Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
73 - Melamar


__ADS_3

Ketika merawat Yanna Di ruang dimensi, Xia akan keluar untuk bertemu Putra Jing Zhi sesekali. Karna Xia tidak mau menimbulkan kecurigaan pada kekasih. Xia belum bersedia untuk memberitahu Putra Jing Zhi berkaitan ruang dimensi bintang.


Beberapa hari diruang dimensi, akhirnya Yanna telah siuman. Melihat keadaan yang semakin pulih, Xia membuat keputusan untuk membawa mereka keluar dari ruang dimensi.


Ayah dan bondanya telah diberitahu awal tentang keadaan Yanna yang semakin pulih. Ketika tiba di dalam kamar gegenya, Menteri Chu dan Selir Ying telah menanti mereka. Mereka berkumpul dikamar Putra Feng Xi.


"Yanna bonda ingat kan, selepas ini tidak usah membuat sebarang kerja."


"Maaf.. maaf karna membuat kalian semua khawatir."


"Bonda harap setelah ini, kamu lebih berhati - hati. Sekarang bonda telah upah lima orang pelayan tambahan untuk menjaga mu sehingga kamu bersalin. Jika ada apa yang kamu inginkan atau mengalihkan barang, kamu beritahu mereka."


"Lima.. Lima orang pelayan."


"Iya, untuk keselamatan kamu dan calon cucu bonda." Yang lain hanya tersengih mendengar ucapan bondanya.


Setelah berbincang dan memperkenalkan lima pelayan baru, mereka semua pamit ke kamar masing -masing.


Setelah beberapa hari, akhirnya Yanna selamat melahirkan seorang Putra yang comel. Xia yang menyambut kelahiran keponakannya.


Semua merasa gembira dengan kehadiran ahli baru dalam keluarga. Setelah Putra Jing Zhi melihat keponakan Xia, dia langsung mengajak Xia pergi ke taman.


"Xia jika kita menikah nanti, aku mau dua orang Putra dan dua orang Putri." Ujar Putra Jing Zhi tersenyum melihat Xia.


"Aku mau sepuluh orang anak." Xia mencoba bercanda dengan kekasih nya.


"Apa..!! Jika begitu kita harus segera menikah dan kita harus bekerja keras untuk memenuhi impianmu itu."


Niat Xia hanya ingin bercanda tetapi putra Jing Zhi malah menjahilinya. Xia hanya terdiam dan tersenyum malu.


"Xia udah setahun kita berkenalan, apakah kamu terima jika aku mau melamarmu menjadi isteri ku?" Xia yang terkejut menerima lamaran dari Putra Jing Zhi yang secara tiba - tiba hanya bisa terdiam. "Kalau menurutmu masih terlalu awal lagi, apa kata kita bertunang dahulu?" Putra Jing Zhi merasa cemas karna Xia hanya berdiam diri sahaja. Dia khawatir Xia akan menolak lamaran nya yang dirasakan mendadak itu.

__ADS_1


"Tidak perlu sayang. Kita bisa terus menikah. Kapan kamu mau memberi tahu dengan orang tuaku?" Ucap Xia dengan tenang. Xia sudah mula mencintai Putra Jing Zhi. Tidak ada salahnya jika dia menerima lamaran dari kekasihnya.


"Apa benar katamu Xia?" Kata Putra Jing Zhi sambil ketawa, dia merasa senang sekali. Xia mengangguk kan kepalanya dan tersenyum melihat kekasihnya.


"Aku akan beritahu orang tua mu sekarang juga." Putra Jing Zhi yang tidak bisa sabaran, dia langsung mau pergi bertemu orang tua Xia tetapi dihalang oleh Xia.


"Jing Zhi tunggu dulu. Kita perlu berbincang dahulukan."


"Bincang apa lagi sayang. Kan kamu dah setuju, aku setuju.. tinggal beritahu aja sama orang tuamu."


"Eeee.. ini oranglah, bikin kesal aja. Kamu mau kalau orang tua ku menolok mu menjadi menantunya?"


"Iya tidaklah.. apa mereka akan menolakku? Pasti tidakkan?"


"Kamu yakin??"


Mendengar omongan Xia, Putra Jing Zhi udah mulai ragu. "Jadi menurutmu, apa yang harus kita lakukan?"


Keesokan harinya, Putra Jing Zhi sudah bersiap untuk memberitahu orang tua Xia. Xia memberitahu keluarganya agar berkumpul di ruang utama keluarga.


Ketika mereka semua sudah berkumpul diruang utama, Putra Jing Zhi pun masuk dengan yakin. Dan dibelakangnya terdapat beberapa pelayan membawa barang.


Setelah memberi hormat kepada mereka semua, Putra Jing Zhi memulakan ucapannya. "Paman, aku mau melamar Xia menjadi isteri ku." Putra Jing Zhi berkata dengan sekali nafas. Jantungnya berdebar laju, seperti sedang berlari. Mereka terkejut mendengar ucapan Putra Jing Zhi yang secara tiba - tiba, tidak ada mukadimahnya. mereka hanya bisa terdiam. Membuat kan Putra Jing Zhi menjadi semakin panik.


"Di belakangku ada beberapa hadiah untuk kalian dan aku berjanji akan memberikan hantaran yang sebenar setelah aku kembali ke kerajaan utara. Aku.. aku juga.. berjanji akan menjaga Xia dengan baik dan.. Dan juga.." Putra Jing Zhi semakin panik, habis terlupa semua ayat yang diatur dengan Xia kemarin.


"Tenang nak.. tenang.. kami udah tau kamu menyukai Putri Xia, kamu juga ngak perlu menyediakan hadiah kayak gini." Ujar Menteri Chu.


Putra Jing Zhi memandang Xia. Melihat Xia yang menahan tawanya, taulah dia bahawa kekasihnya mencoba menjahilinya. 'Tunggu Aja nasib mu setelah ini Xia'er.'


Melihat anaknya seperti itu, Menteri Chu tahu bahawa ini ulah Xia. Menteri Chu hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Beginilah, paman mengijinkan kalian menikah. Tetapi tolong jagain anak nakal ini dengan baik, jika kamu tidak suka padanya lagi. Hantarkan padaku kembali, paman tidak akan persoalkannya." Ujar Menteri Chu dengan suara yang bergetar menahan rasa sedihnya.


"Aku berjanji, akan menjaga dan menyayangi Xia seikhlas hatiku. Aku tidak akan sia - siakan peluang yang paman berikan."


Setelah itu, mereka berbincang bila Putra Jing Zhi mau berangkat pulang dan berbincang dengan orang tuanya.


Putra Jing Zhi memutuskan untuk pulang bertemu orang tua nya dua hari kemudian. Xia bersetuju untuk mengikutnya dan mereka akan berpisah di Istana kaisar Xi. Setelah menentukan kapan mereka menikah, Putra Jing Zhi akan mengutuskan surat.


Xia langsung pamit kekamar nya setelah selesai berbincang. Putra Jing Zhi menyusulnya kemudian.


"Xia.. Xia.." Teriak Putra Jing Zhi dan langsung membuka pintu kamar Xia. Putra Jing Zhi melihat disekeliling kamar tetapi tidak ada sesiapa disitu. Ketika ingin keluar, Putra Jing Zhi dapat melihat ada bayangan seseorang disebelah almari.


"Dimana Xia, aku akan pergi mencarinya ditaman." Putra Jing Zhi bersuara sedikit kuat dan menutup pintu.


Xia yang menyorok disebelah almari mendengar Putra Jing Zhi telah keluar dari kamarnya hanya tersenyum dan dia pun keluar dari tempatnya bersembunyi.


"Xia...!!" Putra Jing Zhi bersilang tangan berdiri di dipintu kamar, sambil memandang ke arah Xia. Xia terkejut melihat Putra Jing Zhi yang masih berada didalam kamarnya.


"Aarrhhh.." Xia menjerit dan berlari karna Putra Jing Zhi mau menangkapnya.


"Mau kemana kamu..!!" Xia berpusing - pusing dimeja yang berada di kamarnya.


"Ampun.. Ampun.. Aku hanya mau bercanda aja kok.." Mohon Xia sambil berlari disekitar meja.


"Kamu tau, jantung ku seperti mau gugur sejak kemarin. Aku kira ayahmu tidak bersetuju tadi. Tunggu hukuman dariku."


Akhirnya Putra Jing Zhi dapat menangkap Xia. Dia memeluk Xia dan mereka saling berpandangan. Terlihat mereka bernafas kasar karna keletihan berlari tadi. Putra Jing Zhi semakin mendekatkan wajahnya pada Xia.


"Jing Zhi, tidak lama lagi kita akan menikah. Tunggu saat itu ya." Ucap Xia yang tau niat kekasihnya mau menciumnya. Putra Jing Zhi memejamkan matanya dan melepaskan tangannya dari memeluk Xia. Xia pun berundur kebelakang beberapa langkah.


Putra Jing Zhi merasa debaran yang kuat didadanya, lalu dia berpaling dari Xia. "Aku pamit kekamar ku." Ujar Putra Jing Zhi dan langsung berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2