MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Martuppol.


__ADS_3

Tepat pukul 5 pagi, kamarku sudah di gedor oleh Mamak. Elazer masih tertidur di temani Mamak dan itu kesempatan Ku mandi.


Mbak Nindy kakak Asuhnya Elazer sudah tiba di kamar ini, dan Nindy sudah menyiapkan alat pompa ASI serta tempat Nya.


Karena Nindy sudah bangun, Mamak pergi ke kamarnya Lisa untuk makeup. karena hari ini adalah acara Martuppol Nya Lisa dan Pangeran.


Tepat pukul 6 kami sudah siap, undangan dari kampung juga sudah tiba. berhubung ini masih Martuppol maka hanya 1 bus kira-kira berjumlah 20 lebih lah.


Jam 7 tepat kami sarapan bersama, dan setengah sembilan Pangeran sudah tiba di rumah ini beserta dengan rombongannya. lumayan Banyak, karena tidak muat di rumah sebagian langsung menuju Gereja yang tidak jauh dari kompleks ini.


(Acara Martuppol atau bertunangan, penatua marga dari pihak kedua mempelai berhadapan dan saling berpantun atau maruppasa, Pemangku Adat kampung kami menjadi Penatua untuk pihak keluarga kami.


selesai Acara sambutan lanjut doa yang di pimpin oleh pihak parboru dan bapak yang memimpin doa Nya, barulah kami berangkat ke gereja.)


Sesampai di gereja, pihak parboru (keluarga mempelai wanita) di pisahkan dengan pihak paranak (keluarga mempelai pria).


Acara pertama adalah kebaktian sebagaimana biasanya, dan kemudian lanjut kotbah. setelah itu sesi bertanya, Pendeta bertanya kepada kedua calon mempelai apakah masih ada hubungan lain dengan pacarnya masing-masing.


Setelah kedua mempelai menjawab tidak ada lagi hubungan spesial masing-masing dengan orang lain di lanjutkan dengan pengucapan janji pernikahan. kedua Calon mempelai membubuhkan tandatangan Nya serta kedua orang tua calon mempelai, terakhir saksi dua orang dari kedua calon mempelai dan di akhiri oleh Pendeta.


Setelah itu pendeta mengumumkan kalau pernikahan 2 Minggu dari sekarang, harus ada dua kali ibadah Umum di Gereja ini baru bisa di berkati. dan itu sudah sesuai dengan undangan yang tersebar.


Penutupan Ibadah dan kata sambutan dari masing-masing perwakilan calon mempelai, dan kemudian berangkat ke wisma atau gedung untuk Acara adat selanjutnya.


Disinilah parboru yang memberi makanan kepada semua tamu, dan untuk biayanya itu tergantung kesepakatan.


Dalam hal ini,sesuai kesepakatan biayanya di tanggung oleh paranak (keluarga calon mempelai pria) dan atas Nama parboru (keluarga calon mempelai wanita).

__ADS_1


Acara pertama adalah upa-upa kepada kedua calon mempelai, ikan mas arsik yang paling besar dan harus berwarna emas. setelah itu lanjut doa makan dan makan bersama-sama.


Selesai Makan acara lanjut dengan pembagian jambar (potongan daging babi berdasarkan bagian tubuh, dan diserahkan kepada keluarga berdasarkan urutan Marga dan sisilah keluarga.


Dalam acara Adat Batak jambar ini adalah hal vital, jika salah urutan dan bagian tubuh ternak, bisa-bisa berantam karena merasa tidak di hormati.


Daging yang di dapat tidak banyak, tapi itulah Adat. biasanya ini dilakukan oleh Penatua Marga yang sudah berpengalaman**.)


Acara selanjutnya adalah tawar menawar Sinamot (Mahar) jika sudah kesepakatan terlebih dahulu, maka pihak paranak menyampaikan itu dihadapan parboru, biasanya ada kenaikan Sinamot.


Sinamot yang disepakati saat marhori-hori (memperjelas hubungan kedua calon mempelai) dingding adalah senilai 20 juta Rupiah, setelah tawar menawar oleh Pemangku Adat dari kampung ini sebagai perwakilan keluarga kami akhirnya Sinamot jadi bertambah menjadi 35 juta Rupiah.


Alasan Kenaikan Sinamot Nya adalah karena keluarga kami sebagai keluarga calon mempelai wanita sangat banyak. dan semuanya di kampung jadi butuh dana untuk ongkos ke Medan saat Acara pernikahan.


Selanjutnya adalah penyerahan Sinamot kepada Mamaknya calon mempelai wanita, dalam tradisi Batak yang menerima Sinamot adalah Mamaknya mempelai perempuan.


(Sinamot di taruh dalam piring, urutan Nya adalah beras, yang melambangkan bahwa calon mempelai pria manghidupi atau menafkahi calon istrinya serta anak-anak nantinya.


kedua adalah Tiga lembar daun sirih, yang artinya calon mempelai pria sudah menjaga istri dan anak-anak nya kelak, sirih melambangkan kesehatan, kesetiaan dan kemakmuran. karena sirih sangat bermanfaat itulah sebabnya daun sirih di pilih untuk melengkapi acara Adat Martuppol ini.


yang ketiga adalah sepotong daging mentah, itu biasanya adalah daging babi atau daging kerbau, ini melambangkan calon mempelai pria adalah pria sejati dan kuat.


Siap memberikan nutrisi yang baik dan lengkap kepada keluarganya kelak, daging ternak melambangkan kemewahan. karena daging adalah sumber protein dan vitamin)


Selanjutnya adalah pembagian Sinamot Kepada keluarga calon mempelai perempuan, sebenarnya tidak banyak, yang di terima mulai dari uang 2 ribu, lima ribu dan 10 ribu.


Disini juga harus hati-hati, jika salah pemberian nominal uang bisa-bisa berantam. dan itu dilakukan sesuai dengan aturan Adat.

__ADS_1


Kemudian acara pembicaraan urutan tatanan Acara adat saat Acara Adat pernikahan Sembari menikmati Snack dan minum Kopi.


dan acara ini yang paling lama, karena membahas urutan Adat, jumlah ulos yang akan diberikan kepada keluarga paranak, hingga tatanan urutan sisilah keluarga.


Disini juga pihak parboru menuntut paranak untuk menyediakan sarapan kepada paranak saat rombongan parboru tiba di acara pesta, dan disini juga parboru mintak sesuatu hal yang di butuhkan.


Mulai dari tambahan biaya transportasi, Makanan nya harus layak dan sebagainya. nah disini terjadi lagi tawar menawar.


Agak ribet tapi unik, jika sudah mencapai kesepakatan acara selanjutnya adalah pemberitahuan akan Sistem penjemputan calon mempelai wanita Nya.


Berhubung rumah kami tidak jauh dari rumah mempelai pria maka saat acara pernikahan Nanti, mempelai pria dan rombongannya akan menjemput mempelai wanita ke rumahnya dan tentunya memakai adat lagi.


Uang lagi uang lagi, tapi disini keluarga calon mempelai pria menyanggupinya. setelah itu adalah acara terakhir, yaitu Mamaknya calon mempelai wanita memberikan Nasi berserta lauk Pauk kepada Mamaknya calon mempelai pria di dalam tandok (wadah yang biasanya dari anyaman pandan).


Dan hal calon mempelai wanita Nya menaruhnya dalam kepalanya kemudian menyerahkan Kepada calon ibu mertuanya.


Sesuai kesepakatan, calon mempelai wanita belum bisa dibawa oleh calon suami Nya. dan kami rencananya akan pulang ke rumah.


Karena pantang bagi kami berkeliaran setelah acara Martuppol ini sebelum pernikahan terlaksana.


Acara adat yang begitu panjang dan memakan waktu dan biaya yang banyak, karena bagi orang Batak pernikahan itu sifatnya sakral sekali seumur hidup.


Biaya, waktu dan tenaga yang akan di korban demi terwujudnya sebuah pernikahan yang berbahagia.


Sebenarnya bisa saja tanpa Adat, dan tanpa Sinamot, Martuppol kemudian Acara pemberkatan dan mendaftarkan pernikahan di catatan sipil. sudah sah kok.


Tapi jika tidak melaksanakan Adat, itu akan menjadi Hutang Adat. kelak Nantinya tidak bisa membuat pesta adat untuk anak-anaknya sebelum membayar Adat.

__ADS_1


Adanya stigma dari masyarakat atau pandangan negatif dari masyarakat lainnya bagi pernikahan tanpa Adat.


__ADS_2