MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Apa Aku salah menuntut Di nafkahi?


__ADS_3

Di meja jahit ini ku tumpahkan semua air Mataku, dan setelah agak tenang baru aku mulai menjahit lagi.


Satu kebaya model lain yang seukuran dengan nantulang Mak Saor selesai Ku jahit, dan tanpa kusadari ternyata sudah jam 3 pagi dan Aku teringat dengan perkataan bang Andri mengenai uang 20 juta yang ku terima dari bapak mertua.


Meja jahit ini adalah laci khusus tempat menyimpan barang penting. dan setelah ku buka dan menghitung Sisa penjualan kalung perhiasan ternyata masih ada sekitar 15 juta dan itu sudah ku sisihkan 4 juta untuk biaya makan.


Sekarang yang tertinggal 4 buah cincin dan 10 gelang emas mungkin ada sekitar 22 gram keseluruhannya, dan kebetulan juga hari ini adalah pekan raya (pasar yang sangat besar tapi sekali dalam seminggu) di ibukota kecamatan ini.


"cukuplah ini untuk menggantikan uang yang di berikan Mertuaku."


Aku berkata kepada diriku sendiri dan menyimpannya kembali ke laci khusus itu dan memulai kembali untuk menjahit karena Aku tidak bisa tidur.


Tanpa terasa satu kebaya dengan model lain yang seukuran Saor sudah hampir jadi, dan Aku teringat dengan ternak Ku.


Setelah memastikan laci khusus itu aman, aku langsung ke belakang karena hari sudah terang. setelah selesai memasak makanan ternak dan tinggal menunggu dingin, kandangnya ku bersihkan terlebih dahulu dan kemudian memberikan ternak makan.


Menyiram tanaman dan membersihkan rumput-rumput liar disekitarnya, setelah itu ke dapur. kali ini lauknya hanya telur dadar dan nasi semalam masih ada dan itu yang ku sajikan.


Tanpa menunggu bang Andri, aku langsung makan. bahkan setelah selesai makan dan cuci piring bang Andri tidak kunjung datang ke meja makan ini.


Aku kembali menjahit untuk menyelesaikan Kebaya yang Ku buat semalam suntuk, handphone Blackberry milikku berbunyi dan setelah ku cek ternyata Saor yang mengirim pesan melalui pesan BBM (blackberry messenger).


Saor memberitahu kalau pagi ini tidak bisa datang karena harus ke pekan raya untuk menjual ternak Nya dan sore hari nanti akan datang ke rumah ini.


Tidak masalah karena yang penting kebaya mereka berdua sudah selesai. jam di handphone blackberry sudah jam 10 pagi, tapi bang Andri tidak kunjung bangun. sudah saatnya aku ke pekan raya untuk menjual emas ku.


Setelah mandi dan berpakaian bang Andri baru terbangun, dan seperti biasa dia duduk dipinggir ranjang.


"dek... mana sarapan dan Kopi?"


Tanpa menjawab pertanyaan dari bang Andri, aku berlalu keluar kamar sambil meraih tas kesukaan ku.

__ADS_1


"dek... dek... mau kemana? kok cantik kali?" tanya bang Andri yang mengikuti ku dari kamar.


"belanja ke pekan raya Bang."


Jawab ku singkat kepada-nya, dan bang Andri langsung melirik jam dinding yang tertempel di dinding ruang tamu.


Wajahnya langsung berubah menjadi raut wajah marah, bang Andri baru sadar kalau dirinya bangun kesiangan.


"kenapa nggak membangunkan Abang? kamu kenapa dek?"


"ngak kenapa-kenapa, Abang bukan anak kecil lagi, yang harus dibangunkan dan makanan dan minuman harus diantar ke kamar. jangan manja, suami itu harus mandiri.


Tegas dan berwibawa, Abang jauh lebih tua dariKu. tidak seharusnya seorang suami dibawah ketiak Mamak Nya."


Bang Andri terlihat begitu kesal dan dia langsung berlalu ke kamar. saat itu juga aku ambil emas dan sisa uang dari laci khusus di meja jahit.


Setelah itu baru ke pekan Raya, toko mas nya sudah buka dan langsung menjual mas terakhir MilikKu.


Dari penjualan perhiasan emas Ku, terkumpul sudah uang senilai sembilan belas juta delapan ratus ribu Rupiah dan itu karena harga emas lagi naik.


Hanya butuh 15 menit jalan kaki, akhirnya Aku sampai di rumah mertua dan kebetulan bapak mertua sedang minum kopi di teras rumahnya.


"Inang parmean (panggilan bapak mertua ke Menantu perempuannya), silahkan masuk. oh iya itu suami Mu ada di rumah, inang Mertua mu juga ada kok" ujar bapak mertua yang menyambut Ku datang.


"kebetulan sekali Amang (panggilan ke bapak mertuaku) ada yang ingin ku sampaikan."


Bapak mertuaku akhirnya masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan Ku untuk duduk di sofa usang itu, ibu mertuaku langsung menatapKu dengan tatapan mautnya. dan raut tatapan Suamiku seperti orang yang memelas.


"setelah puas menghakimi suami sendiri, dan kau datang kemari. apalah tujuan mu datang kemari?" tanya ibu mertuaku dengan sangat sinis.


Tanpa menjawab pertanyaan dari ibu mertuaku, tas aku ambil dari kantong belanjaan ku dan mengambil dua gepok uang hasil penjualan perhiasan Ku dan kemudian Aku letakkan diatas meja.

__ADS_1


"Amang, ini uang hasil penjualan perhiasan Ku, uang yang Amang berikan saat di rumah itu sekarang Aku kembalikan. Aku ngak mau uang ini di ungkit terus sama bang Andri."


"loh... loh.... ini kan untuk membeli keperluan Inang parmean, dan pak Saor bilang semuanya sudah lengkap. kenapa sekarang ini dikembalikan?"


"harus ku kembalikan mumpung masih punya uang."


Belum juga Aku selesai bicara, ibu mertuaku langsung menyambar uang tersebut dan kwitansi langsung Kuambil yang sudah Ku siapkan lengkap dengan materai.


"Inang tunggu dulu, tandatangani dulu kwitansi ini sebagai bukti kalau uang tersebut sudah aku kembalikan."


Dengan wajah ditekuk ibu mertuaku langsung menandatangani kwintansi tersebut tanpa membacanya dan berlalu ke arah kamarnya, bapak mertua hanya tepuk jidat sambil geleng-geleng kepala.


"sekarang saya bebaskan bang Andri untuk berbuat sesuai kehendak Mamak Mu, termasuk gaji Abang. jika mau tinggal disini silahkan, jika masih mau bersama Adek silahkan."


"makanya kau jadi istri yang becus urus suami." ucap ibu mertuaku yang tiba-tiba nyolot.


"bang Andri, sekarang Aku tanya. apa pernah Abang saya rendah kan? apa pernah Abang ku mintak untuk beres-beres rumah? ngak pernah bang. Tiur hanya emosi tingkah Abang yang sangat manja itu, dan seharusnya Abang menafkahi Ku sebagai istrimu.


Aku sudah mencoba untuk menjadi istri yang baik untukmu, tapi Abang selalu ngadu yang nggak-nggak ke Mamak Mu."


"layani suami di ranjang dan siapkan semua kebutuhannya, pasti disayanginya Suami." ibu mertuaku nyolot lagi dengan mengalahkan Ku.


"Inang Mertuaku yang terhormat, itu jika Suami menafkahi istri Nya. oh iya aku lupa, bang Andri kan memberikan seluruh gajinya ke Inang (panggilan ke ibu mertuaku) jadi inang aja yang melayani bang Andri di ranjang, dan memenuhi semua kebutuhan Nya. cocok kan?"


"jaga omongan Mu dek, kamu itu berbicara dengan mamak Ku."


"itu semua karena ulah mu bang, Aku tidak gila seperti ini jika Abang bersikap adil terhadap Ku.


Lihat amang anakmu ini, urusan ranjang pun diberitahukan kepada Mamaknya. laki-laki macam apa kek gitu.


Ngakunya saya suruh beres-beres rumah, masak dan nyuci. tapi apa, anak amang ini cuman tahu tidur, bangun kemudian mintak makan dan Kopi, setelah mintak berhubungan badan tapi nafkahnya di berikan ke Mamaknya.

__ADS_1


Amang mertuaku, tolong Anak laki-laki Amang ini di Didik agar mulutnya tidak lemes kayak perempuan. permisi..."


Aku langsung pergi dari rumah itu, Plong rasanya setelah mengungkapkan isi hati ini, terserah mereka menilai sikapKu ini. dan terserah bang Andri untuk bertindak.


__ADS_2