MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Lanjutkan Gosip


__ADS_3

"Tiur..... kamu pasti tahu kan kalau bapak mu itu sudah menjadi anggota bintang koperasi?


"tahu oppung Nisa....


"oppung sama bapak mu itu sama-sama mendaftar jadi anggota koperasi, nah oppung berhutang untuk penambahan biaya sekolah nya pak Nisa dan 2 lagi adiknya.


Sekarang ini Ke anggota an oppung sudah Ku alihkan ke Bapaknya Nisa. saat mengalihkannya oppung lihat bapak mu itu minjam uang 120 juta kalau ngak salah. dan aku yakin itu di pakai nya Mak Iren untuk membayar hutang-hutangnya."


"kalau itu Tiur kurang tahu lah oppung, bapak tidak pernah cerita mengenai itu. dan kami pun tahu kalau bapak selalu membela keluarga bapak dan kakak nya itu."


"iya begitu lah Tiur, dah oppung nasihati juga nya bapak mu itu. tapi sepertinya masuk kiri keluar kiri alias membal.


Kamu yang semangat ya Oppung, semoga saja suami menjadi suami yang terbaik untukmu, oppung doakan kalian selalu berbahagia."


"amin..... terimakasih Oppung boru Nisa atas semua nasihat oppung."


"sama-sama."


"tapi kan Oppung Nisa, anakKu ada 4 orang 1 perempuan dan tiga nya lagi anak laki-laki. semua anak-anak ku sudah menikah, Boru disini bersama suaminya dan anakku satu disini. yang keduanya di Kalimantan.


Semuanya ku mintak untuk mandiri, karena saya cerewet. tidak pernah sedikitpun aku ikut campur urusan rumah tangga mereka.


Kalau anak-anak ada rezeki lebih, di kirimkan nya sama ku dan Ku terima.


Anak-anak yang disini akur. kadang nanti aku makan di rumah Boru ku, besok nya makan di rumah anakku dan seterusnya."


"sama oppung Riduan, aku juga begitu. saya ngak keluarga anak-anak Ku berantakan, gara-gara Ku. dari awal mereka menikah sudah ku sampaikan kalau saya tidak akan mencampuri urusan keluarga mereka.


Tapi beda cerita jika mereka ngasih uang sama Ku, contoh nya ini. kebaya ini nanti akan di bayar Mak olif. dan Mak olif juga yang menyuruh datang kemari. kemarin itu Mak olif baru mengambil Kebaya dari sini dan aku hanya bilang, ' cantik kali kebaya mu Mak Olif'


trus dibilangnya ini ' ini di jahit Eda Tiur, inang datang aja ke sana, nanti kalau dah selesai. sama-sama kita ambil dan nanti aku bayarkan. dua aja sekaligus inang buat, satu untuk malam natal dan satu lagi untuk tahun baru. tapi yang tahun baru satu warna kita ya inang.'


gitu katanya, ya langsung ke sini. nanti ngak keburu lagi kan."

__ADS_1


"benar oppung Boru Riduan, ini juga nanti akan dibayar menantaku. dan kamu juga warna samaan saat tahun baru nanti.


gitu lah Tiur, jika kita baik sama menantu. menantu juga akan baik. saya itu jarang masak, lauk pauk di antara oleh menantu atau ngak cucu Ku, katanya sekalian mau memperhatikan mertuanya yang cerewet ini.


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Teman-teman yang lainnya yang serius menjahit malah ikut tertawa karena pengakuan Oppung boru Nisa dan Oppung boru Ridwan yang ternyata sangat cerewet.


"begitulah kalau sudah oppung-oppung, yang tidak perlu di omongin jadi di omongin, terkadang juga si olif, bukan terkadang malah sering komplain karena aku terlalu cerewet.


kadangkala si olif, mintak Bapaknya untuk mengikat rambutnya. katanya ikatan bapak jauh lebih rapi ketimbang ikatan Mamaknya. dan olif juga sudah bilang kalau Mamaknya lagi sibuk ngurus adek-adek Nya.


Itu pun masih aja ku omelin, Bapaknya aja ngak merasa di repotin. kok aku yang komplain. nah terucap dari mulut si Olif'.


oppung ini semua di komplain, heran lah liat oppung ini, aneh.....


kan gitu katanya, coba kalau Mamaknya yang ngomong gitu sama ku, pasti Aku tersinggung dong. ujungnya berantam.


pernah saya ku berikan, uang dari sewa lahan dan gaji dari pensiunan. tapi katanya untuk biaya ku membeli obat-obatan jika sakit, untuk pesta adat dan sebagainya.


Bagaimana kalau kami satu rumah? bisa-bisa kami berantam setiap hari. Karena mulutku ini cerewet loh... ah sudah lah.....


"benar itu oppung Riduan, kita harus memulai duluan untuk melakukan yang terbaik."


"ya begitu oppung Nisa, tapi kita mau pigi lagi. Tiur kami pulang dulu ya, Mak Tiur kami pulang. semuanya kami pulang....


Aku hanya terdiam setelah kedua guruku itu sudah pulang, alangkah bahagianya para menantu nya punya mertua seperti guruku itu.


"tenang Tiur.... jika kamu tidak punya mertua seperti guru mu itu, tapi kamu punya Mamak yang baik." ujar Mamak yang tiba-tiba datang memelukku.


"iya Mak, mamak lah alasanku bertahan. karena cinta dan kasih sayang Mamak yang besar untuk ku.


"Kak.... tim 2 dan 3 selesai Kak." ujar Ningsih tiba-tiba.

__ADS_1


"ok... telepon aja mereka ya, suruh buat fitting."


"siap.......


Ujar semuanya dengan kompak, dan tidak berapa lama tim 2 dan 3 sudah datang untuk fitting. tidak butuh waktu lama sudah selesai saja dan tinggal siswa cowok Nya.


Tanpa terasa hari sudah siang, untungnya Nantulang Mak Rado sudah selesai masak, dan kami makan siang Bersama.


Selesai makan siang dan cuci piring kami ngobrol Sembari minum Kopi, dan canda tawa bersama.


Teman-teman yang lainnya sudah kembali ke lapak jahit, tinggallah aku dan Mamak yang sengaja ku tahan di ruang makan ini.


"Mak... pantasan lah, Tuppak, Ulos, dan beras tidak nampak sedikit pun.


Kemarin malam bapak datang kemari bersama kakaknya, untuk mintak uang. dan saat ku tanya kemana semua uang nya katanya di pakai oleh Mertuaku.


Berarti semua uang itu di pakai untuk membayar utang nya mertua Mak, kejam sekali dunia ini ya Mak."


"sabar ya inang, semua akan hikmah Nya. bagi Mamak Unang itu tiada artinya jika, anak-anak mamak pergi menjauh dari Mamak."


uhmmm.....


Secara bersamaan kami mendesah karena kesal, itu keluar dari mulut ini karena keadaan yang kami terima.


Terlalu Sulit rasanya untuk bercerita saat ini dan hanya Mamak satu-satunya tempat curhatan Ku.


Kalau curhat sama Nantulang Mak Saor pasti utusannya akan melebar kemana-mana, karena sebagai pihak Boru pastilah akan merasa marah.


Jika masih bisa ku aku atasi akan Ku atasi, jika masalahnya sudah melebar baru lah Aku panggil Tulang pak Saor.


Akan Ku tahan terus, sampai pertahanan hariku ini jebol dan sanggup lagi untuk menahan segalanya.


Aku memang tidak Yakin sampai kapan hati ini bisa bertahan, tapi biar waktu yang menjawab Nya.

__ADS_1


__ADS_2