
Sudah 3 karung besar daun ubi jalar yang terkumpul, dengan menumpang mobil pickup tetangga yang kebetulan lewat untuk membawa daun ubi jalar serta ubi kayu sebanyak 4 karung.
Tidak berapa lama akhirnya sampai juga di depan rumah, supir pickup dan juga Kernek nya membantu ku mengangkat cemilan ternak ku itu.
Selesai diangkat ke belakang rumah, Ku salam kan tiga lembar uang sepuluh ribu sebagai ucapan terimakasih.
Sebelum merapikan cemilan ternak tersebut, terlebih dahulu Ku masak makan malam ternak. dan kemudian membersihkan kandang.
Makan malam ternak sudah masak tinggal menunggu Dingin dan kandang sudah bersih, cemilan ternak Aku rapikan dan setelah itu melihat bibit sayuran yang sudah ku semai.
"uhm.... bibit cabe sudah tumbuh, saatnya cek tanaman lainnya."
Berbicara dengan sendiri untuk mengusik rasa kesepian. rasanya senang banget karena tanaman sayur Ku tumbuh subur.
Srek.... srek.... srek....
Terdengar suara Orang menyapu dari arah kandang ternak, dan setelah ku dekati ternyata Mamak yang menyapu.
"eh Mak, kapan datangnya?" ujar Ku basa-basi.
"barusan, mamak hanya kangen aja melihat Mu. kamu hebat ya sayang, sudah tahu aja cara berternak dan bertani." ucap Mamak dan kemudian tersenyum.
"biasa aja Mak, di ajarin tulang pak Saor dan juga Nantulang. oh iya Mak, anak bapak kepala katanya mau martuppol (tunangan) Mamak mau ku jahit kan Kebaya? Nantulang Mak Saor sudah Tiur jahitkan Mak."
"mau lah, bentar ya biar mamak yang kasih makan ternak mu ini." jawab Mamak.
"Mak... Tiur mau mandi dulu ya, nanti Mamak Tiur susul ke ruangan jahit."
Mamak hanya mengganguk kepala dan Aku berlalu ke rumah, begitu di dapur Ku lihat ada rantang diatas meja makan. pasti itu Mamak yang bawa.
Tanpa membuka rantang aku langsung meraih handuk yang Ku jemur di dekat pintu masuk dapur lalu mandi.
Selesai mandi dan berpakaian, selesai mengeringkan rambut langsung Aku temui Mamak yang sudah duduk didepan meja jahit Ku.
__ADS_1
"Mak... langsung Tiur ukur aja ya."
Mamak hanya mengganguk dan langsung aku ukur Badan nya untuk keperluan membuat Kebaya. tidak seperti mengukur badan Nantulang Mak Saor serta Saor, saat itu kami bercanda tapi Mamak Ku hanya terdiam selama Badannya aku ukur.
Bahkan sampai selesai mengukur badan Mamak kami masih terdiam dan akhirnya selesai juga.
"Mamak mau teh atau Kopi?"
Aku bertanya ke Mamak untuk mengusik rasa canggung diantara kami berdua, lagi-lagi Mamak hanya terdiam. tapi aku langsung ke dapur untuk membuat teh untuk Mamak.
Teh dalam nampan aku sajikan untuk Mama, dan secara perlahan Mamak meneguknya dan kemudian meletakkan gelas itu di atas meja. tapi ada yang aneh, air mata Mamak langsung mengalir membasahi pipinya.
"Mamak mintak maaf iya Inang (panggilan orang tua kepada anak perempuan nya), coba saja Mamak ngak berbohong, pasti semua ini ngak akan terjadi."
Kata Mamak dengan suaranya yang bergetar karena menangis saat bicara, hanya bisa memelukNya untuk membuat Nya lebih tenang.
"Mak.... sudah ya, jangan nangis lagi. semua sudah terjadi dan Tiur ikhlas menjalani Nya, lihat dong Tiur kuat kan Mak."
"Tiur... jika kamu ngak kuat silahkan lari, biar Mamak yang akan menanggung beban adatnya, Mamak ngak sanggup melihat Mu seperti ini."
"Mak... Tiur ngak apa-apa kok, Mamak berdoa aja untuk kebahagiaan Tiur ya."
Dan lagi-lagi mamak menangis di hadapanKu, sampai akhirnya Mamak kembali tenang lagi dan kemudian memelukku.
"Tiur.... Mamak mendukung Mu sayang, mamak akan menerima semua akibatnya. pikirkan baik-baik tentang nasib mu dan masa depanmu dan Mamak akan menunggu jawaban Mu."
Kata Mamak yang masih memelukku, dan kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Mataku dengan tatapan Sendu dari seorang ibu.
"di dapur sudah Mamak bawa ikan dan sayur untuk mu ya, jaga kesehatan dan buat keputusan."
Ujar Mamak dan kemudian pulang tanpa menolehku, setelah mamak agak jauh barulah pintu Ku tutup dan aku menangis sejadi-jadinya.
Saat itu bapak menelpon Ku, mengabari kalau mamak sedang sakit parah. dan tanpa bertanya lagi Aku langsung pulang dan ternyata mamak dalam keadaan baik-baik saja dan Aku dinikahkan dengan bang Andri, pariban Ku sendiri. (anak kandung dari saudara perempuan Bapak).
__ADS_1
Bapak menjelaskan kalau Aku sudah dijodohkan dengan bang Andri sejak Kecil dan menerima pertanda Adat berupa dua ekor kerbau dan ulos.
Bagi keluarga, itu adalah adat besar atau Hutang Adat yang harus dibayarkan dengan cara melaksanakan pernikahan.
Kalau ada yang ingkar, maka pihak yang ingkar akan membayar tiga kali lipat serta membuat suatu acara adat yang memakan biaya banyak.
Hutang Adat yang disepakati oleh Oppung (orang tua dari bapak) dan mahar 300 juta, bagaimana caranya aku meninggalkan Mamak menanggung semua Nya.
Biarlah semuanya berjalan dengan semestinya, dan inilah jalan yang harus ku tempuh.
Sudah berjam-jam aku terduduk di ruang tamu ini untuk menunggu bang Andri pulang, hingga akhirnya aku tertidur di ruang tamu ini.
Kemudian terbangun karena mimpi yang menyangkut cintaku yang di perantau nan jauh di sana, sementara Aku terpuruk dengan nasib yang tragis.
Jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam dan bang Andri tidak kunjung pulang, karena tidak bisa tidur akhirnya aku putuskan untuk menyelesaikan jas Tulang pak Saor.
Akhirnya selesai Juga dan kemudian ku setrika menggunakan setrika uap untuk membuat lekukan jas Nya, selesai dan ku gantung menggunakan hanger.
Ternyata sudah jam 3 pagi dan ku lanjutkan memotong bakal kain untuk kebaya Mamak. modelnya sudah selesai Ku buat nantinya akan fitting dulu.
Sudah setengah enam dan Ku bereskan jahitan, setelah itu memasak nasi dan beres-beres.
Selesai menghangatkan ikan dencis sambal yang dibawa Mamak, dan langsung menuju belakang rumah untuk memasak makanan ternak. tanda-tanda bang Andri pulang belum juga ada.
Mungkin Karena hari ini adalah hari Minggu, jadi mungkin saja pulang gereja nanti bang Andri pulang ke rumah.
Setelah selesai mengurus ternak langsung mandi dan bersiap-siap untuk ibadah Minggu, dengan berjalan kaki menuju rumah ibadah yang hanya butuh waktu 12 menit saja.
Di pintu rumah ibadah banyak mata tertuju kepada Ku, dan mulut yang terlihat komat-kamit tapi itu semua aku acuhkan, aku datang ke rumah ibadah ini untuk memuji dan memuliakan nama Tuhanku dan bukan untuk melihat dan mendengar ocehan dari orang-orang itu.
Ternyata Bang Andri dan Mamaknya duduk di bangku belakang Ku dan aku tidak fokus beribadah karena Mamaknya bang Andri sibuk menjelekkan dengan ibu-ibu teman sebangkunya.
Karena merasa tidak nyaman, Aku berdiri dan akhirnya pulang. percuma berada di dalam rumah ibadah jika Aku tidak konsentrasi kepada Tuhanku Karena mulut liar ibu mertuaku.
__ADS_1