Kisah Pengembaraan Seorang Gadis

Kisah Pengembaraan Seorang Gadis
120 - Mimpi


__ADS_3

Xia hanya tertunduk diam mendengar kata Putra Ren Zie.


"Ming!!.. tolong hantarkan Putri Xia kembali ke sekta Gaodu.." Putra Ren Zie sedikit berteriak mengarahkan pengawal setia nya.


Ming langsung menurut perintah tuannya. Dia tahu Putra Ren Zie dalam keadaan marah, dia langsung melaksakan tugasnya untuk mengiringi Putri Xia kembali ke sekta.


Xia hanya diam dan berlalu pergi. Ketika sampai di kamarnya, Xia langsung berbaring di atas kasurnya. Pelajar lain tidak ada di dalam kamar karna waktu itu mereka masih belum selesai belajar.


"Apa aku terlalu kejam dengan nya?" Xia bertanya pada dirinya. Xia baring sambil terus berfikir dan akhirnya dia terlelap.


Xia bermimpi bertemu dengan Jing Zhi.


"Xia.. Xia.." Xia mencari arah suara yang memanggilnya.


"Siapa? Siapa yang memanggil ku? Di mana ini?" Xia bertanya. Tiba - tiba Putra Jing Zhi berdiri di hadapannya.


"Jing Zhi...!!"


Putra Jing Zhi tersenyum sambil menatap Xia dan semakin menjauh dari Xia. Xia mengejarnya tetapi bayangan Putra Jing Zhi semakin jauh dan menghilang.


"Jing Zhi!!!!.. jangan.. jangan tinggalkan aku." Xia berteriak.


Cisin kaget ketika dia baru masuk kamar mendengar Xia berteriak. "Xia.. Xia.. bangun.."


Xia akhirnya tersadar, dia terengah - engah mencuri nafas seperti orang yang baru lepas lari pecut.


"Xia.. kamu tidak apa - apa?" Cisin merasa cemas melihat Xia seperti itu. Lalu mengambil air dan memberikan pada Xia. Xia langsung meminum air yang di beri oleh Cisin.


"Kenapa dengan mu Xia?"


"Aku tidak apa - apa.. Hanya bermimpi saja." Xia berkata sambil mengusap air matanya.


"Apa kau bermimpi bertemu Putra Jing Zhi?" Cisin bertanya karna panasaran, Xia menjerit namanya tadi.


"Bagaimana Jiejie tau, aku mimpikan dia? Apa Jiejie punya kuasa membaca mimpi orang lain?" Xia hairan karna Cisin bisa menebak mimpinya.


"Huisshh.. mengarut saja kau ni. Tadi jiejie dengar kau teriak memanggil namanya. Karna itu lah jiejie bertanya."


Xia tersenyum. "Iya, dia datang dalam mimpiku. Dia memanggilku dan tersenyum, lalu berlalu pergi. Aku cuba memanggil dan mengejarnya tetapi tidak bisa." Terlihat air mata Xia bergenang dan akhirnya jatuh juga.


Cisin memeluk Xia. "Jiejie yakin, pasti dia merasa bahagia untuk mu. Jadinya kau harus hidup dengan gembira Xia."


Cisin melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Xia.

__ADS_1


Malam itu Putra Ren Zie menyelinap masuk ke markas klan hitam bersama Ming. Mereka dapat masuk ke kawasan markas klan hitam tanpa di ketahui musuh.


Putra Ren Zie dan Ming terkejut melihat markas musuh yang mempunyai jumlah anggota agak ramai daripada bayangan mereka.


Setelah melihat sekitar markas itu, mereka pun segera pergi karna tidak mau di ketahui musuh.


Sekembali nya mereka dari markas musuh, mereka langsung bersiap untuk pulang ke Istana.


Malam itu juga, Putra Ren Zie langsung pergi tanpa pamit dengan Xia.


Keesokan harinya guru Phang datang mencari guru Tao. Seperti biasa, guru Phang merasa kecewa karna tidak dapat berjumpa dengan guru Tao. Ada sahaja alasan yang di berikan oleh pembantu guru Tao.


'Kenapa sejak kebelakangan ini, susah banget untuk bertemu dengan guru Tao. Ah.. mungkin dia terlalu sibuk mau menguruskan banyak hal.' Ucap guru Phang di dalam hatinya.


Ketika mau menuju ke ruangan nya, guru Phang berselisih dengan guru Lee.


"Guru Lee, kamu mau ke mana?" Tanya Guru Phang.


"Aku mau bertemu dengan guru Tao."


"Dia tidak ada di ruangannya. Aku baru saja dari sana."


"Oh.. kalau gitu aku mau kembali ke ruangan ku. Makasih karna memberitahu ku." Guru Lee langsung memusingkan badannya dan ingin segera pergi.


"Tunggu dulu.."


"Begini.. Aku.. Aku ada dengar dari muridku, kemarin Putra Mahkota Ren Zie ada datang ke sini. Apa kau mengetahui nya?"


"Iya.. Aku juga mendengar nya, karna itu sekarang aku mau bertemu dengan guru Tao. Mau bertanya padanya langsung, tapi katamu tadi dia tidak ada di ruangannya."


"Iya.. Aku juga mau bertanya pada nya. Sejak akhir - akhir ini, aku jarang sekali bertemu dengannya."


"Sekarang dia sangat sibuk, kan pertandingan tahunan sekte kita tidak lama lagi. Pasti dia menguruskan hal itu karna tidak mau ada perkara yang tidak di inginkan berlaku." Jelas guru Lee.


"Iya juga.. Aku lupa pada pertandingan itu.. kalau gitu, aku pamit dulu. Aku baru teringat ada hal yang ingin aku lakukan."


Guru Lee mengangguk dan tersenyum. Dia melihat pemergian guru Phang. Setelah guru Phang hilang dari pandangannya. Dia langsung menuju ke ruangan guru Tao. Dia yakin pasti guru Tao bersembunyi di dalam ruang kerjanya.


Memang tetap jangkaan guru Lee bahawa guru Tao ada di ruang kerjanya.


"Fuuhh.. Kau bikin aku kaget aja Lee.."


"Ha.. haa. ha.. maaf.. maaf.. Saya tidak berniat membuat guru Tao terkejut."

__ADS_1


"Apa kau bertemu dengan guru Phang tadi?"


"Iya.. dia mau bertanya soal Putra Mahkota Ren Zie." Kata Guru Lee yang sebenarnya dia sudah mengetahui lebih awal tentang kedatangan Putra Mahkota Ren Zie. Tadi di hadapan guru Phang dia hanya pura - pura tidak mengetahui nya.


Guru Tao hanya mengangguk. "Ada urusan apa kau datang ke sini?"


"Saya hanya mau mengetahui mengenai rencana yang kita bincangkan bersama Putra Ren Zie. Apa ada sebarang perubahan?"


"Tidak ada perubahan, semalam Putra Ren Zie bertemu ku sebelum berangkat pergi. Dia bilang, kita akan ikut rencana asal dan dia tidak mau Putri Xia terlibat. Ingat jangan beritahu padanya."


"Baiklah.. Kalau gitu, saya akan beritahu pada guru Chee"


Guru Lee langsung pergi setelah itu.


Sementara itu Xia tidak fokus dengan apa yang di katakan gurunya.


'Apa dia udah pergi? Mengapa dia tidak bertemu ku sebelum pergi? Apa dia marah padaku?' Soal Xia di dalam hatinya.


"Heerrm..." Tanpa sadar Xia mengeluh kuat. Semua orang memandangnya.


"Xia.. Xia.. Xia..!!" Gurunya memanggilnya.


Xia yang terkejut karna mendengar nama nya di panggil langsung berdiri. Semua tertawa melihat gelagat Xia. Wajah Xia udah merah karna ulah memalukan diri nya sendiri telah meraih perhatian murid lain.


"Xia.. ada apa? Ada yang kamu tidak faham dengan apa yang guru ajar?"


"Maaf.. Aku hanya ngak enak badan." Xia berkata.


"Iya udah.. duduklah.. apa kau mau di hantar ke ruang rawatan?"


"Tidak.. Aku hanya mau istirehat saja."


"Pulanglah ke kamar mu dan bawa seorang teman untuk menemanimu."


Xia langsung pergi dan di temani Cisin. Setibanya di kamarnya Xia langsung berbaring.


"Xia.. mengapa dengan mu? Apa kamu tidak sihat?" Cisin cuba menyentuh dahi Xia.


"Aku hanya sakit perut, biasalah sakit orang perempuan."


Cisin mengerti, apa yang di maksudkan Xia. "Kau tidurlah, jiejie akan menyediakan air hangat untuk mu."Cisin pun keluar menyediakan air hangat untuk Xia.


Xia langsung tertidur dengan lena setelah Cisin keluar. Tidak di sangka lama juga Xia tertidur. Ketika dia bangun, sakit perutnya udah mendingan dari sebelumnya.

__ADS_1


"Xia kau udah bangun?"


"Iya.."


__ADS_2