Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
77 - Syarat


__ADS_3

"Jika aku mengikutnya pulang kesini ketika itu, pasti aku bisa menyelamatkannya. Tidak perlu aku memikirkan bernikah dengan pria kayak setan itu" Ujar Xia.


"Maafkan aku Putri. Aku gagal melindungi Tuan aku sendiri. Malah dia yang membantuku dengan memutuskan hubungan kontrak kami. Aku merasa sesal."


"Oh iya.. Ketika kalian berbicara bersama tidak adakah sesiapa yang mendengarkan kalian bicara saat itu?"


"Tidak Putri.. iya aku juga ada berteriak ketika itu tetapi mengapa mereka tidak mendengarkannya. Sepertinya, tidak masuk akal jika mereka tidak mendengar aku berteriak." Zu mula curiga.


"Pasti ada sesuatu dan mengapa Putra Jing Zhi menyuruhku menikah dengan Putra Ren Zie. Pasti dia mengetahui sesuatu. Aku harus menyiasatnya."


"Aku akan turut membantumu."


"Aku akan keluar sekarang. Kamu tetap disini, berlatih dan bermeditasi agar kau bisa meningkatkan tahap Kultivasi mu semula. Minta bantuan Leo dan Nagin." Ujar Xia dan keluar dari ruang dimensi.


Tiba diluar hari masih gelap. Xia menganggarkan waktu ketika itu dalam 2-3 pagi. Xia langsung melangkah untuk keluar dari kamar itu. Ketika Xia membuka pintu terlihat pengawal yang menghantarnya tadi masih berada disitu.


"Maaf aku ketiduran tadi." Ucap Xia.


"Tidak perlu meminta maaf Putri. Hamba tahu jika puteri lagi bersedih. Mari hamba hantarkan puteri kembali kekamar." Xia pun mengangguk kan kepalanya dan mengikuti pengawal itu.


Tiba dihadapan kamar Xia. Xia memberi arahan pada pengawal itu. "Beritahu pada Putra Mahkota Ren Zie agar bertemu denganku besok pagi disini." Xia berkata dan langsung masuk kedalam kamarnya, tanpa menanti jawaban dari pengawal itu.


Besok paginya setelah bersarapan Putra Mahkota Ren Zie telah berada di hadapan kamar Putri Xia Lin. Setelah pelayan bertanya dan Xia memberi ijin untuk masuk, Putra Mahkota Ren Zie pun masuk kedalam kamar Putri Xia Lin.


"Aku akan menikah denganmu" ujar Xia berterus - terang tujuan dia memanggil Putra Mahkota Ren Zie.


Putra Mahkota Ren Zie yang terkejut dengan ucapan Xia coba untuk mengawal raut wajahnya supaya tidak menunjukkan dia terkejut mendengar ucapan Xia.


'Mengapa dia menukar pikirannya dalam satu malam? Ada apa yang terjadi?' Putra Mahkota Ren Zie menyoal dipikiran nya.


"Itu yang aku ingin dengar." Ujar Putra Mahkota Ren Zie yang masih merasa ego, tidak mau bertanya tentang persoalan yang dipikirannya.


"Tetapi dengan dua syarat."


"Syarat.. apa syaratnya?"


"Kita akan menikah tetapi kau tidak bisa melakukan hubungan itu..."

__ADS_1


"Aku bersetuju dengan syarat itu. Aku juga tidak bernafsu dengan wanita sepertimu." Putra Mahkota Ren Zie memotong ucapan Xia dengan angkuhnya dia bicara seperti itu.


"Bagus.. itu adalah syarat yang pertama. Yang kedua, jika kau perlu menikah lagi, maka kita akan berpisah. Jika kau mempunyai kekasih sekarang, aku tidak akan menghalang percintaan kalian. Tetapi ingat jika mau menikah dengannya, maka aku akan berundur. Aku harap kau mengerti dengan kedua - dua syarat dariku."


"Kau tau aku seorang Putra. Pasti aku akan menikah lebih dari satu orang. Kau juga tidak akan melahirkan zuriatku."


"Aku menikah dengan mu bukan untuk bersama denganmu tetapi aku memerlukan sesuatu."


"Apa yang kau perlukan?"


"Kau tidak perlu tau sekarang. Pasti suatu saat kau akan mengetahui nya sendiri."


"Aku tidak mengerti dengan maksudmu" Putra Mahkota Ren Zie berkata dengan wajah dinginnya.


"Kenapa kau mau menikah denganku?" Xia tidak menjawab soalan Putra Mahkota Ren Zie tetapi dia malah bertanya.


"Menurut ayahku, untuk mengeratkan perhubungan antara kerajaan. Sebelum ini ayahku juga berkata seperti itu dengan Putra Jing Zhi ketika dia berkata untuk menikahimu. Tidak disangka dia akan mati duluan. Karna itulah ayahku menyuruhku untuk menggantikan dia. Kau tahukan sebelum ini kerajaan utara pernah berperang dengan kerajaan Barat. Dan juga untuk menjaga air muka kalian. Kau pasti akan dikeji dan dikatakan wanita malang, jika orang lain tahu pengantin pria mati seminggu sebelum nikah."


"Aku pernah mendengarkan perihal peperangan itu. Dan aku juga akan yakinkan kaisar Xi untuk mengekalkan hubungan antara kerajaan setelah kita berpisah kelak. Untuk pengetahuan mu, aku tidak merasa terbeban jika orang mengetahuinya dan mengatakan aku wanita malang."


"Xia.. Xia.." terdengar teriakan Cisin dari luar kamar Xia. Dan Cisin langsung masuk ke dalam kamar Xia yang tidak ditutup.


"Maaf, Aku tidak tau kau mempunyai tetamu." Cisin berpaling dan mau melangkah pergi.


"Tunggu jiejie.. kemarilah." Panggil Xia. "Kenalkan dia Putra Mahkota Ren Zie, calon suamiku."


Cisin memandang Xia dan menghampirinya berkata. "Apa!! Apa maksudmu Xia'er? Bagaimana dengan Putra Jing Zhi?"


"Aku akan terangkan pada semua orang. Mari bantu aku memanggil semua agar bisa berkumpul di ruang utama istana ini." Mereka pun memanggil keluarga Xia. Mereka dibantu beberapa pelayan agar bisa cepat berkumpul di ruang utama.


"Ada apa Xia, mengapa kamu mau bertemu kami disini?" Tanya kaisar Xi, yang mewakili mereka semua. Mereka juga mempunyai persoalan yang sama.


"Baiklah aku akan menerangkannya." Ujar Xia.


"Biar aku aja yang katakan." Kata Putra Mahkota Ren Zie. Mereka semua melihat kearah seorang pria yang berada disebelah Xia.


"Silakan.."

__ADS_1


"Kenalkan aku Putra Mahkota Ren Zie. Adikku Putra Jing Zhi.. dia.. dia telah meninggal."


"Apa!!!" Mereka semua berteriak bersamaan karna terkejut dengan berita yang disampaikan. Nenda Xia terkulai.


"Bonda.."


"Nenda.." Xia langsung menuju kearah nendanya dan langsung memeriksa denyutan nadi nendanya.


"Xia.. nenda cuma terkejut.. tidak usah kawatir dengan nenda." Nendanya langsung menarik Xia dan memeluknya. Mereka menangis, yang lainnya turut menitiskan air mata sedih.


"Kalian tenang aja. Aku akan kuat melaluinya." Ujar Xia sambil mengelap air matanya. "Putra Mahkota Ren Zie, beritahulah kepada keluargaku."


Putra Mahkota Ren Zie mengangguk kan kepalanya dan meneruskan ucapannya. "Setelah berbincang dengan ayahku kaisar Bei, aku bersetuju untuk menggantikan Putra Jing Zhi dan bernikah dengan Putri Xia Lin. Kita telah menghantarkan undangan, dan tidak mungkin untuk membatalkannya karna acara pernikahan udah dekat."


"Bila Putra Jing Zhi meninggal?" Tanya Putra Feng Xi


"Seminggu yang lalu."


"Ketika itu Kami baru sahaja berangkat dari Istana kaisar Xi." Ucap Putra Feng Xi.


"Karna itu kami tidak memberitahu kalian dan juga kami kelang kabut menguruskan pemakaman yang dilakukan secara rahasia, mencari pembunuh dan keadaan kesihatan bonda permaisuri juga semakin menurun. Aku mewakili kaisar Bei mamohon maaf karna lambat memberitahu kalian dan maaf kaisar Bei tidak menyambut kedatangan kalian karna menemani bonda permaisuri yang lagi sakit."


Mereka terdiam seketika mendengarkan ucapan Putra Mahkota Ren Zie.


"Xia, apa kau bersetuju untuk menikah dengan nya? Tidak usah memikirkan masalah kerajaan." Tanya kakek Xia.


"Iya kek, aku bersetuju dan bersedia menikah dengannya besok." Jawab Xia.


"Kamu yakin dengan keputusan mu itu cucuku?"


"Iya kek. Dan aku memerlukan dukungan dari kalian semua."


"Baiklah jika itu keputusan kalian, kita akan teruskan rencana pernikahan kalian berdua." Ujar Kaisar Xi.


Mereka pun bersurai. Xia memimpin tangan nendanya dan menghantar kekamarnya.


Putra Feng Xi menghampiri Putra Mahkota Ren Zie. Putra Yun mengikuti Putra Feng Xi.

__ADS_1


__ADS_2