MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Rencana Pulang Kampung.


__ADS_3

Rifan dan Ningsih akhirnya sah menjadi suami istri, dan mereka berdua berbulan madu dan kali ini mereka memilih pulau Dewata yaitu Bali.


Bapak tentunya menyiapkan tempat tinggalnya yang sudah di cicil oleh Rifan sebagai Mahar yang lain untuk istrinya.


Bapak dan mamak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya yang di perlukan ketika pengantin baru itu pulang Nantinya.


Lapak usaha kami sudah 70 persen selesai di bangun dan renovasi, Rani, Indah dan Gabe sudah melakukan persiapan Untuk pindah ke depan sebagai salah penarik usaha ini.


Di ruangan ini, aku baru selesai menerima tamu yang memesan gaun pernikahan dan Aku melihat Rada datang bersama seorang laki-laki yaitu Binsar dan dia adalah calon suami Rada.


"selamat pagi kak Mak Elazer."


Ujar Rada yang menggandeng tangan Binsar, mereka berdua tersenyum ketika tiba di ruangan ku ini.


tidak berapa lama bang Bastian juga hadir di ruangan ini dan duduk disamping tepat di samping Ku. dan itu atas permintaan dari Gabe.


"kak dan Abang pak Elazer, dulu kami berdua berjanji. jika adik-adik kami sudah ada kerja maka kami akan menikah dan itu setalah bang Rifan dan Ningsih sahabat ku menikah.


Ke-dua persyaratan itu sudah memenuhi dan kami sepakat untuk menikah."


Ujar Rada yang membuka obralan setelah salam darinya.


"benar itu kak, dan rumah sudah selesai Binsar cicil dan sudah selesai juga di rehab oleh Rada calon ini.


Kami berdua berbagi untuk tugas kami masing-masing, untuk mewujudkan cita-cita kami. Rada adalah cintaku dan aku sudah berusaha untuk membuat nya bahagia.


Aku janji kepada kakak sebagai yang sudah dianggap kakak oleh calon Istriku, Binsar akan berusaha yang terbaik untuk Istriku dan kelak anak-anak kami nanti."


Terlihat Rada menggenggam tangan Binsar, dan terlihat matanya yang berbinar-binar akan janji yang diucapkan oleh Binsar.


Rumah yang di cicil oleh Binsar dan itu atas nama Rada, yang tidak jauh dari kami yang masih satu kompleks.


Dari Rada lah biaya renovasi nya, karena permintaan dari nya. karena Rada ingin membuat rumah itu lebih cantik lagi.


"terimakasih ya Binsar, dan semoga lancar sampai H nya dan semoga pernikahan kalian bahagia sampai kakek nenek."


Amin.....


Secara bersamaan kami mengamini harapan dan doa tersebut.


"terus ini gimana? maksudnya Acara Martuppol nya dan juga pesta pernikahan bagaimana?'"


Bang Bastian bertanya kepada calon mempelai itu, berhubungan kedua orang Rada yang berada di kampung dan keluarga Binsar di Medan ini.


"acara marhusip nya melalui telpon aja bang, kata bapak dan mamak. hubungan kami tidak perlu di pertanyakan lagi karena sudah empat bapak dan mamak bertemu dengan bang Binsar dan keluarganya.


Bapak dan Mamak hanya meminta ongkos dan biaya untuk membeli Ulos kelak nanti nya.

__ADS_1


Sinamot sudah lebih dari cukup untuk telah diserahkan oleh bang Binsar kepadaku kak, yaitu rumah dan isinya.


Untuk acara Martuppol nya itu dilaksanakan di kampung, dan pesta pernikahan Nya di tempat bang Binsar.


Mamak dan bapak sudah setuju demikian juga dengan keluarga bang Binsar kak."


"okey jika sudah persetujuan seperti itu, dan nanti kami bisa pulang kampung untuk melihat tanah kelahiran Istriku ini."


Sahut bang Bastian dan terlihat Rada agak ragu karena menyangkut masalah pulang kampung.


"kata mamak, kalau di acara Martuppol di kampung. kakak dan Abang tidak perlu ikut jika merasa tidak nyaman.


Lagian itu kan cuman Martuppol kak, yang terpenting adalah pesta pernikahan kelak nanti."


"ngak apa-apa Rada, kami bersama ito Gabe, Amang dan inang nantinya.


Lagi pula untuk membawa Elazer bertemu dengan Bapaknya, dan mudah-mudahan Elazer bisa menerima bapak kandungnya."


Lagi-lagi aku benar-benar terharu akan sikap dari Suamiku ini, sungguh berbesar hatinya dan bersikap sangat gentleman.


Rada akhirnya tersenyum demikian juga dengan Calonnya itu.


"jadi kapan ini Martuppol nya dek?"


"Minggu depan kak, karena undangnya baru di cetak sekaligus menunggu bang Rifan dan sahabat ku itu pulang dari bulan madunya."


"terimakasih kak, kalau begitu Rada mau menemui Bou ya dan keluarga yang lainnya."


Rada dan Binsar calonnya sudah keluar dari ruangan ini dan tinggal lah kami berdua, bang Bastian tersenyum manis ke arahku.


"Abang yakin kita pulang kampung?"


muach.....


bang Bastian langsung mencium kening Ku dan kemudian menatap Kedua mataku.


"yakin dong sayang, kita kan berangkat sama-sama dari sini jadi apa yang mau di takutkan?


Elazer juga perlu melihat bapak kandungnya, jujur ya, papa ngak mau dan ikhlas kehilangan Elazer. tapi biar bagaimanapun Andri tetaplah bapak kandungnya.


kita akan berdosa jika memisahkan mereka berdua, kelak nanti nya Elazer pasti tahu kalau bapak nya ini sungguh menyayangi nya."


Karena terharu tanpa terasa air mata ini mengalir di pipiku, dan bang Bastian menghapus air mata ini.


Dia adalah suami ku yang berulang kali menghapus air mata Ku dan juga kesedihan Ku, aku hanya bisa memelukNya dan balasan pelukan dari bang Bastian sungguh menghangatkan tubuh ini.


"uhmmm..... uhmmm......

__ADS_1


Siang-siang bolong nan panas gini malah berpelukan, hadeh......


buat iri aja deh, kesal....."


Ujar Saor yang tiba-tiba masuk ke ruangan ku ini tanpa mengetuk pintu, dan hal itu mengakhiri pelukan kami berdua.


bang Bastian hanya tertawa menanggapi omongan dari Saor yang bertingkah sok imut.


"apa yang membuat mu kesal adekku? apa Nando tidak memberi mu harapan?"


"enak aja kakak ngomong, bang Nando itu sudah selesai pendidikan kak. dan tahun ini bang Nando akan di tempatkan di sekitar sini, dan kami akan segera menikah."


"loh, kakak kok ngak tahu ya?"


"tuh kan Saor jadi keceplosan deh ngomong Nya, padahal bang Nando sudah bilang rahasia loh. katanya mau buat kejutan untuk bou."


Lagi-lagi bang Bastian hanya bisa tertawa karena ekspresi dari Saor yang sok imut.


"ngapain kemari? ganggu aja deh."


" iya kakak bawel, maaf ya sudah mengganggu.


Saor kemari untuk menambah orderan buat kakak, nih baca aja daftar nya."


dengan cueknya Saor memberikan daftar kerjaan kami yang baru dan itu sangat banyak sekali.


"Saor.....


Sebanyak ini? adek ngak bercanda kan?"


"memang Saor sering bercanda kak, tapi tidak untuk kerjaan.


itu semua karena Saor live di Facebook kak, dan orderan itu mendatangi Saor seketika. Tenang kak, panjar nya sudah di tangan Saor."


Ujar Saor lalu memberikan bukti transfer ke rekening usaha ku ini dan jumlah benar-benar fantastis.


"orderan buat Abang dimana Saor?"


Bang Bastian bertanya kepada Saor sementara aku sibuk memperhatikan jumlah nominal uang yang di transfer tersebut serta detail ukuran yang sudah dikerjakan oleh Rada, entah kapan di kerjakan oleh Rada.


"sebelumnya Saor berterimakasih kepada Abang dan sekaligus mewakili kedua sahabat itu, karena Abang sudah memberikan kami tempat di tempat usaha Abang di Medan kota.


Tentunya dong abang dapat bagian, nih orderan buat Abang."


Seraya tersenyum dan memberikan orderan tersebut ke bang Bastian, dan karena itulah jumlah transfer nya banyak.


Segera menghubungi Simson untuk menyediakan stok serta inang Samosir untuk ngirimin stok bahan.

__ADS_1


karena bahan yang tersedia akan habis jika membuat pesanan dari Saor ini.


__ADS_2