
"Udah lah jiejie, aku mau mandi dulu. Nanti aku ceritakan padamu."
"Ermm... baiklah. Apa kau mau ke ruang dimensi mu?"
"Ya.. apa jiejie mau ikut dengan ku?"
"Ya aku ikut, Kibo juga udah lama tidak bertemu dengan Miho."
Mereka pun masuk keruang dimensi bintang tanpa di ketahui oleh teman sekamarnya.
Selesai Mandi Xia sarapan bersama yang lainnya. Setelah itu Xia duduk di pinggir kolam ikan bersama Miho dan Kibo.
"Xia..." Cisin datang mendekati Xia. Xia memandang Cisin sambil tersenyum hambar. "Xia.. ceritakan pada jiejie erm.."
Xia pun mengeluh berat, mengingat kembali masalah nya yang terjadi kemarin.
"Jika kau belum siap untuk ceritakannya, tidak mengapa tapi..."
"Aku akan ceritakannya.." Lalu Xia pun menceritakan semua yang berlaku kemarin pada Cisin.
"Apa kau mau mendengarkan pendapat ku?" Cisin berkata.
"Terima kasih karna jiejie sudi mendengar masalah ku.. Aku mau mendengarkan pendapat jiejie."
"Bagi jiejie, ada baiknya jika Xia mula membuka lembaran hidup baru. Jiejie tau, Xia sangat sukar untuk melupakan Putra Jing Zhi. Jiejie bukan suruh Xia melupakannya tetapi, biarkan Putra Jing Zhi menjadi kenangan terindah dalam hidup Xia dan terimalah Putra Ren Zie. Kalian udah mempunyai anak bersama dan cubalah untuk mencintainya. Jiejie yakin pasti kalian akan bahagia."
"Tapi.."
"Tidak usah keras kepala Xia.." Cisin memegang tangan Xia dan menepuknya perlahan.
"Ermm..baiklah aku akan fikirkan semula, apa yang jiejie katakan tadi."
Cisin memeluk Xia. "Ingatlah jiejie sentiasa ada dengan mu. Apa pun keputusan mu, jiejie akan mendukungmu."
"Terima kasih jiejie.." ucap Xia sambil melepaskan perlukannya.
Setelah itu, mereka keluar dari ruang dimensi.Xia dan Cisin langsung menuju ke tempat mereka belajar. Hari ini mereka akan belajar ilmu perubatan bersama guru Chee.
Xia melupakan Putra Ren Zie, yang mengajaknya untuk sarapan bersama. Ketika mereka sedang belajar ada seorang senior datang dan meminta kebenaran guru Chee untuk mengizinkan Xia pergi ke ruangan guru Tao.
Pada awalnya Xia sempat berfikir, mengapa guru Tao memanggilnya.
Senior itu menunjuk jalan menuju ke kamar yang Xia tidur kelmarin.
__ADS_1
"Ruangan guru Tao tidak melalui jalan ini? Ke mana kau mau membawa aku?" Xia berhenti berjalan dan bertanya.
"Maaf Putri Xia, sebenarnya hamba di perintahkan oleh Putra Mahkota Ren Zie untuk membawa Putri ke kamarnya."
"Ternyata kau berbohong pada guru Chee?" Barulah Xia mengingati suaminya yang masih berada di dalam sekta.
"Maaf.. ini karna, Putra Ren Zie tidak mau ada ramai yang tau tentang keberadaan nya di sekta ini."
"Ermm.. baiklah.. tapi katakan pada Putra Ren Zie bahawa aku lagi sibuk sekarang."
"Maafkan hamba Putri.. Jika Putri tidak mau ikut, maka Putra Ren Zie sendiri yang akan mencari Putri."
"Dasar licik... Huhh.." Xia mengeluh. "Ayo kita ke sana." Mereka pun meneruskan jalan menuju ke kamar.
Setelah tiba di kamar.
"Sayang.. mengapa lambat sangat, aku udah lapar dari tadi tunggu kamu datang. Kan tadi pagi aku udah bilang, mau sarapan dengan mu.. erm.."
"Aku udah makan." Jawab Xia ringkas.
"Iya udah.. kalau gitu, mari duduk di sini. Temani aku makan."
"Aku sedang belajar Ren Zie. Apa kau tidak bisa makan sendiri?"
"Setelah ini, aku akan berbincang dengan guru Tao dan malam ini aku akan pergi melihat markas klan hitam. Aku akan langsung kembali ke istana malam ini juga."
"Jadinya apa kaitannya dengan sekarang ini?"
"Sayang, apa kau tidak merindui ku?"
Xia menjeling Putra Ren Zie, sambil mencibirkan bibirnya.
"Haa.. ha.. ha.. sayang kau sangat imut. Aku menjadi gemas melihatmu. Aku mau kau menemani ku sepanjang aku disini. Supaya kau tidak merinduiku, setelah aku pergi."
"Nyebelin.."
Gelagat Xia membuat Putra Ren Zie terhibur. 'Dasar isteri ku yang nakal.' Ucap Putra Ren Zie dalam hatinya, sambil tersenyum senang.
Xia terpaksa menemani Putra Ren Zie makan. Dia tidak mau membuat keributan.
"Baiklah, sekarang aku mau ketemu guru Tao. Kau bisa pergi dahulu setelah aku selesai berbicara dengan guru Tao, aku akan mencari mu." Ucap Putra Ren Zie setelah selesai makan.
"Kau pikir aku monyet.. bisa di panggil dan di usir sesuka hatimu."
__ADS_1
"Bukan begitu maksud ku.. iya udah.. kalau kau mau ikut ku, bilang aja?.. Aku akan membawa mu berjumpa guru Tao."
"Huuuhh.." Xia langsung keluar.
"Ermm.. Aku hanya tidak mau kau bosan ketika aku berbicara dengan guru Tao dan aku mau mengarahkan guru Tao untuk melindungi mu selama kau di sini. Ternyata kau salah faham dengan maksudku. Hheerrmm." Putra Ren Zie berkata sendiri, Xia tidak mendengar penjelasan dari suaminya karna dia udah berlalu pergi.
Setelah itu Putra Ren Zie langsung menemui guru Tao dan beberapa guru. Mereka berbincang mengenai beberapa perkara penting. Malam itu Putra Ren Zie dan Ming akan pergi menyelinap ke markas klan hitam.
Setelah selesai berbincang dengan guru Tao, Putra Ren Zie mengarahkan seorang pembantu guru Tao untuk memanggilkan Xia.
Setelah menunggu lebih kurang satu jam, barulah Xia sampai di hadapannya.
"Sayang.. mari ikut aku.." Ucap Putra Ren Zie sambil menarik tangan Xia.
"Kau mau membawa ku ke mana?" Tanya Xia sambil mengikut langkah suaminya yang menarik tangan Xia.
"Kita akan jalan - jalan di sekitar kota Gaodu."
"Aku tidak bisa keluar dari sekta. Ini peraturan sekta. Kalau ketahuan, pasti aku akan di hukum." Ucap Xia sambil menarik tangannya kembali.
"Siapa yang berani mau menghukum mu? Errmm.."
"Itu..."
"Tidak usah khawatir.. Aku udah minta izin dari guru Tao tadi dan dia mengizinkannya."
Xia pasrah, dan hanya mengikut Putra Ren Zie
'Udah ku duga pasti kau mencari alasan untuk tidak mau mengikut ku.. untung aku udah memberitahu guru Tao. hihihi..' Putra Ren Zie berkata di hatinya sambil tersenyum geli hati.
Guru Tao telah memberi token khusus pada Putra Ren Zie untuk keluar dan masuk sekta. Mereka pun keluar dari sekta dan menuju ke pasar.
"Apa kau lapar?" Tanya Putra Ren Zie.
"Erm.." jawab Xia ringkas.
"Mari kita ke tempat makan di depan sana. Aku pernah makan di sana dan makanannya enak." Mereka pun pergi kesana, ternyata Ming telah menempah ruangan khusus untuk mereka makan.
Setelah tiba di sana, Putra Ren Zie memesan beberapa jenis makanan yang istimewa untuk Xia.
Ternyata memang benar kata Putra Ren Zie makanan di tempat itu sangat sedap.
Selesai makan Putra Ren Zie mengobrol dengan Xia. Macam - macam pertanyaan Putra Ren Zie tetapi Xia hanya menjawabnya dengan ringkas. Membuatkan Putra Ren Zie sedikit emosi.
__ADS_1
"Xia.. apa kau sangat membenci ku? Apa salah ku? Aku suamimu? Apa susah sangat ke, kau mau menerima ku? Jika aku ada berbuat salah padamu.. Aku mohon.. Aku mohon maaf.. Aku juga manusia biasa yang selalu berbuat salah. Aku juga punya perasaan, sama seperti mu. Aku berusaha untuk kebahagian hidup kita bersama tapi kau malah.... Ah.. udah lah, kau bukan mau mendengarkan ucapan ku." Putra Ren Zie hilang sabar dengan sikap Xia yang telah memancing emosinya.