
Maria memeluk Bapaknya karena menangis setelah mendengar penuturan dari Uli, hatinya seperti terkoyak mendengar penderitaan dari putri Nya.
"Eda Mak Elazer, saya dan kakak Ku yang lainnya bernasib sama.
Sebelum aku menikah, aku temui kak Iren di kediaman nya. tepat nya di biara belakang gereja katolik.
Masa lalu kak Iren yang begitu banyak tantangan nya menjadikan nya hanya ingin mengabadikan dirinya kepada Tuhan saja.
Kak Iren sudah jenuh dengan kehidupan dunia yang tidak pernah berpihak kepadanya, kak Iren menemukan kehidupan yang tenang dan damai setelah menjadi pelayan Tuhan di dunia ini.
Kehidupan duniawi di tinggalkan oleh kak Iren, kakak yang cantik itu benar-benar berdamai dengan hatinya dan menjadi biarawati.
Aku belajar banyak hal dari kak Iren, lupakan masa lalu dan buat kehidupan yang baru.
Kak Iren sudah memaafkan di dalam dirinya dan juga doanya.
Sebenarnya minggu depan kak Iren ingin menjenguk mamak dan bapak di kampung, kak Iren ingin mengakui dosa-dosanya di hadapan mamak dan bapak.
Kak Iren benar-benar seorang kakak yang menjadi pedoman dan sebagai pembelajaran, kak Iren tidak punya hasrat lagi untuk duniawi.
Sekalipun kak Iren tidak mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya di dunia ini, tapi kak Iren mendapatkan kasih sayang yang dari Sang Maha Pencipta.
Aku hanya belajar ikhlas dan bersyukur, dan itu benar-benar membuat tenang dan bahagia.
memulai hidup baru dengan penuh rasa syukur dan akhirnya aku dipertemukan Tuhan dengan bang Domu, Bapaknya Daniel.
Pria yang baik dan bertanggung jawab, cinta kasihnya kepada Ku serta anak-anak yang membuat benar-benar bahagia."
Ucap Uli seraya menghapus air matanya, begitulah kisah nya yang penuh dengan perjuangan.
"seperti yang di sampaikan oleh Uli, mamak nya Daniel, kalau nasib kami hampir sama.
Mamak juga memperlakukan calon suami sedemikian rupa, di peras atas nama Sinamot (Mahar) yang tidak masuk akal.
Sama seperti Mak Daniel, jika calon itu memenuhi permintaan mamak, aku tidak membayangkan jika aku jadi istri di keluarga itu.
Mungkin aku bernasib sial, dan aku tidak itu terjadi. jalan satu-satunya adalah lari dari kampung, alias dari kenyataan.
Toh juga Sinamot yang besar hanya untuk dipergunakan untuk kepentingan si Andri, sementara aku menanggung Nya seumur hidup dalam pernikahan.
__ADS_1
Selama kerja di Batam, aku selalu mengirimkan uang ke mamak karena di mintak untuk balas jasa karena mamak merawat ku sejak kecil.
Jujur ya, hidupku dulu merasa tidak adil. kami anak-anak perempuan bapak dan Mamak hanya bisa melihat Andri yang sangat di sayangi.
Pernah suatu ketika Aku dan kak Devi ingin membunuh Andri dengan menenggelamkan nya di sungai.
Tapi hati ini tidak tega juga, biar bagaimanapun Andri itu adik kami.
Andri sangat suka mengadu ke Mamak dengan aduan yang berbeda dari kenyataan nya."
"benar kata kakak, dulu aku disuruh mamak untuk menjaga si Andri.
saat itu ada yang jualan mainan, Andri mintak di belikan tapi aku punya duit.
Andri menangis sejadi-jadinya dan mengadu ke mamak, katanya aku merampas uang nya dan mencubit sekuat tenaga Ku.
Bersumpah demi apapun, aku tidak melakukannya.
Mamak memukul dengan rotan dan itu sangat perih dan sakit, dan Andri yang melihat Nya hanya tersenyum seolah-olah puas ketika aku di siksa oleh mamak. syukur nya kak Devi saat itu membela Ku dan pada akhirnya mamak menghajar kami berdua.
Tengah malam nya, aku tidak bisa tidur. karena perihnya pukulan mamak di punggung ku, kak Devi juga demikian.
Kakak Mak Alex yang menabur minyak param (minyak dari olahan kelapa dan rempah-rempah untuk mengobati bekas lebam atau gigitan serangga).
Setelah di oleskan minyak param itu, barulah kami berdua tertidur di pelukan kak Mak Alex.
Bukan sakit di tubuh ini, tapi sakit di hati ini, jiwaku meronta-ronta batinku terasa perih.
Semua itu karena Bapak dan Tulang (bapakku sendiri yang dulu sangat membela Mak Iren dan Andri). ikut-ikutan mengalahkan kami berdua.
Aku dan kak Mak Alex disalahkan karena tidak becus mengurus si Andri anjing itu.
Ada suatu hal yang hati ini sangat sakit dan terasa tersayat-sayat, ketika menjelang Natal.
Aku sangat iri melihat si Bintang, Boru tetangga rumah kami.
Bapaknya mengajaknya untuk membeli aksesoris Natal yang sangat cantik-cantik, dan mereka berdua tertawa bersama karena bahagia.
saat-saat itu yang membuat hatiku sangat pedih, mereka tertawa sementara aku menangis.
__ADS_1
Dulu juga aku iri terhadap mu Mak Elazer, saya tahu kalau bapak kita berdua sama-sama tidak perduli kepada boru (putrinya) nya, tapi kamu Eda Mak Elazer. masih punya Tulang dan Nantulang (Paman dan bibi) serta bou (panggilan kepada istri dari Paman atau tulang, saudara laki-laki dari pihak mamak) yang sangat menyayangi mu.
Berbeda dengan kami, tidak seorangpun yang mengasihi kami.
Sakit sungguh sakit, perih dan amat teramat perih. "
Ujar Uli dan Kakaknya Maria langsung memeluknya.
Bapak mereka berdua pun memeluk kedua Putri nya itu, rasa haru yang teramat haru memenuhi ruangan ini.
Kisah masa lalu yang membuat mereka berdua menangis dan menceritakan kisahnya yang penuh derita di masa lalu.
"Eda Mak Elazer, jika mengingat hal itu. aku baru sadar kalau Eda bisa tangguh seperti ini karena Nantulang yang masih memberikan Eda kekuatan cinta dan kasih sayang.
Eda jauh lebih beruntung dari kami, memang benar saat kecil kami tidak kekurangan dari segi materi, tapi semua itu hampa karena kasih sayang yang timpang.
Aku tahu jelas Eda bagiamana perlakuan Tulang terhadap Eda dan adik-adiknya Eda serta Nantulang.
Tapi Eda dan saudaranya Eda masih memperoleh cinta dan kasih sayang dari Nantulang.
Sungguh aku benar-benar iri melihat Edak saat itu...
"halo......
Teriak Mak Pingky dari belakang dan itu membuat Maria berhenti bicara.
"Maria...... Uli.....
iya Tuhan, kalian berdua sangat cantik."
"terimakasih inang Uda, Inang Uda juga tambah cantik dan terlihat bahagia." ujar Maria dan kemudian memeluk Mak Pingky.
"nanti aja sambung kangen-kangenan ya, kita makan siang rame-rame yuk. semua sudah tersaji di ruang makan." ucap Mak Pingky yang mengajak kami untuk makan siang bersama.
"ayok...
biar sekalian reuni kan? karena kangen juga lihat keluarga ku yang lain."
Akhirnya kami semua menuju ruang makan karyawan untuk makan siang.
__ADS_1
begitu nikmat dan bahagia, menikmati makanan yang sederhana ini dengan keluarga Ku yang tercinta.