimana Xia?"


Nagin yang berdiri dibelakang Wei Wei langsung membiusnya dan Wei Wei jatuh pingsan. Cisan yang terkejut dengan tindakan Nagin pun bertanya "Mengapa kau membuat dia pingsan?


Leo mengangkat Wei Wei dan membaringkan diatas kasur


"Cisan dengar apa yang kami ingin katakan." Leo dan Nagin menceritakan perihal perjanjian antara Xia dan Putra Ren Zie. Mereka juga menceritakan hal yang berlaku terhadap Xia kemarin dan pembatalan pernikahan Xia.


Cisin yang mendengarkan cerita daripada Leo dan Nagin langsung menangis. "Kasihan adikku... Bodohnya aku tidak mengetahui tentang perjanjian mereka. Padahal awalnya, aku sempat curiga. Mengapa Xia bersetuju untuk menikah dengan dia. Rupanya mereka membuat perjanjian.." Cisin duduk dikursi dan menangis.


"Cisin, jika kamu mau masuk keruang dimensi. Kamu harus menghapuskan air matamu dan jangan menunjukkan kesedihan mu padanya. Dia udah cukup terseksa dengan kematian Putra Jing Zhi."


"Benar katamu Nagin. Adik aku seorang yang kuat dan aku harus kuat juga." Cisin pun mengelap air matanya.


"Cepat berkemas Cisin, kita harus pergi dari sini segera." Ujar Leo. Cisin langsung mengemas barangnya. Cisin tidak ada banyak barang karna barangnya kebanyakannya berada di cincin ruangnya.


"Ayo pergi sekarang, sepertinya mereka mau datang kesini." Leo pun mengangkat pelayan Wei Wei dan mereka pun masuk ke ruang dimensi Xia.


Cisin langsung mencari Xia dan setelah menjumpai nya dia langsung memeluknya. "Xia mengapa kau menanggung penderitaanmu sendiri? Berkaitan Perjanjian mu juga. Apa kau tidak sudi lagi menganggap aku sebagai Jiejemu?" Xia memandang Leo dan Nagin, tetapi mereka memalingkan wajah. Xia tahu mereka telah menceritakan semuanya pada Cisin.


"Bukan begitu..."


"Aku tidak mau mendengarkan alasanmu. Jika kau masih menganggap aku sebagai jiejie mu, mulai sekarang tiada rahasia antara kita." Cisin melepaskan pelukannya dan memandang Xia.

__ADS_1


"Baiklah jiejie, aku berjanji."


Cisin tidak dapat menahan air matanya. Akhirnya dia menangis, "Maafkan aku karna tidak mengetahuinya." Mereka berpelukan kembali.


Di istana Putra Mahkota Ren Zie,


Pengawal Ming yang telah sadar dari kesan racun langsung berjumpa dengan Putra Ren Zie di ruang kerjanya. Dia sadar awal karna tabib memberinya minum obat penawar.


"Ming, ceritakan perkara yang berlaku kemarin."


"Kemarin ada dua orang telah menyusup masuk ke penjara lalu membawa pergi pelayan Lun."


Bbruukk.. Putra mahkota Ren Zie menghentak meja "Bagaimana bisa terlepas.. kan aku udah menyuruh mu menambah pengawal lagi? apa kalian tidak bisa mengalahkan dua penyusup hah..?" Putra Mahkota Ren Zie merasa sangat marah mendengarkannya.


"Maaf pangeran. Ketika hamba tiba dipenjara setelah membawa pengawal tambahan, hamba dapati semua pengawal yang berjaga di penjara telah pingsan, Ketika aku masuk kedalam, aku terlihat dua orang yang tidak dikenali telah menggendong pelayan Lun. Kekuatan mereka sangat luar biasa. Tapi, dibelakang mereka ada seekor naga biru.."


"Naga biru?? Zu?"


"Iya.. baru aku teringat, Zu!! Memang aura yang sama."


"Apa mungkin Zu masih hidup lagi?"


"Jangan beritahu kepada sesiapa tentang perkara ini termasuk ayahku."


"Baiklah."


Putra Mahkota Ren Zie terdiam dan berfikir seketika. "Bagaimana dengan Putri Xia?"


"Masih tidak ada kabar tentang Putri Xia. Hamba sarankan jika kita bertanya dengan nona Cisin tuanku?"


"Iya.. aku terlupa padanya. Mari kita ke kamarnya sekarang?"


Mereka pun pergi ke kamar Cisin dan pada ketika itu Leo udah menyadari mereka menuju ke kamar Cisin. Mereka pun masuk keruang dimensi.


Setelah berada dikamar Cisin, Ming mengetuk pintu kamar tetapi sepertinya tidak ada orang didalam. Ming pun bertanya pelayan disekitar yang bertugas disitu.


"Apa kalian lihat nona Cisin hari ini?"

__ADS_1


"Tadi, kami menghantarkan makanan untuknya. Setelah itu nona Cisin langsung menutup pintu dan sampai sekarang tidak membuka pintu kamarnya."


"Baiklah kalian bisa melakukan tugas kalian kembali." Ming pun langsung menuju ke putra Mahkota dan menceritakan pada tuannya.


"Tendang aja pintunya." Ming langsung menendang pintu kamar dan langsung memeriksa sekitar kamar itu.


"Nona Cisin tidak ada disini dan barangnya juga tidak ada."


"Apa..!! kemana sebenarnya mereka berdua pergi?" Putra Ren Zie pun pergi dari situ. Mereka kembali keruang kerja putra Mahkota Ren Zie.


"Ming, aku mau kau siasat tentang sesuatu."


"Siasat apa pangeran?"


Putra Mahkota Ren Zie pun menceritakan semua tentang kejadian yang berlaku kemarin pada Ming dari awal dia keluar dari penjara sehingga dia bangun pagi tadi.


"Apa!! Pangeran telah meniduri putri Xia?" Ming juga mengetahui tentang perjanjian tuannya dengan putri Xia.


"Iya tapi aku tidak tau aku berada dimana ketika itu. Seperti bukan dikamarnya atau kamarku."


"Mungkin pangeran berhalusinansi?"


"Aku juga berpikiran begitu tetapi terasa nyata."


"Iya.. mungkin kejadian itu nyata tetapi kamar yang putra katakan itu yang tidak nyata."


"Sudah tidak perlu dibahasnya lagi. Pastikan kau menyiasat tentang siapa pelayan wanita yang ingin menjebak putri Xia dan cari di mana putri Xia berada."


"Baiklah."


"Tetapi ingat, jangan beritahu sesiapa termasuk ayahku." Ming langsung pergi setelah berjanji pada putra mahkota Ren Zie.


Di ruang dimensi


"Xia kita tidak bisa berterusan membius mereka berdua."


"Kamu benar, kita harus membawa mereka keluar dari sini. Tapi aku tidak punya tempat untuk dituju. Putra Ren Zie pasti menemui kita, jika kita berada disekitar ibu kota."

__ADS_1


"Di timur kerajaan Utara terdapat hutan kegelapan. Tidak ada sesiapa yang berani kesana. Selepas melepasi hutan kegelapan kita akan bertemu laut. Apa kata jika kita tinggal disana aja. Kita bina pondok ditepi laut?" Ujar Zu.


__ADS_2