MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Sidang Adat Lanjuttan.


__ADS_3

Tanpa terasa hari sudah menjelang sore, dan lapak menjahit sudah siap di gunakan. Tulang Pak Rado memberikan kuncinya.


Mamak masak di dapur, sementara Aku nyuci dan kemudian Mandi. selesai semua itu kami berdua sama-sama makan malam di meja makan yang sederhana pemberian dari Tukang Pak Saor.


Selesai makan dan nyuci piring, bersama Mamak di ruang tamu sambil menonton televisi, dan Mamak mempayet kebaya miliknya di sela-sela iklan dari sinetron yang kami tonton.


tok ... tok... tok.... ' suara pintu diketuk seseorang dari luar.


"Eda Mak Tiur.... oh ... Eda Mak Tiur......... " itu seperti suara si mulut Jabir, iya siapa lagi Kalau bukan ibu mertuaku.


"ngapain si setan itu datang?" tanya Mamak dengan Suara pelan.


Tanpa menjawab pertanyaan Mamak, aku hanya mengintip melalui lubang kecil yang ada di jendela besar itu.


"Mak.... si mulut Jabir bawa rombongan."


Seketika Mamak langsung membereskan Kebaya yang dipakainya beserta peralatan Nya dan mengambil sarung kemudian memberikan nya kepadaKu.


Tradisi di kampung kami ini, jika ada rombongan adat datang. semua perempuan penghuni rumah wajib menggunakan sarung untuk menghormati Pemangku adat dan rombongannya.


"Horas (ucapan salam ) Inang Mak Tiur....."


"Horas amang raja Huta (Pemangku adat) " mamak menjawab salam dari Pemangku adat.


Bang Andri yang kepalanya dibalut perban hadir bersama kedua orang tua nya dan juga Gabe, Pemangku adat, Natua-tua (penatua atau orang tua yang dianggap bijaksana) dari pihak marga Bapak, dan juga pihak marga keluarga suami.


Tulang pak Saor datang bersama rombongan yaitu Natua-tua marga, beserta beberapa tetangga sebagai pendamping dan kali ini, kepala desa dan kepala lingkungan (pak RT) sudah hadir.


Soar bersama Indah dan Rani yang turut hadir langsung menuju dapur yang di temani oleh Nantulang Mak Saor, untuk membuat minuman berupa kopi.


"Inang Mak Tiur, pak Tiur. apalagi tu ho pak tu ho pak Tiur. Sian na uju i nungga hupasingot ho amang, Unang baen tading-tading ni borum dohot anak mu. Alana Gabe Bagas nabarnit do tu gelleng mu haduan.


(Mak Tiur dan pak Tiur, terutama untuk MU pak Tiur. dari awal sudah ku peringatan kepadamu, jangan buat perjanjian adat mengenai perjodohan anak-anak Mu. karena itu akan menjadi bumerang bagi mu dan terutama untuk anak-anak Mu).

__ADS_1


Ucap Oppung Doli Sanggap, (Cucu pertama Nya bernama sanggup, oppung Doli\=kakek). oppung Doli Sanggap adalah adik kandung oppung Doli kami. atau adik kandung dari Bapaknya nya bapak.


"Alai dang adong utok-utok Mu, las boi ho pak Tiur di rajai ibotom. alani Hepeng 20 juta Sian ibotom Laho mangelek si Tiur gabe parmean ni ibotom na su mamboto tumbuna.


(tapi ngak ada otak mu pak Tiur, bisa kau di manfaatkan oleh kakak mu sendiri hanya karena uang 20 juta untuk menjadikan Tiur menjadi menantu kakak perempuan kau yang rada-rada sinting itu).


Di Dok ho pak Tiur Hepeng Sian Anggim par Kalimantan, tung jelas do taboto anggimi marikkor do bolo Sian parhepengon, Alana hamu Pe jolma nasaoda do alai si ginjang roha dohot pamangus.


(kau bilang pak Tiur, uang yang 20 juta dari adikmu yang tinggal di Kalimantan. tapi sudah jelas kita tahu kalau adikmu itu juga manusia yang miskin harta, kau pak Tiur juga berasal dari keluarga yang miskin tapi tinggi hati, sombong dan sok kaya.)


tung aha pe annon Alus ni inang Mak Tiur, ba taon pak Tiur. jala Rade do au manjalo si pangalean ni parsinonduk mu. mulai Sian najolo nahusundati do Mak Tiur asa Unang di tinggalhon ho pak Tiur.


(apapun jawaban dari Mak Tiur, ya terima aja lah. apapun yang diberikan oleh Mak tiur saya terima, asal kau tahu pak Tiur. saya yang membujuk istrimu supaya tidak mintak cerai dari kau karena perbuatan mu dan Mamak mu, semua itu demi anak kalian)"


"amang oppung Doli Sanggap, sekarang kita beralih dulu ke masalah Tiur. untuk masalah pak Tiur dan Mak Tiur nanti kita bahas.


Andri.... sebagai Suami, apa yang akan kau sampaikan kepada istri mu?"


Tapi Suamiku malah menoleh ke arah Mamaknya yang duduk disampingnya dan hal membuat Pemangku adat terlihat kesal.


"Andri.... asyik Mamak kau yang kau tengok, sini kau duduk cepat. ntah kapan kau bisa lepas dari Mamak kau.


Untung kau bukan anakku, kalau kau jadi anak ku sudah ku buang kau ke danau Toba sana. biar mati dan menjadi makan ikan mas.


sini kau............."


Ucap Pemangku adat dengan nada suara yang tinggi karena emosi melihat bang Andri yang hanya bisa bergantung ke Mamak Nya.


"Andri.... mau Selesai gak perkara kau ini? gara-gara masalah mu dan keluarga Mu, Raja Huta (Pemangku adat) meninggal acara adat pernikahan anak ku.


Cepat kau duduk di samping Raja Huta (Pemangku adat), kalau kau masih mau acara ini kita lanjutkan."


Kali ini kepala desa yang emosi karena bang Andri tidak kunjung bergerak dari samping Mamaknya, tapi lucunya Mamaknya tidak bergeming.

__ADS_1


Setidaknya menyuruh anaknya pindah posisi atau apa Gimana gitu? Mamak dan anak sama saja gendeng Nya.


Akhirnya bang Andri duduk disamping raja Huta (Pemangku adat), dan tidak bisa menoleh ke arah Mamaknya.


"ngomong Andri, jangan diam saja. jangan buat masalah bertambah runyam dan berlarut-larut." ujar Kepala Desa untuk mendesak Bang Andri.


"uhmmm.... saya tidak mau pisah dari Tiur. dia harus tetap jadi istriku." ucap bang Andri yang akhirnya buka mulut.


"Tiur.... pahoppu Ku (Cucuku) apa tanggapan Mu pahoppu?"


"Saya ingin bercerai oppung, karena jika bang Andri masih di ketiak Mamaknya, Tiur ngak yakin kalau bang Andri bisa menjadi suami yang bisa di andalkan.


Oppung masih ingat dengan kesepakatan waktu di rumah kami?


Saat itu bang Andri sudah membuat kesepakatan, kalau bang Andri akan memberikan semua gajinya saya pegang dan akan hidup mandiri.


Tapi itu hanya tinggal janji Oppung, gaji bang Andri tetap diberikan nya kepada Mamak nya, dan uang yang diberikan oleh amang Simatua di ungkitnya, padahal jelas-jelas itu untuk modal usaha. syukur nya masih bisa Aku kembalikan.


Seharusnya bang Andri memberikan nafkah kepada Tiur sebagai istrinya, tapi malah dia mintak uang dari Ku untuk uang sakunya, kata bang Andri itu perintah langsung dari Mamaknya.


Saya sudah masak, nyuci dan memberi makan ternak. setelah itu baru aku bangun kan bang Andri untuk kerja, bang Andri sudah terbiasa makan di tempat tidur sebelum mandi.


Dan bang Andri ingin saya melakukannya seperti yang lakukan Mamaknya kepadanya. Oppung Raja Huta, ini sangat luar biasa.


sudah tidak memberi nafkah kepada istrinya, malah menuntut untuk dilayani seperti raja. jika saya menolak permintaan Nya maka bang Andri akan mengadu ke Mamaknya Nya. dan berkata lain dari keadaan yang sebenarnya.


Sumpah demi apapun Oppung raja Huta, saya tidak pernah menyuruh bang Andri beres-beres rumah atau memperhatikan ternak ku yang dibelakang.


Tapi aduan nya Kepada Mamaknya demikian. apa pantas seorang suami mengadu kepada Mamaknya?


jika Istrinya salah, ya nasihati. bukan malah ngadu ke mamak dengan mengada-ada. dan ini pertama saya lihat, seorang suami mengadu kepada Mamaknya. dimana-mana itu iya, biasanya seorang istri yang mengadu ke orang tua Nya"


Ku utarakan semua unek-unek Ku, bapak mertuaku terlihat begitu tertekan dan sedari tadi hanya menunduk dan terdiam.

__ADS_1


__ADS_2