
Jujur Author seneng bget baca komen"dari pada readers...Lucu dan memberi semangat buat Author untuk terus berkarya....Sekali lagi terimakasih ya...❤️
🌺🌺🌺
Dikediaman Wijaya.
Luky tampak termenung sendirian ditaman belakang.Pikirannya sungguh kalut,disisi lain ia sangat mencintai Kyra dan ingin berada didekat wanita namun disisi lain Luky tidak ingin Kyra terluka atau kesakitan lagi jika berada didekatnya.
Perasaan yang salah ini sungguh menyiksanya.
Melihat sang Kakak yang tumben berada ditaman sendirian, Laura pun mendekat.
Ia tahu betul apa yang terjadi dengan sang kakak termasuk perselisihan nya dengan Marvin dan Kian.
Rekan bisnis sang papa sekaligus dua orang yang begitu menakutkan.
Perlahan Laura duduk disamping sang kakak"Belajar untuk melepaskan itu memang susah Kak,apalagi jika perasaan kita sudah terlalu dalam.Tapi percayalah kak setelah rasa sakit akan ada kebahagiaan.
Seperti aku yang sangat mencintai Gio tapi aku berusaha iklhas melupakan nya dan belajar membuka hatiku untuk orang lain yang lebih menyanyangi ku,Perlahan rasa sakit itu terganti dengan kebahagiaan kan...jadi Kakak jangan bersedih lagi.Kakak harus menerima kenyataan ini ya"Ujar Laura dengan pelan memberi pengertian pada sang Kakak .
Laura kini memang telah membuka hatinya untuk seorang pria yang juga seorang dokter muda seperti dirinya.Perlahan Laura bisa melupakan Gio yang ia cintai dari dulu.
Luky menoleh menatap sang adik yang begitu tegar menghadapi rasa patah hatinya.
"Kakak tidak tahu harus bagaimana Laura,Sungguh sulit untuk membuang perasaan ini.Tapi kakak juga tidak mau melihat Kyra terluka lagi.Kemarin saat melihatnya kesakitan,hati kakak merasa ikut sakit..Kenapa harus seperti ini Takdir kakak Ra?"Ujar Luky dengan wajah sendu.
Laura mengusap lembut bahu sang kakak tercinta"Percayalah Kak,Kakak akan mendapatkan wanita yang tulus mencintai kakak.Saat ini Kakak harus bisa membiarkannya bahagia.Karena cinta tak harus memiliki Kak.Bisa melihatnya bahagia saja kita akan ikut bahagia meski bukan bersama kita.Aku harap Kakak bisa berfikir jernih dan bisa tegar menerima semua ini.Aku masuk dulu ya kak ..Ujar Laura lalu pergi masuk kedalam rumah.
Luky mencerna semua ucapan sang adik yang memang benar,Meski pun itu berat untuk Luky.
Luky memilih untuk pergi ke kafe milik temannya untuk sekedar melupakan beban dihatinya.
Saat sampai di Kafe Luky tak menyangka bisa bertemu Kayla yang terlihat sedang berbincang dengan seorang pria.
"Kau ada disini Kayla.?"Sapa Luky lalu duduk disamping Kayla.
"Iya,Aku kesini untuk melupakan amarahku pada Marvin!"ujar Kayla yang membuat Luky mengerutkan kening.
"Apa yang terjadi?"
Kayla terseyum sinis"Jangan pura pura bodoh Luky,Kau pasti sudah tau apa yang terjadi!"
"Kudengar Kyra hampir keguguran,Hahaha harusnya wanita itu mati saja,agar aku bisa bersama Marvin"ujar Kayla sadar.
Seketika Luky menggepalkan tangannya"Jaga ucapanmu Kayla"
Kayla tertawa keras"Jangan munafik Luky,Kau juga ingin mendapatkan wanita itu bukan,Tapi kau tak bisa merebutnya.Jadi sebaiknya wanita itu mati saja.Jika aku tidak bisa mendapatkan Marvin maka dia tidak boleh bahagia juga"
Luky menggeleng pelan"Kau Gila Kayla.Aku memang mencintai Kyra tapi aku masih waras.Aku tidak ingin membuatnya menderita karena keegoisan ku."
"Terserah kau mau bermain licik seperti apa pada Marvin tapi jangan pernah menyentuh Kyra.!"Tegas Luky lalu pergi meninggalkan Kayla yang sudah kehilangan akal sehatnya.
Kini hanya ada rasa marah,kecewa,sakit hati dan dendam dihati wanita seksi itu untuk Kyra.
Sepertinya Luky dan Kayla tidak sejalan lagi.Dan Luky memutuskan untuk lebih berhati-hati pada Kayla.
Sementara dikediaman Artama.
Erick terlihat sedang menyelesaikan pekerjaannya ditemani Cleo yang duduk disampingnya diruang tengah.
"Sibuk?"tanya Cleo yang melihat Erick sedari tadi mengetik dilayar laptopnya.
"Aku sedang meneliti laporan perusahaan ku yang ada di Thailand,Sayang"jawab Erick tanpa menatap Cleo yang sedang menginginkan sesuatu.
Usia kehamilan Cleo yang sebentar lagi menginjak usia empat bulan masih mempengaruhi nafsu makannya.Ia masih ngidam dan sering muntah dipatuh hari.
Merasa Cleo hanya diam,Erick menoleh menatap Cleo yang bermain ponsel dengan wajah datar.
"Apa kau ingin sesuatu?"Tanya Erick yang baru ingat jika Cleo sering makan dimalam hari.
"Kau Sibuk,jadi tidak usah.Biar aku pesan lewat online saja!"ujar Cleo menahan kesal.
Erick mengulum seyum nya,ia tahu sang istri sedang kesal karena dirinya yang selalu sibuk.
Erick lalu menutup laptopnya dan memegang perut Cleo"Anak Dady mau makan apa?hmmm"tawar Erick menatap Cleo.
__ADS_1
Cleo yang diam saja membuat Erick gemas dan mencium pipinya"Mau makan apa Sayang?Ayo aku antar!"
Cleo menatap lekat mata Erick"Kau selalu sibuk,Aku tidak ingin menganggu mu!"
"Maaf kan aku...Tapi untuk baby ku,apapun dan kapanpun aku selalu siap ada untukmu!"ujar Erick sungguh sungguh.
"Jaga kesehatan mu dan jangan berkerja terlalu keras..Aku dan dia membutuhkanmu!"Ujar Cleo yang membuat Hati Erick menghangat.
Erick terseyum lalu memeluk erat Cleo yang sudah menerimanya sebagai suaminya.
"Sekarang katakan kau ingin makan apa?ini masih pukul 9 kita bisa keluar jika kau mau!"
"Aku ingin pergi ketaman dan makan sate Disana,apa kau mau?"ujar Cleo tanpa ragu.
Erick mengangguk"Ayo kita kesana,tapi pake jaketmu dulu,aku tidak ingin kau sakit!
Cleo pun menurut dan memakai jaketnya.Sementara Erick mengubungi Roy kanan tangannya itu menemaninya dari jauh.Walau bagaimana pun keselamatan nya dan Cleo menjadi yang utama,mengingat banyak musuh diluar sana.
Sementara diRumah sakit.
Marvin,Kian,Gin,Sita dan Dio sedang menemani Kyra yang masih merasakan sakit diperutnya.Sedangkan Yang lain disuruh Marvin untuk pulang termasuk Mamy Jia dan Bu Rani yang nampak sudah sangat kelelahan.
"Kalian tidak lelah,atau kalian ingin pulang kerumahku saja?"tawar Marvin pada Sita dan Dio.
Keduanya Menggeleng pelan"Tidak Kak,Kami memang ingin merawat Kak Kyra.Seperti dulu saat kami sakit,Kak Kyra yang merawat kami"Ujar Sita yang membuat Marvin,Kian dan Gin terharu.
"Selama kami disini,Kamu akan merawat Kak Kyra sebaik mungkin kak"Timpal Dio.
"Terimakasih ya..kalian begitu menyanyangi istriku"jawab Marvin.
"Kalian berlebihan,aku sudah tidak apa apa"ujar Kyra sebal karena semua terlalu over protektif padanya.
"Ky,Menurutlah ini demi kebaikanmu dan bayimu"Ujar Kian yang duduk disofa bersama Gin dan Dio.
Sementara Sita dan Marvin duduk disebelah kanan kiri ranjang Kyra.
Kyra hanya menghela nafasnya,ia harus menurut dulu demi kebaikan nya.
"Apa kau ingin sesuatu Sayang?"Tanya Marvin.
Kyra nampak berfikir sesaat.
Marvin terseyum"Tentu boleh,Sebentar ya aku beliian"Ujar Marvin yang hendak berdiri namun tangannya dipegang Kyra"Tetaplah disini,Biar Sita yang membelikanmu,Kau mau kan membelikan kakak kue?"Ujar Kyra pada Sita sambil mengedipkan satu matanya.
Sita yang awalnya bingung seketika langsung mengerti maksud dari permintaan Kyra.
"Tentu Kak,Tapi aku tidak berani sendiri"ujar Sita jujur.
"Biar Gin yang menemanimu Sita!"Ujar Kian spontan yang membuat Kyra terseyum dan Sita yang senang.Sementaea Gin yang diam hanya bisa terkejut.
"Gin kau temanilah Sita mencati cake Coklat.Kau lebih tahu daerah sini!perintah Kian yang tak bisa dibantah oleh Gin.
"Tolong ya Kak Gin,Maaf merepotkan kakak!ujar Kyra yang tidak enak .
"Iya nona tidak apa apa.Mari Sita,aku temani.!"ujar Gin lalu berjalan keluar.
"Semangat ya...."Ujar Kyra pada Sita saat gadis itu hendak keluar kamar,membuat Marvin dan Kian mengerutkan kening mereka.
"Ada apa?"tanya Marvin bingung.
"Sita menyukai Kak Gin,Kak!"jawab Dio cepat.
Sontak membuat Kian tertawa reyah dan Marvin yang kaget.
"Gadis kecil itu menyukai Gin...wahhh luar biasa...!"ujar Kian yang suka berbicara apa adanya.
"Jadi tadi itu rencananya sayang?"tanya Marvin menyakinkan.
Kyra mengangguk"Kau pikir apa hmmm?Bukankah mereka cocok!"
"Sita masih terlalu kecil untuk Gin,Lagi pula Gin bukankah masih menyukai Icha!"ujar Marvin yang membuat Dio mengetahui hal tersebut dan merasa khawatir pada Sita.
"Tahun depan dia sudah 18 tahun sayang"jawab Kyra.
"Jika Sita bisa meluluhkan Gin yang begitu Dingin itu,berarti Sita gadis yang hebat"Ujar Kian yang masih tak percaya.Gadis itu bisa langsung menunjukkan rasa suka pada Gin meski baru sehari bertemu.
__ADS_1
"Sita itu adikku Kak,jadi dia akan tegar dan kuat seperti aku.Sama seperti saat aku mengejar cinta suamiku ini.Sita juga tidak akan mudah menyerah."Ujar Kyra penuh percaya diri.Marvin hanya mengulum senyumnya.
"Kita lihat saja kedepannya,Kuharap Sita tak kecewa jika Gin sangat sulit didekati."ujar Kian.
Disisi lain Sita begitu senang sekaligus gugup berada satu mobil dengan Gin yang bersikap dingin dan datar.
Dengan keberanian nya Sita melihat Gin"Kak dimana toko kuenya apa jauh dari sini?"
"Lumayan"jawab Gin singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari kemudi mobil.
Sita mengerucutkan Bibirnya,sepertinya Gin memang sulit didekati.Padalah disekolah banyak teman prianya yang menaruh hati dan dengan terang terangan mengejar cintanya.
Sita hanya diam sampai mobil sampai ditoko Bakery yang masih buka.
"Kakak ikut turun kan?"tanya Sita yang diangguki Gin.
Sita dan Gin pun masuk ditoko Kue itu.
Sita pun bingung melihat banyaknya kue coklat yang terpajang.
"Yang mana ya kak..Aku bingung."
"Pilih saja Kue Coklat yang kita kira Nona Kyra suka.Terserah kau saja!"jawab Gin yang lagi lagi berwajah datar .
Sita pun memilih dua kue coklat dengan ukuran sedang dan model yang berbeda.
Gin dengan cekatan mengambil alih paper bag berisi kue itu dari tangan Sita."Biar aku saja yang bawa"
Sita yang termenung melihat Gin yang lebih dulu berjalan tak menyadari ada motor yang hampir menyerempetnya.Dengan langkah lebar dan cepat Gin menarik satu tangan Sita hingga tubuh langsing gadis itu menubruk tubuh kekar Gin.
Sita melebarkan kedua matanya menatap Gin dari jarak dekat dengan tubuh yang menegang.Sungguh hatinya berdebar kuat.
"Kenapa kau selalu ceroboh Sita?"ucapan Gin membuat lamunan Sita buyar.
"Maaf kak..tadi aku tidak melihat ada motor kurir lewat."Ujar Sita semakin gugup.
"Yasudah ayo kita segera kembali ke rumah sakit!"ajak Gin lalu membuka pintu mobil untuk Sita.
"Terima kasih ya Kak sudah menolong ku dua kali!"
"Apa kau selalu ceroboh seperti itu!"ujar Gin datar membuat Sita malu.
Sita menggeleng"Terkadang saja kok"Gadis itu membela diri.
Tak lama mereka sampai di ruangan Kyra.
Kyra terseyum melihat kedatangan Sita dan Gin.
Melihat raut wajah Sita yang aneh,Kyra heran"Apa terjadi sesuatu?"
"Tadi Sita hampir terserempet motor nona!"jawab Gin.
Tentu Kyra merasa terkejut"Kau tidak apa apa kan Sita?"
"Aku baik baik saja kak!"Kyra merasa lega mendengar nya.
"Lain kali hati hati gadis kecil!"ujar Kian yang diangguki Sita.
"Yasudah aku pulang dulu,Kalian menginap disini atau pulang bersamaku?"tawar Kian.
"Kami disini saja Kak!"jawab Dio.
"Baiklah klo itu mau kalian,,Kakak pulang dulu ya Ky,,Jaga tubuhmu dengan baik"pamit Kian.
"Hati hati ya Kak"Kyra.
Kian pun pulang bersama Gin.
Sita yang melihat kepergian Gin merasa sedih,ia hanya bisa menatap pria itu dengan tatapan sendu.
"Gin itu pria yang sangat dingin,jadi kau harus lebih sabar jika ingin mendapatkan cintanya"ujar Marvin pada Sita,tentu Sita terseyum malu karena sudah banyak orang yang tau tentang perasaan nya.
"Kalian tidur ya....ini sudah malam!"perintah Kyra yang diangguki Dio dan Sita.
"Kau juga harus tidur sayang!"ucap Marvin membelai rambut Kyra lembut.
__ADS_1
Sita pun tidur di brankar samping Kyra,Dio tidur disofa dan Marvin tidur disamping Kyra.
Sita begitu sulit untuk terpejam,wajah tampan nan dingin Gin begitu membanyanginya