
Sesampainya di rumah dan langsung masuk kamar mandi, kran air ku nyalakan dan Aku menangis sejadi-jadinya.
Teringat kepada Saor yang akan datang untuk mengambil kebaya yang telah siap aku jahit, karena tidak ingin mereka kalau Aku menangis akhirnya mandi adalah jalan satu-satunya untuk menutupi mata ku yang bengkak ini.
Selesai mandi dan berpakaian, benar saja suara Saor sudah terdengar memanggilku dari luar pintu. langsung berjalan setengah berlari untuk membuka pintu.
Tulang pak Saor, dan Nantulang serta Saor sudah berdiri di depan pintu dengan tersenyum manis. dan Ku persilahkan masuk.
"kakak habis mandi?" Saor bertanya.
"iya dek, sehabis dari pekan raya untuk belanja kebutuhan dapur."
"oh.... begitu... oh ya kak, kebaya kami sudah siap Kak?" Saor bertanya karena sangat penasaran.
"sudah dong, mohon tunggu sebentar ya."
Saor hanya mengangguk kepala dan Aku membuka lemari tempat penyimpanan yang sudah selesai karena belum punya etalase untuk memajang hasil jahitan Ku.
"Tara...... ini dia hasilnya, Nantulang dan dek Saor silahkan di coba. ruang ganti ada dibalik tirai ya."
Saor dan Mamaknya langsung menyambar Kebaya tersebut dan langsung masuk ke balik tirai. sementara Tulang pak Saor hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putri dan istrinya itu.
"k..... a.... k...... ......
Karena Saor berteriak, Tirai itu langsung di buka oleh tulang pak Saor dan ternyata Saor dan Nantulang sedang bercermin.
"kak, cantik kali. Saor suka, modelnya baru dan pas di badan Saor." ujar Saor dan masih berputar-putar di depan cermin.
"haaaaaaaa.... Saor...... hampir jantung bapak copot." kata tulang pak Saor.
Sebenarnya Aku juga kaget, kirain tertimpa cermin yang ada dibalik tirai. tapi nyata karena Saor sangat menyukai kebaya hasil jahitan Ku.
"bapak... maafin Saor ya, tapi cantik kan pak?"
Tulang pak Saor hanya mengangguk kepalanya dan kemudian tersenyum, tapi nantulang Mak Saor masih asyik bercermin.
__ADS_1
"Mak Saor... suka ngak dengan kebaya jahitan Nya?" Tulang pak Saor bertanya kepada istrinya karena sangat penasaran.
"Cantik pak, model baru dan warnanya sangat pas ke warna kulit Ku. Senin depan Anaknya kepala desa martuppol (tunangan). Dipake disitu ajalah ya. ngak deh pas Nikahnya aja, kan kita paranak (pihak keluarga pengantin pria)."
Nantulang Mak Saor kelihatan bingung, untuk jadwal pemakaian kebaya barunya. dan langsung saja ku tunjukkan Kebaya yang lain yang seukuran dengan kebaya yang dipakainya dengan model lain, begitu juga untuk Saor.
"tenang nantulang, Sudah Ku buatkan dua sekaligus untuk nantulang dan juga Saor."
"haaaaaaaa...... yang ini juga sangat cantik, ya sudahlah. satu untuk martuppol (tunangan) dan satu lagi untuk pesta pernikahan."
Nantulang dan Saor berteriak setelah melihat Kebaya kedua hasil jahitan Ku dan langsung mencobanya.
"pak Saor, cantik kan?"
Pertanyaan dari nantulang Mak Saor hanya dijawab dengan senyuman oleh Tulang pak Saor. begitu juga dengan pertanyaan dari putrinya.
Mamak dan Anak itu sudah selesai mencoba kebaya yang barunya dan langsung membungkusnya kemudian duduk di kursi kayu pemberian tulang pak Saor.
"kak, punya bapak mana?" tanya Saor tiba-tiba.
"oh iya, maaf lupa."
"Tulang... gimana? ada yang kurang?"
"sudah pas, dan modelnya Tulang Suka. bentar biar Tulang coba dulu celananya." ujar Tulang pak Saor sambil berlalu ke balik tirai itu. dan tidak berapa lama Tulang pak Saor sudah keluar dari balik tirai.
"celananya pas dan nyaman." kata Tulang pak Saor.
Tulang pak Saor jongkok lalu berdiri dan kemudian duduk di kursi, merenggangkan kakinya dan kemudian duduk.
"sudah pas dan Tulang suka, oh iya kapan ini siap bere? siapa tahu bisa pakai di pernikahan anak kepala desa nantinya."
"paling lama Senin sudah selesai, jas Tulang tinggal fisinishing aja kok.'"
Setelah mendengar penjelasan dariKu, Tulang pak Saor langsung berbalik ke arah Tirai untuk mengganti celananya. dan kemudian keluar seraya melipat celana tersebut dan memberikan nya kepadaKu.
__ADS_1
"apa ini Nantulang?"
Aku bertanya karena Nantulang Mak Saor memberikan amplop yang cukup yang cukup tebal ke tanganKu.
"Nantulang kan sudah bilang, jika Kebaya nya bagus maka akan Nantulang bayar. dalam amplop itu berisi 8 juta, iya hitung-hitung korting kan." ucap nantulang Mak Saor.
"kan sudah Tiur bilang gratis Nantulang, karena ini sebagai Promosi sekaligus sebagai ucapan terimakasih atas semua bantuan Tulang dan Nantulang serta Saor."
"Tiur.... kami ini Tulang dan Nantulang mu. sudah seharusnya kami turut membantu, lagian kan anak ternak itu nantinya kita bagi dua hasilnya Jika sudah terjual dan jika beranak itulah jadi milikmu seutuhnya.
Lagian Tulang ini baru saja menjual ternak dan juga padi, mohon di terima ya.
Bere juga pasti capek menjahit dua Kebaya lengkap dengan bawahannya serta songket dua pasang sekaligus serta jas Tulang mu. seharusnya itu kurang bere.
Tolong diterima ya bere (panggilan keponakan) Nantulang akan marah jika Tiur menolaknya."
Perkataan Nantulang langsung membuat ku terdiam dan Aku tidak bisa menolak pemberian Nya.
"Nantulang benar bere, lagian Nantulang butuh kok. kemarin itu sudah bilang mau jahitkan Kebaya ke Oppung Dison itu, tapi di tolaknya Karena jahitan sudah menumpuk katanya. ini rencananya mau ke ibu kota kabupaten untuk menjahit, untungnya ada kamu bere."
Ungkap Tulang pak Saor yang mendukung perkataan istrinya dan tiba-tiba saja Nantulang memelukku seraya menangis.
"kamu hebat Bere, kamu wanita tangguh. jika kamu sudah menyerah, Tulang dan Nantulang Mu ini siap mendukung Mu."
Kata Nantulang yang kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Mataku dengan tatapan sedih.
"Nantulang tahu kalau bere lagi berantam sama mertua Mu tadi, nantulang juga tahu kalau Tiur baru menangis yang sengaja kamu tutupi dengan mandi. Nantulang juga tahu kalau Tiur menjual perhiasan mu untuk mengembalikan uang dari bapak mertua mu itu.
Ngak perlu bere bertanya mengenai dari mana Nantulang tahu, yang jelas Tulang dan Nantulang ini siap mendukung Mu sayang."
Ujar Nantulang dan tanpa terasa air Mataku mengalir, dan langsung di seka oleh Nantulang Mak Saor.
"masih banyak ngak daun ubi jalar Nantulang? ternak Ku kekurangan cemilan, Karena sebagian dari daun jalar kemarin Tiur tanam."
Kata Ku untuk mengalihkan pembicaraan, aku tidak mau bersedih di hadapan keluarga yang kucintai ini.
__ADS_1
"banyak, ayok kita gerak. Nantulang juga mau ngambil untuk cemilan ternak."
Jawab Nantulang Mak Saor dan kami pun berangkat dengan becak barang yang di kemudi oleh tulang pak Saor.