
Keesokan harinya, mereka bangun dan menggemas. Siumei meletakkan alas tidur kedalam cincin ruang. Setelah selesai, mereka pun makan bersama dan barulah Siumei memeriksa kondisi ibu.
"Bagaimana keadaan ibu hari ini"? Tanya Siumei sambil melihat luka dikaki nya..
"Udah mendingan dari semalam. Oh ya, tadi Miela bilang pada ku yang kamu telah membeli beberapa barangan makanan? ibu tak tau mau ngomong apa, ibu sangat berterima kasih padamu nak. Kalian memang anak yang baik." Ujarnya sambil menangis terharu, dipertemukan insan yang berhati mulia.
"Iya bu ini hanya bantuan kecil dari kami. Kami ikhlas kok. Aku lupa ingin menanya nama ibu kemarin. Nama ibu siapa?"
"Tan. Kalian boleh memanggilku ibu Tan." Ringkasnya sambil mengelap sisa air matanya.
Siumei terkejut mendengar nama tu. Dia jadi teringat ibunya di jaman moden. 'ibu gimana kabarmu, ayah, kakak Leo, aku amat merindukan kalian semua.' Gumam Siumei dihatinya, tanpa sadar dia menitiskan air matanya. Mereka terkejut melihat Siumei mengalirkan air mata.
"Nak Xia kenapa kamu menangis?" Tanya ibu Tan cemas.
"Aku.. Aku hanya teringat kan ibu ku .. Aku terlalu merindukan ibu ku. Boleh aku memelukmu ibu?" Siumei berkata dengan suara bergetar menahan tangis.
"Iya pasti bisa nak. Kemari peluk lah ibu." Sambil mendepakan tangan nya dan menerima pelukan Siumei. Setelah memeluknya, Siumei menyeka sisa air matanya.
"Emangnya kamu udah lama tidak ketemu ibumu.?" Tanya ibu Tan.
"Ibu ku tidak ada." hanya itu yang bisa diungkapkan Siumei.
Mereka yang lain nya hanya menganggap Siumei merindukan ibu nya yang telah meninggal. Hanya Cisin mengerti apa yang dimaksudkan oleh Siumei. Ibunya pasti berada ditempat yang berbeda kerana Siumei juga bukan berasal dari sini.
"Maaf nak, ibu lancang. Kalau kamu sudi, kamu bisa menganggapi ku sebagai ibumu."
__ADS_1
"Saya berterima kasih sangat pada ibu karna sudi berkongsi kasihmu padaku. Jiejie sekarang kita mempunyai ibu angkat dan meimei yang comel" ujar Siumei tersenyum bahagia. Mereka berempat pun saling berpelukan. Huan dan Zan tersenyum haru melihat mereka
"Ya udah. Sekarang ibu masih memerlukan istirehat yang cukup karna kita akan memulai rawatannya petang ini. Harap Ibu bisa rehat yang benar dan kembali bertenaga. Kami mau keluar sebentar, untuk pergi melihat keliling desa ini." ujar Siumei, Mereka semua pun keluar dari kamar ibu Tan.
Ketika mereka keluar dari rumah untuk melihat keadaan desa itu, tiba tiba datang beberapa orang pembunuh upahan menghampiri mereka. Siumei terus menarik Cisin dan Miela kebelakannya.
"Siapa kalian, apa yang kalian ingin kan?" Soal Zan
"Aku meninginkan nyawa wanita bernama Xia Lin. Di antara kalian berdua siapa yang bernama Xia Lin" Jawab salah satu pembunuh upahan itu, menunjuk kearah Cisin dan Siumei. Huan dan Zan terkejut, karna mereka ingat pembunuh itu mencari Huan selaku putera mahkota dan ingin membunuhnya, ternyata tebakan mereka salah.
"Aku Xia Lin!!, Siapa yang mengupah mu untuk membunuh ku?"
"Jangan banyak ngomong, jika kalian yang lain tidak ingin mati maka minggirlah.."
Tiada gerakan dari Huan dan Zan.
"SERANG.!!! BUNUH DIA!!!!" jerit pembunuh tadi
"Jiejie, kamu bawa Miela masuk kerumah, jangan keluar selagi aku tidak menyuruhmu." Cisin pun berlari membawa Miela ke rumahnya. Nasib baik mereka keluar tadi masih tidak jauh lagi dari rumah Miela.
Pembunuh upahan seramai 10 orang. Mereka bertiga bergading bahu melawan pembunuh itu. Bunyi bising terdengar dari dentingan pedang yang bergesel.
Ting... Ting.. Trrinnngg..
Sreaakkk..
__ADS_1
Tahap kultivasi pembunuh itu tidak boleh diremehkan. Pembunuh upahan yang berbicara tadi pasti ketuanya karna dia paling tinggi tahap kultivasi nya iaitu menengah awal dan yang lain nya tahap rendah dan pertengahan.
Huan melawan empat orang pembunuh upahan. Mereka menyerangnya di pelbagai sisi tanpa belas. Huan berjaya menumpaskan seorang lawan nya. Walaupun Huan bergerak pantas tetapi dia terkena juga libasan pedang ditangannya yang diserang dari samping. Pembunuh itu mengambi kesempatan ketika Huan menyerang yang lainnya.
"Arrrhh!!" Huan menyeringai menahan sakit. Sempat Huan menusuk pedang nya tepat kejantung lawan nya.
"Huan apakah kamu terluka?" Tanya Zan, dia risau jika terjadi sesuatu pada Putra mahkotanya pasti ayahnya Jeneral besar akan menghukum dan memarahinya.
Zan langsung menuju kearah Huan sambil terus fokus melawan yang lainnya. Dia telah berjaya membunuh dua dari pembunuh itu. Dan dia sempat menepis pedang yang menyerang Huan dari samping nya. Libasan itu hampir saja mengena Huan. Kelihatan sepertinya Huan kehilangan fokusnya.
"Pedang mereka ada racun nya. racun itu membuat aku merasa lemah sekarang dan aku merasakan tenaga ku semakin berkurangan".
Disisi lain nya Siumei terus melawan dua dari pembunuh upahan itu. Ketua pembunuh yang melawan Zan tadi beralih kearah Siumei yang lagi fokus melawan pembunuh yang lain nya dan tanpa menyadari bahawa Siumei telah membelakangi ketua pembunuh itu. Kerana ada peluang keemasan, maka ketua pembunuh itu langsung mengeluarkan jurus pedang bayangan yang bisa menyerang musuh nya dalam jarak 10 langkah. Dia menyerang Siumei dari arah belakang yang pada ketika itu Siumei baru saja berjaya mengalah kan kedua pembunuh itu. setelah menewaskan lawannya Siumei terdengar teriakan memanggil nya.
"Puteri!!!!" jerit Cisin sambil berlari kearahnya
"Xia Lin!!! dibelakang mu." Jerit Nagin bersamaan jeritan Cisin
Cisin terus berlari kearah nya lalu memeluk belakang Siumei, untuk menahan jurus libasan pedang bayangan yang dikeluarkan oleh pembunuh tadi, Mereka terjatuh tapi Cisin terluka terkena libasan pedang dibelakang punggung nya dan memuntahkan seteguk darah.
Huan dan Zan terkejut, mendengar teriakan Cisin. Dan menoleh kearah Siumei.
"Yoshi!!!" teriak Huan, Yoshi yang geram menyaksikan perlawanan itu dari tadi, langsung muncul dan membaling pedang nya kearah Ketua pembunuh itu karna Pembunuh itu ingin menyerang kembali Siumei yang jatuh bersama Cisin. Ketua pembunuh itu tidak sempat mengelak pedang yang laju menuju kearah nya. Pedang itu tertusuk menembusi jantung nya dan mati serta merta. Yoshi terus mengambil pedang nya dari badan pembunuh tadi dan melawan pembunuh yang lain nya bersama Zan, dengan cepat mereka semua terkalahkan, sisa seorang yang tidak dibunuh karna ingin disoal. Yoshi adalah Pengawal bayangan yang terkuat milik Putera Mahkota Huan Zo, Dia tidak akan bertindak jika tidak diarahkan oleh tuannya
"Jiejie!!!" Terdengar jeritan dari Siumei
__ADS_1
Walau pun sedih, Siumei langsung mengeluarkan jarum akupunktur nya dan merobek baju di punggung Cisin agar biasa meletak kan jarum bagi menghentikan darah yang mengalir keluar. Setelah darah berhenti mengalir dia dia mencabut jarumnya, dia terus membersihkan luka Cisin dan membalutnya, Siumei mengambil peralatan dalam cincin ruang yang memang disediakan masa dia merawat Ibu Tan.
Cisin terkena separuh dari serangan jurus pedang bayangan tadi. Kalau tidak pasti nyawanya tidak tertolong. Siumei melakukan dengan pantas agar nyawa Cisin terselamat. Setelah itu dia memberi Cisin pil penyembuh. Muka Cisin yang pucat kembali memerah.