Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
3- Dimensi Bintang


__ADS_3

"Bagaimana kabar mu, adakah ada sakit dimana- mana." Tanya wanita itu. Dia adalah Selir Ying. Selir yang selalu membela Siumei jika dia dilakukan tidak adil oleh Selir Ming dan anak- anak nya. Tapi Selir Ying tidak sentiasa berada disisi nya.


"Aku baik- baik saja bonda,"


"Maafkan bonda tidak menjaga kamu dengan baik." selir Ying merasa hiba. Dia kasihan melihat Xia Lin yang diabaikan oleh ayahnya, dan juga Selir Ming yang selalu melakukan nya secara tidak adil.


"Bonda tidak salah, tidak perlu meminta maaf. Cuma aku yang kurang berhati- hati."


Selir Ying tersenyum dan berkata "mesti kamu lapar. Cici buatkan puteri Xia bubur."


" Baik Selir Ying." Cisin berkata sambil mengangguk dan berlalu ke dapur.


Selir Ying merasa gembira kerana Siumei bak-baik saja. Setelah melihat Siumei selesai makan Dan baik baik saja, dia pun pamit ke kamarnya.


"Cici siapkan air mandian untuk ku". arah Siumei


"Baik puteri. Puteri nak wangian mawar atau vanila."


"Vanila aja." Ucap Siumei ringkas.


Cisin pun pergi menyediakan ar mandian untuk Puteri Xia Lin.


Setelah air mandiannya telah disediakan. Siumei pun masuk kekamar mandi, setelah menghalau Cisin keluar dari kamar mandinya kerana dia ingin membantunya mandi.


"aarrhh... lega rasanya dapat berendam di air yang hangat." Sambil menyiram badannya, Siumei terpandang tanda bintang di pergelangan tangannya. " Eh... tanda bintang ini, seperti tanda lahir ditanganku dulu. Kok Xia Lin juga ada tapi tanda ditanganku dulu berwarna hitam. Tanda di tangan Xia Lin berwarna kuning keemasan." Siumei bergumam sendiri, hairan.


Diluar kamar mandi Cisin berbicara "Puteri baju anda, hamba letak di atas tempat tidurmu".


"Makasih Cici." Ucap Siumei, sambil keluar dari kamar mandi, setelah memakan dudou (pakaian dalam wanita zaman kuno) dan Sehelai baju nipis yang diletakken Cisin dikamar mandi sebelumnya.


"Tidak usah berterima kasih kepada hamba Puteri. Itu memang tugas hamba sebagai pelayan Puteri".


Siumei tersenyum sambil berkata "Cici tolong aku pakai baju ini" Siumei bingung, tidak tau cara memakai baju yang dipegangnya.


Cisin pun memakai kan baju untuk puterinya. Setelah selesai pakai, dia pun menata rambut sang Puteri.


Siumei melihat muka nya dicermin. Terdapat jeragat yang agak teruk dimukanya. 'Kasihan sekali hidup Xia Lin, mesti dia tidak bisa merawat muka nya kerna selalu ditindas oleh Selir Ming.' Tanpa Siumei tahu, sebenarnya muka Xia Lin begitu mengerikan ialah akibat racun yang berada ditubunya.

__ADS_1


"Oh iya, Cici. Emangnya tanda di pergelangan tanganku ini, memang ada sejak lahir ya. tanya Siumei sambil menunjukkan tanda dipergelangan tangan nya kepada Cisin.


"Tanda yang mana Puteri, Tiada apa- apa tanda disitu?". Tanya Cisin hairan.


Siumei mangerutkan keningnya hairan


'Bererti hanya aku seorang yang bisa melihat tanda ini'. Siumei berkata didalam hati nya.


"Ngak pa pa.. Abaikan kata-kata ku tadi. Kamu boleh keluar sekarang dan pergilah beristirehat.


"Baik puteri. Tapi puteri anda tidak mau makan Malam? "


"Tidak, aku masih kenyang dan badan ku capek bangat. Aku butuh istirehat saja".


"Baik tuan Puteri kalau gitu hamba keluar dulu. jika ada apa yang peteri perlukan, bagi tau sama pengawal diluar supaya dia memanggil hamba di kamar hamba."


Siumei tidak berbicara, dia hanya mengangguk kan kepalanya tanda faham. Cisin pun keluar dari kamar Tuan Puteri nya.


__--__


"Nyonya, Si Xia Lin itu udah sadar dari pingsannya. Tadi saya melihatnya sendiri." Pelayan setia Selir Ming mengadu kepada Selir Ming.


"Apa!!" Teriak Selir Ming.. " Liat sungguh nyawanya. Telah banyak yang ku lakukan pada nya tapi dia tidak mati- mati."


Selir Ming berfikir sejenak, apa yang harus dia lakukan untuk menyingkirkan Siumei. Akhirnya dia mendapatkan idea yang bernas.


"Sun kamu panggil kan Kim, kita akan rencana kan rancangan lain untuk menyingkirkan ulat itu. Aku yakin kali ni, pasti rencana ku berhasil. Ha ha ha..." Ketawa Selir Ming kuat. Sun adalah pelayan setia Selir Ming dan Kim adalah pengawalnya. Sun pun pergi memanggil Kim.


Setelah mereka tiba, dia pun menceritakan rancangan yang dia fikirkan tadi kepada Sun dan Kim. Mereka pun menganggukan kepala nya tanda faham dan menyetujui membuat rencana yang dirancang oleh Nyonya nya.


"Baiklah, kita akan membuat rencana nya pada malam ini juga. Aku tidak sabar ingin menyingkirkan nya. Pastikan kalian tidak membuat sebarang kesalahan sehingga membuat rencana ku gagal." Selir Ming bicara tegas. Mereka berdua mengangguk Kan kepalanya.


__---__


Disisi lain, dikamar Xia Lin


Setelah Cisin keluar dari kamarnya. Siumei melihat tanda bintang di pergelangan tangan nya.

__ADS_1


'Apakah hanya aku yang bisa nampak tanda bintang ini?' Batin Siumei bertanya sambil mengusap tanda itu. Tiba- tiba Siumei merasa seperti ditarik masuk kedalam satu cahaya yang terang. Siumei terkejut kerana sekarang dia berada dia dalam ruang yang berbeda dari kamarnya.


"Di mana ini, tadi aku dikamar ku. Tetapi kenapa sekarang aku berada disisi." Ucap Siumei terkejut dah tertegun melihat pemandangan yang indah didepannya. Terdapat air terjun dan sungai yang mengalir jernih di depannya. Terdapat juga pohon- pohon yang rendang serta sebuah istana tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Selamat datang ke ruang dimensi bintang Puteri." Terdengar satu suara wanita menegurnya. Siumei berasa meremang, mendengar suara itu kerana dia tidak melihat siapa pun di situ.


"Si..siapa kamu. Mengapa kamu membawa ku kesini??" tanya Siumei gagap kerana takut.


"Tidak perlu takut, aku ada disini. Di atas batu, di sebelahmu." Kata suara itu.


Siumei menoleh ke sebelahnya, Kelihatan seekor ular kecil berwarna kuning keemasan di atas batu. 'Fuhh...lega, kukirain hantu tadi. Ternyata hanya seekor ular kecil.'


"kamu bisa berbicara" ucap Siumei


"Iya, aku bisa berbicara, kenalkan aku adalah ratu ular. Aku telah lama di ruang dimensi bintang ini, menanti kehadiranmu."


"menantiku.!!"


"Ya. Sebelum aku memberi tau mu lebih lanjut lagi terimalah mutiara ini."


Terlihat mutiara merah keluar daripada mulut ratu ular. Melayang kearah Siumei.


"Terimalah mutiara itu dan telanlah. Jika kamu memakan mutiara itu, tandanya kamu akan menjadi tuan ku. Kita akan membuat satu kontrak dan kita akan berbagi kuasa. Dan sebaliknya jika kamu memulangkan nya kembali kepada ku, maka kontrak ikatan akan terputus."


Siumei mengambil dan menelannya. Walaupun ia meragukannya. Keluar cahaya merah setelah Siumei menelan mutiara itu.


"Aku ratu ular sedia berkhidmat untuk mu Tuan. Dari itu berilah nama padaku agar memudahkan mu memanggil ku kelak."


"Tidak perlu memanggilku tuan. Panggil aku Xia Lin"


"Tapi tuan..."


"Jangan membantah atau akan ku pulangkan kembali mutiara yang telah ku telan tadi"


"Baiklah, Aku akan memanggil mu Xia Lin."


"Bagus." Siumei tersenyum dan meletakkan jari telunjuk di dagunya. Sambil berfikir nama yang sesuai untuk diberikan kepada ratu ular itu. Dia mendapat idea setelah mengingati program televisi yang pernah ditonton nya dulu.

__ADS_1


__ADS_2