Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
31 - Penyakit Aneh


__ADS_3

"Dari mana kamu mendapatkan pil pil langka yang kamu beri pada kakek cucu ku?"


"Aku membuatnya sendiri kek"


"APA!!! kamu seorang alkemis Xia?"


"Begitulah kek." Ucap Xia masih merendah diri.


"Kamu memang cucu ku yang jenius".


Yang lain turut terkejut mendengarkan nya. Kakeknya pun mengambil botol pil itu.


"Oh iya Xia. Sebelum ini paman ada keluar kan arahan bertulis, bahawa jika ada sesiapa yang bisa menyembuhkan penyakit ayahku. Maka akan beta kabulkan permintaan nya selagi permintaan nya melampaui batasku. Jadi, paman mau tanya, ada apa apa permintaan yang kamu ingin kan?"


"Erm.. kalau aku minta, apa paman bisa tunaikan."


"Iya Xia, selagi paman mampu menunaikannya."


"Aku hanya ingin paman bebaskan ayahku. Walau apa pun yang dia lakukan, dia tetap ayahku." Ucap Xia berasa sedih.


"Apa kamu yakin."


"Iya paman."


"Baiklah kalau gitu, paman akan bebaskannya."


"Makasih paman"


Mereka yang lain memang terkejut mendengar permintaan dari pada Xia. Putra Feng Xi hanya diam.


"Maaf kakek, nenda. Aku pamit untuk pulang ke mukim tua. Ada banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Aku berharap agar kakek cepat sembuh." Kata Putra Feng Xi.


"Iya.. hati - hati dijalan cucuku." Kakeknya membalas.


"Xia, apa kamu mau ikut aku pulang?"


Kakek dan nenda nya memandang Xia berharap agar Xia tidak ikut pulang.


"Tidak kak. Aku mau disini dulu."


"Kalau gitu, kakak pergi dulu. Jaga dirimu baik baik Xia."


Mereka pun pergi mengikuti Putra Feng Xi untuk mengambil beberapa barangnya. Xia mengikuti nya.


"Tidak usah menghantar ku Xia."


"Apa kakak marah padaku atas permintaan ku tadi?"

__ADS_1


"Tidak Xia, kamu yang merasai derita itu tapi telah memilih untuk memaafkannya. Maka kakak tidak membantah. Dia juga ayahku. Kakak bangga denganmu, adikku udah matang membuat keputusan sendiri." Ucap Putra Feng Xi sambil menggosok kepala adiknya dan tersenyum.


"Kak, ini ada 3 botol pil. Aku udah tulis nama pil di setiap botolnya. Pil peningkat qi, pil penyembuh dan pil lingzhi. Kakak simpanlah untuk kegunaan kakak kemudian hari."


"Apa kamu memberiku Xia?"


"Iya kak."


"Makasih adikku" Putra Feng Xi mengambil botol yang diberikan dan menyimpannya.


Xia tersenyum dan menghantar pergi rombongan kakaknya.


Setelah menghantar pemergian kakak, Xia dan temannya pergi ke kamar kakeknya, manakala kaisar Xi dan permaisuri nya kembali meneruskan urusan yang sempat tertunda tadi.


Xia meluangkan masa bersama kakek dan nendanya. Kakek dan nendanya bercerita kisah ibu Xia.


Keesokan hari nya. selepas perhimpunan dengan para menterinya, kaisar Xi memanggil Xia untuk hadir di aula perhimpunan. Setibanya di aula, Xia melihat ada ayahnya disitu yang duduk melutut dihadapan kaisar Xi.


"Hormat paman, ada apa gerangan paman memanggil ku kemari?" Tanya Xia Sambil menunduk hormat. Kaisar Xi mengangguk, tanda menerima hormatnya.


Menteri Chu yang terdengar suara yang dia kenal, mengangkat kepala nya dan melihat ke arah suara itu.


"Xia Lin, apa kamu anak ku Putri Chu Xia Lin? Kamu masih hidup nak. Syukurlah kamu masih hidup, ayah bisa memohon maaf darimu. Maafkan ayahmu ini yang sangat kejam terhadap mu putriku. Ayah telah berlaku zalim padamu." Ucap Menteri Chu sambil menangis.


"Bangunlah ayah" sambil memegang kedua pundak ayahnya


'Walaupun kamu bukan ayah kandungku, tetapi aku merasa kasihan melihat keadaan mu. Demi Putri Xia Lin yang asli, aku harus melakukannya dan semoga dia tenang dialam sana.' Gumam Xia dihatinya.


"Iya ayah, aku ikhlas maafin ayah."


"Terima kasih nak". Menteri Chu langsung menarik Xia dan memeluknya.


"Eheemm. Xia paman telah menunaikan janji paman untuk membebaskan ayahmu." Ujar Kaisar Xi.


Xia melepaskan pelukan ayahnya.


"Terima kasih paman."


"Apa kamu yang memohon supaya ayah dibebaskan?"


"Iya ayah. Aku mohon tolong jagain Selir Ying dengan baik karna dia telah ku anggap seperti ibu ku sendiri."


"Baiklah anak ku. Ayah berjanji dan ayah akan mengangkatnya sebagai isteri sah ayah." Mereka pun tersenyum.


Tiba tiba datang seorang pengawal dan berlutut di depan kaisar Xi.


"Hormat tuanku, Ada seorang pengawal utusan daripada daerah Yulan ingin mengadap tuanku. Ada keperluan penting yang ingin disampaikan."

__ADS_1


"Suruh dia masuk" arah kaisar Xi. Pengawal itu pun berundur dan memanggil pengawal utusan yang ingin berjumpa kaisar Xi.


Pengawal utusan pun masuk setelah diberi kebenaran.


"Hormat tuanku. Hamba pengawal yang diutuskan oleh jeneral Xuan untuk melaporkan pada tuanku bahawa di daerah Yulan terdapat satu desa iaitu desa Kisan, telah diserang dengan penyakit aneh. Ramai diantaranya telah terkorban dan hampir keseluruhan penduduk desa terkena penyakit itu. Jeneral khawatir penyakit itu akan merebak ke desa yang lainnya. Para tabib sudah berputus asa untuk mencari punca dan obat untuk penyakit tersebut. Mohon Kaisar menghulurkan bantuan dengan kadar segera." Terang pengawal utusan itu.


"Apa kamu tahu penyakit apa itu."


"Ampun tuanku, tabib kurang pasti jenis penyakit tetapi menurut tabib mereka yang terkena penyakit itu mengalami batuk, demam dan kesukaran bernafas."


'kok gejalanya seperti COVID 19 ya? Parah kalau gitu.' Gumam Xia dihatinya


"Apakah jeneral Xuan sudah menutup desa itu dari orang keluar masuk."


"Iya tuanku. desa itu telah ditutup sepenuhnya. tiada siapapun dibenarkan masuk atau keluar. Jika ada keperluan, mereka akan berbicara disebalik pintu gerbang sahaja."


"Baiklah aku akan mewakilkan Putra ku untuk kesana. Pengawal panggil kan Putra ketiga datang ke sini dengan segera."


Pengawal itu pun berlalu pergi. Tidak lama setelah itu Putra Yun datang ke aula perhimpunan.


"Hormat ayah. Ada apa gerangan ayah memanggil ku?"


" Putra ku, ayah ada tugas penting untukmu."


" Tugas apa ayah?"


"Kamu kumpulkan beberapa orang tabib dan obatan pergi ke daerah Yulan. Disana terdapat satu desa telah dilanda penyakit aneh. Gejala penyakit kamu bisa tanya pengawal itu. Bawa juga uang dan bahan makanan. Berangkat kesana dua hari dari sekarang."


"Baiklah ayah." Putra Yun pun memanggil pengawal utusan itu dan bertanya padanya.


"Maaf aku mencela. Apa bisa aku turut serta dalam tugas ini paman." Tanya Xia.


"Tidak nak, itu terlalu bahaya. Ayah tidak mahu kamu celaka."


"Benar kata ayahmu Xia"


"Ayah, aku berjanji akan menjaga diriku disana nanti. Percaya lah padaku."


"Kalau itu yang kamu mahu, pergilah tetapi berjanjilah kamu akan sentiasa menjaga dirimu dan pulang dengan selamat." Xia mengangguk kan kepalanya.


"Paman... paman tau kan aku bisa merawat, jadi ijinkan aku turut serta dalam tugas ini."


Kaisar Xi berfikir sejenak "Baiklah jika itu kemahuan mu. Tetapi berjanjilah kamu akan sentiasa menjaga dirimu."


"Baiklah, aku berjanji akan sentiasa menjaga diriku dengan baik."


"Putra Yun bawalah Putri Xia Lin sekali. Dia bisa merawat dan membuat obat. Pastikan kamu menjaganya disana nanti."

__ADS_1


"Baiklah ayah."


'Apa dia fikir pikir tugasan ini perkara yang main main. Aduhh, aku harap dia tidak merepotkanku disana nanti nya.' kata Putra Yun didalam hatinya.


__ADS_2