
Sesuai kesepakatan yang telah disetujui bersama beberapa hari yang lalu.Kini Suryo mulai menjalankan misinya.
Pria paruh baya itu begitu takut dengan ancaman Marvin dan Kian.Ia lebih memilih menghinati Martin yang selama ini sudah memberinya hidup mewah.
Tanpa sepengetahuan Martin dan Abel,Pria bertubuh subur itu mulai mencari berkas berkas bukti penipuan yang disimpan Martin.
Ia juga merekam pembicaraan Martin diruangannya.
Sementara di Kantor BR gruop.
Marvin memicingkan matanya menatap Abel yang datang menemuinya.
Flach Back.
Sesaat sebelum Marvin keluar dari ruangan Kian.
"Lalu apa Abel juga mengetahui kebusukan ayahnya?" Tanya Kian yang tahu Jika Abel berusaha mendekati Marvin.
"Entahlah,Aku belum tahu." Jawab Marvin.
"Bagaimana Kalau kau berpura pura baik dan dekat padanya.Coba kau cari informasi lewat Abel"Saran Kian yang membuat kedua bola mata Marvin membulat.
" Apa kau Gila.......!!Aku tidak mau.Aku tidak ingin membuat calon istriku salah paham.Kau tahu sendiri kan adikmu itu sangat pencemburu."Tolak Marvin.
Kian mendekati Marvin.
"Ayolah ini hanya tipu muslihat.Jika Adikku marah padamu aku akan bantu membujuknya.Ini hanya sebentar saja Marvin.Tapi ingat jangan sampai kau benar benar tergoda padanya.Awas saja kau kalau itu sampai terjadi.Aku sangat tahu Abel itu
wanita seperti apa"
"Iya aku tahu dia wanita yang ambisius dan licik.Sebenarnya aku malas meladeninya,tapi demi tujuan kita Yasudah aku akan berpura pura baik padanya.Tapi ingat janjimu,Jika Adikmu marah kau bantu aku menjelaskannya"
Kian tertawa reyah.
"Okey..aku ingat janjiku"
Flas Back Off.
Marvin meghembuskan nafasnya pelan mengingat kesepakatannya dengan Kian.Jika bukan karena untuk mencapai tujuannya,Ia akan mengusir Abel dari ruangannya saat ini juga.
Marvin mulai menjalankan aksinya.Seyum palsunya ia tunjukkan pada Abel yang duduk disofa.
"Bagaimana kabarmu Abel?Apa ada sesuatu yang ingin kau bahas denganku?bukannya soal pekerjaan sudah selesai" Ujar Marvin yang bersikap biasa.
Abel terseyum lalu bangkit dari duduknya menghampiri Marvin lalu duduk dipinggiran meja dihadapan Marvin.
"Aku kesini hanya untuk menemui Sayang,Aku merindukanmu" Ujar Abel pelan sambil mengusap lembut pipi Marvin.
"Kau tahu bukan aku sudah memiliki calon istri?" Ujar Marvin yang sebenarnya jijik dengan sentuhan Abel.
"Aku tahu....Tapi apa kau puas bermain dengan anak kecil seperti itu.Bagaimana kalau kita bermain dibelakangnya?" Ajak Abel manja.
Marvin mengumpat kasar dalam hatinya.
"Kau ingin menggodaku dan mengajak aku berselingkuh Abel??" Tanya Marvin yang masih bisa menahan amarahnya.
"Yaps...bisa dibilang begitu.Kau mau kan??Aku rindu saat saat bersamamu Marvin." bisik Abel liciik.
Marvin hanya terdiam memandang Abel yang sudah memainkan area dadanya dengan sentuhan sentuhan nakal.Melihat Marvin tidak menolaknya,Abel merasa senang.Wanita itu mengira Marvin menerima ajakannya.
"Aku hanya bisa menemanimu makan Abel selebihnya aku tidak bisa"
Ucapan Marvin membuat Abel merasa lega,Berarti dirinya masih memiliki kesempatan.
__ADS_1
"Okey tidak masalah"jawab Abel.
"Bagaimana keadaan perusahaan Papamu?" Pancing Marvin.
"Semua baik baik saja Sayang,Tidak ada yang perlu dikhawatirkan"
**Bukannya tidak ada tapi belum Abel....Tunggu tanggal mainnya**Gumam Marvin dalam hati.
Abel masih mencoba menempel pada Marvin.Dengan seringai liciknya ia merasa menang dari Kyra.
Sementara Marvin hanya berencana mengajak Abel makan didalam ruangannya,Jika ia keluar bersama Abel,Ia tak ingin Mita dan Icha tahu dan memberi tahukan pada Kyra.
"Lalu apa tander yang sedang dikerjakan Papamu?Aku ingin bekerja sama dengannya jika sudah ada waktu yang tepat" ujar Marvin yang sudah duduk disofa bersama Abel menunggu pesananan makanan.Untung hari ini Kyra tidak bisa datang karena Kian sengaja memberinya tugas agar ia tak bisa datang kekantor Marvin.
"Hmm aku tidak tahu.Tapi Papa akan sangat senang jika kau mau bekerja sama dengannya." Ucap Abel senang.
Setelah acara makan selesai,Abel pamit pergi.
Marvin bernafas lega dan mengumpat pada Kian.Karena ide gilanya ia harus berurusan lagi dengan Abel dan tidak bisa bertemu Kyra.
Keesokan harinya.
Marvin sedang berada dikantor Kian bersama Dika.
"Suryo kemarin memberi informasi pada orangku"Ujar marvin.
" Apa?"tanya Kian yang duduk dikursi kebesarannya.
"Abel sengaja ingin mendekatiku atas perintah Papanya.Mereka berusaha mendapatkan perusahaanku,Suryo juga sudah merekam pembicaraan Marrtin diruangannya." Ujar Marvin serius.
Kian tertawa ringan.
"Aku sudah menebak itu...Martin adalah orang licik jadi tidak heran jika dia memanfaatkan putrinya untuk meraih tujuannya.Lalu apa kau sudah melakukan tugasmu?"
"Hahahahaha......."Kian tertawa kencang.
Marvin yang kesal melempar bolpoin kearah Kian.
Ceklek.....pintu terbuka,Muncul Kyra yang terseyum lebar.
Kyra yang mengetahui kedatangan Marvin keruangan Kian lewat Della langsung beranjak menuju ruangan Kakaknya itu.
Kian seketika menutup mulutnya.
" Haaloo Sayang......"Sapa Marvin lalu memeluk Kyra.
"Sejak kapan kau disini?" Tanya Kyra.
"Oh baru saja" bohong Marvin.
Kyra mengerutkan keningnya dan merasa curiga karena akhir akhir ini Marvin sering menemui Kakaknya.
"Apa ada perkerjaan penting yang sedang kalian kerjakan bersama?Tanya Kyra menyelidik.
Kian segera memberi kode pada Marvin untuk diam,Ia tak ingin Kyra tahu dulu soal Abel dan papanya.
Marvin menarik Kyra untuk duduk disofa.
" Tidak.ada,aku hanya ingin mengobrol.soal bisnis dengan Kakakmu.Iya kan Kian?"Ujar Marvin lalu melihat kearah Kian.
"Iya Kyra,Kami hanya saling berbincang mengenai bisnis,Itu saja" Timpal.Kian menyakinkan Kyra.
Kyra manggut manggut pelan.
__ADS_1
"Bagaimana pekerjaanmu Sayang?Apa Kakakmu ini memberimu tugas yang banyak?Jika Iya aku akan memukulnya karena sudah membuatmu lelah" Ujar Marvin sambil mengusap lembut Kepala Kyra.
"Tidak,Tugasnya hampir sama saat aku bekerja didivisi keuangan dulu DiBR group.Hanya saja aku sedikit pusing jika terlalu lama melihat angka angka yang banyak itu" Kyra berkata sambil memeluk tubuh Marvin.
Kian hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sifat manja adiknya.
"Oh ya Mamy Bilang,Besok kita kebutik untuk memesan Gaun pengantin"
"Hemm Mamy sudah menghubungiku tadi" Jawab Kyra.
"Besok kau pergi duluan ya sama Mamy,Aku akan Menyusul,Karena aku masih ada urusan penting"
''Iya Tapi jangan lama lama ya.Dan jangan lupa Wekeend Kita kePanti!"
"Okey Sayang,Aku tidak lupa."
"Apa kau sudah Makan tadi siang?" Tanya Kyra yang beberapa hari ini tidak bisa datang keBR group saat makan siang.
"Sudah Sayang,Kau sendiri?"
"Aku tadi juga sudah makan bersama Della,Tapi nanti pulang kerja temani aku ya makan ice kream"ucap Kyra.
"Okey,Nanti aku akan menjemputmu.Aku kembali kekantor dulu ya Sayang"
Cup.......Marvin mencium kening Kyra sebelum pergi dari ruangan Kian.
"Hati hati ya..."
Kyra terseyum lebar melihat kepergian Marvin.
Kyra lalu menoleh kearah Kian yang sudah fokus pada layar laptopnya.
"Kak.....".
" Hmmmm"Jawab Kian tanpa menoleh.
"Apa ada yang kalian sembunyikan dari aku?Selidik Kyra yang ternyata belum percaya 100%.
Kian menatap adikknya lekat.
" Tidak ada Kyra.Hanya saja aku dan Marvin sedang merencanakan suatu proyek besar yang akan membawa kemajuan dihidup kita"Ujar Kian yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Proyek besar??" kening kyra mengerut.
"Iya,Nanti kapan kapan Kakak akan memberitahumu.Lebih baik kau fokus saja pads tugasmu"
Kyra mengangguk
"Lalu bagaimana hubungan Kakak dengan Mita?"
"Masih seperti Biasa" Jawab Marvin ringan.
"Issss....dasar tidak peka.Harusnya Kakak sering menghubungi dan mengajaknya keluar"
"Kakak tidak ada waktu Kyra,Kakak terkalu sibuk" Sanggah Kian yang sebenarnya bohong.Ia hanya sedang menyakinkan dirinya sendiri tentang perasaannya pada Mitta.
"Ck.....itu hanya alasan Kakak saja.Kalau begitu biar aku suruh Mita balikan lagi aja sama kak Tio mantannya" ujar Kyra sengaja memancing Kian..
Seketika Kian mendelik."Jangan macam macam Kyra"
"Kakak tuh maunya apa sich......Mita tuh sahabat aku Kak.Susah seneng dari dulu kita lewati bersama jadi wajar jika Kyra ingin Mita bahagia Kak.Terserah Kakak sajalah,Aku pergi dulu...." Ujar Kyra lalu kembali keruangannya.
Kian termenung memikirkan ucapan Kyra,Kian merasa semakin dilema dengan hatinya.Ia juga tak bisa membiarkan begitu saja Mita bersama pria lain.
__ADS_1